101 Avatars

101 Avatars
103. Kaiser vs Magneton



“Mengapa semuanya menjadi begini?  Kami semua diburu hingga hampir semua rekan-rekanku telah lenyap.  Tidak hanya itu saja, sesama rekan avatarku juga membunuh saudaranya sendiri?  Dan Holy juga mata-mata musuh?  Apa-apaan semua ini?  Dan kini, Tuan Raging Fire juga ikut menghilang.  Aku harus apa di kesendirian seperti ini?”


Tampak seorang pria paruh baya bergumam di tengah keramaian jalan.


“Hahahahaha.  Benar juga.  Sisa kusingkirkan saja semua yang mengganggu pikiranku itu.  Mengapa aku mesti repot-repot berpikir?  Para manusia sampah itu tidak berhak menikmati hidup damai.”


Sosok pria paruh baya itu tiba-tiba bersinar dan dia pun berubah wujud menjadi seorang monster.  Dialah Magneton, avatar bernomor seri 12.


Dia membunuh dengan sadis siapa saja yang ditemuinya di jalan.  Hal itu sontak membuat aula pengadilan negeri Kota Jakarta di mana Magneton saat itu berada menjadi riuh penuh kekacauan, berisi rintihan orang-orang yang mencari keselamatan, menyebar nak kerumunan serangga.


***


“Ini gawat.  Satu lagi tempat di mana monster mengamuk.”


Setelah mendengarkan ucapan Mr. Aili sesaat setelah alarm tanda bahaya berbunyi, Syifa, Judith, dan Zio yang tersisa di ruangan itu tak dapat menahan kepanikannya.  Bagaimana tidak, petarung mereka telah pergi mengurus masalah yang lain, sementara satunya lagi masih dirawat di rumah sakit.


Akan tetapi, di saat itulah suatu panggilan terhubung lewat Mr. Aili.  Dialah Kaiser Dewantara yang sedang menghubungi markasnya dari RS Dewantara Group tersebut.


“Mr. Aili, biarkan aku yang menghadapi monster avatar Magneton tersebut.”  Ujar Kaiser dengan yakin.


Hal itu serta-merta mendapat penolakan yang serius dari Damian Dewantara selaku dokter yang merawatnya.


“Tidak boleh.  Apa yang kamu katakan, Kaiser?  Luka-lukamu belum sembuh benar.  Bisa saja terjadi infeksi jika kamu tidak hati-hati bergerak.  Bagaimana mungkin aku akan mengizinkanmu keluar?!”


“Tapi Paman Damian, tidak ada lagi yang sanggup bertarung.  Adrian masih sibuk menghadapi monster lainnya.”  Jawab Kaiser terhadap pernyataan paman mudanya tersebut.


“Sudahlah Paman, izinkan saja Kaiser untuk pergi.  Jika ada apa-apa, aku sendiri yang akan turun menyelamatkannya.”


“Tetapi…”


“Tidak apa-apa.  Semuanya akan baik-baik saja.”


Dokter Damian yang awalnya ragu, akhirnya berhasil dibujuk oleh Dokter Millie sehingga dia pun akhirnya mengizinkan Kaiser Dewantara untuk pergi.


“Terima kasih, Paman.”


Setelah mengucapkan kata terima kasihnya itu, Kaiser Dewantara segera meninggalkan rumah sakit lantas berubah wujud ke bentuk Avatar Bomber-nya lalu bergegas menuju lokasi di mana Magneton berada.


***


Dapat tercium bau darah yang menyengat di pagi yang cerah itu.  Dalam waktu sekejap, aula Pengadilan Negeri Kota Jakarta diubah menjadi lokasi pembantaian berdarah.  Dan di tengah-tengah kekacauan itu, Magneton tertawa puas, bagaikan telah melepaskan hasrat yang selama ini dipendamnya.


“Monster terkutuk, kau akan mati di sini!”  Teriak Kaiser sembari berlari menerjang monster avatar tersebut.


Kaiser mengaktifkan side avatar Fast-nya untuk melengahkan pertahanan Magneton.  Akan tetapi, Kaiser tetap tak dapat berkutik ketika Magneton mengeluarkan jurus magnetnya.  Tubuh Kaiser dalam Avatar Bomber yang hampir keseluruhan tersusun atas logam paramagnetik tersebut, dengan mudah terpengaruh oleh jurus magnet Magneton.  Dia bagaikan baja yang tak dapat lekang dari tarikan kumparan magnet yang kuat.


Walaupun beresiko, Kaiser segera menon-aktifkan armor dari Bomber tersebut lantas beralih ke armor Silent yang lemah agar bisa melakukan serangan balik secepatnya.


“Swuuuush.  Slash, slash.”  Dia lantas memanfaatkan tubuh Silent yang dapat berwarp secara bebas itu untuk menyerang Magneton dari segala titik butanya.


Kaiser memang sudah berlatih keras menggunakan armor Silent tersebut secara virtual lengkap dengan penggunaan senjata utamanya yang berupa bilah pisau kunai.  Akan tetapi, sebaik apapun Avatar Silent dalam berwarp, senjata kunainya tidak akan cukup kuat untuk melukai armor baja Magneton, terlebih kunai tersebut juga terbuat dari logam yang mampu ditarik oleh medan magnet Magneton.


“Cling, trak!”  Senjata kunai itu pun direbut dengan mudahnya oleh medan magnet dari Magneton.


Kemudian dengan mudah pula Magneton mentracking keberadaan Kaiser yang bersembunyi dengan menebak dari pola arah serangannya.  Lalu kemudian,


“Traaaaak!”


“Tertangkap kamu, pecundang!”  Ujar Magneton sembari menyeringai begitu berhasil mendapatkan Kaiser dalam genggaman tangannya.


“Puaaak.  Puaaak.  Puaaak.  Puaaak.”  Magneton kemudian melayangkan pukulannya secara membabi buta ke tubuh Kaiser yang hanya dilindungi oleh armor tipis Silent tersebut.


“Ukh!  Jangan pikir kau sudah menang, monster sialan!  Kalian yang menikmati membunuh manusia, suatu saat akan berakhir tragis di tanganku.  Nikmatilah kemenanganmu ini untuk sesaat.”  Kaiser memprovokasi Magneton.


“Apa yang kamu katakan?  Kamu pikir dapat meloloskan diri dari tanganku?  Asal kau tahu, kau akan mati di tanganku hari ini.  Jadi lupakan saja pikiran tak berarti soal balas dendammu itu karena kamu sama sekali takkan punya peluang untuk balas dendam setelah mati!”  Balas Magneton terhadap provokasi Kaiser tersebut.


Namun, Kaiser tersenyum dari balik helmetnya.  Masih ada kartu di tangannya yang dapat dia mainkan.  Dia lantas mengaktifkan kemampuan Silent sekali lagi.


“Swuuuush.”


Dalam sekejap, Kaiser lepas dari jeratan Magneton.  Dia segera beralih kembali ke bentuk Avatar Bomber-nya.  Namun, satu yang Kaiser tak duga, yakni Magneton bisa membaca pergerakannya.


“Bam bam bam bam.”


“Aaaaaakh!”  Teriak Kaiser penuh kesakitan.


Seketika, empat jarum magnet yang sebelumnya telah disiapkan oleh Magneton pada posisinya, ditembakkan dari atas, lantas sekejap melumpuhkan pergerakan pemuda itu.


Magneton pun melangkah pelan menuju ke arah pemuda yang telah tak berdaya itu.  Magneton kemudian mensummon senjata tongkat magnet raksasanya, lalu hendak menikam jantung Kaiser untuk menghabisinya.


“Sampai di sinikah akhirku?  Maaf, Judith, tampaknya Kakak tak lagi dapat bersamamu.  Kakak akan segera menyusul Andina di alam sana.”  Sembari bergumam dalam hati, Kaiser pun dalam kepasrahan, menutup matanya, menunggu serangan akhir tersebut tanpa perlawanan lagi.


Namun di kala itulah, satu lagi sosok monster avatar datang, tetapi dia justru menyelamatkan Kaiser.


“Clang.”


Dialah Carnaval.  Dengan tongkat ala penyihir di tangannya, dia mencegah Magneton menusukkan tongkat jarum magnetnya ke tubuh Kaiser.


“Kamu, avatar sistem sialan!  Mengapa kamu ikut campur urusanku?!”  Magneton tak dapat menahan kekesalannya itu setelah senjatanya ditangkis secara sempurna oleh Carnaval.


“Aaah, hah, rupanya tangkisan biasa seperti itu saja terhitung serangan.  Sistem, kau terlalu kejam padaku.  Baiklah kalau sudah begini.”  Namun tampak Carnaval malah menggumamkan hal lain ketimbang menanggapi pernyataan Magneton tersebut.


“Pemuda ini sudah tidak sanggup melawanmu.  Bagaimana kalau kamu berduel denganku, Magneton?  Jarang-jarang kan, kamu dapat pengalaman bertarung dengan avatar sistem?”  Ujar Carnaval sembari berdiri di hadapan Kaiser untuk melindunginya dari Magneton.


“Kau, avatar sistem sialan!  Selama ini padahal kau hanyalah seorang wasit pertandingan yang menyaksikan pertandingan dari samping arena.  Kini, kau berlagak seolah-olah juga merupakan petarung seperti kami, avatar petarung, setelah dekat-dekat dengan si Healer.  Tidak bisa kumaafkan sikap angkuhmu itu!”  Magneton yang terprovokasi amarah itu lantas tak dapat menolak ajakan duel dari Carnaval.