
Rafi sedang duduk di meja kerjanya sambil memijit pelipisnya diantara banyaknya berkas yang ada.
"Laporan dari Erika... kalau keluarga Clarke itu telah dijanjikan akan mendapatkan keuntungan dari pihak Klan Fujiwara dan Hasegawa, dan dari pihak titisan Shadow of Lord, dan... mereka ingin menjadikan Dimensi menjadi lebih modern!?" batin Rafi.
"Ketertinggalan 50 tahun ya? dan, mereka ingin menggunakan kotak Pandora yang memiliki energi besar itu bisa memunculkan keuntungan bagi keluarga Clarke... jika menggunakan energi kotak Pandora, maka Negeri Bilton bisa memperoleh keuntungan besar, tapi jika keputusan Erika dan Adelia mengatakan tidak... maka keluarga Clarke akan memperoleh kerugian besar dan itu akan menjadi akhir dari Keluarga Clarke"
"Aku tak terkejut apabila keluarga Clarke memperoleh kerugian, karena mereka sudah mengharapkan balas budi dari Klan Fujiwara berupa sesuatu yang besar dan memperoleh keuntungan, tapi tak mungkin kotak Pandora kan? siklus disini, energi Pandora bisa menjadi keuntungan yang melebihi kepuasan Keluarga Clarke" batin Rafi.
"Tapi... perang antara gerakan pemberantasan dan sekte Dirgapati menjadi tambah mendidih saat Zeydan menyusup ke Dirgapati saat itu" kata Rafi sambil memijit pelipisnya karena masalah dan semakin kerepotan.
Di markas...
Zeydan sedang ada di penjara.
"Harus... lebih kuat lagi, jika tidak... maka mereka berdua akan mati, aku harus menghabisi semuanya" kata Zeydan.
"Ng? apa maksudmu? 'mereka berdua', itu siapa?" tanya Meghan yang disitu.
Zeydan hanya melirik.
"Ada apa? menghabisi semuanya? apa sebenarnya yang ingin kau perbuat Zeydan?" tanya Meghan.
Zeydan memejamkan matanya.
"Komandan, apa yang anda lakukan disini!?" tanya Zeydan.
"Ng? tentu saja untuk mengecekmu" kata Meghan.
"Kau masih frustasi?" tanya Meghan.
Zeydan kembali mengingat rapat 1 tahun yang lalu.
Flashback saat sedang rapat membahas....
"Kami memutuskan untuk menggunakan cara ketiga. Cara ketiga... yaitu menggabungkan kekuatan kutukan Pandora, dan kutukan Kematian Shadow Lord, dengan cara itu kita bisa kembali menetralkan keseimbangan Dimensi" kata Meghan.
"Dengan cara ketiga ini, kutukan kematian Shadow Of Lord otomatis akan aktif kepada para titisan yang telah ditetapkan, tapi dengan syarat setelah aktif, maka salah satu pemegang kutukan Pandora harus mewarisi kutukan Pandora nya kepada titisan Shadow Of Lord yang telah ditetapkan, tapi itu tidak ada jaminan nyawanya tetap aman" jelas Meghan lagi.
"Tapi... kurasa ada cara lain" kata Zeydan yang ada disitu.
"Apa maksudmu?" tanya Elena.
"Inti Pandora, adalah kemampuan langka seorang pemegang kutukan Pandora yang bisa mengendalikan Subjek Pandora, bahkan makhluk astral itu sendiri" jelas Zeydan.
"Aku membangkitkan Inti Pandora pada saat bersama Eri yang seorang Fujiwara dan disitu kondisiku sedang dalam hasrat keputusasaan, artinya ada saat dimana pemegang kutukan Pandora bisa mengendalikan Inti Pandora. Mungkin cara membangkitkannya berbeda-beda ataupun juga bisa sama" jelas Zeydan lagi.
"Sampai saat ini, mungkin aku tidak boleh memiliki rasa keputusasaan maupun melakukan kontak fisik dengan seorang Fujiwara seperti kak Andika, maupun yang memiliki hubungan ikatan dengan Fujiwara seperti Adelia"
"Maksudmu, aku bisa mengaktifkannya juga?" tanya Andika.
"Itu... bisa jadi, karena kau seorang Fujiwara kan?" tanya Zeydan.
"Karena, Shadow Lord juga mempunyai ikatan batin dengan Fujiwara. Itu berarti Adelia hanya perlu melakukan rencana penitisan baru dengan melakukan perjanjian Pandora saat Tanggal Emas saja itu sudah cukup. Nyawanya juga tidak terancam, Kak Andika tidak perlu mengorbankan dirinya. Namun keseimbangan dimensi tidak bisa berlanjut jika Adelia melakukan hanya melakukan rencana penitisan baru saja dengan perjanjian Pandora" jelas Zeydan.
"Apa itu rencana penitisan baru?" tanya Andika.
"Pertama, jika Shadow Lord tiada. Maka kutukan kematiannya akan menitis. Tapi akan sulit dicari keberadaannya, tidak seperti Adelia yang memang bergabung pada Gerakan pemberantasan secara kebetulan, tapi dapat disadari oleh Nona Ratri berkat titisan sebelumnya. Jika melakukan penitisan baru, maka akan langsung menitis tapi kita takkan tahu siapa yang akan menerima kutukan kematian itu. Tapi itu jika melakukannya dengan rencana penitisan baru, beda jika menggunakan cara ketiga" jelas Zeydan.
"Kau... "
Zeydan berbalik.
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" tanya Edward.
"Karena, Fujiwara yang membuat kutukan kematian dulu juga melakukannya dengan cara yang sama yaitu dengan perjanjian Pandora. Jadi kurasa itu cara yang masuk akal tanpa melakukan mediasi Clarke" jelas Zeydan.
"Karena aku juga mengkhawatirkan Adelia" kata Zeydan.
Adelia terdiam.
"Karena seperti yang dikatakan pihak keluarga Clarke, kalau seorang Bayangan Pemimpin melakukan penitisan baru tapi bukan seorang Fujiwara maupun Hasegawa, maka itu tak ada jaminan dan kemungkinan besar langsung mati, jadi mereka memberikan pilihan untuk membuat Bayangan pemimpin yang ingin melakukan penitisan harus mempunyai kekebalan energi seperti seorang Fujiwara" jelas Zeydan.
"Itu masuk akal, tapi apakah kau tidak berpikir? kalau Pihak Clarke kemungkinan besar tak akan setuju?" tanya Ersya.
"Penitisan baru yang dilakukan bertujuan agar segel kutukan kematian Shadow Lord bisa menguat" kata Vanora.
"Kau harusnya tidak gegabah, kita hanya akan memperoleh kerugian jika melakukan sesuatu tanpa memandang yang lain" kata Rahmat.
Flashback Off....
Zeydan memejamkan matanya.
"Aku tak mau memikirkan hal itu lagi" kata Zeydan.
"Dan apakah kau lupa? alasan kau dipenjara karena kau hampir membahayakan pasukan pemberantasan karena sembarangan masuk ke wilayah Dirgapati" kata Meghan.
"Karena itu juga, temanmu tiada"
Flashback....
Penelitian rahasia di Magnaga City 2 tahun yang lalu...
Mereka semua harus menaiki kapal dari Helvetia ke Magnaga.
"Sudah berapa tahun kita tidak ke Dunia nyata?" tanya Ilman.
"Entahlah, ini menjadi sangat modern" kata Dirga.
"Memang benar kata Nyonya Sera, Dimensi Astral telah mengalami ketertinggalan selama 50 tahun" batin Erika.
Zeydan menatap luasnya laut.
"Kau suka laut ya, Zayn?" tanya Erika.
"Eh? Mm... entah, aku hanya suka pemandangannya saja" kata Zeydan.
"Mana Pasha?" tanya Erika.
"O.. Oh, dia sedang mabuk laut dan istirahat di dalam kapal" kata Zeydan.
"Kasihan dia, aku akan mengantarkan minyak kayu putih padanya" kata Erika.
Baru beberapa langkah Erika pergi dari Zeydan.
"Jangan!!!" Seru Zeydan.
"Ng?" tanya Erika.
"Tetaplah disini!!" kata Zeydan.
"Eh?" Erika kebingungan.
"Ma... Maksudku, aku sudah memberikan minyak kayu putih pada Pasha" kata Zeydan.
"Be.. Begitu"
"Kenapa Zayn? dia seperti sangat ketakutan dari wajahnya tadi" batin Erika.
Sesampainya di pelabuhan...
Mereka berada di balai kota.
"Duh, aku jadi merasa asing" kata Dirga.
"Kalau begitu, tidak apa-apa kan kami membeli Es krim?" tanya Ilman.
"Jangan boros!" kata Edward.
"Hei Bocah" panggil seseorang pada Edward.
Edward berbalik.
"Kau tidak terlihat akrab Nak, apakah kau sendirian?" kata seorang badut.
"Bocah katamu?" tanya Edward dengan kesal, tidak ada orang lain selain Meghan dan Arsya yang sering menyinggung hal itu.
"Lawak sekali kau badut, tidak punya lawakan lain kah? sepertinya menyenangkan jika kuputar mulutmu ke belakang" kata Edward dengan aura mencekam.
"E-eh!?" tanya si badut yang agak ketakutan.
"Ah! hahaha! maaf ya! temanku agak depresi setelah dari kantor!" kata Meghan mengalihkan perhatian.
"Atau kau ingin berbincang dengannya?" tanya Meghan.
"Tidak akan" kata Edward.
"Gi... gitu ya" kata Meghan.
"Bentar! Dompetku ketinggalan!" kata si badut dengan lari.
"Bocah? bocah katanya? sedangkan aku lebih tinggi 10 cm darinya, seenaknya... bocah? bocah katanya?" gumam Edward.
"Ward, itu karena wajahmu yang baby face!" bisik Meghan.
Mereka harus beristirahat dulu di restoran.
"Zayn, karena kita berada di Dunia nyata, mungkin saja agak berbahaya, jadi jangan jauh dariku" kata Erika.
Zeydan melamun.
"Zayn?" tanya Erika.
"Eh? baiklah" kata Zeydan.
"Ingin makan apa?" tanya Pasha yang duduk satu meja dengan Zeydan dan Erika.
"O.. Oi! Salsa! kau kebanyakan makan!" kata Ilman yang satu duduk satu meja dengan Dirga dan Salsa.
"Ck! teh tawar tidak ada ya?" tanya Edward yang duduk satu meja dengan Meghan.
"Haha! suasanamu selalu buruk ya?" tanya Meghan.
"Ng? Ah!! Rudy! lama tidak bertemu ya!" kata Ilman, dia bertemu dengan teman masa kecilnya dulu.
"Ya, apa kabar, Man?" tanya Rudy.
"Kau punya mata lihat saja diriku?" tanya Ilman.
"Hmf... sepertinya bertemu teman masa kecil itu benar-benar menyenangkan, Dasar..." kata Erika.
"Mau ketemu bagaimana? kita bertiga dari kecil itu sahabat kan?" tanya Zeydan.
"Kau benar, baiklah... aku ingin pesan salad saja" kata Pasha.
"Aku steak" kata Erika.
"Aku juga steak panggang! itu kesukaanku!" kata Zeydan.
Setelah semua selesai makan...
Ilman akan membayar karena dia memegang keuangan.
"Eh? kantong uang mana?" tanya Ilman.
GREP!! Edward langsung menggenggam tangan seorang bocah.
"Hei, kantong uang itu bukan milikmu" kata Edward.
Si bocah benar-benar ingin melepaskan tangannya tapi genggaman Edward benar-benar keras.
"Ada apa? apakah dia pencopet?" bisik para pelanggan.
"Gawat kalau kita bisa mengundang keributan!" bisik Meghan.
Dan benar, hal itu menjadi keributan.
"Ck! kenapa kalian semua ribut!? aku hanya mengatakan kalau kantong uang ini bukan milik anak ini!" kata Edward dengan berdecak kesal, Edward sangat tidak menyukai keramaian dan keributan.
"Aku tak mengatakan dia mencopet, soalnya kantong uang ini milik kakak anak ini yang disitu tuh" kata Edward sambil menunjuk Salsa dengan dagunya.
Salsa kaget tapi mengerti, Edward harus mengalihkan perhatian agar tak ada keributan.
"Be.. benar, ayolah dek! su.. sudah berapa kali kakak katakan agar jangan mengambil barang bukan milikmu" kata Salsa memerankan aktingnya.
"Haha, ini memang keluarga yang rumit ya kak" kata Dirga.
"Bohong! jangan coba-coba berbohong kalian!" kata pelanggan.
"Kita pergi dari sini!" bisik Edward dengan menggendong si bocah sambil menurunkan topinya agar menutupi wajahnya.
Saat sudah jauh...
Si bocah hanya tersenyum dan pergi membawa kantong uang.
"Yah, pada akhirnya, kantong uang itu adalah uang saku yang diberikan Clarke pada kita" kata Ilman.
"Akhirnya kami berdua bisa menyusul kalian!" kata Zeydan yang tangannya terikat dengan tangan Erika menggunakan kain putihnya.
"Eh? waduh!! lupa! kita belum bayar!" kata Ilman yang berniat kembali ke restoran.
Zeydan menahan Ilman dengan menggenggam jubah baju belakang Ilman.
"O.. Oi! apa maksudmu!?" tanya Ilman.
"Aku sudah membayar makanan kita di restoran tadi, makanya aku dan Zayn tersesat dan terpisah dari kalian semua" kata Erika.
"Oh, begitu. La.. Lalu, itu apa?" tanya Ilman yang langsung jealous melihat ada kain putih yang mengikat tangan Zeydan dan tangan Erika.
"Oh, tadi banyak orang jadi kami putuskan untuk mengikat tangan kami agar tidak tersesat" kata Zeydan.
Erika hanya agak malu.
"Permisi, saya akan mengantarkan kalian ke Mansion Clarke" kata salah satu pembimbing.
Di Mansion...
"Akan ada pertemuan untuk membahas tentang permasalahan Pandora esok" kata Edward.
"Kenapa? bukankah Pandora seharusnya menjadi pegangan keluarga Ameera?" tanya Dirga.
"Untuk saat ini, ada dua pihak keluarga yang masing-masing memiliki hak dan berseteru, jadi kau dan Adelia nanti yang akan memberikan keputusan, lagipula... kita harus berhati-hati agar Chandra tidak merebut kotak Pandora ataupun menaklukan matahari" jelas Edward pada Erika.
"Kita juga tidak bisa membiarkan Chandra mendapatkan kekuatan kutukan Pandora yang bisa melampaui batas kekuatan Chandra, dan dengan ini kita akan meningkatkan penjagaan pada Zeydan dan juga Kenzo" kata Meghan.
"Saya dan anggota keluarga Clarke akan berusaha dengan sangat keras untuk membantu kalian meraih kemenangan, seperti yang keluarga Clarke lakukan dulu saat melindungi Klan Fujiwara dan keluarga Hasegawa saat masa pembantaian" jelas Sera.
"Eh!?" tanya Erika.
"Kenapa Erika?" tanya Pasha.
"Dimana Zayn!?"