Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 2 Episode 7 : Dimensi misterius (1)



Di Ruangan Pak Andi...


"Nak Ratri?" tanya Pak Andi.


"Lord Fifth!" Ratri langsung memberi hormat ala pasukan.


"Ada apa?" tanya Pak Andi.


"Bagaimana dengan pencarian Yumna dan lainnya? apakah jasad mereka ditemukan?" tanya Ratri.


"Sayangnya belum, maaf ya" kata Pak Andi.


"Tidak, anda tidak perlu minta maaf, saya yakin kakak saya Rangga bisa bertahan di suatu tempat, tolong! izinkan saya ikut serta dalam pencarian ini" kata Ratri.


"Jika Ratri memimpin pencarian maka rencana akan berantakan" batin Pak Andi.


"Saya tidak mengizinkanmu Ratri, kami saja yang akan mengurus pencarian ini" kata Pak Andi.


"Tapi... baiklah, saya permisi" kata Ratri.


"Tentu"


Ratri berjalan menuju lapangan.


"Kenapa Lord Fifth terus melarang kami untuk mencari kak Rangga, Yumna dan yang lainnya?" tanya Ratri.


"DOR!"


Ratri kaget dan melihat.


"Meghan?" tanya Ratri.


"Yo! kenapa Nona Shadow of Lord ada disini?" tanya Meghan.


"Berhentilah memanggilku begitu, aku tak berguna, bahkan para penyegel Pandora menghilang aku tak bisa berbuat apapun" kata Ratri.


"Meski begitu, itu adalah kejadian 3 tahun yang lalu... kau tetaplah bayangan para Lord, termasuk Lord Sixth. Jangan muram begitu!" kata Meghan.


"Maaf, Edward pasti juga kecewa karena aku tak bisa menyelamatkan Yumna" kata Ratri.


BLETAK! Ratri di jitak.


"Kau jadi mirip dengan Edward yang tak bisa melupakan masa lalu" kata Meghan sambil memainkan pisau bedah yang selalu dia bawa, yang bisa di modifikasi secara singkat menjadi alat serang hanya menekan tombol.


"Aku hanya penasaran, kenapa Edward begitu terobsesi dengan kematian Yumna? dia bahkan belum pernah seperti ini sebelumnya kan?" tanya Ratri sambil memegang kepalanya yang di jitak.


"Entah, karena sikapnya yang dingin dan tak peduli... itulah yang membuat orang-orang membencinya" kata Meghan.


"Bagaimanapun juga, Yumna dan yang lainnya meninggal karena melindungi orang-orang agar hal-hal yang tidak baik yang di sebarkan Pandora tak menyebar luas pada manusia lainnya" Jelas Ratri.


Di Ujung Selatan markas...


"Ugh!" Nisa sedang membaca surat.


"Kenapa menggerutu Nisa?" tanya Andika yang menemani Nisa.


"Aku kesal! Mama dan Papa hanya menanyakan kabar dan menasihati ku habis-habisan di surat ini! katanya mereka ragu aku tak bisa menjaga diri! dan sepertinya mereka lebih banyak berharap pada Zeydan!" kata Nisa.


Andika terbelalak.


"Hei... " kata Andika.


"Cukup Nisa!" kata Andika.


"Apaan!? kau tidak mendukungku!?" tanya Nisa.


"Bu.. Bukan, bukan begitu! kau tidak boleh pada orang tuamu sendiri" kata Andika.


"Cukup! Erika dan Zeydan sekarang sedang dalam misi, aku yakin Erika mungkin akan sependapat denganku" kata Nisa.


Andika hanya menatap Nisa dengan mengerutkan keningnya.


SRING!!! Tiba-tiba logo kutukan Pandora menyebar.


"Eh!?" tanya Andika.


"Kalian disini rupanya?" tanya seseorang.


"Kau!!? Chandra!!" Seru Andika dan melancarkan jurus.


"Uchuu Ankoku Ninpou!!" Seru Andika.


WUSH! Chandra langsung mengeluarkan Black Hole dari tangannya.


Serangan petir khas klan Fujiwara itu langsung terserap sedangkan Andika terjatuh.


"Ke... Kenapa dia tembus?" tanya Andika.


"Kau memang masih lemah ya? Kenzo?" tanya Chandra.


"Andika!" Nisa menghampiri Andika.


"Baiklah... aku akan pergi, sebentar lagi, kekuatan besar itu akan menjadi milikku" kata Chandra dan meninggalkan Black Hole ke arah Andika dan Nisa.


SRING!! Cahaya terang langsung menyinari keduanya.


"Kenapa silau sekali?" tanya Nisa setelah cahaya terang itu menghilang.


"Aku tidak tahu, kita masih disini dalam keadaan baik-baik saja" kata Andika.


"Itu mereka! kita harus memberitahu mereka!" kata Nisa menunjuk Wira, David, dan Tara.


"Hei! kalian!" kata Andika.


"Ng?" tanya mereka bertiga.


"Kalian tahu!? tadi Chandra muncul!" kata Nisa.


"Ng?" tanya mereka bertiga lagi.


"Hei? kalian dengar kan?" tanya Andika.


"Kami dengar, tapi.... apa itu Chandra? sejenis hewan?" tanya Wira sambil memutar jari kelingking ke telinganya.


"Dasar!!! Kalian benar-benar tak tahu!? ini bukan waktunya bercanda!" kata Andika.


"Kami tak bercanda, terserah kaulah" kata David, disusul Wira dan Tara lalu pergi.


"A... apa... apa yang terjadi?" tanya Andika dan Nisa.