
Edward terus berjalan perlahan-lahan meninggalkan Andika.
"Jadi itu sebabnya, Kapten mengambil pilihan yang lebih menguntungkan dan meninggalkan pilihan yang merugikan, karena dia tak ingin mengambil kesalahan yang fatal lagi" batin Andika.
"Entah bagaimana, dulu aku sedih karena kepergian Ibu dan Ayah... aku bisa mengerti, kehilangan 4 orang berharga sekaligus itu benar-benar cobaan yang berat" batin Andika.
"Dan perkataan kak Farel yang mengatakan kalau bersemangat adalah cara agar api tujuanmu terus membara" batin Andika.
"Anu... Kapten! bukankah, yang di percayakan Amir, Umar, Paman dan Ibuku padamu... membuat hubungan pertemanan kalian berlima tetap terjaga?" tanya Andika.
Edward terdiam dan terbelalak sambil terputarnya memori.
Flashback 17 tahun yang lalu...
Edward, Andra, dan Amanda sedang berkumpul.
"Besok, akan ku atur misi kita" kata Andra.
"Aku jadi tidak sabar menjalankan misi resmi!" kata Amanda.
"Jangan" kata Edward.
"Eh?" tanya Andra dan Amanda.
"Kalian berdua ku larang keras agar jangan berangkat misi besok" kata Edward yang bersandar di dinding dan melipat tangannya di dadanya.
"Kenapa? bukankah aku sudah bisa masuk misi resmi? Dasar...?" tanya Amanda.
"Meski kau dan Hikaru ahli dalam memberantas makhluk astral sebagai dua Fujiwara bersaudara. Kalian memiliki posisi penting yang harus kalian sadari" kata Edward.
"Ta... Tapi, Kapten!-... " perkataan Amanda berhenti saat Andra membuat isyarat dengan tangannya.
"Apa sebenarnya ada maksud lain kamu melarang kami?" tanya Andra dengan tatapan tegas.
"Tentu saja... jika kau dan Yumna mati, maka kerugian yang didapat Dimensi Astral akan setara dengan jatuhnya kotak Pandora di tangan musuh" kata Edward.
"Saya tidak bisa menunaikan permintaan kamu Edward, bagaimanapun juga manusia punya hak masing-masing" kata Andra tetap tenang.
"Dan aku punya hak untuk melarang kalian sebagai Fujiwara cabang yang akan melindungi Fujiwara utama, karena itu aku ingin melindungi kalian dengan cara melarang kalian" kata Edward.
"Jadi selama ini... kau... tidak menganggap kami sebagai sepupu? hanya sebagai Fujiwara melalui kedudukan antara keluarga bagian bangsawan dan keluarga cabang begitu?!" tanya Amanda yang tiba-tiba mengambil alih pembicaraan dengan menunduk agak membentak, memberanikan diri dan agak suram.
"Huh?" tanya Edward.
"Aku memang tidak pernah membantah dirimu selama ini! Kak Andra juga begitu tuh?! Tapi sekarang berbeda! aku tidak akan tinggal diam! kenapa? kenapa kau terlihat seperti mengatur kami?! kenapa kau terus saja berpikir kalau kami berdua harus dilindungi?! itu bagaikan aku dan kak Andra yang tidak bisa berbuat apapun untukmu dan yang lainnya, Dasar...!" kata Amanda memberanikan diri, karena selama ini hanya kakaknya yang berani berdebat hebat dengan Edward.
"Ana... " kata Andra dengan prihatin melihat adiknya.
"Apa sebenarnya maksud dari perkataanmu tadi, Yumna? bukankah kau yang paling memahami aku diantara yang lainnya? ataukah sebaliknya? kaulah yang tidak bisa memahami aku?" tanya Edward dengan pandangan sinis.
"Cukup! kau kenapa Kapten?! ini tak seperti dirimu yang biasanya?" tanya Amanda.
Edward terbelalak.
"Ck! kalau kalian benar-benar membantah, aku akan anggap ini akhir dari pembicaraan kita untuk selamanya!" kata Edward sambil pergi.
Amanda dan Andra terkejut.
"Edward!" panggil Andra.
"Kapten, tunggu!" kata Amanda.
Edward sedang duduk dan agak menyesal, apakah ia terlalu berlebihan? Edward mengingat perkataan Amanda.
"Jadi selama ini... kau... tidak menganggap kami sebagai sepupu? hanya sebagai Fujiwara melalui kedudukan antara keluarga bagian bangsawan dan keluarga cabang begitu?!"
"Bukan begitu... aku hanya tidak ingin kalian... pergi seperti Amir dan Umar" batin Edward.
Ya, tidak ada yang tahu kalau Edward sudah banyak melalui jejeran ambang kesedihan kecuali Tuhan semesta alam. Hatinya, terus saja ia paksakan agar jangan meluapkan semuanya yang selama ini berhasil ia pendam. Matanya, terus saja ia paksakan agar jangan menumpahkan air mata kesedihan yang terus ia simpan selama ini.
Jujur saja, hatinya selalu sakit melihat orang yang berharga baginya pergi begitu saja. Namun... ya? Edward selalu menahan sakit di hati dan air matanya, ia seperti ingin menusukkan ujung mata pedang ke hatinya agar tidak ada yang tahu sesakit apa kesedihan yang selama ini ia pikul.
"Edward"
"Kapten"
Edward tidak berbalik dan hanya sedikit menggerakkan kepalanya.
"Apa?" tanya Edward.
"Jujur saja... apakah kau tidak terlalu berlebihan?" tanya Andra sambil duduk.
"Aku... ini lemah, aku tak tahu harus melindungi kalian dengan apa" kata Edward.
"Tetap saja, kita harus bisa berusaha bersama! kau harus percaya pada kami, lagipula... kita adalah Blood Relative kan?" tanya Amanda.
Edward terbelalak melihat kedua sepupunya tersenyum.
Edward akhirnya tersenyum menyungging.
"Baiklah... aku percaya pada kalian" kata Edward.
"Yuhu!! jujur aku ingin tanya kenapa kau dilahirkan dengan sifat keras kepala, Kapten!? haha!" kata Amanda.
"Entah, mungkin mirip dengan kalian berdua yang keras kepalanya tak kalah hebat" kata Edward dengan nada mengejek.
"Seenaknya saja" kata Andra dengan tersenyum.
Edward juga mengingat memori bersama Amir dan Umar...
PLAK!! Umar menampar Edward.
"Aduh!" kata Edward.
"Umar, jangan terlalu kasar!" kata Amir.
"Kau jangan berlagak bodoh, Edward! jangan seakan mengatakan kematian adalah pilihanmu yang terbaik! tidak!! alasan kenapa ibumu meninggalkanmu sendirian hingga akhir hayatnya, dia ingin agar kau mandiri! kau akhirnya bertemu dengan Ray yang menolongmu kan!?" tanya Umar dengan membentak.
"Ibumu, Hannah itu tahu! kalau dia ingin kau bisa menjadi kuat tanpa dirinya! sekarang kau bisa seperti ini kan!? kau harusnya bisa bersyukur karena dilahirkan ke dunia ini!!" bentak Umar.
"Jangan merasa bahwa kau sendirian... ikatan itu bisa tersambung kembali apabila kalau kau benar-benar punya niat dan pilihan yang tepat" kata Amir.
Flashback Off...
Edward mengingat kembali senyumannya yang menyungging dan tamparan Umar.
"Aduh... " gumam Edward.
"Senyuman itu... sudah lama tak ku lepaskan, tamparan itu... rasanya sangat kuingat saat itu" batin Edward.
"Aku ingat sekarang... Yumna, Hikaru, Amir dan Umar. Maafkan sikapku yang kekanak-kanakan, aku tak bisa mengontrol emosi balas dendam ku" batin Edward.
"Kenapa dia terdiam?" batin Andika.
"Kenzo, maaf... aku akan berpartisipasi juga untuk pelatihan pilar" kata Edward.
"Sungguh!?" tanya Andika.
"Ya, ayolah dan jangan pakai lama" kata Edward.
Meghan dengan agak stres berjalan ke ruangannya dan duduk.
"Tenanglah... semuanya akan baik-baik saja! Arsya, Nyonya Bella, tenangkanlah diriku... hanya anak kecil yang tak bisa mengontrol emosinya, anak kecil" batin Meghan yang lama-lama kesal sendiri.
"Nona, aku kembali" kata Nisa.
"Aku akan berlatih dengan Pilar bela diri sekarang" kata Nisa.
"Okay" kata Meghan.
"Nona, bisakah aku menerima pelatihan darimu setelah aku berlatih dengan pilar Teknologi?" tanya Nisa.
"Aku tidak bisa berpartisipasi dalam hal ini, lagipula kau ikut latihan hanya untuk mengawasi Andika dan Zeydan bukan?" tanya Meghan.
"Eh!? memangnya kenapa?" tanya Nisa.
"Nisa, kemarilah" kata Meghan.
Nisa malu-malu didepan Meghan.
"Aku... hanya ingin latihan dengan Nona" kata Nisa dengan malu.
Meghan terbelalak, seketika dia langsung senang.
"Nisa, kau benar-benar berubah dan menjadi lebih kuat sekarang ya? kurasa ini waktu yang tepat, Makhluk astral atas yang membunuh kakak Miranda, bagaimana jika ku ceritakan padamu cara membunuhnya?" tanya Meghan.
Di Dirgapati, Karin sedang melamun sambil mengingat.
Flashback saat penyelamatan Andika dan Erika...
"Eri! gawat, kau terbakar!" kata Zeydan yang panik.
Zeydan dengan kemampuannya menyerang semua serangan yang mendekat namun Mana-nya habis.
"Tidak, aku... ukh! harus melawan!" kata Erika yang tubuhnya mulai melepuh.
"Lihatlah kondisimu!!" seru Zeydan yang mencoba memulihkan kekuatannya.
"Karena... aku hanya tidak ingin, kau terluka, jika tidak... kau tidak akan bisa menjadi ninja terhebat, kan?" tanya Erika.
"Aku... pernah mengatakan hal itu!? bodoh! kenapa!? kenapa aku ingin mencapai impian setinggi langit sedangkan diriku selemah ini!? kenapa kenapa kenapa kenapa!!?" teriak Zeydan sambil menangis.
"Ninja terhebat... jika kau sudah bertekad lakukanlah... itu impianmu kan? kau ingin merusaknya?" tanya Erika.
Zeydan terbelalak.
"Kau selalu membuatku terinspirasi dan termotivasi, terimakasih. Terimakasih juga karena menanamkan rasa percaya diri melalui kain putih ini" kata Erika sambil tersenyum sambil mengusap air mata Zeydan dengan kain putihnya dan wajahnya mulai melepuh.
BZZT!! Tubuh Zeydan seperti ada sengatan listrik.
"Selalu... aku akan selalu" kata Zeydan yang berdiri sambil membelakangi Erika.
"Eh?" tanya Erika.
"Kau ini tidak berpikir ya? aku akan selalu... akan selalu memberikanmu inspirasi dan motivasi, aku juga akan selalu mengikatkan kain putih itu sebanyak yang kau inginkan, selalu sampai kapanpun... " Zeydan menghentikan kata-katanya.
"Kita akan selalu bersama" kata Zeydan.
Ada serangan dari makhluk astral.
Zeydan langsung mengalirkan seluruh energinya ke logo kutukan Pandora ditangannya.
"AAAAA!!!"
Zeydan langsung membalikkan serangan itu dengan sekali tepisan.
BZZT!! Bagaikan sengatan listrik, semua makhluk astral musnah, bahkan di Dirgapati juga. Karin, Yusuf, bahkan Pasha juga terkoneksi.
"Eh?" Tiba-tiba tubuh Erika yang terbakar langsung meregenerasi dan membaik.
"Apa yang terjadi?" tanya Erika, Zeydan juga heran tapi ini kesempatannya.
"Ini kesempatan kita! ayo tembus mereka!" kata Zeydan.
Erika akhirnya dibantu berjalan oleh Zeydan.
Ada beberapa makhluk astral.
"Ukh... jangan menghalangiku!! menyingkirlah dari jalanku!!!" seru Zeydan.
Semua makhluk astral langsung hancur dan sekali lagi! Karin, Gibran, dan Pasha terkoneksi.
Flashback Off...
"Inti Pandora, sejak kapan Zeydan bisa membangkitkannya?" batin Karin.
Di kediaman Bella...
Bella sedang menulis laporan penelitiannya dengan gugup.
Ada seekor burung gagak pasukan pemberantasan yang datang.
"Selamat malam Nyonya Bella Kencana, berbahaya jika membiarkan jendela terbuka dimalam hari, tapi bulan terlihat indah malam ini, senang bertemu denganmu. Aku membawakan pesan dari Lord Fifth" Jelas si burung gagak.
"Bagaimana... kau bisa menemukan tempat ini?" tanya Bella.
"Kau pintar dalam hal mengintai dan bersembunyi, butuh waktu lama untuk menemukanmu sampai-sampai Lord Fifth berhenti bergerak" kata si burung gagak.
"Koneksi orang-orang, aku mencari informasi pemilik rumah sebelumnya yang kau beli ini. Lalu pada siang tadi, aku terus mengamati Putra sulungmu, Vandro" jelas si burung gagak.
"Mungkin aku dilatih secara khusus, tapi aku hanyalah gagak, tidak ada orang yang akan curiga padaku. Aku tidak ada niat untuk menyakitimu jadi jangan khawatir" kata si burung gagak.
"Jadi... kenapa kau disini?" tanya Bella.
"Hm... aku merasakan ketidakpercayaan yang besar, bisa dimengerti. Sepertinya memang sulit untuk mendapatkan kepercayaanmu seperti yang dilakukan Kitagawa Kenzo" kata si burung gagak.
"Apa yang mereka rencanakan? meski aku sudah tidak menjadi Pilar, Lord Fifth... apakah kau mau mencoba menipuku?" batin Bella.
"Dan Vandro?" tanya Bella.
"Jangan khawatir soal Putramu, kau bisa mendengar langkah kakinya dari sini" kata si burung gagak dan Bella mengadahkan kepalanya ke atas atap kayu yang bergetar akan tapak kaki.
"Jadi, bagaimana kalau kita bicara serius sekarang? diantara para pasukan pemberantasan, ada seorang ahli fisiologis dan farmasi dari secara astral dan secara fisik dan medis tak lain adalah murid anda sendiri, Meghan Sparkle muridmu yang sudah menjadi Komandan. Kami ingin mengundangmu dalam penelitian kami, dan itu termasuk meneliti tentang perubahan dan reaksi Kutukan Pandora, dan Kutukan Fujiwara"
"Bisakah kau bekerja sama dengan kami untuk mengalahkan Chandra Nagata? kami mohon kau untuk datang ke kediaman markas pasukan pemberantasan di Dimensi Astral" kata si burung gagak.
Bella kaget bukan main.
"Kau ingin aku yang seorang Subjek Pandora, untuk pergi ke markas besar pasukan pemberantasan!? menuju perang besar-besaran!?" tanya Bella.
Basa-basi dan Fakta 😋
Pelatihan para Pilar yang dilalui Andika dan Zeydan bertujuan untuk menguatkan imun dan informasi bagaimana cara meningkatkan tanda Ninja lebih cepat.
Mengingat Andika yang mendapatkan tanda Ninja sejak lahir, dan Zeydan yang mendapatkannya setelah pertarungan.