Dengan bantuan Profesor Melisa, titik-titik debu portal di dekat kemusnahan Pohon Keabadian berhasil dikumpulkan hingga membentuk suatu portal yang besar. Dengan portal itulah, kami menghubungkan kesadaran kami lewat peralatan komputer canggih ciptaan Profesor Dios untuk menyelinap ke dalam dunia virtual melalui tubuh virtual yang telah disiapkan.
Ada 7 tubuh virtual yang masing-masing akan digunakan olehku, Kak Kaiser, Profesor Dios sendiri, Kak Arskad, Kakek Shou, Kakek Arthur, dan Nenek Sandra. Tetapi bagaimana bilangnya ya, lebih dari setengah yang ikut bukan lagi dalam masa kejayaan mereka.
Hal itu juga lantas mengundang pertanyaan dari Kak Arskad, “Tapi apa benar kalian berempat tidak apa-apa ingin ikut? Walaupun tubuh kalian lebih kompatibel dengan tubuh avatar dibandingkan yang lain, kalian tetap tidak punya kewajiban dalam hal ini dan bisa menyerahkannya kepada orang lain yang lebih muda saja.”
Namun dengan tegas Kakek Shou sebagai yang tertua di antara yang tua mengatakan bahwa walau tubuh mereka telah tua, tetapi jiwa semangat mereka masihlah muda.
Kami tak dapat menyangkal tekad kuat itu dan pada akhirnya tak ada yang dapat mencegah para tetua itu. Ayah dan Ibu yang juga hadir pada saat itu bahkan sampai marah histeris karena juga ingin ikut, tetapi tubuh mereka kalah kompatibel dibandingkan 7 yang lainnya. Sungguh pejuang-pejuang tua kita semuanya masih memiliki semangat yang membara.
Portal pun terbuka dan alat komputer dinyalakan. Dalam sekejap, kesadaran kami yang telah menyatu dengan tubuh avatar kami masing-masing memasuki dunia virtual. Tubuh avatar telah dibuat sedemikian rupa yang berasal dari percampuran material fisik dan material virtual yang akan mengikuti bentuk tubuh sesuai dengan penggunanya.
Kami pun memasuki dunia virtual dengan penampilan layaknya wujud asli kami di dunia nyata. Tetapi apa yang telah menyambut kami di celah antardimensi sebelum tiba di gerbang dunia virtual adalah jibunan dummy yang merangkak-rangkak dan merayap-rayap dengan sangat menjijikkan.
“Semuanya, waspada!” Teriak Kakek Shou memperingatkan kami.
Seketika kami membuat formasi di mana Nenek Sandra dan Kak Arskad berada pada posisi yang paling depan sebagai petarung jarak dekat. Kak Arskad sebenarnya lebih baik sebagai petarung jarak jauh walau pada dasarnya dia bisa mengisi semua posisi, namun karena mempertimbangkan kecakapan para anggota yang kekurangan petarung jarak dekat, akhirnya Kak Arskad pun mengambil peran tersebut.
Kemudian sebagai sniper, aku dan Kakek Arthur, beserta Profesor Dios sebagai pengendali pikiran, berada di tengah-tengah karena lemahnya pertahanan kami. Kemudian ada Kakek Shou dan Kak Kaiser yang melindungi kami dari belakang.
Para dummy perangkak kemudian menghampiri kami layaknya Sadako yang menyelinap keluar dari sumur. Aku dan Kakek Arthur menembaki mereka satu-persatu hingga tidak ada yang berhasil lolos.
Para dummy perayap juga turut menyerang kami dengan melompat langsung ke arah kami. Kali ini, giliran Nenek Sandra dan Kak Arskad yang menunjukkan keahliannya. Nenek Sandra langsung menusuk para dummy perayap satu-persatu dengan tombak gungnir-nya. Tiap ditusuk, para dummy akan segera gosong dengan sengatan listrik dari senjata gungnir tersebut.
Sementara Kak Arskad menyerang dengan kepalan tinju yang dilapisi oleh aura. Tiap dummy yang ditinjunya langsung hancur-lebur tercerai-berai begitu saja. Tidak ada yang patut dikhawatirkan pada barisan depan.
Kemudian untuk barisan belakang, kebanyakan diserang oleh para dummy penyergap yang bergerak lebih lincah. Namun Kakek Shou segera menggunakan senjata airnya yang dia bentuk menjadi jibunan pisau-pisau tajam yang lantas melayang dengan sangat cepat membasmi para dummy penyergap tersebut.
Para dummy selain jumlahnya yang banyak, tidak ada sesuatu yang spesial dari mereka sehingga mudah saja bagi kami untuk mengalahkannya. Setelah upaya mati-matian kami yang dibanding tenaga lebih kepada waktu yang terkuras yang membuat kami sangat letih dikarenakan melawan jumlah dummy yang sangat banyak, kami pada akhirnya mampu melewati celah antardimensi lalu bergerak memasuki gerbang dunia virtual.
***
Sementara itu di dunia nyata,
Semenjak kepergian Profesor Dios beserta tim, rantai komando puncak diserahkan kepada Profesor Melisa.
Belum genap sejam sejak tim volunteer memasuki gerbang, kali ini giliran monster dengan wujud alien menyerang Kota Jakarta. Untunglah jumlah mereka kali ini hanya 4 monster sehingga tidak akan terlalu menyita tenaga. Atau itu yang semua orang akan pikirkan.
Namun rupanya, sang monster memiliki keahlian unik yang mampu membuat diri mereka bereplikasi tiap 1 menit. Hal itu lantas membuat jumlah mereka akhirnya hampir memenuhi tempat kemunculan mereka hanya dalam sejam mereka dibiarkan bebas.
Namun, daripada turun langsung ke lapangan mengalahkan sang monster, baik Airi maupun Andika lebih memilih untuk berjaga di dekat pintu gerbang di dekat tubuh putranya untuk mengawasi keselamatannya selama kesadarannya masih berada di dunia lain.
Oleh karena itu, yang kali ini terjun sebagai kekuatan utama dalam menghadapi para monster adalah Millie dibantu oleh Dream dan Arjuna. Sebelum jumlah monster bertambah banyak, Dream memasukkan mereka semua ke dalam sub ruang-nya untuk dibantai oleh Millie di dalam.
Menurut data yang ada, monster tersebut berasal dari vrmmorpg fantasi buatan Jerman yang bernama Ghost. Monster tersebut dinamakan Calamity yang sesuai dengan apa yang terlihat sekarang mampu memperbanyak diri dalam jumlah yang tak terbatas. Salah satu monster yang akan muncul pada dungeon tingkat tinggi di game tersebut sebagai middle boss.
Menurut data yang ada, cara paling efektif untuk mengalahkannya adalah dengan membakar mereka menggunakan elemen api hingga tak ada yang bersisa. Mutlak kekuatan Millie dan Arjuna sangat cocok untuk itu.
Mereka pun tanpa segan-segan lagi membabat habis sang monster dengan kekuatan apinya. Pertarungan cukup lama terjadi. Untungnya Dream cukup kuat untuk menahan sub ruang-nya sehingga kerusakan dapat ditekan seminimal mungkin.
Pertarungan pun usai dan pada akhirnya mereka dapat bernafas lega. Atau setidaknya, itu yang mereka pikirkan. Sayangnya, kenyataan tidak seindah di pikiran mereka. Sebagai tempat terdekat dengan titik pusat kekacauan yang disebabkan oleh makhluk misterius yang bersembunyi di dunia virtual, Kota Jakarta menjadi tempat terintens munculnya para monster dunia virtual.
Kali ini, giliran para lebah dari game Hornet buatan perusahaan asal Kanada yang menginvasi Kota Jakarta. Karena monster tidak terlalu kuat, penanganan monster diserahkan pada anggota Organisasi EDEN Cabang Indonesia yang dipimpin oleh Lilia yang dibantu oleh beberapa orang anggota padepokan Wijayakusuma. Sekali lagi terjadi pertarungan yang intens di Kota Jakarta tersebut.