Pembulian terhadap Bobi tidak kunjung berakhir juga bahkan setelah kami naik ke jenjang SMP. Tiap kali ada kesempatan, mereka selalu mencari-cari alasan untuk menindas Bobi. Di pelajaran olahraga, kesenian, renang, bahkan di saat pelajaran kimia molekular, mereka pernah nekat menyiramkan asam klorida ke tubuh Bobi. Untunglah pelarut asam yang kami gunakan saat itu bukanlah asam sulfat, jika tidak, pasti akibatnya bisa lebih fatal.
Pembulian tak kunjung pula berhenti, bahkan dari hari ke hari, intensitasnya semakin parah. Aku yang lemah, tak cukup kuat melindungi sahabatku itu.
Hingga tibalah hari itu. Tanpa kami duga-duga, salah satu monster avatar bernama Moon menyergap kami di saat kami sedang kebagian piket membersihkan gedung olahraga. Tetapi apa yang justru orang-orang yang piket bersama aku dan Bobi itu katakan kala itu ketika Moon meminta kami memilih salah satu di antara kami untuk mati,
“Hei, monster, kau bunuh saja dia. Anak itu juga monster, sangat cocok denganmu.”
Begitulah yang kurang lebih mereka katakan sambil menunjuk ke arah Bobi. Mereka sedikit pun tidak merasa bersalah sewaktu mengucapkan kalimat tersebut. Apakah bagi mereka, seorang mutan benar-benar tidak layak lagi dipandang sebagai manusia sehingga tidak ada lagi rasa bersalah dalam membunuh mereka layaknya membunuh binatang? Mereka semua benar-benar sungguh kejam.
Kulihatlah monster itu melangkah maju ke hadapan Bobi.
“Tidak. Tidak boleh seperti ini.” Gumamku dalam hati.
Selama hidupnya, Bobi hanya terus mengalami kesialan-kesialan, diculik oleh ilmuwan gila, mengalami eksperimen ilegal, menjadi mutan, bahkan setelah semuanya itu berakhir, di saat seharusnya kali ini Bobi dapat merasakan secercah kebahagiaan, haruskah hidupnya berakhir seperti ini?
Tidak. Aku tidak dapat menerima semua itu.
Aku pun berlari lalu berdiri di tengah-tangah antara monster itu dan Bobi. Tetapi apa yang justru terjadi, tiba-tiba panah kuning dari cahaya yang mirip dengan cahaya bulan memenuhi seisi atap ruangan kecuali di daerah antara monster itu dan Bobi. Lalu dalam sekejap,
“Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash! Slash!”
panah-panah itu menghujam ke kepala para siswa lantas membunuh mereka.
Jika aku tidak segera berlari ke arah di mana aku sekarang berdiri di antara monster itu dan Bobi, pasti aku juga sudah akan menjadi korban ketajaman panah monster itu layaknya yang lain.
Aku gemetaran. Kumerasa tak sanggup menggerakkan kaki ini lagi. Padahal aku berlari demi menyelamatkan Bobi, tetapi rupanya keputusanku itu justru hanya buatku sendiri yang akhirnya bisa selamat dari serangan monster kejam itu berkat keputusan tersebut.
Tiba-tiba sentuhan lembut terasa dari balik punggungku. Rupanya itu Bobi. Sahabatku itu menenangkanku yang sedang gemetaran, di saat seharusnya dirinya sendiri yang paling pantas untuk menerima perlakuan seperti itu. Aku benar-benar telah banyak memberikannya beban. Aku bukanlah teman. Aku hanyalah parasit yang senantiasa menyusahkan hidupnya. Aku benci dengan diriku yang seperti itu.
Pasca serangan itu, Moon pun menculik aku dan Bobi sebagai korban yang selamat dari serangannya itu, atau lebih tepat dikatakan sebagai korban yang dibiarkannya selamat. Kami diculik sekitar 3 hari sampai pada akhirnya kami dan para korban penculikan lain diselamatkan oleh Pahlawan Darah Merah.
Setelah kejadian itu, trauma Bobi semakin menjadi-jadi. Bobi tidak dapat menghilangkan rasa bersalahnya karena menurutnya, keberadaannya-lah yang memicu monster avatar Moon membunuh para siswa itu.
Bobi beranggapan, andai saja tidak ada sosok dirinya sebagai yang dibenci di kelas, maka tidak akan ada yang teman-temannya sebut untuk dikatakan kepada Moon sewaktu monster itu bertanya tentang siapa salah satu di antara mereka yang paling pantas untuk dibunuh. Jika demikian, semuanya hanya akan diculik oleh sang monster dan pada akhirnya akan diselamatkan oleh Pahlawan Darah Merah.
Setelah pada akhirnya dia dapat kembali memperoleh kehidupan normalnya setelah tidak ada lagi orang-orang di sekelilingnya yang mengetahui rahasianya. Tetapi mengapa? Tetapi mengapa dia kembali mengungkapkannya ke hadapan publik seperti ini?
Kami yang saat itu sedang mengawasi situasi genting yang terjadi di atas lantai atap gedung fakultas kami yang selalu dihiasi dengan hujanan es-es runcing yang jatuh dari atas sana, tiba-tiba dikejutkan oleh jatuhnya seseorang dari atas lantai atap gedung fakultasku itu.
Kulihat wajah Bobi yang begitu sangat panik. Aku pun mengenal dengan baik sosok wanita yang jatuh tersebut. Dia adalah Nafisah, wanita yang ditaksir berat oleh Adrian. Tetapi mengapa Bobi mesti sepanik itu? Seolah-olah, Bobi dan bukan Adrian-lah yang sedang menaksir berat wanita itu. Tanpa pikir panjang, Bobi pun menumbuhkan sayapnya lantas terbang menyelamatkan Nafisah.
Ini adalah suatu kabar baik. Sama seperti dulu Bobi menyelamatkanku, aku sedari awal sudah tahu bahwa sahabatku ini adalah orang yang berhati sangat lembut. Jadi sudah kuduga sebelumnya, dia akan pula menyelamatkan Nafisah.
Tetapi bagaimana sekarang? Identitasnya sekali lagi diketahui oleh orang-orang. Jika demikian, sekali lagi Bobi akan ditindas dengan sadis.
“Wah, lihat! Pria itu bersayap.”
“Wah, kerennya! Pria bersayap itu menyelamatkan seorang gadis yang hampir jatuh dari atas gedung.”
Namun, rupanya kekhawatiranku itu adalah suatu hal yang tak perlu. Kini pandangan orang-orang terhadap manusia super telah berubah menjadi lebih terbuka. Syukurlah, temanku itu dapat bertahan sampai sekarang hingga masa di mana pada akhirnya orang-orang dapat menerima keberadaan kekuatan super.
Kulihat Bobi bersama dengan Nafisah yang digendongnya lantas mendarat ke atas atap gedung. Kulihat pula keadaan telah menjadi tenang. Karena khawatir, aku pun serta-merta turut menuju ke tempat itu. Sesampainya aku di sana, kulihatlah Bobi yang telah kembali ke penampilan manusianya bersama Nafisah tampak sedang mengkhawatirkan seseorang yang terbaring di sana.
Ternyata, dia adalah Adrian. Rupanya, pemuda yang selama ini bertampang lemah dalam kesehariannya di kampus sewaktu bergaul dengan kami itulah yang barusan sedari tadi bertarung di atas lantai atap gedung fakultas tersebut.
Tampaknya, masalah terhadap monster avatar, Adrian juga-lah yang telah menyelesaikannya seorang diri karena sedari tadi, aku sama sekali tak melihat keberadaan sosok sang Pahlawan Darah Merah.
Aku pun tersenyum lega. Tidak hanya karena melihat bagaimana Bobi akhirnya dapat diterima di masyarakat walaupun dengan kekuatan mutannya, tetapi juga karena melihat sahabatku yang lain itu juga turut berkembang menjadi pemuda yang hebat.
Aku lantas segera ikut bergabung bersama Bobi dan Nafisah. Kami kemudian bergegas hendak membawa Adrian yang tampaknya luka-luka ke rumah sakit terdekat. Namun, kami segera dicegah oleh seorang pria tampan paruh baya dan seorang wanita cantik berambut pirang yang mengaku sebagai pihak manajemen Rumah Sakit Dewantara Group.
Mereka mengatakan bahwa biar merekalah yang merawat Adrian perihal saat ini status Adrian adalah sebagai tersangka kriminal. Akan berbahaya untuk membawanya ke rumah sakit secara sembarangan.
Kulihat Bobi sempat berdebat dengan kedua orang itu, tetapi nampaknya mereka adalah kenalan Nafisah dan Nafisah sangat mempercayai mereka. Jadilah Bobi juga turut mengikuti keputusan Nafsah untuk menyerahkan masalah perawatan Adrian kepada mereka.
Akan tetapi, sebelum Adrian sempat dibawa oleh mereka berdua, Adrian sadar duluan dan entah mengapa tiba-tiba dalam kondisi yang sangat sehat wal afiat. Adrian pun berujar bahwa ada tempat yang mesti disinggahinya saat itu juga lantas pergi meninggalkan kami begitu saja dengan terbang dalam wujud Ksatria Panah Biru yang bersayap.