Tampak seorang anak berlari di hadapanku. Seketika, anak itu terjatuh yang membuat lututnya cedera hingga dia sampai menangis karena tak dapat menahan sakitnya. Di kala itulah, kulihat Silvia dengan sigap datang menghampiri anak itu untuk mengobatinya.
Cara pengobatan yang begitu aneh. Beberapa helai daun ketumbar dilarutkan dalam semacam cairan pink kemudian dialirkan energi mana. Seketika daun menyatu dengan cairan dan menjadikannya bentuk gel. Silvia pun megolesi luka anak itu dengan gel yang dibuatnya.
Hal yang luar biasa di mataku pun terjadi. Lukanya seketika sembuh tak jauh seperti memberikan potion pada prajurit yang sekarat seperti di game-game RPG.
Kulihat pula Silvia tersenyum dengan cerah kepada anak itu lalu anak itu pun meninggalkannya sambil melambaikan dengan ucapan terima kasih. Sungguh pemandangan yang benar-benar indah.
Kuhampirilah Silvia. Dia pun segera menoleh ke belakang begitu merasakan ada orang yang mendekatinya.
“Oh, Adrian.” Sapanya padaku.
“Yo, Silvia.” Sapaku balik padanya.
Berdasarkan hasil rembukanku bersama dengan tim tadi malam, aku ditugaskan untuk mendekati Silvia demi mencari tahu bagaimana seni penyembuhan dan pengobatan di dunia ini karena akulah yang satu-satunya di antara kami yang pernah mengadakan kontak dengan para apoteker yang ditempatkan di desa.
Kami bertujuh telah bersepakat untuk menyelidiki kabut hijau beracun di hutan apapun akibatnya. Dan demi meminimalisir dampak, aku harus berhasil menjalankan misiku ini.
“Kamu mengobati anak itu begitu saja tanpa mengambil bayaran? Bukankah tanaman herbal dan perlengkapan medis lainnya kalian beli dengan uang?” Tanyaku mencoba berbasa-basi kepada Silvia.
Namun, Silvia seketika menatapku dengan cemberut. Dia pun berujar, “Bagaimana kamu bisa mengatakan hal semengerikan itu, Adrian? Raja negeri ini telah membayar kami para apoteker tiap bulan demi menjalankan tugas kami di tempat masing-masing. Mana berani kami mengambil bayaran lagi dari penduduk setempat. Itu sama saja pengkhianatan negara. Pengkhianatan negara, Adrian.”
Dua kali Silvia menekankan kata pengkhianatan negara padaku.
Sungguh suatu sistem yang sangat bagus di negara ini. Tiap warga di seluruh pelosok negeri dapat memperoleh layanan medis dari apoteker terbaik negara secara gratis di mana kerajaan-lah yang menanggung semua biayanya.
Aku jadi iri dengan penduduk di sini. Di dunia nyata, gajiku bahkan dipotong 2,5 persen tiap bulannya untuk membiayai pembiayaan medis yang belum tentu aku gunakan tiap bulan tersebut. Ditambah pelayanan yang buruk yang hanya diperiksa asal-asalan tanpa langkah pemeriksaan medis yang tepat.
Dokter di dunia nyata sebagian besar sekarang hanya peduli dengan uang saja tanpa pernah lagi berupaya mengembangkan kemampuan mereka di bidang yang mereka geluti itu.
Kami pun saling mengenal dan tak butuh waktu lama bagiku untuk dapat akrab dengan Silvia, terima kasih terhadap skill komunikasi-ku berkat didikan Paman Dios, Kak Arskad, dan Kak Kaiser.
Setelah tiga hari saling mengenal, barulah aku mencoba tujuan pendekatanku padanya.
“Wah, tampaknya dunia medis sangat menarik ya, Silvia. Bolehkah aku juga ikut mempelajarinya? Kebetulan aku juga tahu mana, tetapi kurang mengerti dalam menerapkannya ada tanaman herbal untuk penyembuhan.” Ujarku pada Silvia.
“Tentu saja boleh, Adrian. Dunia medis memang sangat menarik. Setiap orang yang mengenalnya, pasti akan tertarik. Kebetulan mana-mu juga tipe yang cocok untuk mempelajari pengobatan. Jadi kamu memang dilahirkan untuk menjadi seorang apoteker, Adrian. Bagaimana kalau belajar di bawah arahanku. Jika kamu berhasil menguasainya, ada peluang bagimu untuk menjadi apoteker resmi kerajaan dengan rekomendasi dari Pak Kepala.”
Ujar Silvia dengan tampak begitu antusias.
Yah, tentu saja aku tak sampai tertarik untuk menjadi apoteker resmi kerajaan sebab keberadaan kami di dunia ini hanyalah sementara. Tetapi adalah hal yang jujur kuungkapkan dari lubuk hatiku yang terdalam ketika kumengatakan bahwa aku tertarik dengan konsep pengobatan dan penyembuhan di dunia ini. Yah, sayangnya, ini hanyalah sebatas dunia game yang tak nyata.
Untuk membuat obat penyembuh luka di sini, konsepnya adalah dengan membuat larutan penyalur mana dan tanaman herbal penyerap mana untuk bersatu. Larutan umumnya dibuat dari air soda yang diambil dari pegunungan yang diberikan tambahan kalsium klorida kemudian dengan sedikit modifikasi kimia menggunakan ion kompleks, larutan pun jadi.
Untuk tanaman herbalnya bisa beragam, yang jelas bisa menyerap mana dan menyatu dengan larutan. Yang paling umum digunakan adalah daun ketumbar dan daun cocor bebek.
Untuk menyembuhkan penyakit yang lebih kompleks lagi semisal penyakit yang disebabkan oleh bakteri, cara pembuatannya sedikit lebih kompleks lagi. Namun konsepnya adalah dengan membuat larutan penyerap yang mampu menyerap cairan tubuh di tempat spesifik di mana bakteri tinggal, ditambah dengan beberapa tambahan herbal yang efektif membunuh bakteri.
Sayangnya, di dunia ini, penyakit rumit yang disebabkan oleh virus seperti SARS ataukah yang disebabkan oleh bakteri yang yang sulit dikendalikan semisal Black Death, masih belum ditemukan metode pengobatannya.
Namun, tentu saja aku tidak perlu sampai ke situ perihal yang kubutuhkan saat ini untuk menjalani misi kami adalah bagaimana kami bisa bertahan melewati kabut hijau beracun.
Aku menguasai ramuan penyembuh luka resep Silvia hanya dalam waktu 2 hari yang sampai-sampai membuat Silvia memujiku. Kini, aku pun mulai mencoba untuk memintanya mengajarkanku agar bagaimana bisa bertahan dengan racun kabut hijau.
“Pada dasarnya, saat ini, untuk menyembuhkan seseorang yang keracunan kabut hijau sama halnya dengan jenis-jenis keracunan gas lainnya yakni dengan meminum teh herbal yang diberi mana. Tetapi aku belum pernah mendengar ramuan tentang bagaimana bisa kebal melawan racun.” Ujar Silvia tampak berpikir keras.
“Ah, bukan. Tidak sampai perlu kebal kok, Silvia. Maksudnya, bagaimana membuat seseorang bisa bertahan saja melewati wilayah yang penuh dengan kabut hijau beracun dengan selamat.” Ujarku mengoreksi salah tanggap Silvia.
“Hmm. Kalau itu, bagaimana jika menggunakan masker yang diberi penyaring udara yang berisi ramuan rempah-rempah yang terbuat dari campuran dengan bahan utama aseton, kunyit, dan sereh? Kurasa akan cukup efektif untuk menetralisir selama 3 jam efek mabuk dari racunnya. Tetapi bukan berarti menetralkan racunnya sih. Hanya meminimalisir dampaknya, setidaknya kita bisa bertahan di dalam kabut selama 3 jam.”
Ujar sekali lagi Silvia dengan tampak berpikir keras. Namun, sesaat kemudian, dia pun menatapku dengan wajah yang serius.
“Jangan bilang, kamu mau membahayakan dirimu dengan pergi ke sana, Adrian?”
Aku mamalingkan penglihatanku pada tatapan menginterogasi Silvia itu.
“Ah, mengapa para wanderer selalu ditelan rasa penasaran dengan kehilangan ingatannya? Bukannya aku tidak mengerti sih. Pasti menakutkan jika kita di tempat asing tanpa mengingat apa-apa tentang siapa diri kita. Tetapi Adrian, tempat itu sangat berbahaya. Banyak monster, tidak hanya hewan yang bermutasi, tapi juga berbagai jenis mutasi tumbuhan berkumpul di sana karena pengaruh racun kabut hijau. Akan sulit bahkan untuk bertahan hidup di sana.”
Silvia tampak sangat mengkhawatirkanku. Entah mengapa, aku merasa sangat senang dengan hal itu, padahal Silvia tidak lebih hanyalah NPC dari game.
Aku pun tersenyum lembut padanya seraya berujar, “Tidak apa-apa kok, Silvia. Aku ini kuat.”
Malam itu, kami pun kembali mengadakan pertemuan. Tanpa membuang waktu keesokan harinya kami mengumpulkan bahan dari uang hasil kerja yang lain dengan membunuh beast, memperbaiki rumah dan ladang warga, bahkan pekerjaan kasar seperti menambang yang dilakukan oleh Paman Shou.
Aku dan Paman Dios lantas ditugaskan untuk meracik ramuannya sementara yang lain tetap melanjutkan rutinintas mereka untuk mencari uang selama kami berada di sini. Kami sempat khawatir dengan tubuh asli kami karena selama ini yang makan hanyalah tubuh virtual kami. Tetapi biarlah itu menjadi tanggung jawab bagi orang-orang di dunia nyata untuk mengurusnya.
Oleh karena itu, kami pun mempercepat upaya kami apapun yang dapat kami percepat. Berbekal informasi dan dasar ilmu yang diberikan oleh Silvia kepadaku, aku dan Paman Dios memodifikasi dan mengotak-atik resepnya sedemikian rupa hingga berhasil-lah kami memperoleh resep yang paling efektif dalam menangkal efek keracunan kabut hijau.
Kali ini tidak sekadar menunda efek seperti perkataan Silvia sebelumnya, tetapi betul-betul menghilangkannya. Semuanya bisa, berkat bakat Paman Dios yang luar biasa di bidang bahan ramuan.
Sisanya, tinggal menunggu kedatangan Paman Arthur yang ditugaskan khusus untuk membeli pakaian anti wabah yang sering dikenakan oleh para apoteker di sini pada saat menghadapi pandemi. Setelah pakaian itu datang, kami pun kembali memdifikasinya dengan menambahkan penyaring udara yang berisi ramuan yang telah aku dan Paman Dios buat.
Persiapan kami pun selesai dan kami siap menjelajah hutan yang penuh dengan kabut hijau itu.