101 Avatars

101 Avatars
32. Adrian vs Saber



Tanpa berpikir panjang, aku berlari menerjang Saber yang sedang mengamuk itu.


“Clang, clang, slash!”  Pedang dan tombak kami pun saling beradu membentuk irama merdu logam yang seakan ditempa.


Sebetulnya idealnya, bertarung pada jarak jauh dengan menembakkan anak-anak panahku adalah pilihan yang terbaik.  Tetapi tidak di situasi penuh kerumunan massa ini.  Salah sedikit saja, pejalan kaki tidak berdosa itulah yang akan jadi korbannya.  Belum lagi mempertimbangkan impak serangan anak panahku yang bersifat eksplosif.


Untuk itulah aku lebih memilih mengaktifkan mode tombakku ketimbang mode panahnya dalam melawan avatar yang sebenarnya berspesialisasi pada pertarungan jarak dekat itu ke dalam suatu pertarungan jarak dekat yang dikuasainya.


Tujuanku sekarang hanyalah harus menahan pergerakan Saber sembari menunggu orang-orang selesai mengungsi dan Kak Kaiser turut datang kemari.  Soalnya aku yang sekarang masihlah belum cukup punya kekuatan untuk mengalahkannya.


“Slash, crack, sreeek!”


Uh, bahkan aku sama sekali tidak diberikannya kesempatan untuk bernafas di dalam pertarungan.  Aku hanya bisa berharap agar bantuan Kak Kaiser bisa segera datang secepatnya.


Avatar nomor 21, Saber, salah satu dari seri bernomor dua puluh-an.  Seri avatar yang memiliki keistimewaan kemampuan khusus pada senjata yang digunakannya.


Dan untuk kasus Saber adalah tebasan kehampaan-nya.  Tebasan yang akan meluluh-lantahkan segala apa yang dilalui oleh angin tebasannya.  Sekali saja dia bisa mengaktifkan jurus itu, maka tidak dapat lagi diprediksikan berapa kerusakan yang akan disebabkannya.  Oleh karena itu, aku harus melakukan segala cara agar tidak memberikannya ruang mengaktifkan kemampuan pedangnya itu.


Jurus demi jurus pun dilancarkan oleh Avatar Saber.  Begitu aku terpental mundur, dia akan segera mendatangiku kembali sembari menebaskan pedang berat dan mengkilapnya itu.


“Slash!  Crack!”


Dia menebas dan aku pun menangkisnya.


Sial, tampaknya inilah batasan senjata dari avatar berseri sembilan puluh-an yang khusus dirancang menyerang jarak jauh, tetapi lemah dalam pertahanan.  Senjata ini sama sekali tak mampu bertahan melawan avatar yang memang berspesialisasi pada senjata.  Baru beberapa kali adu tebasan saja, sudah nampak retak-retak di sana-sini.


Namun, aku tidak menyerah.  Aku terus menyerang dan menyerang menggunakan senjataku yang sudah tidak karuan itu.  Tetapi ini tidak baik.  Tombakku mulai terlihat akan patah.


“Slang!”


“Clash!  Braaak!”


“Akkkkh!”


Tanpa disangka-sangka, ketika aku berfokus pada pedangnya, Saber dengan liciknya menendang perutku.


Akupun terpental jauh oleh tendangan tersebut.  Tetapi apa ini?  Sejak kapan avatar yang dirancang memiliki harga diri yang tinggi dalam pertarungan itu mampu melakukan trik kotor semacam ini?


Kalau diperhatikan lagi, kondisi Saber yang ada di hadapanku ini sedikit aneh.  Bagaimana ya mengatakannya?  Dia terlihat lebih agresif dari yang seharusnya.  Dia ketimbang Saber, lebih mirip Raging Fire sekarang.


Bagaimana pun juga, aku tidak punya pilihan untuk bergerak mundur.  Sekali aku melakukannya, maka monster avatar yang sedang mengamuk ini dipastikan akan menghilangkan nyawa kerumunan mahasiswa di sekitarnya yang masih belum sempat mengungsi.


Aku harus bertahan sedikit lagi.  Setidaknya, itu pikirku.  Akan tetapi dengan sigap,


“Buuuk!”


Saber tiba-tiba berlari cepat ke hadapanku lantas meninju bagian perutku yang baru saja ditendangnya.


“Akkkkh!”


Tanpa sempat bisa merespon pergerakannya, tangannya dengan mulus melalui pertahanan tombakku itu.


Aku bisa merasakan ludah dari tubuh avatarku itu memantul lewat helmetku.  Jika saja tubuh ini dilengkapi juga oleh sistem peredaran darah, maka pasti aku sudah akan muntah darah seperti pertarungan di film-film.


Akupun terkapar di tanah.


Tentu saja tidak!  Mana mungkin aku menyerah seperti ini?!


Aku pun dengan cepat berpaling ke kiri menghindari tebasan itu lantas segera berdiri memposisikan kembali tubuhku untuk siap bertarung.


Tombakku dan pedangnya pun telah siap kembali untuk saling beradu.  Sayangnya,


“Sraaaash!”


Tombakku akhirnya patah dan menghilang begitu saja kembali ke wujudnya yang berupa butiran-butiran data yang kembali menyatu pada tubuh avatarku.


Karena tombakku yang patah, pedang itupun melewatinya begitu saja dan menuju ke tubuhku.  Tetapi untungnya, aku sudah berlatih dengan Kak Kaiser sebelumnya agar aku mampu mengaktifkan side avatar hard-ku secepat mungkin.  Dan akhirnya, latihanku itu berguna di sini.


“Kraaang!”


Serangan biasa pedangnya tak mampu menembus pertahanan side avatar Hard-ku.


Aku pun mundur beberapa langkah dan segera memanfaatkan jeda serangannya itu untuk terbang secepat mungkin menggunakan side avatard Sly Dark-ku.  Tetapi tampaknya, aku telat beberapa milisekon karena pedangnya sedikit lagi akan menebasku.


Untungnya, support dari drone penyerang milik AI5203 memberikanku sedikit waktu tambahan sehingga aku akhirnya dapat meloloskan diri.  Kini, tidak ada lagi mahasiswa yang berkeliaran di sekitar.  Aku bisa lebih memfokuskan seranganku.


Tentu saja aku tetap harus berhati-hati agar tidak terlalu merusak bangunan sekitar.  Bisa gawat kalau aku merepotkan anggota fansite Pahlawan Darah Merah dalam mengganti biaya perbaikannya yang bisa mencapai ratusan juta itu.


Anak panah api dan batu jelas di luar pilihan karena memberikan momentum serangan yang terlalu besar sehingga dapat menimbulkan kerusakan parah pada bangunan sekitar.  Satu-satunya yang aman kupakai saat ini hanyalah panah listrikku.


Aku terus dan terus membidikkan panah listrik itu tanpa henti demi mencegah Saber mengaktifkan serangan pamungkasnya, tebasan kehampaan tersebut.  Tetapi bagaimana ini?  Aku tanpa sadar menggunakan persediaan manaku hingga tersisa 25 persen.


Aku hanya bisa menggunakan panah listrikku yang memakan konsumsi MP 2,5 persen sebanyak 10 kali lagi.  Tidak, itu salah.  Aku juga harus memperhitungkan penggunaan konsumsi mana 0,5 persen permenit untuk terbang dan minimal mana 10 persen untuk tetap berada dalam vitality yang baik.


Jika dibiarkan begini terus, aku tidak lama lagi akan sekarat.


Namun, walau demikian, aku harus tetap bertahan.  Setidaknya sampai Kak Kaiser datang menggantikan posisiku bertarung melawan monster tersebut.


Dalam keadaan lemah karena kekurangan MP walau HP masih dalam taraf hijau itu, aku pun samar-samar mendengarkan suara yang tak asing lagi bagiku lewat alat komunikasi di helmetku.


“Arjuna, menghindar!  Sial!”


Aku terkaget karena rupanya itu adalah pesan teguran dari Kak Kaiser.  Dalam pandanganku yang mulai buram, aku mencoba menoleh ke sekeliling hingga kudapatilah bongkahan-bongkahan es tajam yang entah datang darimana hendak menyerangku.  Namun kusaksikan dua buah rudal milik Kak Kaiser segera menghancurkan bongkahan es itu tepat sebelum mengenaiku.


Kulihatlah dari bawah, rupanya Kak Kaiser telah tiba.  Aku pun jadi lega.  Tetapi mungkin akibat perasaan lega itulah, justru kesadaranku akhirnya memudar yang sedari tadi kupertahankan karena tekad.  Sesaat kemudian, aku terjatuh bebas dari udara setelah side avatar Sly Dark ternon-aktifkan secara otomatis perihal peringatan jumlah mana yang minim.


“Selanjutnya, kuserahkan padamu, Kak Bomber!”  Dalam pandanganku yang mulai buyar itu, aku meneruskan tekadku kepada Kak Kaiser.


“Ya, Arjuna, serahkan sisanya padaku.”  Lalu Kak Kaiser pun mengambil tekad yang kuteruskan itu.


Samar namun masih terdengar, kudengar Saber berucap kepada Kak Kaiser, “Kau, kau akhirnya muncul juga, tukang bantai sialan!  Teganya kau membantai dan membunuh Riri di saat dia sama sekali tidak berniat untuk melawan.”


Lalu, kudengar samar-samar Kak Kaiser menjawab,


“Eh\, Riri yang kamu maksud\, jangan-jangan monster avatar Silverknight itu?  Salah dia sendiri tidak mau melawan.  Yah\, walau melawan pun\, tetap dia akan kalah di tanganku sih.  Wah\, kamu sendiri tampaknya telah bertambah kuat secara pesat sejak terakhir kali kita bertemu.  Apa jangan-jangan ini berkat doping dari ******?  Apa karena itu kamu sekarang percaya diri melawanku\, monster avatar rendahan?


Setelah mendengarkan ucapan terakhir dari Kak Kaiser itu, akupun kehilangan kesadaranku.