Tidak butuh waktu lama bagi Kaiser untuk sampai ke lokasi kemunculan Singer Nana dan Violar yang ditunjukkan oleh Adrian. Namun, sesampainya di sana, sebuah sosok tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Tidak usah terburu-buru, Kak Kaiser. Nah, pertama-tama, mari unsummon avatarmu, lalu kita mengobrol bersama.”
Dialah Holy dalam wujud Jessica yang menghentikan langkah Kaiser dalam wujud Avatar Bombernya.
“Kamu siapa?” Dengan curiga, Kaiser bertanya kepada sosok tersebut.
“Tidak usah terlalu waspada begitu terhadapku. Yah, bisa dibilang, aku adalah adik Kak Healer.”
“Jadi kamu juga seorang monster avatar?” Mendengar wanita itu menyebutkan bahwa dia adalah adik monster avatar Healer, Kaiser semakin was-was terhadapnya.
“Yah, begitulah. Tapi aku janji tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin mengobrol sebentar denganmu. Perkenalkan, aku Holy.” Ujar Holy dengan senyum ramah. Sesaat kemudian, Holy pun mulai melirik ke sekitar.
Kaiser lantas turut melirik ke sekitar. Rupanya, tempat tersebut telah ramai dikunjungi oleh penonton yang tertarik dengan perpaduan suara emas dan musik yang merdu dari pasangan duet Singer Nana dan Violar yang sedang menyamar menjadi manusia itu.
Holy lantas memperhatikan diri Kaiser dalam wujud Avatar Bomber. Kaiser pun turut memperhatikan dirinya itu. Dia akhirnya menyadari maksud tatapan Holy tersebut.
“Ah, penampilanku terlalu mencolok dengan wujud avatar ini.” Gumam Kaiser.
Dia lantas segera meng-unsummon Avatar Bomber-nya.
“Jadi, apa yang monster sepertimu ingin bicarakan denganku?” Tanya Kaiser waspada padanya.
Dibilang waspada, sebenarnya juga tidak. Karena jika Kaiser waspada terhadap sosok monster yang menyamar di hadapannya ini, dia tidak akan lengah begitu saja meng-unsummon wujud Avatar Bomber-nya.
Dia melakukan semua itu lantaran dia telah mendengar dari Healer sebelumnya bahwa Holy adalah salah satu monster avatar sekutunya yang bukan ancaman. Dan di lubuk hatinya yang terdalam, Kaiser mempercayai Healer.
“Untuk pertama-tama, mari kita saksikan saja pertunjukan mereka berdua.” Ujar Holy dalam ekspresi yang begitu damai.
Kaiser pun menuruti permintaan Holy lantas memutuskan untuk menyaksikan sejenak pertunjukan Singer Nana dan Violar tersebut bersama dengan monster berwujud wanita cantik yang sebagian wajahnya tertutupi penutup wajah itu.
Di tengah-tengah Kaiser tenggelam ke dalam busking yang elegan tersebut, Holy pun berujar,
“Kak Kaiser, bagaimana pendapatmu tentang kami? Apa kamu juga beranggapan bahwa kami jahat?”
“Kamu sendiri, mengapa menanyakan pertanyaan yang seperti itu? Bukankah itu berarti, kamu sendiri menganggap dirimu jahat?”
Holy tersenyum kecut terhadap komentar Kaiser tersebut. Bagaimana tidak Holy tidak akan menganggap dirinya sendiri jahat ketika dia hampir saja membunuh Jessica yang asli di malam bencana Hoho game itu. Jika bukan Healer yang mencegahnya, dia pasti juga sudah akan turut merasakan perasaan menyesal yang amat mendalam layaknya Bomber meratapi kematian Andina yang dibunuhnya dengan kedua tangannya sendiri.
Suatu perasaan yang dia sangsikan sendiri apakah itu karena memang dari dirinya atau hanya sekadar program yang ingin menjadikannya mirip dengan manusia. Tetapi Holy menyibak semua itu. Yang terpenting baginya bahwa dia sangat bersyukur bahwa setidaknya Jessica tetap hidup. Dia akan segera tersadar kembali dari komanya ketika dirinya tewas.
Tidak banyak waktu lagi bagi Holy dapat bernafas di dunia ini lantaran ketiadaan Healer menjadi celah yang besar untuknya. Ketiadaan Healer menyebabkannya harus mengurus sendiri perawatan Jessica dan Tio dari balik layar.
Sebelum dia menyusul kakaknya, Healer, tersebut, dia ingin segera menyelesaikan amanat terakhir yang diberikan oleh Healer kepadanya.
“Setelah aku hampir saja membunuh Jessica, mana mungkin aku tidak jahat? Bukankah begitu, Kak Kaiser?” Ujar Holy dalam kesenduan.
“Tetapi waktu itu, kamu belum memperoleh kesadaranmu kan? Artinya waktu itu kamu belum dirimu yang sekarang. Apa gunanya menyesali perbuatan yang bukan dirimu yang di sini lakukan? Holy adalah dirimu yang sekarang setelah memperoleh ingatan manusia. Apa setelah memperolehnya, kamu masih ingin membunuh manusia?”
Holy menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut pada perkataan Kaiser tersebut.
“Tidak, Kak. Mana mungkin aku melakukannya?” Jawabnya sembari sudut bibirnya sedikit tersungging karena perasaan sedikit kegembiraan yang menyergap hatinya itu.
“Iya kan? Jadi tidak salah lagi, kamu orang yang baik. Terlebih, Jessica sekarang masih hidup dalm kondisi yang baik-baik saja kan? Terlepas dari dirinya yang koma. Itu semua berkat perawatan yang kamu berikan bersama Healer. Jadi masih terbuka lebar pula kesempatan untuk kamu memperbaiki kesalahan yang bukan dirimu itu lakukan.”
Ujar Kaiser menasihati Holy. ‘Bukan dirinya’, hal itu memang bisa dikatakan seperti itu, lantaran waktu itu, Holy benar-benar dikendalikan oleh perintah kuat sistem virus yang menyuruhnya untuk membunuh inang manusia yang dimimiknya. Jadi, Holy bergerak dengan instingnya dan bukan dengan akal sehatnya.
“Tapi, aku bisa saja menyembuhkan Jessica sekarang jika aku membunuh diriku sendiri. Tetapi aku memilih untuk tidak melakukannya demi menjalankan amanat terakhir Healer.”
“Bukankah itu sudah jelas? Tiap tindakan pasti ada resikonya. Tapi bukankah kamu bertindak demikian demi kepentingan yang lebih besar? Tidak salah lagi itu semua karena kebaikan hatimu itu, Holy.” Ujar Kaiser dengan senyum menawan di wajahnya. Hal itu lantas membuat Holy terpaku sejenak melihat ketulusan dan kepolosan berpikir dari sosok manusia yang ada di hadapannya itu.
Sesaat kemudian, Holy pun balik tersenyum lantas berujar, “Kalau begitu, tolong perlakukan pula Singer Nana dan Violar dengan baik, Kak Kaiser. Kami semua sama. Korban yang hanya terseret di dunia antah-berantah oleh sesuatu yang memaksa kami menjadi sosok monster yang beringas.”
Kaiser tampak mengusutkan ekspresinya setelah mendengar pernyataan Holy tersebut. Dia pun menghela nafas lalu membalas ucapan itu.
“Kalau itu, mari aku nilai sendiri apakah mereka juga pantas memperoleh kebaikanku setelah bertemu langsung dengan mereka.”
Tidak lama kemudian, busking pun selesai. Tetapi di luar dugaan Kaiser, baik Singer Nana maupun Violar sama sekali tidak menunjukkan tindakan hostile kepada Adrian.
“Konser itu telah menjadi penutup yang sempurna sebagai kenangan berharga kami di hati orang-orang. Walaupun tidak semegah di ingatan Priscilia dan Robert yang asli, kami sudah puas dengan semua itu. Nah, sekarang, Nak Pahlawan, kami sudah siap tanpa penyesalan sedikit pun. Kirimlah kami ke tempat di mana kami seharusnya berada.”
Mereka berdua justru dengan senang hati melepaskan kesempatan mereka untuk hidup di dunia ini lebih lama.
Namun berbeda dengan Kaiser, Holy telah menduga ini semua akan terjadi, perihal yang membawa Singer Nana dan Violar ke mari tidak lain adalah dirinya setelah mereka berdua meminta dengan tulus untuk diberikan kenangan indah penutup hidup mereka di dunia ini.
Baik Singer Nana maupun Violar menyaksikan dengan seksama bagaimana Healer berkorban, tidak hanya untuk umat manusia, tetapi juga untuk kaumnya. ‘Ke tempat yang seharusnya berada’, keduanya sangat mendukung keputusan Healer tersebut. Mereka pun telah sejak lama merasakan keengganan untuk hidup di tempat di mana mereka seharusnya tidak berada.
Ditambah ingatan menyiksa di kala mereka termakan oleh hasrat virus lantas membunuh Priscilia dan Robert yang asli, mereka tak lagi dapat menanggung perasaan yang menyiksa itu. Mereka lebih memilih untuk kembali hidup seperti dulu di dalam dunia game yang gelap di mana mereka tidak perlu merasakan perasaan menyiksa yang dirasakan layaknya manusia.
Memiliki perasaan itu memang indah, tetapi itu jika hanya perasaan itu alami. Mereka tidak butuh perasaan yang mereka peroleh dengan dorongan virus apalagi sampai mengorbankan nyawa orang lain. Mereka ingin melupakan saja semuanya lantas kembali ke awal.
Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk mepercayai Healer. Terlebih, setelah menyaksikan langsung lewat layar virtual drone yang tersebar kala itu di langit Kota Jakarta, mereka tidak mungkin tidak akan mengagumi sosok heroik Healer yang mempesona tersebut.