101 Avatars

101 Avatars
82. Pengorbanan dalam Sekarat yang Tak Dihargai



Pagi itu, padahal aku hanya berpatroli bersama dengan Kak Kaiser seperti biasanya.  Siapa sangka, situasi kota dengan cepat berubah kacau seperti ini akibat kemunculan virus zombie.  Baru 4 jam setelah dikonfirmasi penyebarannya, telah hampir setengah warga kota terinfeksi olehnya.


Aku masih ingat dengan jelas pagi itu tentang apa yang aku obrolkan berdua dengan Kak Kaiser.


“Apakah Kakak baik-baik saja dengan semua ini?!  Padahal Kakak telah berjuang mati-matian selama 5 tahun ini demi warga kota.  Tetapi apa yang justru mereka perbuat, mereka malah menghina Kakak habis-habisan hanya karena masalah rumor.  Yah, walaupun rumor itu memang benar sih.  Tetapi tidakkah Kakak kesal bahwa tiada seorang pun yang menganggap perjuangan Kakak?”


Kulihat Kak Kaiser, tidak, maksudku Healer, terdiam sesaat karena pernyataanku tersebut.  Walaupun dia berusaha menyembunyikannya, aku dapat menangkap rasa frustasi di dirinya itu.


“Kesal?  Apa yang kamu katakan, Adrian.  Aku ini bukan manusia, lho.  Aku tidak punya emosi seperti itu.  Tapi yah, itu hal yang wajar untuk seseorang akan takut pada suatu keberadaan yang asing bagi mereka.”


“Tapi Kak, bukankah mereka sudah sangat keterlaluan?!  Mereka hanya melihat hal-hal buruknya saja.  Padahal, Kak Kaiser selama ini telah banyak melakukan hal-hal yang baik demi mereka yang seharusnya mampu menjadi pertimbangan mereka dalam beropini.”


“Wajarlah jika media seperti itu.  Soalnya, berita konspiratif akan lebih laku daripada berita yang menceritakan tentang epos kepahlawanan.  Bukankah begitu?”  Dengan raut yang masih sempat-sempatnya bercanda dan tertawa riang, Kak Kaiser merespon ucapanku.


Tidak, aku tidak terima dengan semua itu.  Tanpa keberadaan Healer, jelas-jelas umat manusia tidak akan sanggup bertahan pada serangan para monster avatar lima tahun silam.  Tapi begitu muncul dugaan yang tidak-tidak padanya, padahal semuanya belum positif terkonfirmasi, mereka serta-merta menjadikan sosok pahlawan itu sebagai bahan hujatan.  Apa mereka semua tidak tahu yang namanya berterima kasih?


Kulihat Kak Kaiser menatapku dengan senyuman tulus penuh arti.


“Tapi yah, tidak semuanya seperti itu kan?  Masih banyak di antara kalian yang mendukung aku, ada Nafisah dan para anggota setia fansite Pahlawan Darah Merah lainnya, ada Profesor Melisa, ada Syifa, dan lebih dari itu, ada kamu, Adrian.”


“Tapi, begitu mereka tahu bahwa berita itu benar adanya, kuyakin mereka juga…”  Aku tak dapat menyelesaikan kalimatku itu.  Aku tak ingin membayangkannya hanya karena identitas Kak Kaiser sebagai monster Avatar Healer ketahuan, orang-orang yang tadinya mendukungnya juga akan menusuknya dari belakang lantas mengkhianati kepercayaannya itu.


Terlebih, yang membuatku lebih merasa bersalah adalah aku pun takut dikhianati olehnya.  Sungguh besar rasa kecurigaan umat manusia itu pada ras yang berbeda dengannya.  Dan aku pun tak luput akannya.


Padahal sekali lagi kini, makhluk yang aku curigai itu, berkorban untuk umat manusia dalam sekaratnya.  Aku tak dapat berbuat apa-apa di kala kusaksikan di hadapan mataku, Kak Kaiser mengeluarkan jurusnya dengan penuh kesakitan demi membasmi virus-virus zombie itu.


Aku tak tahu jurus tersebut, tetapi melihat respon tubuh Kak Kaiser dalam wujud Healer yang semakin lama semakin terdegradasi, aku bisa tahu bahwa jurus itu adalah jurus yang mampu mengakibatkan hal yang fatal baginya.  Sebenarnya, apa yang mampu kulakukan untuknya?


***


“Ukh.”


Tiba-tiba, lamunan Adrian dikagetkan oleh tubuh Healer yang tampak oleng.


“Kak Kaiser, Kakak tidak apa-apa?”  Dengan khawatir, Adrian berteriak kepada Healer.


Namun Healer sama sekali tidak menjawab.  Dia fokus untuk menyalurkan energi kehidupannya itu kepada para zombie untuk menyelamatkan para sandera yang tertanam jauh di dalam kesadaran zombie.


Tidak ada yang lebih tahu keadaan tubuh Healer lebih baik daripada dirinya sendiri.  Dia sejatinya memperoleh energi kehidupan lewat penetralan racun.  Oleh karena itu, tiap kali dia menyembuhkan seseorang, sejatinya energi kehidupannya bertambah.  Ini jelas berbanding terbalik dengan Holy yang prinsip penyembuhannya adalah melalui penyerapan yang tiap kali menyembuhkan, dirinya sendiri akan semakin sakit.


Akan tetapi,


Sangatlah sulit untuk memperoleh ekstrak energi kehidupan yang cukup.  Healer telah menggunakan 66 persen energi kehidupannya di awal-awal untuk penciptaan gelang perubah.  Setelah itu, dia menggunakan lagi sekitar 20 persennya untuk menyebarkan virus yang melemahkan monster avatar.


Alhasil, Healer selama ini telah sekarat.  Tidak ada yang menyadarinya karena tidak ada yang paham betul tentang bagaimana kondisi sehat monster avatar berbentuk pohon tersebut.  Warna putih baginya sejatinya adalah warna sekaratnya yang sebagai pertanda energi kehidupannya telah hampir terkuras sepenuhnya.


Tiada yang menyadari bahwa daun-daunnya kian berguguran.  Oleh karena itu, selama ini dia hanya bertarung lewat ulir-ulirnya.  Bahkan rekan-rekan sesama avatarnya pun tidak ada yang memperhatikannya selain Holy karena begitulah individualitas para monster avatar terhadap sesamanya.


Namun kini dalam keadaan yang telah sekarat itu, dia kembali menggunakan hampir semua energi kehidupannya untuk melawan virus zombie.  Begitu besarnya pengorbanan Healer demi umat manusia tanpa ada siapapun dari mereka yang mengetahuinya.


“Hei Kak, Kak Kaiser. Tidak! Healer!  Apa yang sebenarnya terjadi?!  Hei, kenapa keadaanmu seperti ini?!”  Tidak, itu salah, setidaknya ada satu manusia di sini yang begitu mengkhawatirkan keadaannya.


“Jangan khawatir, Adrian.  Aku baik-baik saja.  Tolong, jaga saja pertahanan agar tidak ada yang mendekatiku selama aku mengaktifkan jurus ini.”  Akhirnya, Healer pun berujar dalam keadaan yang lemah itu.


“Baik Kak, serahkan pertahanan padaku.”  Jawab Adrian.


Namun, tanpa disangka-sangka, puluhan virtual drone sisa-sisa peninggalan Mecha mengelilingi mereka.  Dan bersamaan dengan itu, terdengar gelak tawa dari seorang wanita.  Dialah Selantri, tidak, Avatar bernomor seri 13, Avatar Fog.


“Lihatlah pemirsa sekalian.  Inilah kenyataannya.  Pahlawan yang selama ini kalian puja-puja sebagai penyelamat, tidak lain adalah juga monster avatar seperti kami.  Hahahahaha!”


Fog pun berujar dalam gelak tawanya.


***


Sementara itu, di kediaman Raging Fire.


Dengan riangnya, Sticky Girl menyaksikan para zombie yang mengamuk di luar pekarangan rumah mereka bagaikan suatu atraksi pertunjukan hiburan, sementara Singer Nana dan Violar disibukkan mempertahankan kediaman mereka agar para zombie tidak menyerbu masuk.


“Apa yang sebenarnya terjadi di luar?  Siapa orang-orang aneh itu?  Mengapa mereka mengamuk seperti itu?”  Magneton tak dapat menahan kebingungannya lantas bertanya pada Holy di sebelahnya.


Holy tidak menanggapi pertanyaan Magneton tersebut persoalan saat ini ada hal yang lebih penting yang sedang menjadi bahan pikirannya, yakni keberadaan Poison Merchant.  Sudah lebih dari setengah bulan, sang dokter tidak kunjung balik pula ke kediaman mereka.


“Holy, apakah kamu sudah menemukan kabar mengenai keberadaan Poison Merchant?”  Tiba-tiba, ucapan Raging Fire membuyarkan lamunan Holy.


Holy pun menggeleng.  Dia seraya berucap, “Belum, Tuan Raging Fire.  Aku sudah mencari-carinya ke mana-mana, tetapi belum ketemu juga.  Ah, aku menyesal pagi itu tidak menanyakannya ke mana dia akan pergi.”  Holy pun menjawab dengan lemas.


“Sudahlah, jangan terlalu merasa bersalah, Holy.  Ini bukanlah salahmu.  Ini sepenuhnya salahku yang tak dapat memperhatikan anak buahku dengan baik.”  Raging Fire pun membalas perkataan Holy tersebut dengan nada yang lebih merasa bersalah.


Akan tetapi, Holy tidak terlalu menanggapi apa yang dikatakan Raging Fire itu.  Pikirannya dipenuhi kekhawatiran terhadap Poison Merchant.  Menurutnya, tidak mungkin Poison Merchant yang sangat menyukai Raging Fire itu tiba-tiba menghilang begitu saja di hadapan Raging Fire atas kehendaknya sendiri.


Pasti hilangnya dirinya adalah karena rekayasa seseorang.  Healer tidak berbuat apa-apa padanya, yang berarti tersisa kubu Fog sebagai tersangka yang paling mencurigakan sebagai dalangnya.


Di tengah kerisauan mereka berdua, tiba-tiba muncullah berita itu di TV.  Baik Raging Fire, Holy, dan juga termasuk Magneton, seketika tak dapat mengalihkan perhatian mereka dari berita yang sedang disajikan di TV tersebut.