101 Avatars

101 Avatars
125. Ilusi Cermin



Kami memasuki pintu gerbang yang muncul setelah kami mengeliminasi semua ilusi yang dibuat oleh slime ilusi kala itu.  Begitu kami memasuki pintu itu, dapat kurasakan bahwa kami tertransfer kembali ke tempat yang berbeda.  Pandanganku menjadi silau dan tahu-tahu, keenam orang di hadapanku itu telah menghilang.


Aku berjalan memasuki tempat itu sendirian.  Suatu tempat yang aneh yang dipenuhi dengan banyak cermin.  Aku tak tahu harus ke mana sebab peta saat itu hanya dipegang oleh Adrian.  Jadilah aku menyusuri tempat itu dengan mengandalkan instingku untuk selalu bergerak lurus dan tidak terjebak oleh ilusi labirin yang sebenarnya bergerak bengkok, tetapi terlihat lurus.


Namun, entah mengapa dengan semakin aku melangkah dan menatap cermin-cermin di sekelilingku, kepalaku menjadi sakit.  Aku mengingat berbagai masa lalu yang ingin kulupakan.


Aku teringat tentang masa-masa bahagiaku di kala kakekku masih hidup dan sering mengunjungiku di kala waktu senggang penelitiannya.  Seorang sosok yang ramah dan senantiasa membelikanku mainan.  Hal-hal yang kecil yang dilakukannya untukku begitu menjadi kenangan yang berarti buatku.


Ketika berkunjung ke rumah, kakekku senantiasa memanjakanku.  Dia kerap kali menggendongku pada saat bermain di taman.  Meski setelah itu, sakit pinggangnya kambuh lagi karena terlalu letih bermain denganku.  Sebagai ungkapan rasa bersalahku, aku pun membantu Kakek mengoleskan salep dan menempelkan koyo di bagian bawah punggungnya.


Aku banyak tertawa kala itu.  Itu benar-benar masa-masa yang indah.  Aku tidak mengenal benar sosok kakek dan nenek dari keluarga Ayah karena Beliau berdua meninggal terlalu cepat bahkan sebelum aku sempat mengingat.  Oleh sebab itulah, aku semakin dekat dengan Kakek Gilbran, ayah dari Ibu.


Banyak orang bilang, kebahagiaan itu bagai air yang tersimpan di dalam botol.  Semakin beruntung seseorang, maka semakin besar botol penyimpan kebahagiaan itu yang dapat semakin banyak pula menampung air kebahagiaan.


Makanya banyak orang bilang jika kita menikmati kebahagiaan, hendaklah sewajarnya saja.  Jangan terlalu berlebihan dalam tertawa.  Sebab semakin kamu terlalu banyak mengekspresikan kebahagiaan dengan tertawa, maka semakin cepat air kebahagiaan di dalam botol kebahagiaanmu itu habis, seberapa besarnya pun botol kebahagiaanmu itu.


Itulah yang terjadi padaku.  Aku terlalu menikmati kebahagiaan saat itu sehingga di kala itu semua menghilang, aku benar-benar dilanda kekecewaan.  Kakekku meninggal dalam kecelakaan penelitiannya di Candi Primbonan.  Masih mending jika itu hanyalah kecelakaan biasa.  Namun, banyak bukti yang kukumpulkan bahwa ruang bawah tanah itu sengaja diruntuhkan oleh seseorang atau sesuatu.


Kakekku jelas-jelas dibunuh oleh seseorang.  Belakangan aku tahu, rupanya pelakunya dari organisasi iblis terlarang itu.  kulihat betapa menderitanya Nenek juga Ibu serta Ayah karena ditinggalkan oleh Beliau.


Aku berjalan perlahan melintasi labirin lagi.  Aku tidak boleh kehilangan fokus sebab sekali kehilangan fokus, aku akan segera terbutakan arah oleh labirin yang melengkung namun tampak lurus ini.


Kali ini pikiranku dirasuki oleh masa lalu setelah kematian kakekku.  Kedua orang tuaku begitu disibukkan oleh penelitian mereka.  Hampir semua waktu mereka tersita oleh penelitian.  Aku kesal dengan ayah dan ibuku yang seperti itu.  Namun, mereka tetap baik padaku.  Sesekali mereka pulang ke rumah lantas memanjakan aku dengan baik.


Hari-hariku setelah kematian Kakek, lebih sering ditemani oleh Nenek.  Ayah dan Ibu seketika disibukkan oleh banyaknya penelitian pasca kematian Kakek sehingga aku pun dititipkan ke rumah Nenek.  Dulu, sebelum kematian Kakek, Ayah dan Ibu memang sudah cukup sibuk, namun setelah kematian Kakek, mereka sendiri bahkan hampir tidak punya waktu luang untuk diri mereka sendiri termasuk untuk makan dan tidur.


Semuanya salah organisasi iblis itu.  Mereka yang menyebabkan Paman dan Bibi terpisah dari keluarganya dan mereka pulalah yang telah membunuh Kakek.


Aku kesepian, namun aku sadar bahwa kedua orang tuaku melakukan itu semua karena belum bisa melepas masa lalunya.  Jika aku sedikit saja, menggoyahkan tubuh yang sudah goyah itu, entah apa yang akan terjadi pada mereka berdua.  Oleh karena itu, daripada merengek kesepian, aku lebih memilih mendukung keputusan kedua orang tuaku itu.  Toh, aku menyadari bahwa betapa besarnya kasih sayang mereka padaku.


Kala itu, Judith sudah mulai tumbuh besar.  Aku tak ingin dia merasakan kesepian yang sama seperti yang kurasakan.  Oleh karena itulah, aku memutuskan untuk senantiasa mendampinginya dan takkan pernah membuatnya merasa kesepian.  Lalu kemudian, organisasi iblis itu menyakiti lagi kedua orang tuaku yang hampir kukira saja bahwa mereka tidak ada lagi di dunia ini.


Aku tak bisa lagi tinggal diam.  Jika begini terus, suatu saat Judith, Nenek, dan keluargaku yang tersisa akan menjadi korban yang selanjutnya.  Oleh karena itulah, kuputuskan untuk mengakhiri rantai ini dengan menemukan dalang sebenarnya.  Jadilah aku pula meninggalkan Judith dalam kesepian.


Aku kembali tersadar.  Kumanfaatkan sisa-sisa tenagaku untuk melangkah maju keluar dari labirin ini.  Lalu kemudian, ingatan tentang Andina pun muncul.  Bagaimana dulu kami pertama kali mengenal, lantas saling kenal dan jadi dekat bersama.  Sampai pada hari di mana dia dengan kejam dibunuh oleh Bomber.


Aku tidak menyalahkan Bomber karena ini bukan salahnya.  Diapun melakukannya atas dasar pikirannya yang terkontrol oleh virus yang diciptakan oleh Mr. X.  Mr. X-lah yang patut disalahkan atas semua ini.


Aku tersadar kembali.  Lalu aku melangkah lagi.  Sekali lagi, ingatanku dirasuki oleh masa laluku.  Namun kali ini, bukanlah suatu ingatan kelam.  Suatu ingatan di mana aku tersadar kembali setelah koma selama lima tahun lantas mendapati Adrian sebagai mentor pelatihanku.


Untuk pertama kalinya, ilusi itu berbicara langsung padaku.


“Kak Kaiser?  Kakak baik-baik saja?”  Ujar pemuda dalam ilusiku itu padaku.


Seketika aku tersadar.  Ah, itu bukan ilusi.  Dia adalah Adrian yang asli.


“Ah, Adrian.  Syukurlah aku bertemu denganmu.  Aku sempat panik begitu melihat kalian semua menghilang.”


Kulihat Adrian hanya tersenyum padaku seraya mengatakan, “Yuk, Kak.  Jalan keluarnya ada di situ.”  Ucap Adrian seraya menunjuk ke arah depan.


Walaupun mentalku diserang sehingga aku kepayahan, tetapi aku sadar betul bahwa bukan itu jalannya.  Jalan yang benar bukan di depan, tetapi di sebelah kanan.  Kupikir, tampaknya Adrian telah tertipu oleh ilusi labirin yang bengkok ini namun terlihat lurus.


Aku pun memperingati Adrian, “Salah, Adrian.  Bukan di situ jalannya.  Jalan yang benar ada di sebelah kanan.”


Kulihat Adrian terdiam lama sebelum menjawab.


“Tidak, Kak.  Jalan yang benar ada di depan.”


Aku yang tidak tahan melihat Adrian yang kekeh lantas berucap, “Cobalah buka petamu.  Kamu kan yang membawa petanya?  Seharusnya peta itu akan menunjukkan arah yang benar.


Namun, Adrian justru mengatakan, “Maaf, Kak.  Petanya hilang, terjatuh sewaktu angin kencang menerjangku.”


“Oh, begitu?  Tak kusangka kamu bisa seceroboh itu.  Kalau begitu, kita harus cari peta itu dulu sebelum keluar dari labirin ini.  Tanpa peta itu, kita takkan dapat menemukan apa yang kita cari.”  Ujarku pada Adrian seraya bergerak membelakanginya lantas menyuruhnya untuk mengikutiku.


Tetapi entah mengapa dia hanya terdiam.


Lalu tiba-tiba, sesuatu berpakaian hitam tampak menyerang Adrian.  Aku telat merespon, tetapi untungnya Adrian berhasil menangkisnya.  Aku berlari mencoba mendukung Adrian sekuat tenaga dengan menyerang penjahat bertopeng putih dan berjubah hitam itu.  Lalu penjahat itupun membuka topengnya.


Namun, apa yang kulihat, dia adalah Adrian.


“Kenapa, kalian ada dua orang?”  Tanyaku was-was.


“Kak Kaiser, awas.”  Ujar Adrian berjubah hitam.


Aku menghindar tanpa sadar merespon sesuai perintahnya lantas diapun menembaki Adrian berjaket putih, pakaiannya yang seperti biasa itu.


Namun apa yang terjadi, wajah Adrian berjaket putih itu retak bagai cermin.