Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Additional chapter : Past (1)



Di lapangan latihan belakang istana...


Amanda dan Andika berlatih bertarung.


Andika mencari celah pada Ibunya dengan Turquoise-nya.


Sedangkan Amanda menipu mata Andika dengan serangan.


"Duh! aku memang gak bisa ngalahin Ibu dengan kecepatan dan serangan!" kata Andika.


"Begitu ya?" tanya Amanda.


Andika manyun dengan menggerutu sambil menatap ke arah lain.


"Padahal aku sudah menggunakan seluruh tenaga dan kekuatanku, aku tak tahu apakah kekuatan kutukan Pandora berpengaruh" kata Andika.


"Yah, Andika bisa bertarung dengan Chandra sehebat itu karena bantuan kekuatan kutukan Pandora sih" batin Amanda sambil tersenyum.


"Andika marah karena Pandora dan kutukannya udah gak ada?" tanya Amanda.


"Bukan gitu, hanya ingin mencari tahu gimana meningkatkan kekuatan untuk melindungi Ibu meski ibu lebih kuat dariku, aku sangat bebas karena segel kutukan Pandora sudah tidak ada di tanganku dan... " Andika menghentikan kata-katanya lalu menunduk.


"Zeydan pasti juga merasa seperti itu" kata Andika.


Amanda tercengang dan kaget lalu berekspresi dingin dan formal.


PUK! Amanda menepuk kepala anaknya dengan tangannya secara lembut, dia sekarang menyadari kalau Putra sulungnya telah berbeda 10 cm dari tingginya.


"Usaha yang bagus" kata Amanda.


Andika tercengang.


"Semoga kamu bisa mengalahkanku... sebelum menduduki jabatan sebagai Pilar" kata Amanda sambil pergi.


Andika tiba-tiba langsung sadar.


"EH!? MAKSUDNYA!!!?" Seru Andika.


Andika akhirnya tahu maksudnya.


"Ibu... "


Amanda berbalik.


"Kenapa?" tanya Amanda.


"Apakah... aku sudah menyelesaikan tugasku dengan baik? apakah... aku sudah menjadi prajurit yang mengakhiri perang itu? apakah... Ayah akan tersenyum padaku?" tanya Andika.


Amanda terbelalak dan terdiam menatap Andika.


Andika hanya menanti jawaban.


Amanda tersenyum.


"Kau telah membuat Ayah dan Ibu bangga lho" kata Amanda.


Andika terbelalak lalu tersenyum.


Amanda menuju taman paling belakang istana.


Di sana...


Amanda menaruh bunga Zinnia biru di tanah yang sedikit meninggi yang ditumbuhi rumput, yang di mana dalam ajaran islam bahwa rumput yang tumbuh subur diatas kubur dapat menghapus dosa penghuninya.


Dengan helaan nafas, sang Putri Silent tersebut masih berharap yang terjadi adalah mimpi, ia masih tidak ingin anak sahabatnya yang sudah ia anggap anak sendiri pergi secepat ini.


"Assalamu'alaikum Zeydan... Tante kembali, kau mungkin terkejut, kenyataan bahwa sebenarnya Tante sudah tiada, tapi berdiri tepat di depanmu" kata Amanda.


"Tante membawa pesan dari orang tuamu dan kakakmu, mereka baik-baik saja, kau tidak perlu mencemaskan hal itu"


"Tentang yang kau lakukan di Dimensi Astral... Tante sudah mendengarnya dari Pasha, bahkan soal perasaanmu yang sebenarnya pada Erika, Dasar..." kata Amanda yang mendengar semua yang dilakukan Zeydan dari Pasha, termasuk perlakuan Zeydan yang gegabah dalam usahanya untuk membuat Erika agar tidak terikut padanya sampai menyakiti perasaan Erika.


"Aku kasihan pada Erika yang kesepian setelah kau pergi, mungkin kau juga merasakan hal yang sama, aku juga... sudah kehilangan suamiku, kakakku, dan khodam yang sudah kuanggap keluarga sendiri"


"Dengan begitu, terima kasih untuk semua jasamu didunia ini maupun Dimensi astral" kata Amanda dan mengakhiri ziarahnya.


"Tante... "


Amanda berbalik.


"Ze... Zeydan?!" tanya Amanda melihat Zeydan.


"Tidak, aku pasti kecapean, ini nih kalau pagi lupa baca dzikir" kata Amanda.


"Aku tidak bercanda,Tante" kata Zeydan.


"Kau... tidak mungkin! kau sudah gak ada Zeydan?" kata Amanda.


"Aku... hanya sedikit tidak rela, jadi aku tidak bisa pergi dengan tenang" kata Zeydan.


"Zeydan, kau sudah bebas. Dari kutukan yang membatasi kebebasan dan kehidupanmu, kau juga sudah bisa istirahat dengan tenang, bukankah itu hal yang bagus?" tanya Amanda.


"Lalu, apa yang mau kamu tanyakan?" tanya Amanda.


"Aku berhasil menjaga Eri dan Pasha agar tidak mati, aku juga bisa merasakan kebebasan.Tapi, meninggalkan mereka bukanlah pilihan yang kuinginkan! aku ingin hidup bersama kalian... ini adalah pilihan terburuk yang kupilih" kata Zeydan sambil menangis.


"Zeydan... "


Amanda merasa sangat kasihan dengan Zeydan, sampai-sampai Amanda menahan air matanya. Amanda mengerti, Zeydan adalah anak yang amat tertutup dan rela berkorban. Zeydan tentu terus berusaha mencapai kebebasan dan kedamaian, akhirnya Zeydan merasakan kebebasannya setelah ia tiada.


Tapi, Amanda seketika itu juga menyadari dirinya keliru dan menyadari makna ucapan Andika, bahwa Zeydan memperjuangkan segalanya untuk kebebasan dan kedamaian, agar bisa ia tidak sendirian menikmatinya.


Namun karena Zeydan telah tiada Amanda tidak bisa berbuat apapun selain memberikan saran, kesedihan Zeydan mengingatkan dirinya pada kepribadian suaminya yang rela mengorbankan apapun demi dirinya dan keluarga.


"Zeydan, tidak ada yang perlu disesali. Ini adalah pilihan terbaikmu, kau melakukan hal yang luar biasa, Zeydan" kata Amanda sambil tersenyum yang memenangkan Zeydan yang menangis.


"Hal terbaik? meninggalkan Eri dan Pasha tidak pernah menjadi hal yang terbaik!" kata Zeydan.


"Zeydan, kau tahu? sejak lahir, kau memiliki banyak pilihan dengan akhir yang berbeda sebelum kau mendapatkan peringatan itu" kata Amanda dengan senyuman.


"Ta... Tante tahu soal peringatan itu?!" tanya Zeydan.


"Tentu saja! tapi kau sangat menyayangi Erika, Pasha, dan yang lainnya. Akhirnya pikiranmu menjadi buta dan ingin mencegah semuanya dengan cepat karena begitu sayangnya kau pada mereka. Kau berakhir dalam pilihan ini bukanlah suatu hal yang harus kau sesali"


"Bahkan kau juga bisa merasakan kebebasan dan kedamaian karena meski kau mendapatkan hal itu setelah tugasmu di dunia telah selesai. Setidaknya, kau pun masih bisa melihat dan berada di sisi Erika maupun Pasha" jelas Amanda sambil memberikan setangkai bunga Zinnia biru.


"Tante..." Zeydan menerimanya dan memegangnya.


"Sampai kau mengerti, kau bisa saja masih di dunia ini meski bukanlah lagi seorang manusia, tapi kita sudah berbeda dunia. Tante ingin kau bisa mengerti, lihatlah" kata Amanda sambil menyuruh Zeydan melihat ke atap istana.


Zeydan melihat ke arah yang dimaksud Amanda. Ia terbelalak erdapat Erika sedang berlatih dengan keras dan mengasah kemampuannya.


"Erika sangat mengerti dan menghargai dirimu, bahkan mau menjadi ninja terhebat seperti yang kau inginkan"


"Kalau begitu, kau bisa tetap didunia ini. Namun setelah kau mulai bisa rela, pergilah dengan tenang" kata Amanda.


"Terimakasih, Tante"


Amanda berjalan akan kembali ke ruangannya, namun ia terpikirkan dengan pertanyaan Edward.


"Apakah kau tidak keberatan aku membuat hidupmu lebih bahagia dengan cara seperti ini?"


BLUSH!!! Itu membuatnya tidak bisa memikirkan jawabannya.


"Menjadi lebih bahagia ya? kenapa? padahal aku banyak kurangnya, aku seorang janda, mataku cacat, selalu sibuk, dan biasa-biasa saja. Lagipula aku hanyalah sepupu jauh Kapten, kenapa? banyak yang lebih baik di dunia ini. Kenapa aku Kapten?" batin Amanda.


Akhirnya sudah aku putuskan.


Di ruangan Edward...


"Maaf, aku menolak lamaran Kapten" kata Amanda dengan menundukkan kepalanya dan berdiri tepat di depan meja Edward.


Syu....


"Apa... aku terlalu kasar dan mendesak padamu?" tanya Edward yang agak kecewa.


"Apakah, Yumna menolakku karena aku ini gak peka'an?" batin Edward.


"Bukan, hanya saja... aku takut jika Kapten menikah denganku Kapten akan disangka punya selera jelek" kata Amanda.


"Hah?" Edward kaget karena alasan Amanda tidak masuk akal dalam pikiran dan ekspektasi Edward.


"Maaf?" tanya Edward.


Karena Edward paling masa bodo pada soal "jelek dan selera".


"Aku menyadarinya... aku ini banyak kelemahan, tidak bisa berpikir lebih luas, seseorang dengan banyak kekurangan, bahkan mataku saja cacat, dan statusku bukanlah seorang perawan lagi. Seharusnya saat penyegelan Pandora 6 tahun yang lalu aku tiada saja" jelas Amanda.


"Aku gak mau... hanya karena menikah denganku nama baikmu jadi tercoreng. Kapten seharusnya lebih bersama dengan seseorang yang seharusnya... mendekati kata sempurna. Aku tahu di dunia ini tidak satupun manusia yang sempurna, aku salah satunya" jelas Amanda.


"Tapi... aku tidak pernah mempermasalahkan soal kekurangan, tuh?" tanya Edward.


"Selain itu... aku juga gak mau, nantinya aku akan meninggalkan tugasku maupun dunia ini... aku akhirnya tau Kapten adalah orang yang sangat menghargai seseorang. Namun aku tidak ingin menjadi orang yang sangat berharga bagimu"


"Aku takut Kapten akan mengalami PTSD apabila tidak mampu melepas ku jika aku mati atau apapun" kata Amanda.


"Ah..." Edward menyadarinya, bahwa ia terlalu berlebihan. Edward sangat stres dan trauma saat kematian Amir dan Umar dulu.


"Maaf, aku hanya... tidak punya orang yang lebih menghargaiku. Jadi aku dulu sangat takut kehilangan sesuatu yang sudah dekat padaku. Tapi aku sama sekali tidak peduli soal PTSD dan selera jelek atau apalah itu" kata Edward.


"Aku tahu, itu membuat aku senang, karena perasaan yang kau miliki terhadapku... bisa membuatmu lebih membuka dirimu kepada orang lain. Tapi mohon pikirkan soal lamaranmu, Kapten. Aku tidak mau jika kau benar-benar menderita PTSD" pinta Amanda.


Edward terdiam.


"Aku mengerti, aku tidak akan memaksa dirimu. Tapi tolong, cobalah untuk menyadari hakmu menerima kebahagiaan di dunia ini sampai kau mati. Dan tugasku adalah harus menjagamu sampai kau mendapatkan kebahagiaanmu seperti kau dulu bertemu Hikaru pertama kali" jelas Edward.


"Eh?" tanya Amanda.


"Cantik, Yumna itu pintar, Yumna hebat, Yumna kuat, Yumna baik hati, dan Yumna yang kukenal itu sangat istimewa" kata Edward.


"Dan sejujurnya, aku lebih suka dengan dirimu yang apa adanya seperti ini. Seandainya saja saat pertemuan kita pertama kali kita tidak bertarung... mungkin aku tidak menggubrismu sama sekali" kata Edward.


"Berkat itu aku jadi mengenalmu lebih cepat. Jadi aku lebih memilih Yumna yang apa adanya. Pasti Hikaru dan Mizuki juga, berpikir hal yang sama" kata Edward.


"Kau tidak perlu mencintaiku, tapi cintailah dirimu sendiri atas apa yang Maha Kuasa memberikannya padamu" kata Edward.


"Cobalah untuk menyadari betapa berharganya dirimu dimata mereka, dan juga dimataku. Setelah sampai kemudian kau menyadarinya, katakanlah jawabanmu sesuai keinginan dirimu dan aku akan menerimanya" kata Edward.


Tes... air mata Amanda menetes.


"Ugh... terimakasih Kapten"


Akhirnya Amanda kembali ke ruangannya setelah berbicara dengan Edward.


"Ng? kotak dari Cepheus, apa isinya?" gumam Amanda dan membukanya.


"Eh? ini kan... saat aku ke masa lalu bersama para Lupin Star, dan disitulah aku tahu tentang Topan dibalik Awan yang dimaksud Akira-san" gumam Amanda saat melihat sebuah foto.


Flashback 5 tahun yang lalu....


"Ng? mengumpulkan informasi tentang sekte dan organisasi sesat di masa lalu?" tanya Amanda.


"Ya, kita harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, tapi disitu kita akan berpisah agar tak di ketahui, kita akan langsung masuk ke Dimensi Astral begitu masuk ke Dimensi bereaksikan waktu, karena hanya jurus itu yang kita punya" kata Perseus.


"Baiklah"


"Tapi sepertinya kita tidak akan tahu kita ke era apa, jadi rahasiakan identitas kita, meski itu bereaksi waktu, itu bisa mempengaruhi masa depan dan Dunia nyata" kata Cassiopeia.


"Baiklah! baiklah!" kata Amanda.


"Ok, akan ku mulai jurusnya" kata Cepheus sambil membuka gulungan.


"時間ディメンション!"


( Dimensi Waktu!)


WUSH!!! semuanya menjadi terang dan akhirnya mereka terpisah-pisah.


"Ealah! kok bisa aku sendirian?" tanya Amanda.


"Ini Era apa ya?" batin Amanda.


"Huft! Dimensi Astral jadi lebih kuno, tapi baiklah, itu tak jadi masalah" kata Amanda.


Tiba-tiba...


BRUK! Amanda bertabrakan dengan seseorang.


"Aduh! sakit! Dasar..., maafkan aku" kata Amanda.


"Tidak apa-apa, aku juga terburu-buru, Dasar... " kata seseorang.


Amanda melihat yang ia tabrak.


"Eh!? I... ibu!!?" seru Amanda melihat ibunya.


"Hah!!? maksudmu!?" tanya Afifah yang masih remaja.


"Ups!!" Amanda menutup mulutnya.


"Mika! kau baik-baik saja?" tanya Arif yang datang.


"Ya Kaito, aku baik-baik saja, btw... kau siapa? aku belum pernah melihatmu?" tanya Afifah.


"A... aku, aku... aku... "


"Kepiye iki?!" batin Amanda gugup melihat Ayah dan Ibunya ada di depannya sekaligus perasaan gugup dan senang campur aduk jadi satu.


"Maaf jika itu membuatmu tertekan, tapi apakah kau tidak keberatan untuk menemui Pemimpin Gerakan Pemberantasan?" tanya Arif.


"Eh?"


"Iya, karena kau tiba-tiba di Dimensi ini, padahal gak semua orang bisa masuk... tapi, kenapa?" tanya Afifah.


"Apanya yang kenapa?" tanya Arif.


"Kenapa kau... " Afifah memperhatikan Amanda dengan seksama.


"Glek!"


"Sudahlah, nanti saja, mungkin cuman firasat ku"


Sesampainya di markas Gerakan Pemberantasan...


Arif dan Afifah meletakkan tangan mereka di bahu mereka sebagai tanda hormat.


"Hormat kepada Pemimpin!"


"Nak Kaito dan Mika, ada apa?" tanya Pak Andi.


"Kakek... " batin Amanda.


"Begini, kami menemukan gadis di taman Dimensi astral, padahal tidak ada orang yang sembarangan bisa masuk, untuk keamanan jadi... " Arif menghentikan kata-katanya.


"Gadis? aku sudah menikah, Ayah!!" batin Amanda.


"Benarkah?" Pak Andi mulai memperhatikan Amanda.


"Ho... Hormat kepada pemimpin!!" kata Amanda.


"Apakah kau pernah datang ke Dimensi sebelumnya? karena sepertinya kau tidak familiar, dan kau tahu cara hormat" kata Pak Andi.


"E... Eh? saya... saya... " Amanda gugup.


"Dan Nak Arif, bukankah matanya itu mirip seperti matamu? kalian sama-sama mempunyai warna mata yang biru langit yang cerah ya, hohoho" kata Pak Andi.


"Kakek... " batin Amanda.


"Maaf jika saya menyela Lord Fifth, tapi dia juga memiliki aura yang benar-benar hangat dan familiar bagiku. Dia juga memiliki aura Kara di tubuhnya seperti Ryu" kata Afifah.


"Benarkah?" tanya Pak Andi.


"Iya... seperti... "


"Mi... Mika!?" tanya Arif.


Tes... Tes...


Afifah tiba-tiba meneteskan air matanya dan langsung banjir bercucuran.


"Eh? kenapa? kenapa... aku menangis?" tanya Afifah.


Amanda tercengang dan menahan rasa sedihnya, ia tahu Ibunya dulu ingin sekali hidup lama dengannya dan Andra, tapi tak bisa karena Arif dan Afifah sudah tiada saat dia dan Andra masih kecil.


"Anu, kalau... kakak sedang tidak nyaman karena aku, maafkan aku! aku akan permisi" kata Amanda.


Afifah memeluk Amanda.


"Tidak, jangan pergi, aku mohon... ukh! aku ngomong apa sih?" tanya Afifah sambil menangis tidak karuan dan memeluk Amanda dengan erat.


Amanda hanya bereaksi kasihan pada Ibunya, dia mengerti kalau saat menjelang kematian orang tuanya, Ibunya itu hanya ingin hidup lama dengannya dan Andra, dia akhirnya membiarkan Afifah memeluknya dan balik memeluknya juga.


"Maaf, aku malah nangis gak karuan, hanya aku merasa kalau sudah pernah merasakan aura yang benar-benar sangat kurindukan, aku tidak pernah merasa seperti sebelumnya" kata Afifah sambil melepaskan pelukannya.


"Begitu ya" kata Amanda sambil tersenyum.


Tiba-tiba ada cahaya yang muncul, mengisyaratkan kalau Amanda harus ke Era lain.


"Portal antar Era? apakah ia berasal dari Era lain?" batin Arif.


"Sepertinya... aku harus pergi, kalian mungkin akan lupa kejadian ini karena aku akan membuat kalian melupakannya" kata Amanda sambil berbalik membelakangi mereka.


"Sebelumnya... apakah kau... anakku?"


Amanda terbelalak dan berbalik menatap Arif.


"Ka... Kaito?! apa maksudmu?!" tanya Afifah yang terkejut.


Arif hanya bereaksi serius dan menanti jawaban dan tidak menghiraukan pertanyaan Afifah.


"Ayah... ukh, perasaan rindu ini. Aku tidak tahan!!"


"Itu... "


"Akan ku beritahu siapa diriku!"


"Maaf, aku tidak bisa memberitahu. Karena itu akan mempengaruhi siklus waktu" kata Amanda sambil memaksa tersenyum.


"Tidak, jangan beritahu. Aku harus merelakan dan menerima semua rasa sakit ini" batin Amanda.


"Ah, naifnya aku. Benar juga, mohon maaf ya. Lalu, namamu. Kamu belum ngasih tahu namamu kan? apakah itu tidak masalah?" tanya Arif.


"Aku juga tidak tahu siapa dirimu! tolong beritahu aku!" kata Afifah.


Amanda hanya menatap mereka dengan tersenyum.


"Namaku Ana, aku tidak bisa memberitahu siapa aku sebenarnya pada kalian berdua. Seperti yang kukatakan sebelumnya, ini juga bisa mempengaruhi siklus waktu" kata Amanda.


"Baiklah, kami mengerti" kata Pak Andi.


"Iya, kalau begitu... aku akan pergi sekarang, selamat tinggal Ibu, Ayah, Kakek" kata Amanda sambil tersenyum.


Pak Andi dan Afifah tercengang sebelum semua cahaya menyebar luas ke seluruh ruangan, sedangkan Arif agak terbelalak dan tersenyum karena seluruh pertanyaannya sudah terjawab.