“Ah, aku mendengar ada pengguna avatar lain selain si palsu itu. Rupanya itu kau.” Ujar Kaiser Dewantara sambil menatapku dengan curiga.
Seketika hatiku terasa sakit mendengar ucapannya itu.
“Si palsu kah?” Gumamku dalam hati.
“Jadi, ada perlu apa Dik Adrian denganku? Tampak sekali di wajah Dik Adrian bahwa Dik Adrian ingin mengatakan sesuatu padaku.”
“Dik Adrian kah dia memanggilku pertama kali? Aku jadi teringat akan seseorang.” Sekali lagi gumamku dalam hati.
“Dik Adrian, itu tampaknya adalah panggilan yang bagus. Bagaimana jika mulai sekarang, aku juga memanggilmu dengan Kak Kaiser?” Ujarku pada pemuda yang ada di hadapanku itu.
“Sudah kubilang. Panggil aku senyaman Dik Adrian saja.” Tampak senyum lembut itu di wajahnya sembari mengucapkan kalimat tersebut yang sekali lagi mengingatkanku pada seseorang.
Tidak, mereka tidak sama. Mereka adalah sosok yang berbeda. Karena jika sampai aku menganggapnya sebagai eksistensi yang sama pula, lantas apa keberadaannya? Tidak, hatiku tidak boleh seperti ini demi arti keberadaannya.
Aku mencoba menanamkan baik-baik pikiran itu di benakku agar aku tidak mencampur-baurkan sosoknya dengan sosok orang yang ada di hadapanku ini. Setidaknya, itulah caraku untuk menandai keberadaannya di dunia.
Aku pun membalas senyumnya itu dengan turut tersenyum seraya berkata, “Nah, kalau begitu ditetapkan ya, mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan Kak Kaiser.”
Kulihat Kak Kaiser menatapku dengan penuh was-was. Aku yang tidak nyaman dengan itu segera berupaya berujar sesuatu, tetapi keduluan oleh dia.
“Dik Adrian belum menjawab pertanyaanku yang tadi kan?”
Ah, rupanya perkara itu dia memelototiku dengan was-was. Aku menarik nafas lantas menghembuskannya. Aku mencoba menenangkan diri dan berupaya memaksimalkan skill komunikasiku seoptimal mungkin untuk menarik pria yang ada di hadapanku ini sebagai rekan setimku.
Asimilasiku dengan indera tajam Arjuna dan Sly Dark kian hari kian membaik. Hal itu menyebabkanku memiliki indera penglihatan, penciuman, dan pendengaran yang lebih tajam daripada manusia normal.
Setelah aku melatihnya, ternyata aku juga dapat memanfaatkannya untuk mendeteksi emosi manusia seperti ketakutan, kecemasan, rasa cinta, dan bahkan kebohongan melalui detak jantung, perubahan arah pandangan mata, tindakan gemetar, jumlah keringat yang dikeluarkannya, dan sebagainya yang semakin sensitif kulihat dengan menajamnya inderaku.
Kak Kaiser, maksudku Healer, telah mengajarkanku dengan baik hal ini. Dia tak dapat menipuku. Walau dia terlihat sangat tidak tenang dari balik ekspresinya, detak jantung, pengeluaran keringat, tatapan mata, serta keadaan tubuhnya terlalu tenang yang menandakan dia hanya sedang berakting. Tetapi untuk apa? Siapa yang ingin ditipunya dan untuk tujuan apa?
Tetapi mari kita tinggalkan itu untuk sejenak. Yang penting sekarang adalah bagaimana meyakinkannya untuk bergabung dengan tim kami.
Aku pun menundukkan kepala sembari memohon kepadanya, “Tolong, bergabunglah dengan tim untuk menyingkirkan para monster avatar yang tersisa agar bencana yang akan menimpa umat manusia dapat terhindarkan.”
Aku pun menatap wajah baik-baik, tetapi penuh kebohongannya itu sembari berkata, “Kakak bohong. Kakak tahu? Aku memiliki kemampuan mendeteksi perasaan manusia. Keadaan Kakak saat ini begitu tenang untuk dikatakan berada dalam masa frustasi akibat kematian seseorang.”
Kak Kaiser menatapku lama. Satu menit 35 detik dia menatapku, sebelum akhirnya berujar,
“Apa jangan-jangan Dik Adrian menyimpulkan semua itu karena Dik Adrian tak mendeteksi perasaan cemas sedikit pun akibat hormon adrenalin di diriku sehingga Dik Adrian menyimpulkan aku sedang berakting? Apa si palsu itu yang mengajarkanmu semua ini? Mana dia tahu perasaan manusia karena dia adalah seorang avatar. Dik Adrian bagai belajar soal keindahan pemandangan dunia pada orang buta.”
“Kamu, berhentilah menyebutnya si palsu!” Aku mulai tak dapat menahan kekesalanku padanya lantas tanpa sengaja mengucapkan lemah dengan nada marah kata-kata tersebut.
Sekali lagi sosok yang ada di hadapanku ini menatapku lama.
Namun, Profesor Melisa tiba-tiba menengahi kesunyian itu.
“Ah, maaf, Nak Kaiser menyela sedikit. Aku belum bilang ya? gelang perubah itu memiliki alat sensorik biometrik sehingga hanya Healer dalam wujud manusianya-lah yang telah ditandai sebagai tuannya yang dapat menggunakannya. Namun, kebetulan kamu adalah manusia yang dimimiknya sehingga kamu pun dapat menggunakannya.”
Terlihat sosok itu mempertimbangkan lama ucapan Profesor Melisa. Tetapi kali ini, Judith, Kak Syifa, dan Mr. Aili turut untuk membujuknya.
“Yang paling penting bagi Judith adalah keselamatan Kakak. Tetapi demi itu, kita harus melewati bencana gaia itu. Namun, hanya Kakak dan Kak Adrian yang punya peluang menyelamatkan dunia ini. Sejujurnya, Judith juga bingung. Tetapi, aku percaya pada pahlawanku, sosok kakakku yang terhebat di alam semesta ini. Jadi kumohon, terimalah Kak.”
“Kak Kaiser, demi umat manusia, lindungilah kami. Seandainya aku yang ada di posisi Kakak, aku pasti akan dengan senang hati melakukannya. Tetapi kini, aku hanya dapat merendahkan diriku, memohon kepada Kakak yang bisa, untuk berjuang.”
“Berjuanglah, pemuda! Tidak akan ada masa depan jika kita gagal melindungi bumi saat ini.”
Terlihat sosok Kaiser yang itu menggerutu pelan, namun dapat terdengar baik oleh telingaku yang tajam, “Ah, kalian semua mengapa menaruh harapan kalian semua padaku? Gara-gara si palsu itu.”
Lalu, dia pun berujar pada kami semua, “Baiklah, aku paham. Beri waktu aku satu hari untuk memutuskannya. Tetapi aku janji, setelah mendengar jawaban dari Bomber, apapun jawaban yang diberikannya, entah itu yang kuharapkan atau tidak, aku akan bersedia menggantikan peran si pal… Healer sebagai Avatar Bomber. Tetapi jangan terlalu banyak berharap. Badanku terasa kaku, tidak se-vit dulu, dan mungkin Healer sudah jauh melampaui apa yang bisa kulakukan.”
Kaiser Dewantara yang asli itu pun akhirnya menyetujui permohonan kami yang terlalu egois dan sepihak itu padanya yang sebenarnya baru saja terbangun dari komanya. Tetapi, aku tetap tak dapat menahan amarahku padanya yang selalu menganggap doppelganger dirinya itu sebagai si palsu. Healer jelas-jelas punya kepribadian yang dibentuknya dari interaksi dan pengalaman. Jelas telah berbeda dengan Kaiser Dewantara yang dimimiknya.
Namun demikian, untuk dia yang sedang dalam keadaannya sekarang, menyetujui semua itu lebih cepat dari yang kami harapkan, dia telah hebat dengan caranya sendiri. Seperti yang diharapkan dari inang yang dicopy oleh Healer, mentorku yang berharga itu, dia juga adalah sosok pahlawan sejati.
Kami pun menyudahi obrolan di malam itu untuk memberikan ruang bagi Kak Kaiser dan Bomber sebagai tunangan orang yang dibunuh beserta pembunuhnya untuk mengobrol bersama, membicarakan baik-baik persoalan Andina. Kuharap dengan begitu, dendam Kak Kaiser kepada Andina dapat mereda.
Karena kupikir, daripada Bomber, lebih tepat untuk mengarahkan dendam Kak Kaiser tersebut kepada Mr. X sebagai manipulator dari segala bencana yang telah terjadi ini.