Tiba-tiba aku terbangun dari tidur siangku. Sudah lama aku tidak tidur senyenyak ini sehingga tidur siang yang kurencanakan hanya memakan waktu singkat, ternyata berlangsung hingga langit hampir gelap.
Ah, suatu mimpi yang benar-benar panjang. Rupanya begitu. Ternyata itulah jati diriku yang sebenarnya. Rupanya takdir yang mengikat antara aku dan sahabatku itu jauh lebih dalam dan telah lebih lama dimulai dari apa yang kubayangkan.
“Semuanya telah dimulai sejak Tahun 2031 silam ya.” Gumamku.
Aku pun bangun dan keluar kamar. Namun kulihatlah rupanya rekan-rekan setimku tengah berkumpul.
Aku yang penasaran tentang apa yang mereka lakukan kala itu, ikut berkerumun mengelilingi layar besar Mr. Aili. Seketika aku melihat isi layar itu, aku tak dapat menahan kemarahanku. Sebanyak 36 korban jiwa diperkirakan meninggal karena perbuatan monster avatar, terjadi tadi pagi.
Padahal selama lima tahun, belum ada lagi korban sebanyak ini karena monster avatar yang mengamuk. Tidak, itu salah. Kali ini, mereka dengan sengaja membunuh orang yang tidak berdosa dalam suatu pembunuhan yang rapi. Jadi ini kesimpulan mereka setelah aku menghabisi Freeze yang menjadi aset kunci bagi mereka dalam menginfiltrasi kehidupan manusia. Mereka merasa tidak perlu lagi menahan diri lantas melakukan pembunuhan kejam ini.
“Kak Kaiser…” Lirih Adrian pun seketika menyadarkanku dari kemarahanku.
***
Setelah tidak ada aktivitas dari mereka selama 1 pekan, kami tiba-tiba dikagetkan oleh pembunuhan sadis ketiga puluh enam korban di Kafe Olivia dengan cara dilelehkan sampai ke tulang-tulang mereka. Ini tidak salah lagi, pasti perbuatan Fog.
Aku sangat marah sampai-sampai rasanya aku ingin membakar semua monster avatar itu hidup-hidup. Lalu kulihatlah raut wajah Kak Kaiser, tidak, maksudku Healer dalam wujud samarannya. Dia menunjukkan ekspresi yang lebih marah dariku.
“Kak Kaiser…” Tanpa sadar aku pun memanggil namanya.
Kak Kaiser seketika berbalik ke arahku lantas menatapku dengan ekspresi yang kesukaran. Apakah ekspresi yang ditujukannya itu tulus karena rasa simpatinya pada para korban? Ataukah hanya sekadar perasaan tidak enak karena sesuatu terjadi di luar apa yang direncanakannya? Lebih dari siapapun, aku paling tidak mengerti dengan sosok makhluk di hadapanku itu.
Aku sudah berjanji padanya bahwa akan merahasiakan identitasnya kepada yang lain sampai semua monster avatar dapat disingkirkan. Terus terang, aku sedikit takut jika Healer suatu saat akan mengkhianatiku. Namun, aku memilih untuk mempercayainya. Entah karena dasar apa, hanya saja hatiku mengatakan bahwa sosok makhluk di hadapanku itu dapat dipercaya.
Kami pun semakin intens dalam melakukan pencarian terhadap para monster avatar. Dengan dukungan para warga dan pemerintah setempat yang semakin menunjukkan rasa kebencian mereka kepada makhluk tersebut pasca kejadian di Kafe Olivia, pencarian kami menjadi semakin lebih mudah.
Tidak hanya kami yang sibuk mencari, para warga pun turut membantu kami dengan jalan memberitahu jika ada sesuatu tempat yang mencurigakan. Tentu saja kami melarang secara keras mereka untuk turun langsung ke tempat yang mencurigakan tersebut demi keamanan mereka.
Akan tetapi 5 hari setelahnya, yang muncul justru berita yang menggemparkan seisi Kota Jakarta. Tersebar video di internet yang menunjukkan bagaimana Pahlawan Darah Merah berubah wujud ke wujud monster Avatar Healer. Tampaknya, ada seseorang atau sesuatu di sana yang merekam kami tanpa kami sadari.
Untuk sementara, kami dapat berdalih bahwa itu adalah video karangan belaka. Namun, entah sampai kapan kami dapat bertahan dengan dalih tersebut, perihal apa yang diperlihatkan video tersebut adalah sebuah kebenaran.
***
Pagi itu, Syifa tanpa sengaja berpapasan dengan Kaiser, tidak, Healer yang menyamar.
Dalam raut wajah sendu, Syifa bertanya kepada Kaiser, “Kak Kaiser, apa yang dikatakan oleh berita-berita itu, adalah tidak benar, kan?”
Namun, Kaiser hanya merespon pertanyaan itu dengan senyuman, lantas membelai lembut rambut Syifa. Dia pun berujar, “Janganlah mengkhawatirkan berita tidak masuk akal itu, Syifa. Percayalah, aku benar-benar teman kalian.” Begitulah, dalam senyum lembutnya, sang faker berujar.
Akan tetapi, berbeda dengan Syifa yang mencoba mempercayai kebohongan sang faker. Yah, apa yang diucapkannya pada Syifa adalah memang kebenaran. Namun, dia mengalihkan jawaban karena sejatinya pula yang diungkapkan berbagai media perihal dirinya yang adalah monster itu memang juga suatu kebenaran. Tak satupun media mempercayai sang faker itu.
“Kita selama ini ditipu, sang Pahlawan rupanya adalah juga seorang monster. Apakah ini semua hanya skema yang dibuat-buat oleh mereka?”
“Tidak ada lagi yang bisa dipercayai. Rupanya Sang Pahlawan adalah faker andal.”
“Identitas asli Sang Pahlawan, monster Avatar Healer.”
Begitulah kurang lebih tajuk-tajuk berita baik di TV, koran, internet, dan berbagai jenis media lainnya. Semuanya menyudutkan sang faker.
***
Hingga tibalah hari itu, sebuah virus kembali merebak, menyerang seisi Kota Jakarta. Kali ini bukan Healer yang membuat dan menyebarkan virusnya dan bukan pula sasarannya adalah para monster avatar, melainkan manusia.
Virus yang dengan cepat menyebarkan wabah ganasnya, hasil perpaduan kekuatan antara Remote, serta Fog yang telah menyerap kemampuan Poison Merchant. Dalam sekejap, seisi penduduk Kota Jakarta berubah menjadi zombie.
Namun berbeda dengan zombie yang ada di film-film, para manusia yang terjangkit itu, hanya tak mampu mengendalikan gerak tubuh mereka sendiri seolah dikendalikan oleh sesuatu yang lain di dalam tubuh mereka, namun kesadaran mereka tetap berada di dalam tubuh mereka tersebut.
Mereka dari luar tampak sebagai zombie ganas yang siap menyerang siapa saja yang ditemuinya. Namun, dari dalam, mereka hanyalah manusia biasa yang disandera oleh sesuatu yang mengendalikan tubuh mereka itu. Mutlak Healer dan Adrian tak dapat secara frontal menyerang mereka karena sejatinya mereka tetaplah manusia.
Dalam waktu singkat, sekitar 40 persen penghuni Kota Jakarta telah terjangkit oleh virus dan mengamuk di jalanan untuk mencari korban-korban baru lainnya untuk mereka tulari dengan virus.
Suasana mencekam dalam sekejap melanda Kota Jakarta di siang itu. Seluruh jalan raya, di dalam gedung-gedung tinggi, bangunan sekolah, rumah-rumah penduduk, sampai ruang kereta bawah tanah, semuanya dipenuhi oleh zombie yang mengamuk. Tak ada lagi tempat yang aman kala itu di seluruh pelosok Kota Jakarta.
Tidak ada jalan lain lagi untuk menghentikan segala kekacauan ini kecuali membunuh para korban. Dengan demikian, virus tak akan menyebar lebih jauh. Akan tetapi, sang faker yang sejatinya sebenarnya adalah juga seorang monster avatar, merasa tak tega melakukan itu semua. Entah darimana rasa itu muncul, padahal jelas-jelas dia adalah monster yang diciptakan dengan tidak dianugerahi sebuah perasaan. Yang jelas, dia merasakan simpati kepada manusia.
“Tidak, ada satu jalan.” Tiba-tiba, sang faker pun teringat akan sesuatu.
Ya, masih ada jalan untuk membalikkan keadaan itu, yakni dengan kekuatan Healer, sama seperti yang digunakannya untuk menciptakan gelang dan menyebarkan virus pengekang sementara kekuatan monster avatar.
“Tidak ada waktu untuk berpikir. Aku harus melakukan ini.” Gumam Healer.
Dirinya yang masih dalam wujud Avatar Bomber itu lantas membatalkan perubahannya lalu kembali ke dalam wujud Kaiser Dewantara. Kemudian, dia dengan sigap berubah lagi menjadi Healer.
“Kakak?” Adrian pun keheranan terhadap apa yang dilakukan mentornya itu.
Namun, dalam sekejap, tubuh Healer yang putih mengeluarkan aura hitam. Dia memutuskan untuk menggunakan kekuatannya yang paling sakral, kekuatan yang hanya dimiliki olehnya dan Holy sebagai suatu keistimewaan bagi mereka sebagai pohon dunia, energi kehidupannya.
Melalui ulir-ulir yang dia sebarkan di seluruh pelosok Kota Jakarta, dia menginfiltrasi setiap tubuh yang terjangkiti virus zombie, lantas menetralkannya dengan energi kehidupannya tersebut.