Between Curse and Peace

Between Curse and Peace
Episode 24 : Kebenaran



"Andika! Andika! Andika ada apa? jawab!" kata Nisa saat melihat Andika memegang kotak Pandora.


Di Dunia nyata...


"Zayn! Zayn? kau baik-baik saja? kau kenapa? Zayn!" tanya Erika melihat Zeydan yang ternganga sambil terbelalak.


*****


"Andika!"


"Zayn!"


*****


"Eh? Eri?" tanya Zeydan.


"Apakah kau baik-baik saja? kau termenung cukup lama tadi" kata Erika.


"Erika! kita harus menemui kak Andika dan lainnya! sekarang!" kat Zeydan dan berlari menuju istana.


"Z.. Zayn! duh! setidaknya jelaskan dulu!" kata Erika.


Di Dimensi...


"Nisa! aku mau menemui Zeydan dulu! maaf!" kata Andika.


"Eh! jangan pergi gitu aja!" kata Nisa.


"Kenapa?" tanya Andika.


"Zeydan mungkin saja sadar seperti dirimu, sebaiknya kita pergi ke Dunia nyata dengan tidak tergesa-gesa!" kata Nisa.


"Kau benar, baiklah" kata Andika.


Sesampainya di Istana...


"Zeydan!"


"Kak Andika!"


"Aku tiba-tiba saja mengingat kembali memoriku!"


"Tiba-tiba tanda kutukan Pandora menyebar!"


"Aku sempat panik! tapi syukurlah Nisa menahanku"


"Aku harus berterimakasih dengan Erika karena menyarankan aku ke Istana langsung"


Andika dan Zeydan menjelaskan dengan cepat, kompak dan tergesa-gesa.


"Padahal kami sudah menyarankan agar tidak tergesa-gesa, Dasar... "


"Padahal kami sudah menyarankan agar tidak tergesa-gesa" Nisa dan Erika berkata hal yang sama.


"Ada apa ini?" tanya Edward dengan memakai topeng.


"Sebenarnya..."


Andika menceritakan memori-nya dan Zeydan menambahkan dan membenarkan ceritanya. Edward, Erika, dan Nisa terkejut bukan main mendengar cerita Andika dan Zeydan.


"Jadi? seseorang dari sekte Dirgapati bernama Chandra Nagata si pemimpin itu? yang menyerang mereka?" tanya Edward dengan mengubah suaranya.


"Benar!"


"Baiklah, aku akan membahas ini dengan Pilar lainnya, kalian tetap rahasiakan soal itu" kata Edward dan pergi.


"Ba.. Baik!"


Di Ruangan privat...


"Jadi? kedudukan tertinggi sebelum pemimpin sekte adalah, pasukan astral atas ya?" tanya Meghan.


"Ya, Andika dan Zeydan sendiri yang mengatakan itu padaku" kata Edward.


"Chandra... ya? Chandra, Chandra... kenapa aku merasa pernah mendengar nama itu?" tanya Ersya.


"Apa yang harus kita lakukan jika benar mereka terpilih menjadi korban kutukan Pandora?" tanya Meghan.


"Ada dua hal, kita harus menyegel Pandora dengan benar di Tanggal Emas berikutnya, dan membuat permintaan agar kutukan Pandora di hapus, pilihan kedua adalah mengeksekusi mati mereka" kata Edward.


"Meghan, aku ingin kau melakukan pemeriksaan agar aku bisa melihat ingatan mereka dan memastikan mereka tidak berbohong" kata Edward dan berbalik menuju pintu.


"Hahaha! ok! ok!" kata Meghan


"Apa ini semua demi Kak Ana?" tanya Ersya.


Edward memberhentikan langkahnya mendengar ucapan Ersya.


"Kau belum bisa menerima kematian Yumna kah, Edward?" tanya Meghan.


"Aku.... bukan, hanya saja itu terlalu mustahil, jika memang mereka tiada, kenapa jasad mereka tidak ada di TKP?" tanya Edward.


"Hahaha! cerdik juga dikau" kata Meghan.


"Daripada begitu, kenapa kau tidak memilih untuk pensiun dari Pilar pasukan dan menjalani hidupmu dan menikah?" tanya Meghan.


"Aku tak suka cerita percintaan" kata Edward lagi dengan dingin.


"Emang gak bisa di ajak basa-basi" kata Meghan.


"Hmf... Edward, aku tahu kau adalah orang yang paling banyak punya ambisi dalam sebuah rencana, tapi... dengan mempertahankan marga Fujiwara-mu itu memang untuk melindungi kak Ana? dan akan membunuh siapapun demi melindunginya termasuk membunuh korban kutukan Pandora, termasuk ambisi mu juga?" tanya Ersya dengan bertopang dagu dan menatap Edward dengan dingin dan tatapan membunuh.


Edward meliriknya dengan tatapan mencekam.


"Kau memang adik ipar Yumna, tapi itu bukan berarti kau bisa ikut campur urusanku" kata Edward dan membuka pintu lalu pergi.


BLAM!


"Chandra ya?" batin Ersya yang masih berpikir.