101 Avatars

101 Avatars
96. Tahap Akhir Proyek Pohon Keabadian



Sesaat kemudian, Mr. Aili berhasil mengonfirmasi kebenaran ucapan Kaiser tersebut dengan kehebohan berita siumannya Jessica, sang penyanyi dangdut terkenal, secara mendadak.


Di malam harinya, semuanya menjadi lebih jelas dengan ditemukannya kapal yang seluruh penumpangnya telah tewas dengan meleleh secara mengenaskan disertai dengan temuan ulir-ulir hitam kering di sepanjang badan kapal tersebut, ditambah konfirmasi dari Dream yang melihat langsung kejadian.


“Ini gawat.  Rencana kita akan benar-benar berantakan sekarang.”  Ujar Mr. Aili dalam ekspresinya yang cukup kompleks untuk ukuran mesin.


Setelah Healer, satu lagi sosok rekan berharga mereka telah hilang.  Hal ini cukup memukul tim pahlawan karena sosok Holy sangat penting keberadaannya dalam memberikan dukungan kepada tim mereka untuk mengalahkan Mr. X yang menjadi dalang semua kejahatan yang saat ini menimpa Ibukota Jakarta tesebut.


Akan tetapi, di saat itulah Kaiser menunjukkan kloning Holy yang diciptakan Holy sebagai penggantinya dengan rancangan akan aktif jika terjadi apa-apa pada dirinya tersebut di mana diserahkannya kepada Kaiser di saat terakhir Holy menemuinya tersebut.


“Untuk itu, Holy sebenarnya telah menyiapkan cadangan dirinya layaknya Healer sebelumnya.”  Ujar Kaiser menanggapi kekhawatiran Mr. Aili itu sembari mendesahkan nafasnya dengan mata yang sayu.


“Ayo, keluarlah!  Perkenalkan dirimu kepada semuanya.”


Kaiser lantas segera menyuruh kloning Holy untuk keluar dari gelang perubahnya, menyapa anggota tim yang lain.  Entah mengapa, kloning Healer ikut keluar bersama kloning Holy dalam wujud hologram mini tersebut.


“Hai, aku Holy Junior, salam kenal cemuanya.  Hehehehehehe.”


“Yosh, aku Healer Junior, mohon bimbingannya Paman-Paman dan Bibi-Bibi semua!”


Terlihat Holy Junior dengan tingkah imutnya yang tampak sengaja mencadelkan lidahnya, sementara Healer Junior tetap dalam semangat membaranya itu bagaikan tipikal anak kecil yang berbakat di kelas orahraga.


Mari tinggalkan emosi para anggota muda ketika dipanggil Paman dan Bibi oleh Healer, melihat semangat mereka berdua yang berisik itu lengkap dengan suara mereka yang cempreng nan membahana, Kaiser justru mengerutkan keningnya dengan ekspresi yang rumit di wajahnya sembari berujar,


“Ah, tampaknya aku akan semakin menderita insomnia.”


***


Di ruangan yang luas di mana tampak dari dalam bernuansakan kastil abad pertengahan, Xavier duduk di atas singgasananya.  Di bawahnya, Void dan Strurdy sedang berdiri merendahkan posisi mereka di hadapan tuan mereka itu.


“Ini benar-benar mendatangkan sakit kepala buatku.  Ini semua karena kerjamu yang tidak becus melindunginya, Void, sehingga Mecha bisa dikalahkan.  Padahal dia adalah kunci utama bagi kita dalam menyelesaikan pohon keabadian.”  Xavier tampak mengeluh kepada ketidakbecusan kerja salah satu anak buahnya tersebut.


“Maafkan hamba, Tuan.  Lagipula, pekerjaan Mecha telah hampir rampung.  Dengan berbekal sedikit kecerdasan yang kuwarisi dari Michael, aku dapat dengan segera menggantikan Mecha dalam merampungkannya.  Yang kita butuhkan, tinggal bahan terakhir saja, jantung Raging Fire.”  Jawab Void dengan sopan di hadapan tuannya sembari menundukkan sedikit kepalanya.


“Apa tidak ada masalah dalam mendapatkannya?”


“Kalau itu, belum ada laporan dari mata-mata kita, Sticky Girl, Tuan.”


***


Hari itu adalah hari minggu yang cerah.  Hari ini, aku telah ada janji kencan dengan Nafisah untuk bermain di Wahana Bermain Dunia Unyil.  Beberapa hari sebelumnya, kami yang tanpa sengaja jalan pulang bareng, memenangkan salah satu undian kejutan di supermarket yang kami kunjungi bersama.


Kebetulan tiketnya ada dua.  Jadi aku dan Nafisah pun janjian untuk pergi bareng.  Yah, walaupun ini bukan kencan yang sesungguhnya, hanya sekadar untuk tidak menyia-nyiakan hadiah undian.  Tapi tidak apa-apa kan kalau aku berkhayal sedikit untk memperoleh kesenangan batin?  Ya, itu adalah kencan!


Rupanya sewaktu aku tiba di sana, Nafisah telah menunggu duluan di tempat janjian kami.  Kami pun segera masuk ke lokasi wahana.


Hanya saja, aku tidak mengerti mengapa mood-nya itu dengan cepat berubah buruk di kala dia bertanya tentang ini ke berapa kalinya aku ke taman bermain.


Sewaktu aku kecil, ayah dan ibu kami sudah bercerai, dan kakak-kakakku sangat sibuk dengan urusan sekolahnya masing-masing, ditambah Kak Faridh kadang-kadang kerja part time di usianya yang belum cukup umur kala itu untuk memenuhi kekurangan keuangan kami, jadi aku belum pernah ke tempat seperti ini waktu kecil.


Jika diingat-ingat, pertama kalinya aku ke sini adalah ketika bersama Kak Selantri.  Yah, walaupun itu sebenarnya Fog sih, walaupun aku tidak menyampaikan detail itu kepada Nafisah.


Hanya dalam satu pertanyaannya itu, moodnya betul-betul drop.  Entah aku salah apa.  Namun, seiring kami bermain bersama, moodnya akhirnya kembali ceria, terutama ketika kami naik komedi putar raksasa dan ketika kami foto berdua di box foto.


Hari itu benar-benar menyenangkan bagiku dan kuharap Nafisah juga merasakan hal yang sama.


Di akhir kami akan berpisah di wahana bermain tersebut, Nafisah tiba-tiba meraih tanganku secara lembut seraya menyemangatiku dalam berjuang.  Tiada yang dapat membuat aku lebih bersemangat dalam perjuangan menghadapi monster avatar selain penyemangat dari pujaan hatiku itu.  Yah, tentu saja kakakku Syifa juga termasuk, namun hanya berada di urutan kedua.


“Adrian, Keluarga Wijayakusuma lebih hebat dari yang kamu kira!  Jadi jika ada apa-apa, minta tolonglah pada kami!”  Begitu kami telah berada pada jarak 20 meter, Nafisah tiba-tiba berteriak memanggil namaku lantas mengucapkan kalimat tersebut untuk yang kedua kalinya.


Tetapi, aku betul-betul tak ingin melibatkan wanita pujaanku itu termasuk keluarganya dalam perjuangan berdarah ini.  Aku tak ingin kalau sampai melihat sosok yang paling berharga buatku itu juga turut terluka.


Aku hanya terdiam menyaksikan sosoknya yang kian menjauh dalam lambaian tangan dan senyumnya yang anggun yang kemudian perlahan menghilang dalam titik, ditelan kegelapan malam.


***


“Sticky Girl, ke mana kamu akan pergi membawaku?”  Tanya Raging Fire penasaran ke mana kiranya monster dalam wujud anak perempuan itu ingin mengajaknya bermain.


“Duh, tidak usah banyak tanya dong, Tuan Raging Fire.  Ikut saja.  Pokoknya ada tempat yang menarik deh yang ingin aku kunjungi berdua dengan Tuan.”  Dengan tingkah imut nan menggemaskan layaknya anak-anak yang seusia wujudnya itu, Sticky Girl menarik Raging Fire yang juga sedang dalam wujud manusianya dengan ceria.


“Ke sini, ke sini, ke sini dong, Tuan!  Ayo cepat!”  Sticky Girl tak henti-hentinya menarik lengan orang yang dipanggilnya Tuan itu.


Hingga pada akhirnya, mereka berdua melewati jalan yang dipenuhi oleh dedaunan, Sticky Girl melangkahi jalan itu lebih dahulu, kemudian disusul oleh Raging Fire.  Tetapi hal yang tak terduga pun terjadi.  Begitu Raging Fire yang melangkah, jalanan itu langsung roboh, tidak, tepatnya sedari awal ada portal di bawahnya yang menjerat Raging Fire ke dalamnya.


Suatu portal yang sebelumnya tertutupi oleh getah-getah lengket secara sempurna yang tersembunyi dengan baik dari balik dedaunan yang membuat Sticky Girl mampu melewatinya tanpa terjatuh.


Melihat Raging Fire terjatuh dalam jebakannya, Sticky Girl pun tersenyum licik.


Rupanya, Raging Fire tepat jatuh ke dalam sangkar yang memang telah disiapkan untuknya oleh Void.  Di luar sangkar yang memiliki mekanisme pengembangan tingkat lanjut dari virus yang pernah disebarkan oleh Healer sebelumnya itu yang mengunci kekuatan para monster avatar, Void berdiri dengan tersenyum puas.


“Kerja bagus, Sticky Girl.”  Ujar Void dengan puas.


Lalu sejenak kemudian, muncullah portal di belakang Void lantas sesosok monster avatar keluar dari portal tersebut.  Dialah Sticky Girl.


“Bukan apa-apa, Void.  Tidak sulit untuk menipu orang yang bodoh sepertinya.  Soalnya dia sangat mudah dijebak oleh ekspresi lugu selama itu dari kaumnya sendiri tanpa rasa curiga sedikit pun.”  Balas Sticky Girl atas komentar Void tersebut.


Di dalam sangkar, Raging Fire yang masih terjebak dalam wujud manusianya itu, melongo dengan putus asa begitu dia sadar bahwa sekali lagi dirinya dibodohi dan diperdaya dengan lugunya oleh ras-nya sendiri.