Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Episode 29 : Cerita ( 2 )



TRANG! CTRING!! Amanda menebas orang-orang sawah dengan cepat, bahkan beberapa dahan pohon tebal sudah dia selesaikan.


"Latihan jurus sudah, latihan kekuatan mental sudah, Penglihatan, Pendengaran, ketelitian, ketangkasan, ketenangan, dan kekuatan sudah, bahkan pedang juga sudah! apa lagi ya?" batin Amanda.


"Kau sudah ahli melakukan jurus teleportasi Nak Arif kan?" tanya Pak Andi.


"Kalau melakukan jurus asli milik Ayah sudah bisa, Kek" kata Amanda.


"Begitu ya? kalau begitu, ikut aku sekarang" kata Pak Andi.


Pak Andi membawa Amanda ke sebuah lapangan yang lumayan luas dan ada batu setinggi 2 meter, dengan lebar 2 meter juga.


"Apa yang harus aku lakukan dengan batu besar ini?" tanya Amanda.


"Latihanku denganmu sudah semuanya, sekarang buktikanlah dan kau akan mengikuti seleksi terakhir dan kau akan menjadi seorang Kunoichi" kata Pak Andi.


"Sejujurnya, aku tidak mengizinkanmu untuk mengikuti seleksi terakhir, dan seleksi itu yang menentukan kau akan menjadi seorang Kunoichi, ataupun Shinobi. Tapi, selain Nak Arif, Nak Afifah, Nak Andra, Nak Edward, dan Nak Meghan, semua murid ku pasti tidak kembali dan mati pada seleksi terakhir karena musuh yang di hadapi sangat kuat" Jelas Pak Andi.


"Bahkan kapten Edward dan Ketua Meghan saja adalah murid Pak Andi!?" batin Amanda.


"Karena itulah aku berat hati untuk membuatmu mengikuti seleksi terakhir" Kata Pak Andi lagi.


"Jadi, kalau kau berhasil membelah batu itu dengan pedang yang ada di saku pedangmu, maka itu berarti aku akan mengizinkanmu untuk ikut seleksi terakhir, jika tidak... berarti sia-sia saja aku mengajarimu sampai sejauh ini" Jelas Pak Andi sambil pergi.


"Eh!? Kakek! kau ingin pergi kemana!?" tanya Amanda, dan Pak Andi perlahan-lahan pergi di tutupi kabut.


"Duh... batu segede gini, gimana ya?" tanya Amanda.


CTRANG!! Dan benar saja, Amanda sudah mencoba terus tapi batu sebesar itu tak bisa juga dia belah.


"Duh! gimana nih?" tanya Amanda.


WUSH!!! Amanda merasakan ada aura orang yang akan menyerangnya.


Benar, ada seorang pemuda yang seumuran dengannya memakai topeng dan ingin menebasnya secara vertikal.


Amanda melompat dan berhasil menghindar.


"Siapa kau!?" tanya Amanda.


"Ternyata benar? kau adalah murid baru Pak Andi" kata pemuda bertopeng.


"Eh? kau bahkan tahu kakek!?" tanya Amanda.


"Kakek? apakah dia kakekmu?" tanya Pemuda bertopeng.


"Bu.. Bukan, Pak Andi itu guru sekaligus memiliki darah keturunan Hasegawa leluhur Ayahku" jelas Amanda.


"Ah... jadi, Pak Andi adalah kerabat darahmu ya?" tanya Pemuda bertopeng dan berlari ke arah Amanda untuk melayangkan pedangnya.


CTRANG! CKIT! TRANG! Pemuda bertopeng itu melawan habis-habisan dengan cepat.


Amanda memperhatikan dengan Silent.


"Hanya karena kau tidak bisa membelah batu ini! itu berarti sia-sia saja yang beliau ajarkan kepadamu!!" seru Pemuda bertopeng itu sambil menebas dengan gaya horizontal.


CTRANG!! Amanda kehabisan tenaga dan pingsan.


"Selanjutnya akan kuserahkan padamu" kata Pemuda bertopeng pada lelaki seumurannya.


"Baiklah"


Si Lelaki mendatangi Amanda.


"Seharusnya kau tidak kasar padanya, bagaimanapun juga, dia itu perempuan" kata lelaki.


"Terserah, kalaupun kau bukan kakakku, aku pasti akan melakukan hal yang sama padamu" kata Pemuda bertopeng.


"Hahaha! baiklah" kata si lelaki.


30 menit kemudian...


Hari sudah gelap, Amanda baru sadar dan di sandarkan di batu besar itu.


"Ng?" tanya Amanda.


Si Lelaki melihat Amanda sambil memegang kain yang di peras dari baskom air hangat.


"Kau baik-baik saja?" tanya Si lelaki.


"Eh? iya.. aku baik-baik saja, siapa kau?" tanya Amanda.


"Aku adalah kakak dari Pemuda bertopeng tadi" kata lelaki itu.


"Benar, aku lumayan terkejut karena tak banyak orang yang tahu kami kembar identik. Ngomong-ngomong hati-hati ya, karena memar yang ada di pipimu akan membuat pegal, maaf atas yang di perbuat saudaraku" kata Lelaki itu.


"Tidak apa terimakasih karena sudah mengobatiku" kata Amanda.


"Sama-sama, Oh ya... Namaku adalah Amir Al Fuhairah, adikku tadi bernama Umar Al Khattab, dia memang terlalu blak-blakkan, haha maaf ya" kata Amir sambil tersenyum tidak enak hati atas yang diperbuat adiknya.


BLUSH!


"Di.. Dia baik" batin Amanda yang pipinya memerah.


"Na.. Namaku Ana" kata Amanda.


"Baiklah Ana, dia mengatakan padaku kalau dia akan menantangmu nanti, bagaimana jika aku membantumu berlatih?" tanya Amir.


"Boleh!? makasih" kata Amanda.


"Oh ya, aku ingin memberitahu, saat kau bertarung dengan Umar tadi, sisi jilbabmu ada yang robek, jadi ku jahit. Ah!! aku tidak macam-macam tenang saja! kau masih memakai jilbabmu tadi, aku menjahit nya dalam keadaan kau pingsan, maaf ya" kata Amir.


"Dia benar-benar menjaga attitude dan adab seorang lelaki" batin Amanda.


Akhirnya Amanda di ajarkan oleh Amir, Amir terus membimbing Amanda dalam mengayunkan pedang dan mengajarkannya 18 jurus rahasia, dia dan Amanda juga berduel Tai Jutsu.


Sampai akhirnya...


"Aku siap!" kata Amanda sambil memegang pedang.


"Ok, kau akhirnya siap ya?" tanya Umar yang memang belum melepas topengnya.


Amir sedang duduk di atas pohon.


Amanda langsung maju dan menebas topeng Umar secara vertikal sebelum Umar menyerang dan pertarungan langsung berakhir karena itu.


Nampak dari wajah Umar yang tersenyum tapi juga menampakkan aura kesedihan.


Kabut tiba-tiba datang dan hampir menutupi sekeliling termasuk Amir dan Umar.


"Kau berhasil" kata Umar yang memejamkan matanya sambil tersenyum lalu tertutup kabut.


"Eh!?" tanya Amanda.


"Kau berhasil, Ana" kata Amir sambil tersenyum dan tertutup kabut.


Selang beberapa saat kabut pun hilang bersamaan dengan Amir juga Umar.


Amanda masih terpaku dengan gaya menebas topeng Umar tadi dan melihat dirinya berhasil membelah batu menjadi dua bagian.


"A... Aku... aku berhasil!!" Seru Amanda.


"Amir! Umar! kalian dimana?" tanya Amanda.


Tidak ada sahutan.


"Tidak apa! tapi... tetap saja, terimakasih!!" seru Amanda dan berlari menuju pondok untuk menemui Pak Andi.


Di atas pohon yang tinggi.


"Kau yakin? tidak akan memberitahu Ana soal kita yang sebenarnya?" tanya Umar.


"Ya, aku ingin dia tahu sendiri, aku hanya tak ingin membuat dia sedih mengetahui yang sebenarnya" kata Amir.


Keesokan paginya...


Sesuai janji, Amanda di perbolehkan untuk mengikuti seleksi terakhir dan akan berpamitan dengan Andi.


"Nak yakin? tidak ingin membatalkannya?" tanya Pak Andi.


"Aku sudah sampai sejauh ini, tak mungkin berhenti" kata Amanda.


"Baiklah kalau begitu, ini dia ada sedikit cemilan, dimakan ya" kata Pak Andi.


"Terimakasih Kakek, baiklah! aku pergi" kata Amanda.


Pak Andi melambaikan tangannya melihat Amanda yang mulai menjauh.


"Oh ya!! Tolong jaga Amir dan Umar ya! sampaikan salamku pada mereka!!" teriak Amanda dari jauh.


Pak Andi menghentikan lambayan tangannya karena kaget.


"Nak Ana... bagaimana dia bisa tahu nama dua muridku yang mati itu?" tanya Pak Andi kaget.