101 Avatars

101 Avatars
113. Akhir Pertarungan



Adrian menatap dengan tatapan yang bengis ke arah Void.  Dengan kematian Sticky Girl dan Sturdy, tidak ada lagi yang menghalanginya untuk menyerang monster yang tengah sekarat itu.


“Kau sudah paham kan?  Inilah akhirmu, Void.”


“Dasar manusia rendahan hina!”  Dengan sisa-sisa tenaganya itu, Void mengumpat kepada Adrian.


Walaupun dia memiliki kemampuan untuk membuka portal lantas kabur dari tempat tersebut, mutlak dia tak dapat melakukannya sekarang perihal dia tengah sekarat ditambah perhatian Adrian yang mengawasinya setiap pergerakannya dengan seksama.


Void meringis dengan penuh amarah.  Kemudian di sisa-sisa tenaganya itu, dia pun berteriak, “Matilah kau, manusia rendahan hina!”


Dia mencharge senjata snipe laras panjangnya, tetapi apalah daya, Adrian segera maju lantas menebas sang monster dengan pedang Crusader yang penuh kesucian, bertolak belakang dengan elemen Void yang penuh kegelapan itu.


Seketika sekeliling tubuh Void retak dan tampak cahaya dari dalam berembus keluar.  Dia pun musnah dan berubah menjadi butiran-butiran debu data.


***


“Dor.  Dor.  Dor.  Dor.  Dor.  Dor.”


“Swuuuuush, prak, prak, prak.”


Andika dan Airi masih tengah sibuk untuk menyingkirkan para dummy yang terus saja bermunculan dari tanah, menambah jumlah mereka tiada henti berkali-kali pun mereka dikalahkan.  Namun, pada suatu ketika, mereka meleleh, lenyap begitu saja dari hadapan mereka.


“Apa ini?  Apa mereka akan berevolusi lagi?”  Tanya Airi kepada suaminya itu.


Andika menggeleng lantas menjawab,


“Tidak.  Tampaknya anak kita dan Kaiser telah menyelesaikan dengan baik urusan yang ada di dalam.  Ayo kita segera susul mereka.”


“Kamu benar, Sayang.  Ayo.”


Mendengar kata sayang dari istrinya itu, seketika Andika terpaku.


“Buldoser Manja, ada apa?  Kok diam?”


“Hah.”  Andika menghela nafas.


“Padahal baru saja kupikir bahwa kamu imut dengan memanggilku sayang.”


“Hmm. Akan kupanggil kamu sayang sepuasmu ketika sampai di rumah nanti berapa kali pun kamu inginkan.  Untuk sekarang, mari kita fokus dulu pada musuh di depan.”  Airi merajuk membuang muka, namun di hatinya, dia sangat mencintai suaminya itu.


“Tentu saja, Sayang.”  Jawab Andika pula dengan penuh cinta.


***


“Adrian.”


Adrian menoleh begitu mendengar suara wanita tua memanggilnya.  Rupanya itu adalah ibunya yang sedang berjalan bersama ayahnya menghampirinya.


“Ah, Ayah, Ibu, pertarungan kalian juga sudah selesai?”


“Ya, para golem dan dummy-nya sudah hancur semua.”  Jawab Andika.


“Kalau para dummy juga sudah turut hancur, berarti pertarungan di dalam, Kak Kaiser juga sudah menyelesaikan bagiannya menghancurkan Pohon Keabadian.”  Timpal Adrian pada pernyataan Andika.


“Ya, tampaknya begitu.  Ayo kita juga segera menyusul ke dalam.”


“Baik, Ayah.”


“Kak Kaiser!”  Adrian seketika berlari menghampiri Kaiser begitu Adrian mendapati pemuda itu tengah terbaring di tengah-tengah ruangan.  Andika dan Airi mengikuti dari belakang.


Tampak di sana-sini sisa-sisa ranting dan dahan dengan bentuk yang menjijikkan tersebar disertai bau yang menyengat, bekas pertarungan pemuda yang terbaring di hadapannya itu.


Adrian lantas segera mengecek nafas pemuda tersebut dan betapa dia lega ketika mendapati Kaiser masih bernafas dengan normal yang artinya dia baik-baik saja.


“Kak Kaiser, kamu benar-benar melakukannya dengan baik, padahal hanya sekitar sebulan yang lalu Kakak memulai pelatihan Kakak.  Sesuai dugaan, Kak Kaiser memang orang yang hebat.”  Adrian pun tersenyum lega sembari memuji kehebatan pemuda yang terbaring di hadapannya tersebut.


Suara langkah kaki tiba-tiba terdengar mendekat.  Rupanya mereka adalah Dios, Arskad, dan Dream yang baru saja akan bergabung dengan mereka.


Terlihat Dream mengeluarkan pistol anehnya yang seperti biasa sembari mengisap sisa-sisa butiran debu data.


Dream pun berujar, “Dengan ini genap 94 jiwa.  Tetapi ini aneh, seharusnya masih tersisa jiwa Time dan Raging Fire yang belum terkumpul.  Tetapi mengapa sudah tidak ada tanda-tanda jiwa yang tertolak gaia?”


“Apa maksudnya itu, Dream?”  Kaiser pun sadarkan diri dan tampak mendengarkan apa yang diucapkan oleh Dream barusan.  Diapun bertanya kepada sang monster avatar sistem berwujud pink itu.


“Setiap dari avatar petarung, juga termasuk Carnaval yang melanggar aturan sistem dengan melukai avatar petarung, memiliki tanda di jiwa mereka yang mirip seperti bom waktu yang menyebabkan tanda-tanda tolakan gaia berputar.  Tetapi kali ini sudah terlihat tenang.  Tidak ada lagi tanda-tanda tolakan gaia yang terlihat, padahal jiwa Time dan Raging Fire belum sempat kukumpulkan.”  Jawab Dream atas pertanyaan Kaiser itu.


“Tidak mungkinkah mereka hancur hingga tidak bersisa hingga tidak terdeteksi lagi keberadaannya?”  Airi pun bertanya.


“Seingatku, kukalahkan Time seperti biasa.  Dia dalam mode berserk sehingga dengan mudah tubuhnya dihancurkan.  Adapun untuk Raging Fire, seingatku, dia dihempaskan oleh Pohon Keabadian dalam keadaan masih utuh.  Memang ada kemungkinan dia masih hidup.”  Kemudian Kaiser melanjutkannya dengan komentar.


Dream menggeleng.


“Seberapa pun hebatnya serangan yang akan menghancurkan monster avatar, kalian hanya bisa menghancurkan fisiknya saja, tidak dengan jiwanya.  Oleh karena itu, para monster avatar sejatinya takkan dapat dimusnahkan di dunia nyata.  Mereka hanya dapat dimusnahkan dengan penghapusan di dunia virtual.  Namun, jika di antara mereka ada yang masih hidup, seharusnya jiwa mereka merespon tolakan gaia.  Tetapi,…”


Ujar Dream dengan ekspresi kalut.


“Sama sekali tidak ada respon seolah-olah mereka tertelan oleh sesuatu hingga keberadaan mereka lenyap begitu saja.”  Adrian menyambung komentar Dream tersebut.


“Kurang lebih seperti itu.”  Jawab Dream dengan ekspresi yang semakin kalut di wajahnya.


“Bukankah itu hal yang baik jika semua monsternya akhirnya berhasil disingkirkan?”  Melihat suasana yang berat itu, Airi pun mengemukakan pendapatnya.


“Hal itu akan bagus jika seperti yang Tante katakan.  Tetapi apa yang akan terjadi jika monster itu mendadak muncul di kemudian hari?”  Pendapat tersebut lantas disanggah dengan cepat oleh Arskad.


“Itu artinya, kita belum boleh menurunkan kewaspadaan kita ya.”  Andika membalas, masuk dengan tanggapannya.


“Itu benar.  Tetapi untuk yang sekarang, kita hanya bisa menunggu.  Masih ada 25 hari sampai batas waktu tolakan gaia berakhir.  Aku akan menunggu sampai di detik-detik terakhir itu jika seandainya saja akan muncul masalah di belakang.”


“Ya, mari lakukan itu.”


Dream mengangguk setuju atas perkataan Profesor Dios tersebut.


“Walaupun ke-94 jiwa avatar yang telah kukumpulkan ini sudah relatif tidak berbahaya dan takkan lagi memicu tolakan gaia, tetapi portal yang menghubungkan ke dunia kami hanya bisa dibuka tanpa menimbulkan kerusakan pada dua dunia jika dibuka di selang waktu batas tolakan gaia masih bekerja.”


“Di luar dari itu, entah butterfly efek apa yang akan ditimbulkan di kedua dunia, jika portalnya dibuka pada saat keadaan sistem telah stabil.  Itulah sebabnya aku hanya bisa menunggu paling lambat 25 hari lagi.”


Semuanya terdiam.


“Jadi, kami harus menemukan jawaban tentang lenyapnya Time dan Raging Fire selama batas waktu itu ya.”  Kaiser pun berujar dengan mata semangat membara penuh tekad.


Sementara itu, Adrian yang masih dalam wujud Avatar Arjuna-nya merasa penasaran terhadap sisa-sisa inti Pohon Keabadian yang tampak bersinar aneh, lantas mendekatinya.  Adrian menyentuh kilauan sesuatu yang aneh tersebut.  Lalu, hal yang tidak disangka-sangka pun terjadi.  Tubuh pemuda itu tercerai-berai dalam kilauan.