101 Avatars

101 Avatars
36. Idealisme Siapakah yang Benar?



Dalam diamnya yang lama, Kak Kaiser pun mulai berucap, “Adrian, apa menurutmu dendam adalah segalanya?”


“Aku…Bukan seperti itu.  Aku hanya tidak ingin lari dari masalah.  Seperti apa yang Kak Faridh selalu ajarkan padaku, bahwa kita harus menatap masalah dan menyelesaikannya dengan kedua tangan kita sendiri seberat apapun masalah itu.  Karena kebergantungan kita pada seseorang adalah wujud kelemahan kita.”  Jawabku sembari menundukkan kepala karena tak tahan melihat ekspresi sendu di wajah Kak Kaiser tersebut.


Kak Kaiser lantas berjongkok memposisikan wajahnya sejajar dengan wajahku yang kala itu sedang duduk di atas kasur.  Kak Kaiser begitu lurus menatap jauh ke dalam mataku.


“Tidaklah salah tekad yang kamu miliki untuk berani menatap masalah, Adrian.  Akan tetapi, ingatlah apa yang terpenting.  Tataplah wajah kakakmu Syifa.  Coba bayangkan bagaimana perasaannya jika kamu sampai ikut tewas seperti kakakmu Faridh.”  Ujar Kak Kaiser pelan, namun terasa keseriusan dari setiap kata yang dilontarkannya itu.


Aku pun menatap Kak Syifa.  Kulihat, matanya berkaca-kaca, hampir saja menangis.


Aku sekali lagi menunduk terpaku.  Kugenggam tanganku erat-erat.


Kak Kaiser lantas menyadarkanku dengan menepuk pundakku.  Kak Kaiser lanjut berkata,


“Ingat, Adrian.  Apa yang terpenting adalah keselamatanmu dalam pertarungan ini.  Bukankah tujuanmu adalah untuk membuat kakakmu Syifa bahagia sehingga kamu bersedia bergabung bersama kami demi memberantas para monster avatar?  Namun, bagaimana Syifa bisa bahagia di dunia yang tidak ada kamu di sisinya?”


Kak Kaiser lantas terdiam sejenak sembari semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku sambil menggenggam erat kedua bahuku dengan kedua tangannya.  Di saat itulah Kak Kaiser berkata,


“Adrian, terkadang jika suatu masalah terasa amat berat sehingga kita merasa tak sanggup untuk menghadapinya, maka tidak apa-apa bagi kita untuk lari dari masalah itu.”


Aku pun mencerna baik-baik kata tiap kata yang dilontarkan oleh Kak Kaiser.  Sedikit demi sedikit, aku pun terpengaruh oleh ucapannya itu.  Lantas, bagaimana dengan idealisme hasil didikan Kak Faridh yang selama ini terpatri di dalam diriku?


Bukankah idealisme yang ingin disampaikan Kak Kaiser tidak jauh bedanya seperti seorang pengecut?  Apakah memang diizinkan seseorang lari dari masalahnya?  Apakah aku bisa melakukan hal yang demikian?  Terus terang saja, pertarungan ini menakutkan.  Sedikit salah, aku bisa saja terluka parah dan bahkan tewas.  Namun, selama ini aku bertahan karena idealisme yang ditanamkan oleh Kak Faridh padaku.


“Jangan menyerah!  Jangan lari dari masalah!” Itulah yang selalu diucapkan Kak Faridh padaku.


Lantas, bisakah aku lari seperti yang diucapkan oleh Kak Kaiser jika keadaannya memburuk?  Lalu siapakah yang akan melindungi bumi ini dari ancaman para monster avatar?  Apakah Kak Kaiser ingin mengatakan kalau dia bisa saja seorang diri melindunginya?  Tidak, itu salah.  Lagian jika demikian, aku sedari awal takkan direkrutnya sebagai rekannya.  Lagipula, Kak Kaiser-lah yang pada awalnya mengajakku ke pertempuran penuh darah ini.


Lantas, apa tujuan Kak Kaiser mengatakan itu?  Bukankah dia terlalu memanjakanku dengan selalu menyuruhku bertarung sembari berlindung di belakangnya?


Kemudian, sekali lagi Kak Kaiser berucap,


“Itulah gunanya keberadaan rekan, Adrian.  Di saat kamu kesulitan, di saat kamu tak bisa menanganinya seorang diri, manfaatkanlah rekanmu untuk menyupportmu.  Termasuk, jika di saat semuanya terlalu berat untukmu, maka berlindunglah sampai kamu siap kembali ke dalam pertarungan di balik punggung rekanmu.  Itulah gunanya ada aku, Adrian, sebagai rekanmu.”


Kata-kata Kak Kaiser itu, bagai oasis di tengah padang gurun yang tandus bagi hatiku.  Namun, mengapa rasanya ada yang salah dengan itu?  Mengapa ketimbang oasis, kata-kata Kak Kaiser malah lebih seperti fatamorgana di padang gurun yang siap memberikanku kekecewaan?


Apakah itu karena selama ini aku dididik dengan idealisme yang berbeda saja oleh Kak Faridh yang selama ini tidak hanya sebagai sosok kakak bagiku, tetapi telah turut menjadi pengganti peran seorang ayah?  Atau benarkah aku dapat melakukan hal yang demikian?  Atau apakah selama ini aku yang salah sangka dalam mengartikan sikap seperti itu sebagai sikap pengecut?


Aku tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah, antara idealisme Kak Faridh yang agresif ataukah idealisme Kak Kaiser yang overprotektif.  Jika itu kalian, mana yang akan kalian pilih?


“Aku mengerti Kak.  Tapi maaf, aku mau tidur sedikit lebih lama lagi.”


Aku yang dalam kondisi pikiran kacau itu, lantas mencoba berdalih untuk menghentikan obrolan itu dengan segera.  Aku pun berbalik membaringkan diriku ke kasur sembari membelakangi Kak Kaiser dan Kak Syifa yang ada di sana.


“Adrian, tapi makan malammu bagaimana?”


Kudengar, Kak Syifa mencoba untuk membangunkanku lagi.


“Maaf Kak, mungkin nanti saja.”  Namun ajakan makan malam itu pun aku tolak.


“Maaf, Syifa.  Aku harus segera balik ke rumah sekarang.  Aku titip Judith ya, kalau dia sudah pulang les.”


Samar-samar dalam kantukku, kumasih bisa mendengar obrolan sesaat Kak Syifa dan Kak Kaiser itu.  Apakah Kak Kaiser pergi lantaran kesal denganku karena tak menggubris nasihatnya?


***


Malam itu, Kaiser yang pulang ke rumahnya langsung menuju ke kamar mandi untuk membasuh lukanya yang belum sempat dirawatnya dengan benar di markas.  Tanpa diketahui oleh siapapun di markas, rupanya pada pertarungan terakhirnya dengan Saber, dia terluka cukup parah dan belum tersembuhkan bahkan dengan kemampuan healing-nya yang luar biasa itu.


Tetapi sesuatu yang mencengangkan pun terjadi, lukanya itu sama sekali tak mengeluarkan darah.  Terlihat ekspresi rumit di wajah Kaiser, tidak, tepatnya Healer dalam wujud Kaiser ketika dia melihat lukanya itu.


Sesaat kemudian, sebuah portal tiba-tiba terbuka di tempat di mana Kaiser berdiri menghadap ke cermin.


“Kakak…Kakak…Kakak…Aku dataaaaaang.”  Dengan tingkah imutnya, sesosok wanita yang jauh lebih muda dari Kaiser tiba-tiba datang menghampiri Kaiser dari arah belakang.


Dari balik cermin, Kaiser mampu melihat wajah wanita itu.  Namun demikian, Kaiser tetap memalingkan wajahnya ke belakang demi menatap langsung wajah yang cantik nan jelita tersebut.


“Ah, Holy, kamu datang rupanya.”


Dialah Holy, avatar bernomor 9 yang ternyata diam-diam juga bekerjasama dengan Healer dalam wujud Kaiser itu.


Holy lantas memeluk punggung Kaiser yang sedang tidak mengenakan atasan itu.


“Ehehehehe. Holy, hentikan!”  Kaiser yang tergelitik geli oleh kulit depan Holy yang bersentuhan langsung dengan kulitnya yang tanpa pelapis sedikit pun itu, lantas segera berbalik badan melepaskan pelukan Holy.


Kaiser pun tersenyum lembut kepada Holy sembari membelai rambutnya yang halus itu.  Namun, Holy lantas berujar,


“Ih, Kakak pelit.  Dipeluk saja tidak boleh.  Padahal aku sudah bekerja keras menjadi mata-mata Kakak mengawasi gerak-gerik Raging Fire.  Tidak mudah lho untuk membangun kepercayaan padanya apalagi ada si picik Poison Merchant di sampingnya.”


Mendengar ucapan itu, ekspresi Kaiser membatu untuk sejenak dalam waktu yang sangat singkat sehingga bahkan Holy sendiri tidak menyadarinya.  Dalam sekejap itu, Kaiser-lah yang kali ini mendekap Holy dari arah depan sembari mengusap-usap rambut bagian belakang Holy.


“Kamu sudah bekerja keras, Holy.”  Ucap Kaiser dengan senyum lembut di wajahnya.


“Duh, benar deh.  Aku sudah bekerja terlalu keras.”  Rajuk Holy, namun turut disertai dengan senyum tulusnya kepada Kaiser.


Pandangan Holy tanpa sengaja menuju ke lengan Kaiser.  Di situlah dia menyadari bahwa sosok yang dipanggilnya Kakak itu sedang terluka.  Dia tidak menyadari lantasan luka Kaiser sama sekali tidak mengeluarkan darah.


“Kakak terluka?”  Ujar Holy.  Namun, sesaat kemudian, ekspresinya tiba-tiba berubah kesal.


“Ini karena Kakak terlalu melindungi bocah pemilik Avatar Arjuna itu.  Bukankah dia hanya alat untuk mencapai tujuan kita?  Mengapa Kakak terlihat sangat menyayanginya?  Apa jangan-jangan, Kakak pun telah luluh terhadap perasaan manusia di dalam diri Kakak itu?”  Ujar Holy dengan tatapan penuh curiga kepada Kaiser.


“Entahlah.  Namun, kamu mungkin ada benarnya, Holy.  Aku tak dapat memungkiri bahwa aku telah terhanyut oleh perasaan manusia bernama Kaiser ini.  Tetapi, memiliki perasaan menyayangi seseorang bagaikan keluarga, tidaklah buruk juga.  Sama seperti aku juga tulus menyayangimu, Holy."  Kaiser pun mengungkapkan apa yang ada di isi hatinya itu secara jujur kepada Holy.


“Sayangnya, dalam wujudku seperti ini, mana bisa aku menjadi manusia seutuhnya.  Lagipula, mengapa aku berbeda dengan para avatar lain?  Mengapa hanya aku yang tak memiliki darah layaknya manusia?  Karena hal ini, aku pun jadi selalu waspada jika sampai-sampai ada yang menyadarinya.  Aku bahkan harus pergi bersembunyi sesaat dari rekan-rekan manusiaku itu karena takut mereka mengetahui tentang luka tak berdarahku ini.”


Ekspresi Kaiser pun mengecut.  Dia melihat seksama ke arah luka di lengan kirinya itu.  Sesaat kemudian, dia lanjut berujar,


“Bukankah ini ironis?  Aku dijuluki sebagai Pahlawan Darah Merah, sedangkan darah sendiri, aku tak punya.”