
BRUK!! Nisa langsung jatuh.
"Nisa!" kata Amanda.
Mata kanan Andika yang pupilnya kembali seperti semula meneteskan air matanya, sedangkan mata kirinya masih merah dengan pupil seperti kucing.
Amanda langsung menaruh kotak Pandora yang dibawanya lalu, menyerap kekuatan kutukan Pandora Andika dan Zeydan.
"Kara mode!!" Amanda mulai melakukan perjanjian Pandora.
Jika kau mengambil mode kekuatan ini, kau dan aku harus menanggung apapun resikonya.
Amanda mengingat perkataan Aika, tapi ia tak punya pilihan lain.
"Pandora Core Unlimited!" setelah Amanda melakukan mode kekuatan kedua, Pandora mulai terkikis.
"Keputusasaanku... membuatku lemah... Aika... kumohon, bantu aku!" gumam Amanda.
Kotak Pandora langsung hancur dan terserap ke Liontin dan tanda Ninja Amanda, bersamaan Andika yang memberikan teriakan terakhir dan ambruk, Amanda menggunakan inti Pandora yang ia miliki untuk menghancurkan Chandra bersama Pandora dan semua kekuatan Subjek maupun kutukan.
BRUK! Amanda ambruk tengkurap.
"Tubuhku... rasanya... jadi berat sekali... ini tidak bagus" gumam Amanda dan memejamkan matanya.
WOSH!! Asap putih keluar dari tubuh Vandro menandakan kekuatan Subjek Pandora nya telah hilang.
"Apa yang... terjadi?" tanya Vandro yang melihat tubuhnya dan Moi keluar asap.
"Kutukan dan Pandora... sudah hancur" kata Wira.
"Andika!!" seru David.
Mereka semua menghampiri Amanda dan Andika.
"Yumna?!" tanya Edward merasa ada yang aneh pada Amanda.
Andika tersadar.
"Andika!" kata Wira.
"I... Ibu!?" tanya Andika.
Semuanya senang Andika sadar kembali.
Edward terpaku melihat sepupunya dan kenangan dimana dia, Andra, dan Amanda dulu kembali terputar.
Flashback di ruangan Andra...
Andra sedang mengecek berkas, Amanda sedang mengurus skripsi S3-nya, sedangkan Edward sedang meminum teh, mereka bertiga ada di meja yang sama.
DUK! Amanda tak sengaja menyenggol teh dan mengenai baju putih yang di sampingnya.
"Astaghfirullah" kata Amanda.
"Kau sih, Yumna!" kata Edward.
"Itu punya Paman Azka?" tanya Andra.
"Ini salah siapa coba? kak Rafa yang dipercayakan buat menjaga baju ini biar tetap bersih dan aman, atau aku yang menumpahkan sedikit tehnya?" tanya Amanda.
"Kaulah!" kata Andra dan Edward bersamaan.
Akhirnya mereka bertiga mencoba membersihkan noda.
"Hm... " Andra berdiri sambil melebarkan baju putih polos yang dipegangnya.
"Gara-gara noda tehnya, bajunya malah mirip corak dahan pohon, aku heran kenapa Paman memilih desain baju aneh begini" kata Amanda.
"Kau menghina industri fashion-nya ya?" tanya Edward.
"Kayaknya harganya murah? Kapten, coba cari berapa harga baju ini" kata Amanda.
Edward membuka ponselnya dan menunjukkannya kepada Amanda dan Andra yang membuat mereka manyun.
Gimana tidak manyun, harganya mencapai 33 juta Fabel.
"Baju putih polos begini harganya 33 juta Fabel!? itu sih bisa beli Aiphone 13 pro kw! Dasar...!?" tanya Amanda.
"Termasuk pajak?" tanya Andra.
"Sebelum pajak, emang apa bedanya?" tanya Edward.
"Baiklah, aku akan sumbang 13 juta Fabel, kalian masing-masing 10 juta Fabel ya" kata Amanda.
"Hah!?" tanya Edward.
"Ya, baiklah" kata Andra.
"Ck, untung sudah gajian, tapi kita tidak bisa membelinya sekarang, kita harus menyembunyikan baju ini agar tak ketahuan" kata Edward.
Amanda dan Andra saling bertatapan dan akhirnya menatap jahil pada Edward.
"A... Apa!?" tanya Edward.
Beberapa saat kemudian...
Azka datang.
"Pagi, Rafa pasti tadi nitip pada kalian.... lho? Edward? kau pakai jilbab? kau kan laki-laki? sekarang ada trend baru ya?" tanya Azka yang melihat kain yang menutupi kepala Edward kecuali wajah.
"Gak!" kata Edward dengan kesal.
Amanda dan Andra menahan tawa sedangkan Edward hanya menatap kesal karena dikerjain.
Flashback Off....
"Yumna... apa yang terjadi padamu?!" batin Edward.
David menjelaskan semuanya pada Andika, Andika terbelalak mendengarnya.
"Ibu, maafkan aku!" kata Andika sambil menangis.
Namun pemuda ini benar-benar kehabisan tenaganya dan merasa akan kehilangan kesadarannya, saat matanya perlahan menutup, ia melihat teman masa kecilnya dan tersenyum lega.
"Nisa... Alhamdulillah kau masih hidup" gumam Andika.
Vandro duduk di pohon sembari memeluk penjepit rambut milik Bella.
"Wah, ibu... sudah selesai semua" kata Vandro sambil menangis tersenyum.
Flashback Off....
"Begitu... kah? " tanya Pasha.
"Iya, sekarang kondisi Paduka Ratu kritis karena lukanya hanya ditahan dengan Enhancer" jelas Aram.
"Kuharap... kak Andika dan Erika baik-baik saja" kata Pasha.
Semuanya dievakuasi dan para korban dibawa ke rumah sakit milik keluarganya Randi.
Di alam astral...
"Zeydan! cepat berikan kekuatanmu! hanya itu yang kita miliki untuk menghancurkan Pasukan pemberantasan!!" seru Chandra pada Zeydan yang berdiri membelakanginya.
"Kenapa? apa... kau sudah mati?" tanya Zeydan.
Terukir senyuman diwajah remaja berumur 19 tahun ini, "Baguslah, itu artinya... tugasku di dunia ini sudah selesai"
"Apa... yang kau katakan, Zeydan?" tanya Chandra.
"Bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau kita bekerjasama untuk menghancurkan Pasukan pemberantasan yang kau benci itu?!!" tanya Chandra membentak.
"Kau sudah tidak bisa apa-apa lagi, Chandra Nagata. Misiku adalah membunuhmu, namun... sepertinya aku hampir gagal karena nyaris jatuh ke dalam hasutanmu. Syukurlah teman-temanku ada untuk membunuhmu" kata Zeydan.
"Tapi dengan melihatmu yang tak berdaya mati seperti ini... maka itu artinya, aku sudah bisa mati dengan tenang" kata Zeydan.
"Kau!!!! menipuku!!!" seru Chandra yang tubuhnya mulai berubah menjadi debu.
"Membuat manusia sengsara hanya demi diri sendiri, dunia tidak akan pernah damai jika orang-orang seperti kau, Pascal, dan Bestari ada di dunia ini. Makanya, kelompok seperti pasukan pemberantasan harus bertindak untuk menghentikan kalian" jelas Zeydan yang tubuhnya perlahan memudar.
"Kumohon Zeydan!!! berikan aku kesempatan!! jangan biarkan aku mati!!" seru Chandra yang tersisa kepalanya yang akan menjadi debu.
"Selamat tinggal Chandra Nagata, semoga kita tidak pernah bertemu lagi, sampai kapanpun" kata Zeydan yang tubuhnya menjadi partikel-partikel cahaya.
Akhirnya, tubuh keduanya musnah dengan proses yang berbeda.
Tubuh Chandra sudah sepenuhnya musnah duluan, Zeydan menghela nafas dan tersenyum.
"Terima kasih... Eri"
Sepekan kemudian...
Sekarang adalah pemakaman para korban perang yang begitu banyak, tidak sedikit juga yang menjadi korban dengan kondisi mengenaskan.
Amir dan Umar begitu sedih saat mendengar kematian Elena, Ersya, Vanora, Rahmat, Meghan, dan yang lainnya.
"Tante... Paman..." gumam Amir.
Umar memeluk kakaknya, "Amir sudah, semoga Allah merahmati mereka semua"
Zaki dan Nina ikut dalam pemakaman ini, meski Zeydan dimakamkan di lokasi yang berbeda.
Nina bersedih, dirinya juga harus tabah, karena Zeydan adalah putranya. Tiba-tiba pandangannya menatap Erika yang terus menerus menunduk.
Zaki terdiam, kemudian bertanya, "Kenapa kamu mengizinkan Erika untuk memakamkan Zeydan dilokasi yang ia minta?"
Nina menghela nafas, "Dia itu anaknya Amanda. Apa kau tidak tahu bagaimana Amanda dulu saat kehilangan?"
Nina berjalan mendekati Erika, Zaki menghela nafas, "Tentu saja aku tahu, dia nyaris mencelakai dirinya sendiri. Bahkan tidak pernah menunjukkan kesedihannya pada siapapun"
Erika melirik, rupanya sahabat ibunya. Erika benar-benar tidak menatapnya sekarang, ia sangat tidak enak hati tidak bisa melindungi Zeydan.
"Erika, bisa tatap saya?" tanya Nina.
Erika perlahan menatap Nina, Nina begitu kaget melihat kantung mata Erika yang menggelap. Sudah jelas kelihatan karena Erika tidak pakai make up dan Erika juga bukanlah orang yang suka pakai make up tanpa udzur.
"Kamu-..."
"Saya minta maaf, Nyonya Falesia" kata Erika yang membuat Nina kaget kembali, karena biasanya Erika memanggilnya dengan sapaan "tante".
"Saya... gak bisa melindungi Zayn, tidak bisa menjaganya, tidak bisa ikut andil dalam tindakannya, tidak bisa peka, tidak bisa-..." Nina membuat interupsi pada ucapan Erika.
"Erika, kamu itu benar-benar anaknya Amanda ya? dengar, kamu gak perlu minta maaf. Allah yang menetapkan semua ini, anak itu benar-benar menyayangi semua orang, termasuk dirimu" kata Nina sambil tersenyum dengan menahan air matanya.
Erika terbelalak, Nina melanjutkan perkataannya, "Anak itu tidak akan berhenti berusaha sebelum mencapai yang ia inginkan. Kamu pasti tahu, kan?"
"Karena yang ia inginkan yaitu kebebasan dan kedamaian sudah ada, ia bisa beristirahat dengan tenang sekarang. Ia pasti merindukanmu" ucap Nina yang mengambil tangan Erika dan memberikan kain putih yang Zeydan dulu berikan pada Erika.
Erika terbelalak menatap kain putih itu, dirinya bergetar, "Ukh... Ya Allah... Zayn"
Bruk... Erika jatuh bersimpuh, Pasha ikut bersedih dengannya, baginya Erika sudah seperti kakaknya sendiri yang selalu melindunginya, tapi Pasha hampir selalu gagal melindungi Erika. Jadi sekarang, ia siaga memberikan bahunya untuk kakak kesayangannya ini.
Pasha mendekatkan tubuhnya pada Erika dan menyelimuti kepala Erika hingga punggung Erika dengan jasnya agar Erika yang menangis tidak terlihat oleh siapapun.
"Erika, maaf"
Di ruangan Amanda...
Bagaikan korban eksperimen gila, Amanda sedang terbaring koma dengan masker oksigen dan beberapa alat kesehatan rumit lainnya.
Edward menyelinap masuk.
"Pada akhirnya... taruhan nyawa yang kau katakan, kita seri, kalau kau mati setelah koma, aku benar-benar akan mencongkel mataku sebagai taruhan yang kuajukan" kata Edward yang berdiri di samping ranjang.
"Jangan buat aku sebagai pemenangnya Yumna, jika aku mencongkel mataku karena kau kalah dalam pertaruhan, jangan buat itu menjadi kesalahanku maupun kau" kata Edward.
"Jika kau benar-benar mati... aku akan melepaskanmu" kata Edward.
Pembohong, ia adalah pria bertopeng tebal yang menyembunyikan lukanya sendiri. Siapapun yang mendengarnya jelas akan tahu dia berbohong dari raut wajahnya dan dari gaya bicaranya. Bicara seolah dia rela melepas sang sepupu. Padahal sedari tadi hatinya memanjatkan doa dan harapan yang mendalam berharap Amanda kembali.
Randi memegang bahu Edward.
"Edward..." gumam Randi.
"Randi, apakah aku ini lemah?" tanya Edward.
"Eh?" tanya Randi.
"Aku tidak bisa menghentikan Kenzo yang menyerang Yumna, tidak bisa dengan cepat menghentikan Zeydan, Yumna seperti ini... apa yang harus aku katakan pada Hikaru dan Mizuki?" kata Edward dengan menunduk.
"Kau tidak boleh seperti ini, ayo ikutlah denganku di luar ruangan, kita tidak boleh mengganggu Amanda" kata Randi sambil melepaskan pegangannya dan keluar.
Edward mendatangi Randi.
"Bagaimana?" tanya Edward menanyakan tentang perawatan yang dilakukan Randi.
"Aku sudah berusaha sebaik mungkin dan merawat Amanda setelah operasi pada luka tusukannya, sebenarnya Chandra ingin mengubah Amanda menjadi Subjek Pandora yang dibawa kendalinya dengan memberikan tusukan yang bercampur darahnya" jelas Randi sambil memperbaiki stetoskopnya.
"Lalu?" tanya Edward.
"Tapi dia adalah Fujiwara, dan takkan mempan pada darah Chandra dan takkan bisa berubah menjadi Subjek Pandora, kemungkinan kesempatannya untuk selamat sedikit, tapi aku akan berusaha sebaik yang aku bisa" kata Randi.
"Kenapa... Kenzo bisa menjadi pemegang kutukan Pandora kalau darah Fujiwara ada di tubuhnya?" tanya Edward.
"Karena Kitagawa ada di tubuhnya, kau tahu kan? kalau Fujiwara membenci Kitagawa? tubuh Andika hanya sedikit menuruni Fujiwara yaitu terletak pada energinya yang memiliki pasokan yang banyak, tapi itu tidak akan membuat kutukan Pandora tidak akan menetap pada Andika" kata Randi.
"Meski Kutukan Pandora memberikan kekuatan besar pada pengguna alias pemegangnya, kutukan tetaplah kutukan. Karena dibalik kekuatan besar kutukan Pandora, kekuatan itu akan memakan sisa hidup pemegang kutukan Pandora tersebut" jelas Randi.
Edward hanya menahan getaran di tubuhnya dengan kepalan di tangannya.
"Aku mengambil kesimpulan, dia juga koma karena efek dari kekuatan yang membuat Pandora, kutukan Pandora, semua Subjek, bahkan Chandra hancur dan terserap menjadi kekuatannya, mau bagaimanapun, mode penyegelan yang dilakukan Amanda saat Chandra mengambil alih tubuh Andika itu benar-benar luar biasa kuatnya" jelas Randi.
"Aku tidak menginginkan hal apapun yang tak baik terjadi pada Amanda, karena aku juga sudah berjanji pada Andra untuk menjaga adiknya, tapi jika dia tak selamat maka jangan buat hal itu menjadi kesalahanku" kata Randi yang memegang bahu Edward dan pergi.
Edward menatap Randi.
"Oh ya, jika gak ada kerjaan, rawat saja dulu kebun milik Amanda yang dihadiahkan Vanora... tapi kau tahu sendiri kan? Vanora bersama 4 Pilar lainnya tiada karena perang" kata Randi.
Edward melamun.
"Sejak dulu, Hikaru dan Yumna... dua bersaudara itu kupikir hanyalah penghibur saja saat pertama kali aku melihat mereka"
"Namun... aku salah"
Flashback...
Saat misi...
"Ng? di Eslaqar, seharusnya kita bertanya pada Pak Randi soal kota ini" kata Amanda.
"Oh, ada beberapa orang disitu, ayo kita tanya" kata Andra.
"Kak, sepertinya... mereka orang berandalan" kata Amanda.
"Ah! Senior Edward! la... lama tak bertemu anda!" kata mereka.
"Ng? Kapten?" tanya Amanda menoleh pada Edward yang dibelakangnya.
"Aku... pernah bertemu dengan mereka" kata Edward.
"Benarkah?!" tanya Amanda.
"Tapi, kenapa mereka seperti ketakutan?" tanya Andra.
"Apa yang kamu lakukan ke mereka, Edward?" tanya Andra.
Edward diam.
"Apa mungkin perlu kita tanya mereka?" tanya Andra.
"Hei! Fulan A, Fulan B, apa yang dilakukannya?" tanya Amanda.
"Se... Senior Edward pernah menghajar semua geng yang pernah berbuat masalah di kota ini, sampai-sampai tidak ada lagi yang berani... "kata si Fulan A.
"... Berhadapan dengannya lagi" kata Fulan B melanjutkan perkataan si Fulan A.
"Ha?" tanya Andra.
"Lelaki ini.... " kata Amanda dengan aura amarah memuncak yang ia tahan. Sampai-sampai Andra dan Fulan A beserta Fulan B menggigil ketakutan sedangkan Edward berkeringat dingin.
Akhirnya mereka membatalkan misi setelah Amanda yang mengeluarkan kunai untuk menghajar Edward ditenangkan oleh Andra dan mereka ke Dimensi astral.
Di ruangan Lord...
"Kamu menghajar preman lagi, Edward? sudah saya bilang agar jangan kasar-kasar, lembutlah sedikit" kata Andra.
"Tapi itu sudah lama kan? lagipula mereka itu meresahkan warga di Eslaqar kan?" tanya Edward.
"Meski begitu, kamu meninggalkan kesan buruk pada mereka, dan itu tidak baik" kata Andra.
"Terserah, mereka akan sangat merepotkan, mengampuni orang lain? hah! salah besar jika ada yang meminta hal itu padaku" Kata Edward sambil pergi.
"Huft... " Andra menghembuskan nafasnya.
"Aku harap, mungkin Ana bisa menyadarkannya" gumam Andra.
Edward berjalan di Koridor.
"Kapten... " kata seseorang.
Ya, Edward sangat mengenali suara ini dan langsung berbalik.
Nampak Amanda menatapnya dengan tegas.
"Bukankah kau sudah berjanji kalau kau tidak akan memukul orang lagi?" tanya Amanda.
"Kau dan Hikaru ini sama saja ya? sifat kalian yang suka mengampuni orang lain itulah yang membuat mereka suka mengulangi kesalahan yang sama" kata Edward dan lanjut berjalan.
Edward langsung suram.
"Ah, maaf! aku tidak menyangka isi susunya akan keluar! aku berniat ingin memberikannya padamu!" kata Amanda.
"Untuk apa itu?!!" bentak Edward.
"Bagaimana perasaanmu setelah di lempar seperti itu?" tanya Amanda yang reaksinya tetap biasa saja.
"Tentu saja aku kesal! untuk apa kau bertanya lagi?! kau punya masalah?! kenapa kau dan Hikaru terus saja mencampuri urusanku?!" tanya Edward.
"Aku akan diam" kata Amanda.
"Ha?" tanya Edward.
"Jika aku menghajar orang-orang berandal itu, dan kemudian aku dilempar seperti tadi, aku hanya akan diam" kata Amanda dengan menunduk.
"Karena aku mengerti, disitulah muncul sebuah pertanyaan, bagaimana perasaanmu? setelah dilempar seperti itu?" tanya Amanda dan menengadahkan kepalanya kembali.
"Lalu? kau hanya bisa menceramahiku begitu saja?!" tanya Edward.
"Yang artinya, lemparan itu bagaikan simulasi kejadian, bagaimana perasaanmu jika kau berada di posisi orang yang kau hajar?" tanya Amanda.
Edward tercengang.
"Tapi... aku dan kak Andra tetap menerima sifatmu, karena bagi kami... "
"...Tidak dapat mengampuni orang lain juga termasuk kelembutan Kapten, kan?" tanya Amanda sambil pergi.
"Apaan sih? aku gak ngerti"
Flashback Off...
"Ibunya Yumna dan Hikaru, Ray, dan Ibuku, adalah 3 bersaudara dengan status tiri, Ibunya Yumna mewarisi keluarga Utama Fujiwara sedangkan Ray maupun Ibuku belum bisa dinobatkan siapa yang nantinya akan mewarisi keluarga Cabang"
"Tentu saja pertemuan pertamaku dengan Hikaru dan Yumna tidak berjalan dengan sehat, namun mengenal mereka tidak pernah menjadi suatu kesalahan seumur hidupku"
"Namun aku berpikir, kenapa? kenapa harus Hikaru dan Yumna yang selalu menderita? apakah aku yang menyebabkan hal itu? Hikaru dan Mizuki sekarang tewas, dan Yumna koma"
"Aku tidak tahu apa lagi yang harus ku lakukan didunia ini. Mungkin benar kata Ray, apa arti di hidupmu tanpa adanya hobi. Hobi adalah kegemaran yang mengisi hari-harimu, lalu... apa hobiku?"
"Mengampuni orang lain. Ck, itu merepotkan, namun... karena itu aku jadi belajar kalau aku dulunya terlalu kekanak-kanakan. Maafkan aku, karena aku terlalu kasar dan naif dulu. Jadi bergegaslah bangun, sepupu cerewet" batin Edward
"Ck... kepalaku pusing!"
*****
"Andika" kata Erlan.
"Jaga adik-adikmu dengan baik, jaga ibumu, jaga semua orang" kata Erlan.
"Gak! gak bisa! bahkan Ibu terluka karena aku terlalu lemah! Para Pilar sebagian besar tewas! Kak Elena! Paman Ersya! Kak Vanora! Kak Rahmat! Kak Farel... bahkan Nyonya Bella juga!" kata Andika.
PUK! Erlan menaruh tangannya di kepala Andika.
"Aku percaya padamu, aku menyerahkan nasib kemenangan Pasukan pemberantasan padamu, Andika" kata Erlan.
"Gak... jangan... jangan percayakan hal itu padaku"
*****
Andika tersadar dirinya sudah siuman sambil menangis, namun tubuhnya tidak dapat bergerak karena terlalu lelah akan perang.
PRANG! Nisa yang datang membawa minuman syok kaget melihat Andika sudah sadar.
"Andika... kau... sudah sadar?!" tanya Nisa sambil menghampiri Andika dengan menangis syukur.
"Ni... sa" Andika tergolek lemas.
"Ya! ini aku! kau sudah koma hampir 1 bulan, ah! diamlah, aku akan mengganti perbanmu dan memberimu sedikit energi" kata Nisa sambil mentransfer energi dari tubuhnya ke Andika.
"Ni... sa... aku-... " belum selesai Andika bicara.
"Diamlah, jangan mengganggu konsentrasiku" kata Nisa.
"Aku... minta maaf"
"Minta maaf? untuk apa?" tanya Nisa.
"Atas... semua yang... kulakukan, bahkan tidak mampu menyelamatkan Zeydan" kata Andika.
"Aku... uh... hiks! Ya ampun, Zeydan... " gumam Nisa sambil menangis karena teringat akan adiknya yang sudah meninggal.
Andika menatap kasihan pada Nisa.
3 bulan kemudian di i****stana Carna...
Andika diperbolehkan untuk beraktivitas.
"Bagaimana dengan kalian Amir, Umar?" tanya Andika.
"Kami baik-baik saja, kami tak pernah mengalami ketegangan sebesar saat sedang mengarahkan kalian saat perang!" kata Umar.
"Syukurlah, kalian baik-baik saja" kata Andika.
"Bagaimana Adelia?" tanya Andika.
"Em, dia sedang mengatur dan mulai merenovasi markas dan Dimensi astral" kata Umar.
"Begitu ya" kata Andika.
"Katanya kakak sudah bertemu Paman Vandro ya?" tanya Umar.
"Benar, tapi setelah pertemuanku dengannya saat itu.... dia tidak bicara lagi" kata Andika.
Flashback...
"Saat kau menjadi Iblis karena Chandra merasukimu, kau jadi tidak terkendali bukan? bahkan sampai menyerang, kau begitu buruk" kata Vandro.
"Maafkan aku" kata Andika.
"Walau begitu, itu dapat menjelaskan bahwa kau bisa memiliki kekuatan besar jika kau menjadi iblis saat itu. Sungguh syukur kau bisa sadar dan Chandra musnah" kata Vandro.
"Te... Tentu" kata Andika.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang, pagi akan datang" kata Vandro.
"Paman Vandro, jaga dirimu ok? aku sudah mendengar dari Paman Radith, kau sangat menyayangi Paman Andra, Nyonya Bella, dan Kak Vanora. Hanya kau yang menyimpan banyak kenangan mereka" pinta Andika.
Vandro terbelalak dan hanya lanjut berjalan sambil menggendong Moi.
Flashback Off...
"Ya sudah, karena kakak sudah sadar, kakak ngerti kan? kalau kakak harus minta maaf?" tanya Amir.
"Ke siapa? ke seluruh rakyat kerajaan Carna?" tanya Andika.
"KebanyaKAN!" kata Umar sambil menjitak kepala Andika.
DUAK!
"Umar!" kata Amir.
"Itu harus minta maaf! ntar ada lagi konferensi pers! para wartawan berbondong-bondong datang ke istana! nama keluarga kerajaan bisa tercoreng!" kata Umar.
"Lu kalau berulah jangan yang ngerepoTIN!" kata Umar sambil melotot.
"Sabar Umar, sabar" kata Amir.
"I... iya, kakak tahu kok, ke 'dia' aku harus sangat minta maaf" kata Andika.
Di kamar Amanda...
Amanda masih koma karena luka tusukan Chandra, mengandung infeksi yang sangat berbahaya.
Andika menjenguk ibunya.
"Ibu, jujur setelah semua ini, aku ingin banyak bicara denganmu, sangat"
"Kuharap kau mau memaafkanku" kata Andika.
Andika melanjutkan tujuannya dan bertemu Toni.
Mereka bertatapan dan ingat kalau Toni dan Andika saling main hajar.
"Ma... Maaf, aku mendengar ada keributan setelah Chandra musnah... tapi aku malah pingsan" kata Toni.
"Tidak apa-apa! aku tidak mempermasalahkan hal itu! aku malah lebih buruk! sampai-sampai Ibuku koma, tapi aku yakin Ibuku adalah wanita yang kuat!" kata Andika sambil tersenyum.
Toni terbelalak dan teringat adiknya.
Kita harus percaya kalau Ibu adalah manusia pertama yang aku lihat paling kuat! hehe.
Toni menaruh tangannya di kepala Andika dan mengelusnya seperti yang pernah dilakukannya pada Doni.
Andika sedikit melirik Toni, sedangkan Toni tersenyum menatap Andika.
"Jaga dirimu" kata Toni dan harus bertemu Nera.
Entah kenapa perasaan Andika menjadi senang dan tenang sekali.
Di tempat lain, Wira dan David sedang membantu Adelia.
"Setelah ini selesai, aku akan menjenguk Andika" kata Wira.
"Aku ikut!" kata David.
Di lokasi Ilman dan Dirga....
"Akh!! deadline-nya cepat sekali! aku jadi ingin kembali ke Dimensi astral!" kata Ilman.
"Jangan banyak mengeluh! Dimensi astral tengah ada perbaikan! jadi ditunda!" kata Dirga.
"Daripada itu, ayo kita pergi ke mall!" kata Rudy yang satu kampus dengan Ilman dan Dirga.
"Untuk?" tanya Ilman.
"Refreshing! malas sedikit tidak apa-apa kan?" tanya Rudy.
"Jangan malas Ilman, Dirga, Rudy" kata seseorang.
"Selalu jaga adab dan matamu, Ilman! jangan celalatan!" kata seseorang lagi.
Ilman, Rudy, dan Dirga berbalik ke belakang dan tidak ada seorangpun disitu, akhirnya mereka bertatapan.
"Baiklah... Salsa, Ikram"
Di istana Carna...
Di Kamar Amanda....
Amanda masih menutup matanya.
Di mimpi...
Amanda tersadar dan terduduk.
"Disini, Ana" kata Aika yang duduk dibelakangnya.
Amanda menatap Aika dan menunduk.
"Huh, jadi kau mengambil Kara mode?" tanya Aika.
"I... iya, maafkan aku" kata Amanda.
"Ah!" Aika yang duduk langsung menghantamkan dirinya ke genangan air yang terdapat di segelnya tempat dia selalu bersemayam.
"Kau berhasil mempunyai koordinat Pandora, hebat juga bahkan bisa melebihi si Zeydan dan Andika itu" kata Aika.
"Resikonya bisa kau lihat seperti sekarang ini" kata Aika sambil tiduran.
"Tapi... sepertinya aku akan mati, meski begitu, itu tidak akan mengubah kalau aku akan selalu membenci Chandra Nagata" kata Amanda.
"Oh ya? kenapa?" tanya Aika.
"Aku cukup mengerti karena Chandra hanyalah makhluk yang tidak ingin mati, namun mengorbankan Erlan, kak Andra, dan yang lainnya itu sungguh keterlaluan!" kata Amanda.
"Meski begitu... ia sudah mati kan, Ana?" tanya Aika.
"Aku tahu hal itu, namun Chandra tidak tahu. Betapa aku dan Erlan dulu saling mencintai" kata Amanda sambil tersenyum dan menangis.
Aika terdiam sambil berbaring ke samping dan menggunakan tangan kanannya untuk menopang kepalanya.
"Btw... sejak aku masih kecil, kita selalu bersama-sama ya? haha! Dasar... " kata Amanda sambil mengusap air matanya.
Aika menyipitkan matanya sambil mengingat dimana Teranonya itu dulu masih kecil, anak-anak, remaja, dan dewasa sekarang.
"Aku tidak mencemaskan apapun lagi setelah Chandra mati, namun... sayangnya, aku tidak bisa berpisah dari keluargaku dan anak-anakku, apalagi... Kapten ingin agar aku jangan mati, aku juga masih harus meminta maaf pada Zeydan karena mengemban beban berat sendirian" jelas Amanda.
"Kau memang tidak berubah, bahkan kau tahu kalau si Zeydan itu tidak jahat" kata Aika.
"Dan, aku yakin sekali... kalau Zeydan juga tidak ingin mati, tapi untuk menebus semua beban yang dia pikul, aku sepertinya akan menyusulnya" kata Amanda.
"Ana, apakah kau benar-benar berpikir kalau kau akan mati?" tanya Aika.
"Eh? tapi kau pernah bilang jika mengambil Kara Mode maka apapun resikonya kan? kalau aku mati, kau juga akan mati kecuali kalau kau mencari wadah alias Terano baru kan?" tanya Amanda yang kebingungan.
"Biasanya, seorang Terano yang tidak memiliki pasokan energi yang banyak seperti Fujiwara, akan langsung mati jika Kara mereka diambil, tapi itu tidak berpengaruh pada Fujiwara seperti dirimu dan Mika"
"Aku tidak pernah berbohong padamu, aku juga tak pernah mengatakan kalau kau akan mati tuh?" kata Aika.
"Tu... Tunggu! apa maksudmu!?" tanya Amanda.
"Menggunakan Kara mode itu bagian dari nyawaku sebagai Kara yang disegel di dalam dirimu dan jika menggunakannya maka bayarannya adalah nyawaku" jelas Aika.
"Apa!!? kau membohongiku!? kenapa!?" tanya Amanda.
"Karena, apabila aku jujur kau akan mempertimbangkannya, ragu, ataupun bahkan menolak mentah-mentah... lagipula Pandora sudah hancur dan menjadi bagian dari kekuatanmu, meski Pandora sudah tidak ada, tapi Fujiwara, Tanda Ninja, Silent, dan Klan-Klan lain akan tetap hidup, karena Pandora itu hanya berfungsi sebagai keseimbangan Fujiwara saja" jelas Aika.
"Dan juga, kutukan Kara-ku kurasa sampai sini saja, karena aku seharusnya istirahat selamanya, dan mulai mengerti kasih sayang manusia di era sekarang melalui dirimu" jelas Aika.
"Jadi, aku akan menyusul Mika dan Kaito seutuhnya, jangan banyak memikirkanku, kau sekarang bukanlah Terano lagi, kau bebas dari beban yang membuatmu menderita sekarang" kata Aika sambil tubuhnya yang perlahan memudar.
"Aku tidak tahu apakah kita akan bertemu lagi atau tidak, tapi karena kesalahanku yang membuatmu dan Andra menjadi Yatim Piatu kan?"
"Akan ku berikan semua kekuatanku padamu, pergunakanlah itu dengan bijak dan sebaik-baiknya, jika kau terlalu berambisi, kau bisa menyusulku malah" kata Aika.
"Setelah kemenangan ini mungkin akan ada lagi pertempuran besar, entah dari bekas Chandra ataupun apa" kata Aika.
Amanda menatap iba dan sedih pada Aika.
"Ck, jangan menatapku seperti itu. Aku benci tatapan itu. Lebih baik aku mati daripada membiarkan orang yang telah mengubah ku tiada" kata Aika.
"Ana, aku sebenarnya ingin hidup juga bersamamu, akan tetapi aku harus tahu diri. Aku sudah mati, terimakasih untuk semuanya Ana" kata Aika sambil tersenyum.
"Titip salamku untuk si Fujiwara cabang itu. Dia sangat hebat dalam bertarung, jujur saja aku sedikit tertarik dengannya. Namun aku gak jadi tertarik karena dia terlalu dingin, namun... dia peduli padamu"
"Titip juga salamku untuk anak-anakmu, keluargamu, dan para prajurit yang lainnya, juga Shadow Lord itu. Katakan pada mereka yang telah berjuang, kalau mereka telah melakukan yang terbaik"
"Dan ini khusus, katakan pada Andika, agar jangan gegabah lagi. Jika dia gegabah seperti di penyegelan Pandora dulu, tolong gantikan aku untuk menjitak kepalanya ya! haha!" kata Aika.
Amanda meneteskan air matanya.
"Kamu sudah banyak berkorban Ana, seperti kataku sebelumnya, tolong jaga masa depan, agar orang-orang seperti Pascal, Bestari, dan Chandra tidak ada semula" kata Aika.
"Sampai kita bertemu kembali, jaga dirimu. Selamat tinggal"
"Ti... Tidak! Aika, kumohon jangan pergi! Aika!!"
Dan akhirnya bersamaan dengan pecahnya partikel Aika, Amanda langsung sadar.
****
"Hah!" Amanda langsung bangun tersentak.
Mendapati dirinya ada si sebuah kamar.
"Hah... hah... hah... " Nafasnya Amanda langsung tak beraturan.
Amanda akhirnya mencoba bangun dan melepaskan masker oksigennya dan melihat Andika tertidur di kursi panjang.
"Kau sudah sadar!?" tanya seseorang di sebelah nya.
"Iya... apa yang terjadi, Kapten?" tanya Amanda melihat Edward disebelahnya ranjangnya.
"Kenzo terus merasa bersalah setelah kau menyegel dan memusnahkan Pandora dan Chandra dan akhirnya menemanimu semalaman" jelas Edward yang sangat lega sepupunya sudah sadar.
Amanda akhirnya ingat semuanya, bahkan mengingat kejadian dimana Erika berhasil membunuh Zeydan untuk mengakhiri perang.
"Syukurlah kau sudah sadar, jika kau butuh sesuatu bisa kau katakan padaku... ng?" tanya Edward saat melihat Amanda.
"Yumna, kenapa kau menangis?" tanya Edward melihat air mata Amanda yang tumpah.
"Eh?"
Basa-basi dan Fakta 😋
Fungsi tambahan yang didapat seorang Terano apabila mendapatkan inti Pandora meski bukan pemegang kutukan Pandora adalah bisa menyegel seseorang di dalam Pandora, membuka Pandora selain pada Tanggal Emas, bahkan bisa memiliki kendali Inti Pandora.
Inti Pandora terbagi dua, Inti Pandora yang bisa dikendalikan oleh seorang pemegang Kutukan Pandora seperti koordinat yang dipegang Zeydan, dan Pandora Core Unlimited.
Pandora Core Unlimited sendiri ini adalah faktor langka yang seorang Fujiwara bisa memiliki kendali inti Pandora meski bukan pemegang kutukan Pandora dan berhasil mengendalikan koordinat yang bisa mengendalikan para pemegang Kutukan Pandora bahkan Subjek Pandora itu sendiri.
Kanjeng Nyai Bestari, Kitagawa Pascal, dan Chandra Nagata adalah 3 induk terkuat yang saat-saat terakhirnya mereka dikalahkan dengan cara disegel di dalam Pandora.