101 Avatars

101 Avatars
118. Monster Lobster



Setelah pertemuan itu, aku, Kak Kaiser, Arjuna, Dream, Kak Arskad, dan Paman Dios segera mengunjungi kembali lokasi di mana kami mengalahkan Pohon Keabadian.  Sekilas tak tertangkap keanehan, namun aku bisa melihatnya.  Butiran-butiran portal seukuran debu sampai-sampai tak terlihat oleh mata biasa yang menghubungkan dua dunia bersewileran di sekitar memenuhi seisi ruangan.


“Dream, ini?”  Tanyaku penasaran.


“Ya, sisa-sisa keberadaan Pohon Keabadian yang mungkin memicu hal ini.”  Jawab Dream padaku.


“Apa yang kalian bicarakan?  Apa yang kalian lihat?”  Sebagai satu-satunya yang tidak bisa melihatnya karena tak memiliki mata super, Kak Kaiser pun bertanya keheranan melihat perubahan sikap kami yang aneh tentang keadaan sekitar.


Kami menjelaskannya, dan akhirnya Kak Kaiser pun memahaminya.


“Berdasarkan catatan pada tahun 2022, Pohon Keabadian disingkirkan dengan cara dibuang secara paksa ke dimensi lain.  Namun kini, kita menghancurkannya secara langsung di dunia nyata.  Yah, walau itu sebenarnya hanyalah generasi kedua Pohon Keabadian yang lahir dari benih generasi pertama dan bukan Pohon Keabadian yang asli yang ada di celah dimensi, sisa-sisa keberadaannya masih memicu penghubungan antardua dunia.”


Kak Kaiser pun memberikan pendapatnya.


Semuanya tampak menyetujui pendapat tersebut.  Sebagai orang yang menghancurkan Pohon Keabadian, yah walau secara teknis, gabungan kekuatan Healer junior, Holy Junior, dan Bomber-lah yang melakukannya, Kak Kaiser tidak bisa melepaskan rasa bersalahnya.  Kak Kaiser beranggapan bahwa karena kecerobohannya-lah dalam melewatkan kemungkinan ini, semuanya bertambah buruk sekarang.


Tampak ekspresi rasa bersalah terpampang dengan jelas di wajahnya.  Namun, walau waktu mesti diputar kembali, bukan berarti kita punya cara untuk membuka portal dunia lain untuk menghempaskan sang monster ke dalam karena kurangnya sumber daya kita.


Hal seperti ini adalah hal yang tak terelakkan.  Jadi, aku pun membujuk Kak Kaiser agar daripada terjebak memikirkan sesuatu yang sia-sia, lebih baik untuk memikirkan jalan penyelesaian yang terbaik sekarang.


Kulihat Profesor Dios mengeluarkan alat anehnya yang dia ciptakan bersama dengan Kak Arskad.  Aku tidak tahu benar fungsi alatnya, tetapi itu adalah semacam alat yang diciptakannya demi tujuan membuka portal ke dunia virtual.  Paman Dios pun sampai saat ini, layaknya ayah dan Ibu Kak Kaiser, juga termasuk kedua orang tuaku, masih belum menyerah demi menemukan kembali keberadaan paman dan bibi Kak Kaiser yang terdampar ke dunia virtual tersebut.


Kulihat debu-debu portal, walau dengan gerak yang sangat lambat, mulai menyatu ke sekitar alat aneh Profesor Dios tersebut.  Aku menyaksikannya dengan penasaran.


Namun sayangnya, alarm tanda bahaya dari markas berbunyi sekali lagi.  Kali ini serangan lobster raksasa dilaporkan keberadaannya di sekitar pantai selatan ujang barat Pulau Jawa.  Anggota tim yang lain telah berangkat duluan ke sana demi menghadapi sang monster, tetapi tampaknya mereka kekurangan anggota.


Kami pun, aku, Dream, Arjuna, dan Kak Arskad segera menuju ke lokasi, sementara Profesor Dios dan Kak Kaiser tetap tinggal di tempat ini untuk melanjutkan penyelidikan.  Sesampainya di sana, aku dapat menyaksikan sosok monster mirip lobster dengan ukuran raksasa sedang menyerbu untuk mendarat ke pantai.


Tampilannya begitu menyeramkan dengan juntaian ekor yang meliuk-liuk bagai ekor kalajengking serta mata merah yang mengintimidasi, tidak lupa pula dengan capitnya yang terus-terusan mengapit dan membuka mengeluarkan suara yang mengancam.


Aku kenal benar dengan monster ini.  Monster yang berasal game vrmmorpg fantasi nyeleneh yang belakangan ini sering dimainkan oleh orang-orang di sekitarku.  Itulah game produksi Negara Thailand yang berjudul Noung thi Swingam.


Tanpa membuang-membuang waktu, masing-masing dari kami segera terjun ke lokasi untuk membantu di titik di mana pertahanannya paling lemah.  Aku segera mengeluarkan senapan laras panjangku untuk menembaki monster-monster tersebut.


Ini cukup buruk.  Butuh tujuh sampai delapan tembakan bagiku hanya untuk menjatuhkan satu monster.  Dream dan Arjuna pun tidak jauh berbeda denganku.  Dream hanya mampu menjebak satu monster lobster dalam sub ruangnya lalu mengeliminasinya dalam waktu hampir sejam.  Benar-benar serangan yang tidak efektif.


Satu-satu serangan di antara kami berempat yang efektif adalah milik Kak Arskad. Dengan kekuatan poltergeistnya, dia mampu mengangkat empat sampai lima lobster lantas membabatnya habis dalam sekali serangan.


“Kak Arskad, aku akan mensupport Kakak dari belakang untuk mencegah para monster keluar dari pantai.”  Teriakku pada Kak Arskad.


Aku pun memutuskan ketimbang menghabiskan peluruku tujuh sampai delapan hanya untuk satu monster, lebih baik aku mensupport Kak Arskad untuk memperlambat gerakan sang monster kemudian sisanya biar Kak Arskad yang menghabisinya.  Dan terbukti bahwa peranku dalam serangan kombinasi tersebut lebih efektif dengan menahan pergerakan sang monster kabur dari pantai.


Kak Arskad juga terlihat sangat terbantu karena kini dia hanya harus fokus untuk menarik sang monster yang telah terdiam ke angkasa lalu membabatnya tanpa perlu lagi mengeluarkan mana yang sia-sia untuk mengejar monster yang bergerak dan berusaha melawan.


Kami tiba di lokasi kejadian sekitar jam 9 malam dan kini sudah masuk pukul 9 pagi, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa monster yang keluar dari dalam laut akan berakhir.  Aku pun menyuruh Dream untuk menyelidikinya.


Betapa kagetnya aku bahwa ternyata portalnya yang dalam ukuran besar masih utuh terdapat di dasar laut.  Aku pun menyuruh Dream untuk mencoba menjebak portal di dalam sub ruang.  Sebenarnya, aku kurang yakin bahwa itu akan berhasil persoalan portal adalah sejenis pintu gerbang yang menghubungkan dua waktu dan ruang yang berbeda.


Portal adalah semacam alat yang melekat pada kedua dunia, jadi tidak mungkin dilepaskan tampuknya dari kedua dunia tersebut.  Namun di luar dugaan, cara tersebut berhasil.  Portal dapat terjebak ke dalam sub ruang Dream.  Apa yang lebih mengherankan adalah bahwa portal tersebut seketika saja menghilang begitu memasuki sub ruang Dream.


Portal menghilang berkat Dream dan akhirnya gelombang lobster raksasa pun mendekati akhirnya.  Andai kutahu cara ini akan efektif, pasti sudah sedari tadi kulakukan tanpa harus membuang-buang tenaga selama dua belas jam lebih.  Yang jelas, semuanya juga selesai dengan baik kali ini.


Lebih daripada itu, satu fakta menarik lagi tentang portal berhasil kami temukan.  Tidak, tepatnya dua.


Pertama, portal di dasar air lebih stabil dan ketika muncul takkan menghilang begitu saja yang berbeda dengan portal di udara terbuka yang akan menghilang begitu saja ketika muncul tanpa dipertahankan lewat mana.


Kedua, portal bisa dilepaskan dari tampuk dua waktu dan ruang yang dihubungkannya, hanya saja ketika dilepaskan, maka portal tersebut akan segera menghilang.


***


Sementara itu, di lokasi Profesor Dios dan Kaiser.


“Paman Dios, bukankah ini?”


“Ya, tidak diragukan lagi.  Semua yang terjadi belakangan ini terjadi bukan tanpa sebab.  Ada yang dengan sengaja mengganggu kestabilan portal dari dalam demi menghancurkan dunia ini.”


“Kalau begitu, kita hanya bisa menyelesaikan masalah ini jika kita mengeliminasi makhluk yang ada di dunia seberang yang mengganggu kestabilan portal itu.”


Seraya Kaiser mengucapkan hal tersebut, pandangan dirinya dan Profesor Dios mendadak menajam seakan sedang membayangkan hal buruk yang mungkin saja terjadi dalam waktu dekat tersebut.