“Trak! Trak! Trak!” Di atas lapangan luas yang terletak di suatu perbukitan tanpa ada satu pun pemukiman di situ, Adrian dalam wujud Avatar Arjuna dan Kaiser dalam wujud Avatar Bomber berlatih bertarung satu sama lain dalam pertarungan nyata.
Kedua pedang mereka saling beradu dan bersenggolan satu sama lain.
“Hah, hah, hah, hah, Kak Kaiser, bukankah latihan kali ini sudah cukup? Kita sudah melakukan hal ini selama 3 hari berturut-turut hampir tanpa istirahat sedikit pun kecuali untuk makan dan tidur singkat. Bisa kita hentikan ini sekarang, Kak? Jujur, staminaku tidak kuat lagi.”
Dalam nafas yang terengah-engahnya, Adrian menyampaikan keluhannya itu kepada muridnya yang hampir menguras seluruh staminanya tanpa diberikan kesempatan untuk beristirahat.
“Mengapa kamu lemah begitu, Adrian? Bukannya kamu adalah mentorku? Seharusnya kamu bisa lebih bersemangat lagi.” Kaiser menampik semua itu dengan kata-kata yang penuh semangat.
“Tapi Kak, bukankah kemampuan Kakak sudah cukup meningkat?”
“Biar pun meningkat, tapi ini belum cukup! Kemampuan segini belum cukup untuk menyelamatkan siapapun!” Sekali lagi, Kaiser berteriak penuh semangat.
Adu pedang pun kembali berlanjut di antara keduanya.
“Jika saja aku cukup kuat, maka mungkin orang-orang yang tewas di hari itu bisa saja terselamatkan.” Lirih Kaiser dalam kesenduan.
Latihan pun berlanjut untuk beberapa saat, hingga tiba-tiba sebuah suara menggema.
“Aku suka semangatmu, wahai anak muda! Kita tidak akan bisa melewati batasan fisik kita jika tidak didukung oleh semangat yang mumpuni. Tapi dari siapapun, tentulah kamu paham bahwa tidak hanya semangat yang diperlukan untuk bertambah menjadi lebih kuat. Kemampuan untuk menerapkan taktik yang tepat di pertempuran, menyesuaikan kemampuan dengan keahlian musuh, kemampuan memanipulasi arena pertarungan, semuanya juga dibutuhkan.”
Adrian dan Kaiser yang penasaran tentang dari siapa sumber suara itu berasal, lantas menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya-lah seorang pria tua yang berada di sekitar usia lima puluhan-nya. Dialah Profesor Dios.
Adrian yang jauh dari interaksi dengan keluarga teman-teman dekat orang tuanya, mutlak tidak mengenal sosok pamannya tersebut. Akan tetapi Kaiser, walau setelah perpisahannya dengan kedua orang tuanya yang kala itu dia berpikir telah meninggal, Kaiser tetap menjalin hubungan kekerabatan dari keluarga pihak ayahnya pula sejak tibanya dia di Kota Jakarta.
Oleh karena itu, Kaiser kenal benar dengan sosok pria tua yang sedang berdiri di hadapannya itu perihal dia pernah menemuinya beberapa kali secara kebetulan. Sosok teman dekat dari adik sepupu yang sangat dikagumi oleh ayahnya sampai-sampai turut menamakan dirinya sebagai putranya dengan nama yang sama dengan sang adik sepupu itu, sang profesor ternama yang telah mengeluarkan teori tentang gaia dan alam semesta, dialah Dios.
“Profesor Dios?” Ujar Kaiser keheranan.
Kaiser keheranan lantaran mengapa profesor yang seharusnya sedang sibuk-sibuknya mencari keberadaan Pulau Atalanta, tiba-tiba berada di Kota Jakarta ini.
Wajah Kaiser tersebut lebih bertambah heran lagi ketika satu lagi sosok muncul dari belakang Dios.
“Kak Arskad?”
“Yo, lama tidak bersua, adik sepupu. Apakah itu terakhir kali ketika kamu SMP?” Satu lagi tamu yang berdiri di samping Dios, menyapa Kaiser dengan senyumnya yang bak pangeran mawar itu. Dialah Arskad Dewantara, anak kedua dari pasangan suami-istri penyelamat bumi dari keluarga Dewantara tahun 2031 silam tersebut.
“Kalau kalian berdua ada di sini, apakah itu berarti ada ancaman yang sedang mengintai Kota Jakarta lebih dekat dari monster avatar?”
Profesor Dios menggelengkan kepalanya.
“Kalian pasti kurang lebih bisa menebak sejak kemunculan para dummy ke alam nyata.”
“Pohon Keabadian?” Kaiser pun merespon pernyataan dari Profesor Dios tersebut.
Baik Kaiser maupun Adrian, menunjukkan ekspresi bingung terhadap perkataan Profesor Dios tersebut.
“Semuanya berhubungan?” Untuk pertama kalinya, Adrian pun berkomentar.
Namun daripada Profesor Dios yang menjawabnya, Arskad ikut angkat bicara, “Ya, untuk mensummon Pohon Keabadian di dunia ini, tumbal nyawa manusia dibutuhkan. Oleh karena itu, bencana kurungan listrik Kota Jakarta pun terjadi. Di samping itu, juga membutuhkan energi ketidakstabilan dimensi.”
Profesor Dios yang kali ini melanjutkan, “Tidak ada jalan terbaik untuk memperoleh energi ketidakstabilan dimensi selain mensumon makhluk dari dunia lain yang keberadaannya ditolak oleh Gaia.”
“Monster avatar?” Adrian berkomentar di tengah-tengah penjelasan Profesor Dios tersebut.
“Ya, sang dalang pun mensummon 99 monster avatar ke dunia ini, tidak lain berharap bahwa salah satu di antara mereka dapat digunakan sebagai sumber energi ini dan bingo, sang dalang benar-benar memperoleh sumber energi yang tepat tersebut di antara ke-99 monster yang disummon-nya. Dan sumber energi itu tidak lain adalah Raging Fire.”
Terlihat kerutan baik di wajah Kaiser maupun di wajah Adrian ketika mendengarkan informasi tersebut.
“Tidak banyak waktu lagi. Mari segera kembali ke markas untuk mulai merencanakan penyusupan ke daerah musuh.” Dalam keheningan sesaat itu, Arskad berucap.
“Kalian sudah mengetahui di mana lokasi musuh berada?” Tanya Kaiser was-was.
“Tentu saja. Kami telah menyelidikinya selama ini. Terima kasih pada gelombang penyerangan terakhir para dummy, kami akhirnya bisa mentracking lokasi Pohon Keabadian melalui jalur terbang para buah dummy-nya.” Kemudian, Arskad pun menjawab pertanyaan tersebut.
“Satu lagi pertanyaan terakhir. Buat apa mereka membangkitkan Pohon Keabadian? Dan sampai dibawa ke dunia nyata? Padahal, mereka cukup mengaktifkannya saja kembali lewat tumbal manusia yang lebih banyak di celah antardimensi untuk menghubungkan dunia kita dengan dunia mereka. Itupun seharusnya sudah tidak perlu perkara mereka sudah berhasil membuat gerbang yang menghubungkan antardua dunia.”
Kaiser yang belum puas, lantas bertanya kembali.
Profesor Dios pun menjawab, “Fungsi Pohon Keabadian tidak hanya sekadar itu saja, Kaiser. Lagipula kejadian kali ini tidak ada hubungannya dengan para iblis dari dunia lain tersebut. Pohon Keabadian juga dapat memberikan energi keberadaan pada keberadaan makhluk yang tertolak oleh gaia dengan menyerap pohon itu.”
“Jangan bilang kalau sang dalang…”
Tampak vibrasi sepemahaman antara Kaiser dan Profesor Dios sehingga walaupun Kaiser belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Profesor Dios dengan yakin melanjutkan komentar Kaiser tersebut.
“Ya, berbeda dengan para iblis dari dunia lain yang keberadaan jiwa mereka masih diterima oleh gaia, hanya tubuh mereka saja yang tertolak sehingga mereka pun tiba di tempat ini cuma dengan jiwa tanpa tubuh. Adapun sang dalang, sejak awal keberadaannya itu sendiri tertolak oleh gaia.”
“Makhluk virtual?”
“Ya, kemungkinan sang dalang adalah makhluk virtual yang ingin hidup di dunia nyata.”
Baik Kaiser maupun Adrian seketika terpaku begitu menyadari fakta mengejutkan ini. Sedari awal, mereka mengira bahwa ini semua adalah ulah sang iblis dari dunia lain yang menginfiltrasi ke dalam kelompok masyarakat lantas berusaha menyabotase kehidupan umat manusia dengan membuat kekacauan melalui penemuan dunia virtual.
Lantas jika itu benar adanya, maka semuanya akan berubah menjadi kontradiksi. Sang iblis dari dunia lain datang ke dunia ini untuk merebut dunia dari umat manusia. Tetapi tiba-tiba mereka mensummon makhluk berbahaya keluar yang dapat mengancam kepunahan dunia ini. Kalau dipikir-pikir, aneh jika sang iblis dari dunia lain bertindak bodoh dengan menghancurkan sendiri dunia yang berusaha mereka rebut.
Semuanya akan lebih masuk akal jika seperti penjelasan Profesor Dios sebelumnya. Semuanya adalah agar sang dalang yang berasal dari dunia virtual diizinkan oleh gaia menikmati hidup di dunia nyata.