Malam itu, karena kedua kamar lainnya telah ditempati oleh Judith serta pasangan ibu-anak Profesor Melisa dan Zio, aku pun satu kamar kembali dengan Kak Kaiser. Sebenarnya, aku harus segera kembali ke rumah sakit untuk mengelabui polisi yang berjaga di sana, tetapi kuputuskan untuk beristirahat sejenak melepaskan kantuk ini.
“Ada apa Adrian? Tampaknya kamu punya banyak pikiran.” Tegur Kak Kaiser padaku.
Nampaknya, aku terlalu jelas menampakkan ekspresiku sehingga Kak Kaiser pun menyadarinya. Benar bahwa malam itu, aku punya sesuatu yang kupikirkan lebih dari apa yang telah kami bicarakan pada saat rapat barusan.
Keberadaan kelompok Raging Fire dan Mr. X, belum lagi aktivitas mencurigakan Dream di hutan, kemunculan tiba-tiba Healer selalu di tempat yang tidak kami duga-duga. Ditambah keberadaan Time dan Remote yang masih menjadi misteri. Dan juga, Mistique, avatar bernomor seri 30, yang memimik seorang pesulap lokal, belum pernah lagi tertangkap drone Mr. Aili.
Terlebih, tentang adanya portal yang dapat menghubungkan dunia manusia terhadap dunia virtual yang diminta oleh Kak Kaiser dan Profesor Melisa rahasiakan. Tentu saja hal itu harus dirahasiakan. Bisa timbul kegemparan jika sampai hal itu diketahui oleh publik.
Namun, lebih daripada itu, itu hanya akan mengundang para orang jahat untuk menyalahgunakan informasi tersebut. Terlebih, bisa saja muncul berbagai eksperimen ilegal untuk membuka portal yang akan sekali lagi mengorbankan banyak nyawa umat manusia.
Tetapi lebih daripada itu, apa yang membuatku lebih kepikiran,
“Ternyata, sifat yang terbentuk dari monster avatar bisa berbeda-beda juga ya, Kak Kaiser?” Aku pun mengutarakan pendapatku itu kepada Kak Kaiser.
“Apa maksudmu, Adrian? Bukankah sudah kukatakan bahwa mereka itu tidak lain hanyalah keberadaan yang bergerak berdasarkan program. Tidak usah gunakan konsep manusia pada mereka.” Kak Kaiser lantas serta-merta menegurku dengan nada yang keras atas ucapanku itu.
Tetapi sekali lagi, aku berucap pada Kak Kaiser,
“Crusader, dan juga Saber dan Silverknight, menjadi baik setelah mewarisi ingatan the flower sisters. Begitu pula Arjuna terhadap Tio. Aku sih tidak pernah bertemu dengan mereka yang asli, tetapi aku bisa tahu bahwa mereka orang yang baik setelah menyaksikan para avatar yang memimik mereka. Tetapi mengapa Freeze dan Fog berbeda, mereka jahat padahal mewarisi ingatan kakakku dan pacarnya yang adalah juga orang baik?”
Aku terdiam sejenak lantas kembali berucap, “Kira-kira jika monster avatar itu memimik aku atau Kak Kaiser, akan jadi seperti apa ya? Akankah jadi makhluk baik yang polos seperti Arjuna karena kita berdua orang yang baik kan, Kak?”
Dengan sendu, aku mengucapkan kalimat tersebut diiringi oleh candaan berat. Kulihat Kak Kaiser tak mengeluarkan kata-kata sedikit pun selama beberapa menit mendengarkan ucapanku itu. Ekspresinya seketika sayu dan senyap. Karena khawatir, aku pun sekali lagi menegur Kak Kaiser.
“Kak Kaiser?” Ucapku lirih.
Kulihat, Kak Kaiser pun kembali ke kesadarannya.
“Adrian, kamu tahu kan tiga avatar tersisa yang belum diketahui identitasnya?”
Aku bingung dengan harus kujawab apa pertanyaan Kak Kaiser itu karena jawabannya jelas-jelas adalah suatu obrolan yang akan membuatnya tak enak untuk didengar. Tetapi karena Kak Kaiser tampak memikirkan sesuatu yang rumit, aku pun menjawab pertanyaannya itu, “Time, Remote, dan Healer?”
“Ya, Healer. Dan aku sebagai rankernya adalah orang yang paling mencurigakan sebagai Avatar Healer. Lantas, apa yang akan kamu lakukan jika aku benar-benar Healer? Apakah kebaikan hatimu akan menghalangimu untuk membasmiku? Ingatlah, aku memang pernah bilang padamu bahwa kepolosanmu adalah nilai lebihmu sehingga kamu bisa tetap apa adanya karena ada aku yang melengkapimu. Tetapi kamu juga harus ingat, seorang avatar itu penuh dengan tipu daya.”
“Apa maksud Kak Kaiser?” Aku pun segera memotong pembicaraan Kak Kaiser itu ketika arah pembicaraannya mulai tidak mengenakkan.
“Aku tidak mengatakan bahwa aku adalah Healer. Hanya saja, monster avatar bisa saja telah menyamar menjadi orang yang kamu sayangi. Aku hanya mengingatkanmu, jika itu terjadi, ingatlah bahwa perasaan mereka hanyalah palsu dan tidak usah membebani dirimu. Tugasmu hanya satu. Membasmi mereka demi keselamatan umat manusia.”
***
Pagi itu, aku terbangun agak kesiangan setelah tertidur kembali sewaktu terbangun sekitar pukul 5 subuh. Kulihat Profesor Melisa bersama anaknya, Zio, tengah menyiapkan sarapan … atau mungkin bisa disebut makan siang soalnya jam telah menunjukkan pukul 11 pagi. Kulihat Judith telah turut pula berada di meja makan. Tetapi ke manapun aku melirik, tak kutemukan Kak Kaiser padahal sudah sejak terbangun pertama tadi, aku tidak melihat sosoknya.
Aku pun bertanya pada Judith tentang keberadaan Kak Kaiser, “Judith, Kak Kaiser mana?”
“Mana kutahu? Apa peduliku dengan monster itu?” Jawab seketika Judith dengan dingin.
Rupanya status Kak Kaiser di mata Judith telah menurun drastis dari seorang kakak dingin menjadi seorang monster, tetapi tentunya itu hanyalah apa yang diucapkannya saja. Aku sudah tahu bahwa Judith sebenarnya sangat menyayangi Kak Kaiser.
Kenapa bocah itu tidak jujur juga pada perasaannya sampai sekarang? Dan juga aku yang malah bodoh bertanya persoalan Kak Kaiser padanya.
Aku pun mengalihkan pertanyaanku itu kepada Profesor Melisa, “Profesor Melisa lihat Kak Kaiser, tidak?”
Tetapi Zio-lah, anak muda seusia Judith, anak Profesor Melisa, yang menjawab pertanyaanku itu, “Oh, Kak Kaiser pergi pagi-pagi sekali. Katanya ingin menyelidiki sesuatu di hutan.”
Belum sempat, aku menanggapi, Profesor Melisa lebih duluan menyambung jawaban anaknya, “Sudahlah. Kita tidak perlu mencampuri urusan Kaiser. Di antara kita, dialah yang paling banyak memikirkan soal monster avatar. Pasti kepergiannya sekarang, juga berkaitan dengan itu.”
Aku membenarkan ucapan Profesor Melisa itu. Aku pun tidak memberikan tanggapan lebih jauh lagi tentang Kak Kaiser. Kami berempat pun sarapan atau mungkin lebih tepatnya makan siang bareng di jam 11 itu. Aku duduk bersebelahan dengan Profesor Melisa, sementara Judith ada di depanku dan Zio berada di hadapan Profesor Melisa.
Kulihatlah antara Judith dan Zio secara bolak-balik. Mereka sebaya dan kakak mereka berdua telah saling lama kenal sebelum akhirnya berpacaran. Apakah itu berarti Judith dan Zio juga telah lama saling kenal? Tetapi bagaimana pun kulihat, sikap mereka sangat dingin satu sama lain, tidak seperti orang yang saling mengenal.
Karena penasaran, aku pun bertanya,
“Zio akrab dengan Judith? Dia kan adik pacar kakaknya Dik Zio.” Tanyaku pada Zio. Aku tidak berani menanyakan langsung pada Judith perihal kelakuan judesnya yang makin menjadi-jadi. Padahal di sekolahnya, begitu kelakuannya mencerminkan nona-nona kaya yang elegan, tetapi entah mengapa di markas saja kelakuannya seperti kucing beringas.
Zio pun menjawab, “Kami hanya saling kenal, tetapi tidak terlalu akrab karena kami hanya bertemu beberapa kali.”
“Tidakkah Judith selalu jalan-jalan ke rumahmu atau sebaliknya?” Tanyaku lagi balik.
“Kak Kaiser sering main ke rumah, begitu pula kulihat Kak Andina ke rumah Kak Kaiser. Hanya saja, kami berdua tidak sering berkunjung ke rumah masing-masing. Oleh karena itu, aku hanya akrab dengan Kak Kaiser dan Judith akrab pada Kak Andina saja.”
Begitulah jawab Zio. Jadi bisa dikatakan, walau kakak mereka akrab, tetapi keakraban itu tidak diteruskan kepada adik-adik mereka. Padahal, aku penasaran juga tentang apa yang kiranya sekarang terjadi jika Judith akrab dengan Zio. Akankah itu akan sedikit menutupi luka di hati Judith sehingga dirinya tidak terlalu tertekan dalam kesehariannya seperti sekarang ini?
Bagaimana pun, aku bersimpati pada Judith. Kehilangan Kak Andina pasti berdampak besar baginya. Tetapi tidak ada yang dapat orang lain lakukan padanya selain memberikannya dukungan dan semangat. Selebihnya, tergantung pada Judith sendiri. Semoga waktu mampu menyembuhkan segala luka di hatinya.
Seketika itu, terbersitlah pikiran nakal di benakku. Tanpa sadar kuucapkan, “Dik Zio, bagaimana jika berteman dengan Judith?”