Di tempat itu berkumpul para orang-orang tua. Ada Kakek Dios, Kakek Shou, Kakek Arthur, Nenek Sandra, Nenek Airi, Kakek Andika, Kakek Fahrul, Profesor Melisa, dan banyak lagi yang lainnya. Di antara mereka juga terdapat beberapa anak muda Damian, Millie, dan Arskad.
Yang menjadi pusat perhatian itu tidak lain adalah anggota tim pelaksana ekspedisi ke dunia virtual demi penyelamatan bumi sebelumnya.
Dialah Profesor Dios yang memulai pembicaraan.
“Itu benar. Kami benar-benar melihatnya. Itu memang sahabat kita. Aku tak mungkin salah dalam mengenalinya. Dia tampak juga bersama dengan istrinya.”
Semua orang tampak merasa terkejut dengan informasi yang tiba-tiba itu.
“Jika itu memang dirinya. Apapun caranya, kita harus menemukan cara untuk menyelamatkannya.” Dialah Andika sebagai sahabat terdekat orang itu yang berbicara.
“Namun jika memang itu Tuan Muda dalam usianya yang masih muda. Bukankah akan berbahaya jika kita tiba-tiba mengeluarkannya dari sana tanpa persiapan yang matang? Aku hanya takut sama halnya kalian yang tidak bisa merasakan peralihan kembali dari tubuh muda kalian kembali ke tubuh tua kalian, Tuan Muda akan kenapa-kenapa. Waktu itu yang berpindah, hanya ingatan kalian, tetapi beda halnya dengan Tuan Muda. Ini melibatkan tubuh aslinya.”
Dengan tampak khawatir, Wilda juga ikut berkomentar.
“Namun itu bukan berarti kita dapat menyerah dalam menyelamatkannya. Yang harus kita pikirkan terutama adalah masalah keamanan.” Kali ini, komentar datang dari Ratih.
Semuanya pun akhirnya bersepakat untuk memikirkan dan mulai mengeksekusi langkah terbaik dalam penyelamatan orang yang paling penting di hidup mereka itu. Pemersatu angkatan mereka, Kaiser Dewantara bersama dengan istrinya Kaisha Luwetzsky.
Rapat pun bubar dan semua menjalanka perannya. Dan sebagai pemegang peran yang paling vital di antara mereka adalah Profesor Dios dan Arskad.
Merekalah yang bertanggung jawab pada desain utama alat dengan bantuan Profesor Melisa pada bagian teknis kemudian Ratih pada masalah bug. Adapun masalah dana, tidak perlu dipertanyakan lagi, harga keluarga Dewantara melimpah ruah. Terlebih, ada Kakek Fahrul sebagai pemilik perusahaan terbesar di Indonesia saat ini.
Semuanya menjalankan perannya masing-masing.
Tampak Dios dan Arskad kala itu menelusuri jalan koridor. Kemudian tiba-tiba seseorang menyapanya dari belakang. Rupanya dia adalah Millie.
“Apanya?” Tanya Arskad pada pertanyaan Millie yang tidak jelas itu.
“Ibu kita, Ibu kita apa benar mengandung lagi?” Millie tampak begitu penasaran ingin tahu jawabannya.
“Entahlah, hanya Paman Dios, Paman Arthur, dan Paman Shou yang melihatnya. Aku kebetulan berada di sisi lain, jadi tidak melihat dengan baik.” Ujar Arskad sembari melirik sang kakek tua, Dios, di sebelahnya.
“Ya, Millie. Aku sangat yakin. Walau aku melihatnya dari jauh, mana mungkin aku salah mengenali sahabat terbaikku sendiri. Arthur dan Shou juga melihatnya.” Jawab Profesor Dios.
Millie setelah mendengar berita itu semakin harap-harap cemas.
Millie sendiri tidak pernah mengingat wajah ayah dan ibunya itu perihal dirinya saat itu masih berusia satu tahun. Dia juga sangsi bahwa kakak keduanya, Arskad itu juga dapat mengingat wajah kedua orang tuanya sebab di saat itu, kakaknya itu juga baru berusia 3 tahun. Jika ada yang bisa mengingat terbaik di antara mereka bersaudara, itulah pasti kakak pertamanya, Iman.
Akan tetapi, sejak kejadian dia terlibat organisasi penjahat itu dan ditangkap sebagai penjahat, dia tak pernah lagi melihat sosok kakaknya itu. Kabar mengatakan bahwa kakaknya itu berhasil kabur dari penjara internasional, tetapi dia sudah tidak peduli lagi dengan semua itu.
Millie marah dengan keputusan yang diambil oleh kakaknya itu menjadi penjahat padahal dia adalah ilmuwan cerdas dan berbakat, walau tanpa kekuatan spiritual seperti dirinya dan Arskad. Millie berpikir seandainya kakaknya itu ada di jalan kebenaran, pasti dia bisa sangat membantu dalam membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Baginya, kakaknya itu adalah aib bagi keluarga Dewantara.
Namun tanpa sepengetahuan Millie, walau dengan jalan yang kurang etis dengan berjalan di jalan dunia bawah, Iman telah berupaya bertobat demi dosa-dosa masa lalunya demi semua keluarga tercintanya. Dan baginya untuk tidak bertemu dengan mereka adalah hukuman yang dia tetapkan untuk dirinya sendiri.
Hanya Arskad yang mengetahui hal ini. Tetapi karena Iman meminta dia untuk merahasiakannya, sampai saat ini pun Arskad tidak mengatakannya kepada Millie.
“Ayah, Ibu, di mana pun kalian berada, tolong selamatlah.” Dan di ruangan gelap di bawah tanah itulah, Iman melakukan penelititan rahasianya tentang portal, tentang pecahan batu antardimensi, tentang pohon antardimensi, para dummy dan sebagainya. Terlihat banyak sampel makhluk hidup di dalam labnya walaupun semuanya adalah apa yang orang cap sebagai monster.
Mungkin tidak etis untuk hak asasi para monster, tetapi Iman melakukan jalannya sendiri untuk menemukan kembali kedua orang tuanya yang hilang.