101 Avatars

101 Avatars
72. Sinkronisasi 400 Persen



“Nafisah!  Tidaaaaaak!”  Teriak Adrian dengan begitu putus asa sewaktu hanya dapat menyaksikan wanita pujaan hatinya itu jatuh dari lantai atap gedung bertingkat enam fakultasnya.


Hanya air mata dari sosok wanita pujaannya yang menjadi pemandangan terakhir baginya yang dapat dia saksikan.


Adrian pun tertelan dalam keputusasaan.  Dia sesaat tidak peduli lagi pada sosok monster yang ada di hadapannya itu.  Dunianya seketika runtuh begitu memikirkan bahwa dia harus hidup di dunia di mana sosok wanita pujaannya itu tak lagi ada bersamanya.


Di saat itulah sistem gelang perubah menangkap respon tidak biasa dari tubuh Adrian.  Tubuh Adrian mengalami peningkatan sinkronisasi terhadap tubuh avatar yang melebihi batas wajar di mana angkanya melebihi 120 persen, tidak, 130, tidak 150, dan terus meningkat lagi, bahkan sampai pada angka 250 persen, belum juga ada tanda-tanda akan berhenti.


Adrian yang tertelan kemarahan pun bangkit seketika terlepas dari jeratan kristal-kristal es Freeze.  Dia mensummon kembali pedang Crusader-nya lalu dia arahkan untuk memotong-motong tubuh Freeze.  Tetapi tidak seperti sebelumnya, Adrian berhasil memberikan luka, bahkan luka yang sangat parah kepada monster avatar berspek yang terbaik itu.


Adrian sekali lagi berbalik menuju kepada Freeze.  Dengan langkah yang perlahan namun pasti yang begitu dipenuhi dengan amarah,


“Slash, slash, slash, slash, slash.”  Dia seakan tidak mau berhenti lagi menebas-nebas tubuh Freeze itu yang dia anggap sebagai penyebab kematian Nafisah.


Tetapi anehnya, Freeze tidak melawan.  Lebih tepatnya, Freeze sedang disibukkan untuk melawan secara internal pengaruh ingatan Faridh, kakak Adrian, padanya.


Freeze pun tak punya lagi pilihan lain selain mundur.  Dia tak sanggup menghadapi Adrian yang mengalami peningkatan kekuatan secara tiba-tiba berkat peningkatan sinkronisasinya terhadap gelang perubah yang bahkan pada saat itu hampir mencapai 400 persen, empat kali dari batas wajar yang dapat dimiliki oleh seorang manusia normal.


Freeze lantas dengan sengaja membuang dirinya lompat dari gedung.  Begitu Adrian hendak menyusulnya, rupanya Freeze telah menghilang.


Begitu melihat sang musuh sebagai objek amarahnya itu menghilang, seketika tubuh Adrian baru bereaksi terhadap rasa sakit yang selama ini harus ditahannya perihal peningkatan sinkronisasi.  Adrian pun jatuh pingsan karena rasa sakit tak tertahankan yang berada di luar batas yang dapat ditolerir oleh tubuh manusia di mana seketika itu juga peningkatan angka sinkronisasi gelang perubahnya berhenti, tepat berhenti di angka 400 persen.


Namun sebelum pingsan, Adrian sempat menatap sosok wanita pujaannya itu menatapnya jauh dari atas langit dengan mata yang berkaca-kaca.


“Syukurlah, kamu rupanya selamat, Nafisah.”  Adrian pun seketika jatuh pingsan setelah mengucapkan kalimat tersebut.


Dari atas langit, terlihat sesosok manusia bersayap menggendong Nafisah.  Rupanya, Nafisah diselamatkan oleh sosok pria bersayap itu yang tidak lain adalah Bobi Kasandro.


Dari jauh, pemandangan itu disaksikan secara detail oleh sosok makhluk lain.  Dialah Avatar Healer.


“Rupanya, aku benar-benar tidak perlu turun tangan kali ini.  Aku bangga padamu Adrian.  Syukurlah aku mempercayaimu.”  Ujar sang Avatar Healer.


Dari tangannya kemudian keluar sebuah ulir-ulir aneh yang dengan cepat membentuk sesuatu menyerupai bola.  Bola itupun terbang menghinggapi Adrian lantas memulihkan pemuda yang telah sekarat itu yang hampir-hampir saja kehilangan nyawanya.


“Tetapi, tak kusangka kalau masih ada dari eksperimen gagal dari Michael itu yang bertahan hidup sampai sekarang.  Padahal berdasarkan ingatan Kaiser, seharusnya mereka semua telah tiada.  Bobi Kasandro ya, bocah yang menarik.”


Begitulah ucap sang Avatar Healer sekali lagi sebelum dia menghilang dari tempat tersebut.


Aku terlahir dengan penuh kesialan.  Sejak terlahir ke dunia ini, aku telah dirawat di suatu panti asuhan di Kota Jakarta, tanpa tahu siapa ayah dan ibu kandungku.  Bahkan, nama marga Kasandro ini adalah milik Paman pemilik panti yang begitu baik hati padaku selama ini merawatku di panti.


Tahun 2044, sewaktu aku berusia 5 tahun.  Aku secara sial diculik lantas dijadikan bahan eksperimen ilegal oleh seorang ilmuwan gila.  Alhasil, jadilah aku memiliki tubuh yang menjijikkan ini.  Tubuh yang begitu menjijikkan dengan sayap seperti seekor burung merpati tumbuh dari balik punggungku.


Ada sekitar 150 anak yang dikumpulkan kala itu dari berbagai tempat, tidak hanya anak-anak Indonesia saja, tetapi bahkan anak-anak luar negeri juga ada ikut terculik di tempat itu.  Namun, dari ke-150 anak, hanya 10 anak saja yang dapat bertahan sampai pada akhirnya kami diselamatkan oleh keluarga Wijayakusuma.


Kalian bertanya ke mana ke-140 anak lainnya?  Mereka semuanya mati yang dianggap sebagai kegagalan eksperimen.  Entah itu karena tubuh mereka tidak dapat menolerir racun mematikan, entah itu karena tubuh mereka tidak tahan berada di tempat dengan suhu di atas 90 derajat, ataukah karena penyebab-penyebab lainnya yang diujicobakan kepada kami selama ini dengan alasan eksperimen.


Kami bersepuluh yang selamat dari insiden mengerikan itu lantas dirawat oleh keluarga Wijayakusuma, keluarga Nona Nafisah.


Keluarga Wijayakusuma adalah keluarga yang baik.  Walaupun kami adalah anak yatim-piatu yang bahkan kami hampir tidak berwujud seperti manusia lagi perihal kami telah berubah dengan apa yang diistilahkan oleh orang-orang saat itu dengan sebutan mutan, mereka tetap memperlakukan kami layaknya manusia.  Tidak, lebih dari sekadar manusia, mereka betul-betul memperlakukan kami layaknya keluarga.


Terutama Paman Loki, ayah Nafisah, yang menjadi guru kami sekaligus sebagai mentor dan pengganti sosok ayah bagi kami selama kami berada di sana.  Dia betul-betul membimbing kami untuk kembali ke kehidupan normal yang kami impikan.


Namun, itu semua tidaklah berarti jika wujud kami tetap seperti ini dan tidak kembali ke wujud manusia normal seperti semula.  Untuk selamanya, kami takkan pernah lagi dicap sebagai seorang manusia oleh manusia normal.  Untuk selamanya, kami hanya akan dicap sebagai monster menjijikkan.


Mungkin karena itu, beberapa saat setelah aku hampir menerima penampilan monsterku itu berkat support dari Paman Loki, aku kembali menghujatnya.  Aku pun mulai mencabuti bulu-bulu menjijikkan yang memenuhi punggungku itu yang membentuk sayap.


Namun, tiap kali aku mencabutinya, itu percuma saja karena akan tumbuh seperti sedia kala setelah aku bangun tidur keesokan harinya.  Aku pun sekali lagi dilanda kesedihan yang mendalam meratapi malangnya takdir diriku ini.  Namun paling tidak, aku tidaklah sendiri.  Ada kesembilan rekan-rekanku yang lain yang bernasib sama seperti denganku.


Aku kira, di situlah pada akhirnya penderitaan kami akan berakhir dan kami akan memperoleh kebahagiaan setelahnya.  Namun ternyata, itu semua hanyalah impian semu.  Satu-persatu dari kami kembali meregang nyawa akibat impak pasca eksperimen yang baru terjadi setelah beberapa bulan.


Hingga sebagai yang terakhir, tibalah giliranku.  Di saat usiaku sebentar lagi akan menginjak 10 tahun.  Perlahan, baik bulu-bulu sayapku, maupun kulitku gugur nak daun terlepas dari tangkainya.  Aku pun bersiap menghembuskan nafas terakhirku.  Mana mungkin aku dapat bertahan hidup lagi ketika kulit-kulitku mulai rontok seperti ini.


Perlahan badanku akan layu, keriput, dan pada akhirnya hilang mengering di telan tanah.  Setidaknya, itu yang kupikirkan.


Namun, keajaiban itupun terjadi.


Kulitku yang sempat telah berserakan di tanah, kembali menyatu kembali.  Aku bahkan sembuh seperti sedia kala tanpa bulu-bulu sayap yang menjijikkan itu lagi.  Aku akhirnya kembali menjadi manusia normal seutuhnya.


Akan tetapi, rupanya hasilnya tidak sebaik dugaanku, walaupun pada taraf di mana aku dapat bernafas puas akannya.  Sayap-sayapku tersebut masih dapat muncul.  Tidak, tepatnya tumbuh kembali dengan cepat dari balik punggungku dengan suatu ransangan tertentu.


Ransangan bisa terjadi baik secara sadar maupun tidak sadar.  Tetapi yang jelas, sayap-sayap itu akan muncul sebagai pertahanan pasif tubuhku ketika tubuhku merespon bahaya atau ketika aku menginginkannya sendiri, seperti di saat aku ingin menyelamatkan seseorang.