101 Avatars

101 Avatars
46. Ancaman Void



Pertarungan pun berlanjut antara Mecha dan Healer.  Aku hanya terduduk tak berdaya di sana lantaran terluka.  Mecha menyerang dengan serbuan senapan berpeluru amadantium-nya.  Namun, dengan sigap Healer menangkisnya dengan pertahanan pohon.


Sejenak, terlihat Mecha mengungguli Healer.  Akan tetapi, setiap Healer hancur, dia akan bangkit kembali dengan kekuatan pemulihannya.  Sementara ketika Healer menyerang Mecha dengan serbuan daun-daun, luka-luka di tubuhnya yang menghasilkan percikan listrik bertambah banyak tanpa dia mampu memulihkan diri.


Aku baru menyadari bahwa kekuatan penyembuhan, sungguh adalah kekuatan yang sangat mengerikan.  Padahal di game-game jadul, kekuatan penyembuhan selalu terbilang lemah dan dihindari digunakan oleh siapa pun yang ingin menjadi petarung kuat.


Tetapi apa ini?  Cara bertarung itu…


Dalam sekejap, Healer berada di atas angin dengan berhasil melilit Mecha yang telah tak berdaya.  Seketika itu pula, Kak Kaiser tiba di lokasi kejadian.  Pandanganku pun teralihkan ke arah Kak Kaiser datang.


Namun, ketika kumenoleh kembali ke belakang, kemenangan justru telah berbalik kepada Mecha di mana Healer telah menjadi debu tanpa sisa.  Apakah ini berarti Avatar Healer telah berhasil dimusnahkan?


Aku tinggalkan pikiran itu untuk sejenak karena di tempat ini, Mecha masih tersisa, walaupun dalam keadaan yang sekarat, terima kasih atas serangan yang diberikan oleh Healer padanya.  Dengan keberadaanku dan Kak Kaiser di sini, kami pasti akan sanggup untuk mengalahkannya.


“Kurang ajar kau manusia!  Kamu hendak memusnahkanku, memanfaatkan keadaanku yang terluka ini?!  Jangan harap!”  Teriak Mecha pada kami.


“Arjuna, menghindar!”  Teriak tiba-tiba Kak Kaiser padaku.


Aku pun menoleh ke arah pandangan di mana Kak Kaiser melihat lalu kulihatlah sesuatu yang hitam sejenis senjata laser, tapi lebih mirip bayangan, datang menyerang kami.


Dan,


“Baaaaam!”


Ledakan terjadi, namun baik aku maupun Kak Kaiser, berhasil menghindari serangan dan tidak ada yang terkena dampaknya.


“Kamu siap, Arjuna?”  Ujar Kak Kaiser sekali lagi padaku.


“Aku selalu siap, Kak!”  Jawabku dengan tegas.


Kami pun maju menerjang Mecha secara bersama-sama.


Akan tetapi, sekali lagi Kak Kaiser berucap sembari mempertahankan mode waspadanya, “Hati-hati, ada sniper di sekitar kita.  Kemungkinan itu Void.”


“Baik Kak.”  Jawabku singkat sembari turut meningkatkan kewaspadaan.


Kami pun mulai menyerang Mecha.


“Slash!”


“Sraaak!”


Crusader-ku dan Enigma milik Kak Kaiser, secara bergantian menyerangnya.  Tetapi karena ini pertama kalinya aku menggunakan Crusader, tebasanku tidaklah terlalu dalam dibandingkan dengan Kak Kaiser yang telah ahli.


Akan tetapi, begitu Mecha akhirnya mencapai batasnya dan kami bersiap memberikan serangan akhir, sebuah laser beam hitam yang lebih besar dari yang sebelumnya, tiba-tiba meledak di tengah-tengah pertempuran itu.


Tanpa disadari, Void telah berhasil mendarat dengan portalnya tepat di samping Mecha.


“Tampaknya hanya sampai di sini hidup bebasmu, Mecha.  Identitasmu telah ketahuan.  Kamu dan Sturdy tidak punya pilihan lain selain berlindung kepada Tuan kita.”  Ujar Void kepada Mecha yang sekarat.


“Sialan!  Ini semua karena si pengkhianat Healer itu!  Aku pasti akan membalaskan dendamku jika sekali lagi bertemu dengannya!”  Mecha merespon perkataan Void dengan amarah.


Tetapi apa ini?  Walau sesama monster avatar, hubungan mereka tidak baik?  Tunggu dulu, jika dia mengatakan sekali bertemu dengannya, itu berarti Avatar Healer belum musnah?


Sebelum kami sempat menyerang mereka kembali, Mecha dan Void telah meninggalkan lokasi dengan menggunakan keahlian portal Void tersebut.


Tetapi sebelum pergi, Void menyatakan ancamannya pada kami, “Pahlawan Darah Merah!  Blue Batboy!  Kalian bisa hebat karena menggunakan tubuh avatar itu yang entah bagaimana kalian bisa dapatkan.  Tetapi apa yang akan terjadi jika kami menyerang tubuh manusia kalian di saat kalian lengah atau melukai orang-orang yang berharga di sekitar kalian?  Tunggu saja.  Hanya masalah waktu sampai kami mengetahui identitas kalian yang sebenarnya.”


“Ck, monster sialan itu!  Apa-apaan dengan Blue Batboy?!  Namaku Ksatria Panah Biru!”  Umpatku dalam hati.


Syukurlah Kak Syifa ada di kantornya saat ini dan tidak kebagian mengawasi Bu Jeni yang kemungkinan adalah Avatar Sturdy.  Oh iya, Profesor Melisa!  Dia yang kebagian mengawasi sekarang!  Kuharap dia baik-baik saja.


Aku yang khawatir pun segera menyambungkan panggilan ke Profesor Melisa lewat alat komunikasi yang terhubung dengan bantuan AI5203.  Syukurlah, Profesor Melisa juga baik-baik saja sekarang.  Akan tetapi, Bu Jeni ternyata tidak dapat lagi didapati di mana pun di rumahnya.  Kemungkinan, dia juga sudah kabur setelah menerima informasi dari Mecha atau Void.


Walaupun gagal membasmi mereka, tetapi paling tidak, akhirnya kami bisa mengetahui identitas Mecha dan Sturdy.  Kini yang identitasnya masih misteri tersisa Time, Healer, Fog, dan Remote.  Juga ada Dream dan mungkin juga Carnaval yang belum diketahui apakah mereka juga memiliki kemampuan memimik manusia mengingat mereka adalah avatar sistem.


***


Di suatu taman, seorang pria yang menutupi wajahnya dengan masker menghampiri seorang wanita yang juga melakukan hal yang sama.  Akan tetapi, walaupun wajahnya ditutupi oleh masker, badan sang wanita yang aduhai tetap menarik perhatian semua pemuda yang juga kebetulan berada di taman sore itu.


Sang wanita terlihat risih terhadap tatapan itu, tetapi ditahannya untuk tidak diperlihatkan perihal sumber kebahagiaannya saat ini berada bersamanya.  Dia sama sekali tak ingin terlihat buruk di hadapan pria itu.


“Holy, lama tidak jumpa.”


“Ah, Kak Healer.”  Ujar Holy seraya berlari kecil memeluk Kaiser.


Kaiser pun mengusap rambut gadis itu seraya menunjukkan ekspresi mata yang lembut.


“Oh iya.  Sebelumnya, aku lupa mengucapkan terima kasih padamu karena melindungi Adrian dari Fog waktu itu.”


Seketika dia mendengarkan ucapan itu, wajah Holy merajuk.


“Kakak lebih sayang mana?  Aku atau Adrian?”  Tanya Holy kepada Kak Kaiser.


“Tentu saja kamu, Holy, adikku yang baik.  Karena pada akhirnya, hubunganku dengan Adrian hanyalah sebatas untuk mencapai tujuanku.  Hanya kamulah keluargaku yang sebenarnya.”  Jawab Kaiser pada pertanyaan Holy tersebut.  Di akhir kalimatnya, Kaiser menjawabnya dengan mata yang terlihat sendu.


“Oh, iya, bagaimana pengawasanmu terhadap bom waktu itu?  kamu selalu mengawasinya dengan baik agar tidak mengamuk kan?  Bisa fatal kalau dia sampai dia meledak dan mengacaukan segala rencana kita.”  Kaiser lanjut bertanya pada Holy.


“Tenang saja, Kak.  Serahkan pengawasan Raging Fire padaku.  Dia tampaknya sudah termakan oleh pesona kecantikanku dan mutlak menari di bawah kakiku.  Hanya saja, aku harus berhati-hati pada Poison Merchant yang jeli.”  Jawab Holy.


“Bagus.  Lantas bagaimana dengan perkembangan dia?”  Sekali lagi Kaiser bertanya pada Holy.


“Agak sulit untuk membujuknya.  Namun kupastikan akan kusegerakan rencana itu.  Ngomong-ngomong, apa tidak masalah hanya dengan dia, Kak?”  Holy pun menjawab lantas balik bertanya kepada Kaiser.


“Ya, hanya dialah yang harus dimusnahkan.  Sebisa mungkin kita mempertahankan lebih banyak teman-teman avatarnya di sisi Raging Fire demi meredam Raging Fire mengamuk.”


“Aku paham, Kak.”  Jawab Holy.


Dengan demikian, rencana rahasia antara mereka berdua, sekali lagi disusun, dan hari itu pun akan berakhir tanpa konflik yang berarti, setidaknya itu sampai masker Holy diterbangkan oleh angin.


“Aaakh!”  Teriak Holy yang maskernya seketika diterbangkan oleh angin.


Karena hal tersebut, jadilah orang-orang dapat menyaksikan wajahnya, lalu orang-orang pun semakin terpukau oleh pesonanya.  Tidak hanya karena kecantikannya, tetapi karena wajah yang dimimik oleh Holy itu adalah wajah seorang penyanyi dangdut legenda setidaknya sampai 5 tahun silam di mana dia mendadak koma setelah dimimik oleh Holy.


“Wah, ada penyanyi dangdut Jessica!”


“Benar, itu Jessica!”


“Wah, aku ingin bersalaman dengannya!”


Suasana terlihat meriah, sampai muncullah komentar di antara pengunjung taman,


“Tetapi bukannya Jessica saat ini sedang sakit dan belum siuman?  Lalu komanya Jessica itu tepat pada malam bencana Hoho game.  Lalu ada pula kabar bahwa monster avatar bisa meniru wujud manusia yang diminum cairan tubuhnya.  Jadi jangan-jangan, wanita yang di sana itu adalah…Aaaaaakh!”


Seketika semua orang di taman itu berlari berhamburan panik, takut akan menjadi korban para monster avatar.  Kaiser yang takut pertemuan rahasianya dengan Holy turut terekspos, turut bergabung ke kerumunan lalu berlari.


Holy yang kecewa  karena pertemuannya dengan kakak tersayangnya harus berakhir lebih cepat, lantas segera membuka portalnya lalu meninggalkan tempat tersebut.