Akupun terbangun dari mimpi itu. Tanpa kusadari, air mata telah menetes membasahi pipiku.
“Lho, ada apa Adrian?” Rupanya, Kak Kaiser telah berada di sampingku dalam keadaan tersadar.
Hari itu, aku kebetulan menginap di markas rahasia kami untuk berlatih mengoptimalkan penggunaan side avatar Hard-ku. Dari pengalaman bertarung sebelumnya, aku jelas tidak melakukan hal yang berguna untuk Kak Kaiser. Aku terlambat beberapa milisekon mengaktifkan side avatar Hard-ku dengan sempurna sehingga tamengnya tidak sepenuhnya tertutup melindungiku dari racun Posion Merchant.
Alhasil, bukannya membantu, aku malah menjadi beban buat Kak Kaiser sehingga Raging Fire dan kawan-kawannya berhasil melarikan diri.
Begitu pula dalam kasus Fog, andai saja aku mampu mengaktifkan side avatar Hard-ku secara bersamaan dengan Sly Dark, aku pasti bisa menggunakannya untuk melindungi kakiku sehingga kabut Fog takkan dapat menembus merasuk ke kakiku dan membuatku terjatuh.
Karena jumlah kamar yang terbatas yang hanya ada tiga, di mana 2 lainnya sudah ditempati oleh Profesor Melisa dan Judith, aku akhirnya memilih sekamar dengan Kak Kaiser.
“Ah, tidak Kak. Aku hanya bermimpi soal kenangan masa laluku yang indah bermain Hoho game bersama kakak pertamaku, Kak Faridh. Mungkin karena itu, aku tiba-tiba merasa rindu padanya.” Aku pun menjawab pertanyaan Kak Kaiser itu.
Kak Kaiser tersenyum lembut padaku. Sesaat kemudian dia berujar dengan tetap disertai senyumnya yang menyejukkan itu, “Kamu pasti suka sekali dengan Hoho game ya, Adrian.”
Terasa gemerisik di hatiku di kala Kak Kaiser menyebutkan kembali kata ‘Hoho game’ yang selalu mengingatkanku akan kematian Kak Faridh itu. Namun berbeda dari yang sebelumnya, kini hatiku tak terasa sakit lagi.
“Andai saja malam bencana lima tahun silam tak terjadi, pasti aku sudah kecanduan memainkannya. Namun berkat Kak Kaiser, kini tanganku tidak gemetar lagi saat membahasnya.” Sanggahku samar-samar terhadap pernyataan Kak Kaiser.
Kuihat Kak Kaiser berdiri dari tempat tidurnya yang tepat bersampingan dengan tempat tidurku lantas mengotak-atik isi lemari yang ada di samping sisi lainnya lalu mengeluarkan sesuatu.
“PSV16 tahu, Adrian?” Tiba-tiba Kak Kaiser bertanya padaku.
“Tahu sih Kak. Itu kan game jadul yang konsep gamenya mirip dengan Hoho game jika kita mengabaikan VR-nya. Iya kan?” Dan aku pun serta-merta menjawab pertanyaannya itu dengan spontan.
“Yosh, kalau gitu, mari kita main satu ronde.” Ujar Kak Kaiser seraya mengeluarkan dua buah barang antik yang kalau tidak salah dinamakan konsol game yang dulu sempat populer sewaktu usiaku 4 – 5 tahun.
“Boleh sih Kak, tapi kenapa tiba-tiba di waktu malam-malam begini?” Tanyaku penasaran.
“Kalau gitu, aku pilih karakter Cleric Albert. Adrian pilih karakter yang mana?”
Tampak Kak Kaiser sudah masuk ke dunianya sendiri dan tidak lagi memperhatikan ucapanku. Mau tidak mau, aku menerima tantangan game dari mentorku itu. Tapi sayangnya, aku sudah agak lupa cara kerja alat antik tersebut perihal sudah lama sekali sejak terakhir ku-memainkannya,. Lagian, darimana sebenarnya Kak Kaiser mendapatkan barang antik ini?
Dengan cepat, rasa penasaran di hatiku itu dijawab sendiri oleh Kak Kaiser.
“Kamu tahu, Adrian, game ini kudapatkan dari barang peninggalan kedua orang tuaku yang telah tiada. Kebetulan pengembang pembuatan game ini adalah ayah dan ibuku. Oh iya, ini versi aslinya lho, bukan yang diproduksi massal. Mereka sama-sama ilmuwan IT. Oh, mungkin kamu sudah tidak pernah lagi barangkali mendengar istilah IT ya, Adrian? Itu wajar, soalnya istilah itu sudah tenggelam sejak penemuan akses ke dunia virtual.”
Sembari bermain game, Kak Kaiser terus melanjutkan ceritanya.
Entah mengapa, aku merasakan berat suara Kak Kaiser bertambah. Namun, aku hanya terus mendengarkan ceritanya di suasana di mana aku mulai kembali kantuk itu.
“Karena barang yang sekarang orang bilang kuno dan murahan ini, nyawa ayah dan ibuku harus terenggut demi mencuri data-data penelitian mereka.”
Aku terpaku kaget dengan informasi tiba-tiba soal masa lalu kelam Kak Kaiser yang disampaikannya padaku itu. Namun bodohnya aku, hanya kata-kata tak berarti yang justru keluar dari mulutku, “Jadi waktu Kak Kaiser bilang kedua orang tua Kakak sudah tiada, itu karena mereka dibunuh?”
“Ironis ya. Tidak hanya kedua orang tuaku, tetapi juga kakek dari pihak ibuku yang begitu mendedikasikan diri mereka untuk penelitian sesuai bidang mereka masing-masing, harus terenggut nyawanya perihal hasil penelitian mereka.”
Dapat kutangkap jelas rasa sedih yang begitu mendalam dari lubuk hati Kak Kaiser sekalipun dia mencoba menutupinya dengan senyum lembutnya.
“Tetapi Adrian, kuyakin bahwa mereka bahagia di sana karena mampu menemukan arti diri mereka terlepas akhir naas yang harus mereka terima. Kuyakin Faridh pun demikian. Dan sama seperti kedua orang tuaku serta kakekku, kakakmu itu pasti senantiasa mengharapkan kebahagiaanmu yang ditinggalkannya di dunia ini.”
Ah, aku baru sadar mengapa Kak Kaiser tiba-tiba berucap begitu. Dia pasti mampu menangkap kesedihan dan keputusasaan yang sekilas menutupi hatiku ini. Entah sudah berapa kali, di kala aku ragu, di kala aku kalut, kata-kata Kaiser-lah yang selalu membangkitkan kembali semangatku yang redup. Sungguh, Kak Kaiser memang adalah seorang sosok kakak sekaligus mentor yang baik.
Kuyakin hanya Kak Kaiser-lah seorang selain Kak Syifa yang takkan pernah mengkhianatiku.
Benar kata kata Kak Kaiser. Penting untuk mengenang masa lalu sebagai bentuk cinta kita kepada orang-orang yang telah meninggalkan kita, namun kita tidak boleh terkungkung dalam kesedihan karenanya. Sebab, masa depan yang berisikan kemungkinan tak terbatas terhadap pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang baru selalu terbuka dan menanti kita.
“Terima kasih, Kak Kaiser. Berkat Kakak, pikiranku jernih kembali dan aku pun merasa bisa menyambut pagi ini dengan lebih baik.” Ujarku seraya berupaya meniru senyum cerah Kak Kaiser.
Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 4.30 dan saatnya untuk menyambut pagi.
***
Pagi itu, di koridor dekat perpustakaan lantai 1 gedung fakultas, aku tanpa sengaja berpapasan dengan Bobi. Aku pun menanyakan soal sikapnya kemarin mengkhianati kepercayaan sahabat baiknya sendiri. Mengapa waktu di depan Zenri, dia mendukung ucapannya, tetapi malah mengkhianati janji itu di belakangnya. Dan mengapa pula dia melakukannya tanpa mengatakan apapun padaku.
Kulihat Bobi menghela nafas sebelum menjawab.
“Itu karena aku mengenal baik kamu, Adrian. Kamu terlalu baik. Juga di kala kamu sudah berjanji, kamu akan selalu mempertahankan janji itu tanpa melihat sebab-akibatnya. Mana mungkin aku membiarkan ada makhluk berbahaya yang mampu mengancam kepunahan umat manusia itu hidup. Aku juga sebenarnya kasihan pada makhluk yang menyamar sebagai Riri itu seperti dulu aku menatap Sena. Tetapi…”
Bobi terdiam sesaat sebelum melanjutkan ucapannya.
“Begitulah manusia. Jika menyangkut soal hidup-matinya mereka, mereka akan segera memperlihatkan cakar mereka dan akan melakukan segala daya upaya untuk mempertahankan hidup mereka itu.”
Dan begitulah jawaban yang diberikan oleh Bobi.