Di area F Kota Jakarta tersebut, pertarungan membasmi para dummy masih berlangsung dengan intens. Para dummy di daerah itu dihadapi oleh dua sosok tua, seorang pria tua dan seorang wanita tua.
“Duaaar! Duaaar! Duaaar! Duaaar!” Suara ledakan tembakan pistol terdengar menggema tiap sang pria tua menembakkan pistolnya.
Tampak dari pistol yang ditembakkan tersebut, suatu sinar hitam berbentuk bola menelan apapun yang ada di dekatnya di dalam radius 3 meter dari sasaran tembakan.
“Swuuuuuush!” Sebuah tentakel ungu aneh kemudian menjalar, menusuk para dummy satu-persatu. Tiap kali terkena tusukan tentakel itu, maka para dummy akan musnah, kembali meleleh dengan menjijikkan lantas bersatu dengan tanah.
“Hei, buldoser manja! Bisa tidak kamu lakukan sesuatu pada senjatamu itu? Berisik tahu tiap kali kamu menembak.” Ujar sang wanita tua marah kepada sang pria tua.
“Kamu ngaca dulu dong, wanita rubah! Kalau kau mau membasminya, basmi dengan bersih! Jangan menyisakan lelehan yang bikin mual seperti itu. Duh baunya!” Balas sang pria tua.
“Ck.” Sang wanita tua pun mendecakkan lidahnya lantas lanjut menyerang.
“Hei, jangan lari terlalu jauh. Aku tidak bisa menggapaimu jadinya. Bukankah kita sudah sepakat bahwa kamu akan menyerang yang dekat, sementara aku menyerang yang jauh secara bergantian sekaligus saling melindungi satu sama lain? Kalau kamu terlalu jauh pada saat menyerang, aku tidak bisa melindungimu jadinya.” Keluh sang pria tua sembari berlari mengejar sang wanita tua yang berlari duluan.
“Swuuuuush! Duaaar! Duaaar! Duaaar! Duaaar!” Terdengar irama statis dari serangan senjata dari kedua orang tua tersebut untuk sesaat. Di daerah ini pun, tampak tidak terjadi masalah yang berarti pada pertempuran.
Namun, beberapa saat kemudian, para dummy itupun berevolusi ke tingkat Dominion.
“Ck. Ini tidak baik. Semakin lama kita membiarkan para monster tersebut, semakin akan berbahaya mereka.” Ujar sang wanita tua sembari menatap serius ke arah ribuan monster-monster tersebut.
Sang pria tua pun ikut menatap dan membulatkan tekadnya untuk menyerang lebih intens lagi. Mereka-lah Andika Setiabudi dan Shinomiya Airi, ayah dan ibu Adrian serta Syifa.
Dua jam sejak pertarungan berlangsung. Hanya pertarungan di area Dream dan Carnaval saja yang tampak telah usai, sementara di area lain, pertarungan masih berjalan dengan sengitnya. Yang membuat pertarungan lebih sulit bahwa tiap-tiap dummy domion, satu-persatu telah berevolusi menjadi dominion setelah menyerap mana yang cukup dari sekeliling.
***
“Fuuuuush.” Api yang sangat membara membakar jibunan dummy yang walaupun tampak lebih kuat setelah berevolusi menjadi dominion, tetap lemah di hadapan panasnya api tersebut.
“Hahahahaha. Majulah kalian para monster terkutuk kalau kalian memang bisa mengalahkanku. Hahahahaha.” Sang dokter residen wanita tersebut tak henti-hentinya menunjukkan semangatnya pada tiap ucapannya.
Begitu melihat tidak ada lagi monster dummy di dekatnya, Millie berlari kembali mencari ke tempat lain dan begitu didapatinya,
“Fuuuuush.”
Millie segera mengeluarkan kembali jurus api membaranya tersebut.
Begitulah Millie pada akhirnya berhasil membasmi semua monster dummy di area K-L-M tersebut sebelum sempat berevolusi lebih lanjut.
Hal yang sama berlaku bagi tim Lilia yang menangani area C-I-J. Tidak ada pula masalah yang berarti yang terjadi di sana.
***
Empat jam setelah pertarungan dimulai, tampak pertarungan di empat area lain masih berjalan dengan sengit terutama di area yang menjadi tanggung jawab Kaiser.
“Tebasan langkah bayangan, Tebasan langkah bayangan, Tebasan langkah bayangan, Tebasan langkah bayangan!” Tampak Kaiser mengeluarkan jurus-jurusnya dalam mengalahkan para monster dummy. Namun, terlihat jelas bahwa dia mulai keletihan dalam pertarungan.
“Hah, hah, hah, hah. Ini gawat. Aku sudah hampir kehabisan MP-ku, bahkan jurus tebasan langkah bayangan yang mengonsumsi MP lebih sedikit dari tebasan adamantite, juga sudah sulit aku keluarkan sekarang. Ditambah monster-monster dummy itu sudah berevolusi lagi.”
Ujar Kaiser sembari menatap para monster yang telah dua kali berevolusi, berubah bentuk menjadi lebih besar. Kini, mereka telah berada di tahap Asca.
“Kaiser, kita harus menghabisi mereka segera sebelum mereka berubah wujud ke bentuk Para mereka. berdasarkan catatan, ketika sudah sampai ke bentuk Para, kulit mereka akan mengeras sehingga sulit lagi ditembus oleh senjata.” Ujar Mr. Aili lewat salah satu drone-nya kepada Kaiser.
“Ya, aku tahu.” Kaiser pun menjawab singkat.
***
“Pemimpin, apa tidak sebaiknya pemimpin beristirahat sejenak dulu? Serahkan saja yang muda-muda seperti kami untuk menahannya sementara.” Ucap salah seorang murid padepokan yang tampak mengkhawatirkan kesehatan pemimpinnya yang telah masuk usia 50-an itu.
“Jangan perlakukan aku seperti orang tua. Walau fisikku telah tua, jiwaku masih muda.” Namun, sang pria tua membantah untuk keluar dari medan pertempuran.
Loki memfokuskan konsentrasinya. Dia mengaktifkan kemampuan mata hijaunya yang dapat meramalkan gerakan musuh. Lantas,
“Srek, srek, srek, srek.” Dengan indah, Loki menebas tiap tubuh dummy menjijikkan yang bisa dijangkaunya.
Walau demikian, pertarungan di area ini masih jauh dari kata selesai, terlebih ukuran dummy yang membesar karena telah sampai ke tahap Asca.
Di saat itulah, bantuan datang kepada mereka.
“Tampaknya kamu pun tak dapat menang melawan umur ya, Loki. Biarkan kami membantumu.” Teriak seorang pria tua lainnya kepada Loki.
Rupanya, bantuan yang datang tersebut tidak lain adalah Andika yang juga bersama dengan Airi.
***
“Holy light!” Teriak Adrian sembari mengalirkan cahaya terang dari pedangnya ke area sekitar.
Tampak 5 dari 20 dummy Asca yang ada di dekatnya musnah akibat serangan tersebut. Tiga belas lagi luka-luka, namun dua lagi tampak tidak tergores sedikit pun, mungkin karena terlalu jauh dari pusat serangan.
“Ini gawat, Adrian. Dengan bertambahnya ukuran mereka, efek serangan holy light semakin tidak berarti buat mereka.” Ujar Mr. Aili menganalisis situasi.
Seketika, tampak para dummy mulai bersinar sekali lagi. Mereka akan segera berevolusi kembali ke tahap selanjutnya, yakni tahap Para, tahap di mana kulit-kulit mereka akan menebal dan mengeras sehingga akan membuat senjata semakin sulit untuk menembusnya.
“Bagaimana ini?” Gumam Adrian kebingungan.
Adrian telah mengalahkan sekitar 80 persen dari jumlah dummy di awal. Akan tetapi, nilai 20 persen yang tersisa adalah sebenarnya masihlah sangat banyak, terlebih dengan perkembangan ukuran mereka yang menjadi lebih besar 4 kali lipat dari ukuran semula. Ini jelas-jelas adalah pertarungan yang sulit buat Adrian.
“Ini memang pertaruhan yang kurang menguntungkan. Namun hanya inilah jalan yang bisa kupikirkan saat ini.”
“Apa itu, Adrian?” Tanya Mr. Aili penasaran terhadap pernyataan Adrian tersebut.
“Mari kita lakukan sambil jalan. Mr. Aili tolong bantu aku dengan drone-dronemu untuk membanjiri sekeliling dengan air.”
“Apa yang hendak kamu lakukan, Adrian?”
“Sudah, ikuti saja.”
“Baikah, jika itu maumu.” Sesuai perintah Adrian, para drone mulai mengumpulkan air dari sekitar, lantas mengubah tempat tersebut menjadi danau yaag dangkal hanya dalam waktu yang singkat.
Sebelum para dummy menyelesaikan evolusi mereka, Adrian pun mengganti senjatanya dari pedang Crusader ke panah Arjuna. Dia lantas mengeluarkan tiga buah anak panah listriknya. Lalu dengan sayap Sly Dark, dia terbang menghindari basahnya air di bawah, kemudian dia pun melepaskan anak-anak panah listrik itu ke bawah, di tumpukan air yang dibentuk oleh para drone Mr. Aili tersebut.
Sesuai yang kita duga, air yang tidak lain adalah penghantar listrik yang baik, segera menghantarkan impak serangan listrik dari panah Arjuna tersebut ke seluruh dummy yang terdiam karena berada dalam tahap evolusi mereka yang kesemuanya kebetulan menginjak danau dangkal buatan para drone itu.
Para dummy pun dalam sekejap meleleh bagai lumpur lalu bersatu kembali dengan tanah.
“Fyuuuh, syukurlah berhasil. Sudah kuduga, makhluk dari lumpur juga efektif pada serangan listrik. Tadinya padahal kukira takkan berpengaruh karena tubuh mereka terbuat dari tanah. Untunglah sesuai dugaanku bahwa selama mengandung air, maka pasti jurus listrik akan bekerja.” Ujar Adrian tampak lega.