101 Avatars

101 Avatars
135. Terungkapnya Kejahatan Mantan Putra Mahkota Bistan



Mayat dan darah yang berserakan di mana-mana antas membuat segala isi pikiran Pangeran Kedua menjadi kosong. Dengan teramat frustasi dia berujar kepada adiknya itu, “Adoles! Apa yang sudah kamu perbuat?! Bagaimana kamu bisa menghilangkan nyawa puluhan orang dalam sekejap dengan muka yang tenang begitu?! Di mana hati nuranimu, hah?!”


Pangeran Adoles menatap wajah kakaknya itu dengan seksama dengan ekspresi yang menelisik. Sesaat kemudian, dia pun tersenyum sinis seakan melihat sisi bodoh kakaknya yang dalam keadaan lemahnya itu.


“Lagipula, apapun yang aku perbuat di penjara sekarang, tidak akan ada yang mengetahuinya. Palingan aku cukup beralasan bahwa sang chopper yang selama ini banyak dibicarakan oranglah yang melakukannya. Dan lagian, adakah yang akan mempercayai omongan penjahat seperti kalian jika kalian mengungkapkan kebenarannya?” Pangeran Adoles benar-benar memandang rendah para tahanan penjara bawah tanah.


Lu Shou memiliki misi untuk membunuh setiap tahanan penjara bawah tanah yang telah melakukan pelanggaran kejahatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Hal itu akan ditandai dengan tanda merah yang berada di atas kepala pelaku yang hanya Lu Shou saja yang dapat melihatnya sebagai orang yang diberikan misi oleh sistem.


Oleh karena itulah, Pangeran Kedua dan beberapa tahanan lain yang masih ada dalam penjara saat ini sepatutnya hanyalah penjahat kecil atau malah orang yang mengalami salah tuduh yang bukanlah bagian dari korban kebengisan Lu Shou.


Tetapi apa yang membuat Lu Shou marah saat ini adalah tanda itu juga tak terdapat di atas kepala Pangeran Ketiga. Di situlah dia menyadari bahwa misi yang diberikan oleh sistem padanya hanyalah terbatas pada penjahat kemanusiaan yang berstatus sebagai tahanan saja. Dia begitu ingin berlari sekarang menghancurkan jeruji sel untuk menebas leher Pangeran Ketiga yang kejam tersebut, namun sayangnya tidak bisa karena sistem membatasi geraknya.


“Kakak, apa Kakak belum sadar situasinya sekarang? Sebentar lagi, Kakak juga akan menyusul para mayat itu ke alam sana. Jadi bersiap-siaplah. Prajurit, penggal kepala Pangeran Kedua dan serahkan kepadaku!” Pangeran Ketiga pun memberikan perintahnya.


Prajurit-prajurit itupun membuka pintu sel lantas masuk untuk mengeksekusi Pangeran Kedua. Di situlah Lu Shou tersenyum sinis karena di saat para prajurit itu melangkahkan kakinya masuk ke penjara, maka di situlah mereka memenuhi syarat dari sistem untuk menjadi tumbal kebengisan Lu Shou.


“Sraaak, sraaak, sraaak, sraaak, sraaak, sraaak.” Lu Shou memenggal leher mereka satu-persatu begitu para prajurit itu memasuki pintu sel.


“Ayo. Siapa yang akan menjadi korban selanjutnya?” Lu Shou pun memberikan intimidasinya kepada para prajurit Pangeran Ketiga.


Tampak para prajurit ketakutan dan tak ada lagi yang berani memasuki sel. Beberapa prajurit lainnya seketika mengelilingi sang tuan, Pangeran Ketiga, takut kalau-kalau Lu Shou tiba-tiba keluar dari sel lantas menebas leher sang pangeran ketiga. Namun anehnya, Lu Shou sama sekali tak melakukannya. dia hanya tetap diam di dalam selnya.


“Aku juga akan bertindak, Kak Shou. Akan kubuat adikku itu menyesali perbuatannya.” Ujar Pangeran Kedua seraya hendak keluar sel.


Namun, Lu Shou seketika menarik kerah belakang bajunya hingga Pangeran Kedua pun tersungkur dan tak dapat keluar sel.


“Jangan bertindak bodoh. Di luar sel, aku takkan dapat melindungimu.” Ujar Lu Shou kepada sang pangeran kedua.


Tampak dari raut wajah Pangeran Ketiga di luar sana sangat ketakutan.


“Apa-apaan itu? Jangan-jangan, kamulah chopper yang dirumorkan itu. Tidak!” Pangeran Ketiga pun kalang kabut keluar dari penjara bawah tanah yang diikuti oleh para prajurit dan pengawalnya.


“Apa kamu bisa mengalahkannya?” Tanya Pangeran Ketiga kepada sang witch.


“Itu tampaknya sulit, tuanku. Tampaknya kemampuan pemuda itu sangatlah tinggi. Dia juga tampaknya terampil dalam hal sihir. Kemampuanku masih sangat jauh di bawahnya.” Jawab sang witch yang membuat Pangeran Ketiga terlihat sedikit kecewa.


“Jadi apa yang harus kita perbuat sekarang?” Pangeran Ketiga yang bingung pun bertanya berusaha mencari solusi.


“Itu gampang, tuanku. Selama pergerakannya tadi, aku menangkap bahwa ada sihir khusus yang mencegah sang chopper untuk keluar dari dalam lingkungan penjara. Jadi bagaimana kalu kita racuni saja seisi penjara bawah tanah dengan gas beracun mematikan. Kuyakin, sekuat-kuat apapun seseorang, pasti juga akan mati jika keracunan.” Sang witch pun memberikan solusi yang di luar batas nilai-nilai kemanusiaan itu.


“Baiklah. Lakukan! Pastikan rencana itu tidak terekspos keluar publik.” Dengan tanpa ragu, Pangeran Adoles menyetujui rencana itu tanpa memperdulikan nyawa orang lain yang juga sedang bersama Pangeran Ivan dan Lu Shou yang menjadi targetnya.


Pangeran Adoles tidak sadar saja bahwa apa yang dilakukannya selama di dalam penjara, termasuk apa yang dia perbuat dan katakan telah direkam oleh seseorang dengan baik, tidak, tepatnya oleh dua orang. Satunya oleh Lu Shou lewat segel airnya, satunya lagi oleh drone Mr. Aili yang kebetulan dibawa Adrian bersamanya ke dunia virtual. Sayangnya, baik kaki tangan tertangguh Pangeran Ketiga sekalipun, sang witch, sama sekali tak dapat mendeteksinya.


Sementara itu di tempat lain, Kaiser melalui bantuan administrator resmi kerajaan, Arskad, beserta beberapa senat yang mendukung mereka, yang tidak lain adalah rekan-rekan mereka juga, Profesor Dios, Arthur, dan Sandra, berhasil memasukkan laporan tentang keterlibatan mantan putra mahkota, Bistan, dalam kejadian pembunuhan dan penculikan warga sebulan yang lalu.


Kaiser juga memasukkan bahwa berkat jasa Pangeran Kedua, Pangeran Ivan, tindakan mantan putra mahkota itu dapat dihentikan secara rahasia tanpa terbongkar oleh publik selama ini. Pangeran Kedua melakukan itu demi semata-mata menjaga citra keluarga kerajaan saja. Tentu saja bagian di mana mantan putra mahkota itu menyebabkan bencana kutukan sihir hitam di tiga kerajaan tetangga di barat tetalah dirahasiakan dari publik.


Laporan itupun telah disahkan kevalidannya oleh lembaga peradilan agung kerajaan dan memutuskan bahwa mantan putra mahkota, Bistan, bersalah. Tim penyidik kerajaan pun segera menelusuri siapa dalang yang menyebarkan desas-desus tidak benar terkait kasus ini yang sampai menyeret nama Pangeran Kedua di dalamnya yang seharusnya diperlakukan sebagai pahlawan dalam kasus ini.


Beberapa nama senat korup pun mencuat dan mereka segera dicopot dari jabatannya sebagai senat dan seketika diputuskan untuk dieksekusi mati karena kejahatan yang mereka lakukan adalah kejahatan tingkat tertinggi di kerajaan yakni menghina keluarga kerajaan.


Setelah publik turut mengetahui serangan penjara bawah tanah yang menewaskan semua sipir di sana, pengawasan terhadap penjara bawah tanah pun diperketat, terlebih dengan keberadaan calon raja mereka, sang putra mahkota di dalamnya. Namun sayangnya, untuk saat ini pihak kerajaan belum bisa membebaskan sang putra mahkota dari dalam sana perihal ketidakterlibatannya dalam kematian mantan raja belum dapat dibuktikan.


Publik yang mengetahui hal ini serta-merta mendoakan keselamatan calon raja baru mereka itu, terlebih dengan berbagai tindakan heroik yang dia lakukan sampai saat ini, termasuk menghentikan kejahatan putra mahkota yang mengorbankan warganya sendiri ke dalam sihir hitam.


Adapun para pelaku yang terlibat secara langsung yang secara kasar dan tanpa aturan tertulis menyeret sang pangeran bahkan sampai membuat wajahnya lecet-lecet dengan tangan kotor mereka, dijatuhi pula hukuman mati karena dianggap melakukan kejahatan melukai keluarga kerajaan.


Entah mengapa dalam kasus ini, Pangeran Adoles berhasil cuci tangan keterlibatannya hingga sama sekali tak mendapatkan hukuman. Hanya saja, jabatannya sebagai putra mahkota baru dilucuti seketika karena dianggap pengangkatannya itu tidak sah, terlebih dilakukan oleh anggota senat yang merancang hal licik pada Putra Mahkota Ivan yang telah dieksekusi mati tersebut.


Tetapi tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk mengungkapkan segala kejahatan Pangeran Adoles tersebut perihal semua bukti kini telah berada di tangan Adrian.