Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Season 2 Episode 11 : Rapat dadakan para Pilar



Sebelumnya di misi Zeydan dan Erika.


Zeydan dan Erika memutuskan untuk istirahat sebentar.


Di Alam bawah sadar Erika...


Erika sedang tertidur.


Ada yang memegang kedua pipinya.


"Erika, bangun... kau harus bangun, kakakmu sedang terjebak, dia akan kesulitan! dia bisa kehilangan nyawanya jika kekuatan yang di dalam dirinya di ambil secara tidak sesuai! tolong, bangunlah" Amanda memegang kedua pipinya.


Erika masih tertidur.


"Aku mohon! bangun Erika! Mama mohon!" kata Amanda sambil menangis.


****


Erika langsung terbangun.


Erika berjalan ke arah batu besar yang membuat mereka terkurung.


"Apa... yang ingin kau lakukan Eri?" tanya Zeydan.


Erika langsung meninju batu besar sampai hancur.


JDAR!! Batu itu langsung hancur berkeping-keping.


"Aku akan berusaha tidak membuat Eri marah apapun yang terjadi, jika Eri marah aku akan langsung ke akhirat" batin Zeydan ketakutan.


"Kak Andika dalam bahaya! aku harus menolongnya!" kata Erika dengan keringat dingin.


Flashback Off....


"Setelah itu, kau dan Kak Nisa berada di ruang kesehatan dengan kondisi tidak sadarkan diri, aku di arahkan ke ruang kesehatan dan menarik jiwamu dan kak Nisa kembali" kata Erika.


"Kau... bertemu, Ibu?" tanya Andika.


"Antara sadar atau tidak, aku merasakan kelembutannya menyentuh pipiku" kata Erika.


"Kakak... juga bertemu ya?" tanya Erika.


"Ya, saat itu aku bertemu keluarga kita lengkap yang asli... aku bertemu dengan dirimu yang palsu. Sikapnya begitu menyebalkan tapi aku memaklumi nya" kata Andika.


"Ya Maaf, mungkin itu adalah kebalikannya Dunia nyata" kata Erika.


"Ada benarnya juga! hahaha!" kata Andika.


"Padahal aku ingin sekali tetap di sana" gumam Andika.


"Hm?" tanya Erika.


"Nda, dimana Nisa?" tanya Andika lagi.


"Kak Nisa langsung menyuruh Zayn untuk mengambil cuti seharian untuk bersama orang tuanya" kata Erika.


"Aku sempat bingung sih" kata Erika lagi.


"Kayaknya, kakak tahu jawabannya" kata Andika sambil tersenyum.


Erika hanya terheran melihat kakaknya.


Di kediaman Al Farisi...


Nina dan Zaki sedang duduk di ruang keluarga.


BRAK! Pintu keluarga di dobrak.


"Maafkan saya Tuan, Nyonya atas ketidaksopanan saya!" kata pelayan rumah.


"Ada apa?" tanya Nina.


"Begini... Nona muda dan Tuan muda datang berkunjung!" kata pelayan.


Nina dan Zaki langsung berdiri.


"Nisa dan Zeydan!"


"Manja amat kakakku satu ini" kata Zeydan.


"Nisa?" tanya Nina.


"Maafkan aku Ma! Pa!" kata Nisa sambil menangis.


"Tolong... jangan tinggalkan aku, meski aku jauh" kata Nisa lagi.


"Kenapa tiba-tiba nangis? kenapa harus tinggalin coba?" tanya Nina.


"Zey, kau ledekin apa kakakmu?" tanya Zaki.


"Gak kok Yah! suudzon aja" kata Zeydan.


"Pokoknya, aku minta maaf!" kata Nisa.


"Ya... ya... " Nina dan Zaki hanya bisa mengiyakan saja karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Di Markas....


"Jadi? Nak bertemu dengan Ibu dan Ayahnya Nak Andika?" tanya Pak Andi saat sedang melakukan interogasi dadakan dengan para Pilar yang muncul dengan hologram yang memakai topeng pilar sehingga wajah mereka tak terlihat semua.


"Benar, saya bisa keluar karena bertemu Ibu saya di alam bawah sadar yang menuntun saya saat itu" kata Andika.


"Lalu... saya sebenarnya memiliki keinginan ingin tinggal di sana karena adanya mereka, tapi saya sadar kalau harus tahu mereka yang sebenarnya telah tiada" Kata Andika.


"Kalau hanya berbohong dusta tidak usah banyak bicara" kata Edward yang suaranya dimodifikasi.


"Pilar pedang! jangan menuduh seperti itu! kita harusnya dapat untungnya karena bisa menemukan sedikit informasi tentang Chandra Nagata!" kata Meghan.


"Mungkin ini memang sulit dipercaya, tapi... teman saya perempuan juga melihat semuanya, bisa jadi ini di katakan sebagai Astral Projection" kata Andika.


"Astral Projection?" tanya Rahmat.


"Tapi ini mungkin memiliki jenis yang berbeda" kata Vanora.


"Kenapa berbeda?" tanya Farel.


"Karena... Astral Projection biasanya mempunyai kelebihan jiwa seseorang akan dapat melakukan perjalanan astral yang hanya jiwanya saja, tapi ini tidak menyebabkan seseorang mati yang di sebut Astral Projection, tapi jujur saja aku tak pernah dengar ada Astral Projection yang melakukan perjalanan antar Dimensi buatan manusia" Jelas Elena.


"Jadi bisa dibilang Astral Projection ini sedikit... unik?" tanya Rahmat.


"Benar... aku akan menelusuri ini nanti, Kenzo datanglah ke ruanganku" kata Meghan.


"Baiklah... kirimkan selebihnya nanti, Nak Kenzo" kata Pak Andi.


"Tentu Lord Fifth" kata Andika.


Semua Hologram dimatikan kecuali Hologram milik Edward yang menatap Andika lalu mematikannya.


"Kenapa Pilar pedang menatap ku dengan seperti itu?" batin Andika.


Di Ruangan Meghan...


Tok! Tok! Tok!


"Ng? Ehem... Bilang yang saya bilang" kata Meghan.


"Yang saya bilang"


"Masuk" kata Meghan.


"Em... Nona Meghan?" tanya Andika.


"Wah! Kenzo! masuk! masuk!" kata Meghan.


"Sandi yang lumayan sulit... " batin Andika.


"Duduklah" kata Meghan.


"Baiklah... " kata Andika..


"Ok, mari kita mulai pemeriksaannya"