Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Episode 12 : Berusaha menerimanya



Keesokan harinya di sekolah...


"Hoaam!!" Zeydan sedang duduk di bangkunya dengan bosan.


"Pagi, Zeydan!" kata Pasha.


"Ng? Pagi juga Pasha" kata Zeydan.


"Lho? dimana Erika?" tanya Pasha.


"Dia ada masalah dengan matanya jadi tak ke sekolah dulu... aku sudah memberikan surat izinnya pada guru dan kepala sekolah tadi" kata Zeydan.


"Begitu ya?" kata Pasha.


Pulang sekolah di Klub Ninja...


"Andika tidak datang?" tanya Nisa.


"Ya, adiknya katanya sakit? jadi dia tak datang juga... aku sudah memberikan surat izinnya" kata Wira.


DRK!


"Siapa memang yang sakit?" tanah seseorang.


"Kak Edward?" tanya David, Wira, dan Nisa.


"Katanya, adiknya Andika sakit dan dia ingin menjaganya" kata David.


"Begitu" kata Edward.


"Yo! semua! udah kum-... ng? dimana anak kelas satu? belum ke klub?" tanya Meghan.


"Selamat siang, maaf terlambat" kata Zeydan yang datang bersama Pasha, Yusuf, Ilman, Salsa, Dirga, Karin, dan Adelia.


"Panjang umur" gumam David.


"Baiklah... tugas klub kali ini adalah, cara menggunakan kunai dengan teknik pelemparan yang benar" kata Meghan.


Skip Pulang dari klub...


"Edward! nanti tolong kau berikan laporan pada Yumna dan aku yang akan mengurus klub ya! bye!" kata Meghan.


"Ck! merepotkan dasar kacamata menyebalkan" kata Edward.


Di Istana...


Mata Erika harus di perban karena hampir mendekati kebutaan.


Erika perlahan-lahan ke meja ruang tamu kamarnya untuk mengambil air dengan meraba-raba.


Andika diam-diam mendekatkan gelas padanya, Erika meraba lagi untuk mengambil tempat air.


Andika mendekatkannya lagi pada Erika.


Erika meminum air dan obatnya.


"Bagaimana katanya ya, mataku harus di perban 9 bulan sekali sampai umurku yang ke 16 tahun" gumam Erika.


"Aku... menyesal, kenapa aku menggunakan Silent-ku, meski di perban 9 bulan sekali, aku ingin menjadi ninja yang hebat seperti Zeydan dan mengagumkan seperti kak Andika" kata Erika.


"Yun-chan" batin Andika.


"Tak apalah, aku harus ke kamar untuk istirahat" kata Erika mulai ke kamarnya.


Di Ruangan Amanda...


Amanda sedang sendirian memeriksa diagnosis kondisi mata Erika dan ternyata di bagian saraf optik mata Erika terlalu banyak menerima radiasi sinar yang terlalu kuat karena Silent dan hampir mengalami kebutaan karena Erika belum handal dalam mengontrol energi dalam mengaktifkan Silent-nya.


"Kasihan Erika"


Tok! Tok! Tok!


"Ng? masuk" kata Amanda sambil menyimpan dokumen tentang pemeriksaan Erika ke dalam lacinya.


"Permisi, Yang mulia" kata Adin


"Kak Adin? mereka biasanya mengantarkan surat dari Dimensi Astral, kenapa tiba-tiba kak Adin? ada apa memangnya?" batin Amanda saat melihat surat dengan logo pasukan pemberantasan.


"Ya? ada apa?" tanya Amanda.


Amanda membuka dokumen itu sambil Adin itu bicara.


"Dan saat kami menerima laporan dari tim yang berjumlah 75 orang, yang sedang menjaga tempat penyegelan Pandora nanti, pasti keesokan harinya pasti yang kembali ke markas hanyalah sekitar 15-28 orang saja" kata Adin itu.


Amanda melihat berkas yang ada, berupa foto-foto tempat penyegelan Pandora, sampel DNA darah yang didapat untuk dia uji coba nantinya, dan beberapa bukti forensik.


Amanda menghembuskan nafasnya sejenak.


"Baiklah, apakah ada lagi yang mau kau sampaikan?" tanya Amanda.


Di Lorong Istana...


Edward dengan berpakaian prajurit ninja berjalan di lorong untuk menemui Amanda.


Andika sedang menuju dapur untuk mengambil air dan berhenti di pertigaan lorong.


"Eh!? Itu... mirip dengan kak Edward tapi lain!" batin Andika dengan mengucek-ucek matanya dan Edward langsung hilang karena sembunyi.


"Eh? mungkin aku cuman halusinasi" kata Andika dan langsung pergi ke dapur.


SRING! Edward bertapak di langit-langit istana dan menggunakan jurus kamuflase.


"Syukurlah dia tak melihatku tadi" kata Edward dan pergi keruangan Amanda.


Sesampainya di pintu...


Edward akan memegang engsel pintu untuk membukanya.


"Aku tidak setuju, aku tidak setuju untuk mengirim Edward ke dalam misi ini" kata Amanda.


"Eh?" batin Edward.


Edward mulai mendengarkan dari luar.


"A.. Anda tidak setuju kalau saya menyarankan Kapten Edward menjalankan misi untuk menyelidiki makhluk astral yang memangsa para pasukan?" tanya Adin.


"Kenapa? bukankah Kapten Edward itu berasal dari Fujiwara? dia bahkan dapat mengalahkan 30 makhluk astral dalam sekali gerakan!" kata Adin sambil sedikit menggebrak meja.


"Turunkan tanganmu dari mejaku" kata Amanda.


"Ma.. Maafkan saya" kata Adin.


"Meski Edward kuat, kau tahu kan Adin? dia adalah sepupuku, aku tidak bisa membiarkan dia mati! selain untuk kepentingan di Dimensi, dia juga keluargaku!" kata Amanda dengan beraut wajah serius.


"Yang mulia Aliana, izinkan saya untuk menjelaskan dari pihak saya" kata Adin.


"Diizinkan" kata Amanda.


"Meski begitu, mungkin saja Kapten Edward memiliki kekuatan bertarung yang luar biasa kuatnya, dan dosis kekalahannya itu mustahil, jadi... dengan mengirim kapten ke misi penyelidikan ini, akan banyak keberuntungan yang ada" kata Adin.


"Antara lain... untuk penyegelan Pandora akan aman dan berhasil dengan lancar. Kedua, dapat memperkuat pasukan pemberantasan. Ketiga, akan menunda para korban yang ada. Keempat, kita bisa dengan cepat mengetahui para makhluk astral pembantai manusia" Jelas Adin.


Amanda terdiam.


"Adin... apakah kau tidak berpikir bahwa setiap yang ada pasti akan menimbulkan resiko kan?" tanya Amanda.


"Eh? maksud anda?" tanya Adin.


Edward tetap diam di depan pintu sambil mendengarkan.


"Apakah kekuatannya itu akan menjamin keselamatannya dari kematian? apakah kekuatannya itu akan membuatnya bisa terus hidup? dan apakah kekuatannya itu bisa mengeluarkannya dari kesendirian dan kesedihannya karena kehilangan Ibu dan Pamannya?" tanya Amanda.


"Tidak.. tidak bisa, Yang mulia" kata Adin.


"Itulah yang aku pikirkan dalam memilih setiap orang untuk melakukan sesuatu yang berbahaya demi yang dia ingin peroleh, kalau kekuatan tidak dapat menggapai semuanya, karena kita mencari kekuatan bukan untuk di kuasai, tapi untuk melindungi orang lain... jangan gila akan kekuatan dan malah menyakiti semuanya. Jangan gila akan kekuatan Adin, karena tugas seorang pemimpin adalah melindungi rakyatnya, bukan karena meraih keberuntungan bagi diri sendiri" Jelas Amanda.


"Maafkan saya" kata Adin.


"Tidak apa-apa, maafkan saya yang juga terlalu cerewet padamu" kata Amanda.


"Ah! tidak! anda tidak perlu minta maaf" kata Adin.


"Kalau begitu, saya permisi... Oh iya, anda perlu membaca beberapa laporan privasi di singgasana" kata Adin.


"Terimakasih Adin, aku akan segera ke sana" kata Amanda.


Edward langsung bersembunyi agar tak terlihat oleh Adin.