Profesor Melisa, Kak Kaiser, dan Kak Syifa pun bergegas menuju markas, sementara aku segera menukar tubuhku dengan tubuh Avatar Arjuna-ku kemudian bergegas terbang ke udara demi mencari keberadaan monster avatar yang menyebabkan semua kekacauan ini.
Sangatlah sulit untuk menemukan mereka di antara tumpukan manusia di kota yang seluas ini. Namun, dalam waktu singkat, Bobi melakukan panggilannya.
“Adrian, ketemu. Ketiga monster avatar itu ada di bekas pabrik xx di pusat kota.”
Aku sempat terkaget dengan kegesitan teman hacker-ku ini dalam menemukan informasi padahal semua sinyal komunikasi telah terputus dari dunia luar. Bobi tidak diragukan lagi adalah seseorang yang sangat berbakat. Aku pun segera menuju ke lokasi yang ditunjukkan oleh Bobi padaku, dan Bingo…aku benar-benar menemukan Volt dan Metalia di sana.
Tetapi apa maksud Bobi tadi bahwa ada bertiga?
Aku pun segera menghubungi Kak Kaiser demi memberitahukan bahwa keberadaan monster avatar yang menyebabkan semua kekacauan ini telah terkonfirmasi. Namun, Kak Kaiser dengan tegas memberikan aku suatu peringatan keras.
“Ingat, Adrian! Jangan sekali-kali berpikir untuk memulai pertarungan dengan Volt dan Metalia. Mereka berdua adalah monster elit dengan kekuatan tempur yang sangat jauh dari perkiraanmu. Kekuatanmu sangatlah jauh di bawah mereka. Bahkan, kamu takkan dapat bertahan melawan mereka lebih dari 10 detik. Jadi, tunggulah aku di sana.”
Berbicara tentang avatar nomor 5, Volt, dan avatar nomor 11, Metalia, aku juga tahu bahwa mereka adalah avatar yang sangat sulit untuk dikalahkan. Bahkan kakakku Faridh saja sangat kewalahan untuk mengalahkan mereka.
Metalia memiliki kemampuan untuk mengubah tanah menjadi senjata mematikan dengan jumlah yang tak terbatas selama masih ada tanah di sekitarnya. Kakakku Faridh sampai kewalahan menggunakan Avatar Freeze-nya untuk membekukan setiap senjata yang dibentuknya. Namun, tiap suatu senjata dibekukan, dengan cepat, dia akan membentuk senjata baru lagi.
Hanya dengan menjebaknya ke dalam area es yang membekukan tanah di sekitarnya menggunakan jurus Castle of Ice dengan mengorbankan jumlah MP yang sangat besar, barulah Metalia dapat dikalahkan menggunakan Avatar Freeze.
Volt lebih sulit lagi dikalahkan. Dia mampu menyerang dengan menggunakan listrik sehingga jelas tipe air dan tipe logam yang lemah terhadap listrik adalah lawan yang buruk baginya, termasuk avatar kakakku Faridh, Freeze.
Bisa dikatakan, kakakku Faridh beruntung mengalahkannya berkat kelincahannya menggerakkan avatarnya menghindari tiap serangan Volt sembari menyerangnya dengan Needle of Ice dari jarak jauh.
Tapi tetap saja, aku benci dengan cara Kak Kaiser berucap. Dia seakan-akan memandang rendah diriku. Itu sama saja mengatakan bahwa kekuatanku saat ini belum-lah sepadan untuk berdiri di sisinya.
Tidak butuh bagiku untuk menunggu lama, Kak Kaiser segera datang dalam wujud Avatar Bomber-nya, lalu kami pun menuju ke musuh-musuh yang berbahaya itu.
Namun, belum sampai kami ke sana, tiba-tiba Kak Kaiser berucap, “Arjuna, apakah kamu ingat apa yang membuat Avatar Mecha hampir tak terkalahkan?”
Aku sempat keheranan apa yang sedang dibicarakan oleh Kak Kaiser di hadapanku ini. Mengapa tiba-tiba menyinggung soal Avatar Mecha? Padahal yang ada di hadapan kami saat ini adalah Volt dan Metalia.
“Apa yang…”
Belum sempat aku berkata apa-apa, Kak Kaiser menjawab kebingunganku itu.
“Dengar, Arjuna. Mecha terlibat dengan semua ini. Lihatlah alat yang sementara dialiri listrik oleh Volt.”
Aku lantas memperhatikan alat yang ditunjukkan oleh Kak Kaiser padaku. Betapa kagetnya aku. Dari jauh, aku memang tidak dapat melihatnya dengan jelas, tetapi kini dari jarak sedekat ini, aku akhirnya bisa melihat seseorang sedang terduduk kesakitan pada kursi bermotifkan tengkorak pada sandarannya yang juga bertuliskan ‘7 Dosa’ tersebut.
Apa ini? Monster avatar sialan itu menyandera dan menyiksa seorang warga sipil? Nuraniku pun tergerak untuk segera menyelamatkan warga sipil tersebut. Sayangnya, logika-ku menahanku. Aku jelas-jelas hanya akan menjadi santapan empuk bagi mereka jika aku menyerang mereka tanpa rencana.
Akan tetapi, berhubungan dengan Mecha? Akhirnya aku sadar apa maksud dari kata-kata Kak Kaiser barusan. Kursi bermotifkan tengkorak dan kata ‘7 Dosa’ yang jumlahnya seharusnya ada tujuh buah. Itulah salah satu senjata paling mematikan milik Mecha yang membuatnya dijuluki sebagai ranker terkuat keempat setelah Healer, kakakku Faridh dengan Freeze-nya, serta Raging Fire, Instrumen Tujuh Dosa.
Instrumen Tujuh Dosa adalah suatu instrumen yang mengumpulkan perasaan ‘menyerah dalam keputusasaan lawan’ yang terkumpul ketika lawan menyerah sebelum HP mereka mencapai nol yang ketika itu full, maka Mecha dapat menggunakannya pada pertarungan selanjutnya untuk memastikan kemenangannya.
Suatu instrumen mengerikan yang membuatnya tak terkalahkan. Instrumen yang membuatnya memiliki kemampuan unik selama satu kali pertarungan ketika energi alat itu terisi full. Instrumen yang mampu membuat HP-nya kembali menjadi 100 % seberapa besar pun penurunan HP-nya ketika diserang oleh lawan, walaupun HP-nya hanya tersisa 1 sekali pun.
Ranker Mecha yang terakhir adalah orang yang licik. Dia sengaja menyewa tujuh orang pemain untuk bertarung melawannya dan membuat mereka sengaja mengalah demi tujuan untuk mengisi penuh energi Instrumen Tujuh Dosa avatarnya lalu dia menggunakannya untuk memenangkan pertarungan terhadap ranker lain.
Hanya avatar sekelas Freeze atau Raging Fire saja yang dapat membuat area es atau area api yang memberikan damage HP 100 % yang dapat mengalahkannya. Namun, juga secara ajaib, Ranker Healer mampu mengalahkannya dengan jurus Area Heal-nya yang dapat menetralkan segala jenis buff dan debuff. Itu pasti hanya mungkin karena itu Kak Kaiser.
Lantas apa tujuan Volt sekarang dengan menggunakan instrumen milik Mecha tersebut? Lalu mengapa dia mengalirkan energi listriknya pada instrumen itu sambil menahan seorang sandera di dalamnya?
Belum sempat aku berpikir lebih jauh, Kak Kaiser pun berucap,
“Arjuna, scan dan tandailah ciri-ciri alat itu pada radar Sly Dark.”
Akupun melakukan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Kak Kaiser itu.
Sesaat kemudian, Kak Kaiser lantas memberikan perintah selanjutnya.
“Sekarang pergilah. Cari keenam alat lain yang identik dengan alat itu di sekitar sini lalu hancurkan. Jika tidak, maka akan terjadi suatu hal yang sangat berbahaya.”
“Apa ini? Kakak menyuruhku lari dari pertarungan?!” Mendengar ucapan Kak Kaiser yang seolah mengusirku dari pertarungan itu, aku tak dapat menahan kekesalanku.
“Bukan begitu, tetapi itu karena aku percaya padamu, Arjuna. Hanya kamulah di antara kita yang bisa terbang dan memiliki radar lebih canggih sehingga dapat lebih cepat menemukan keenam alat lainnya lewat udara.”
“Ah, maafkan aku, Kak Bomber.”
“Sekarang pergilah.”
Namun, walau bagaimana pun, aku tetap mengkhawatirkan Kak Kaiser. Ku-ungkapkanlah kekhawatiranku itu,
“Avatar Kakak memang mengandung elemen api, tetapi di saat yang sama mengandung elemen logam yang lemah terhadap jurus Volt. Ditambah dukungan dari Metalia, sehebat apapun Kakak, tetap mana mungkin mengalahkannya seorang diri!”
Aku berteriak kepada Kak Kaiser, namun itu karena rasa sayangku padanya yang tak ingin kehilangannya. Bagiku, sosoknya adalah seorang mentor yang sangat berharga.
“Apa yang perlu kamu khawatirkan? Pertarungan yang kualami lima tahun lalu lebih parah dari situasi ini. Volt dan Metalia memang lawan yang tidak dapat dianggap remeh karena kemahiran mereka dalam pertarungan jarak jauh, tetapi memiliki defensif yang sangat kuat sehingga mustahil pula untuk menyerangnya dari jarak dekat. Tetapi memangnya mengapa? Kamu lupa, Arjuna? Akulah Pahlawan Darah Merah yang akan menyelamatkan semuanya.”
Aku bisa menangkap kepercayaan diri dan kemantapan hati di balik ucapan Kak Kaiser tersebut. Benar kata Kak Kaiser. Aku hanya harus mempercayainya dan melakukan bagian yang kubisa untuk menyupport pahlawanku itu.