101 Avatars

101 Avatars
141. Penjelajahan Hutan Kabut Hijau



Kami pun memulai penyelidikan kami ke dalam hutan di mana dikabarkan ada naga hijau yang terkorupsi oleh iblis sebagai penyebab munculnya kabut hijau beracun ini.


Tidak lama setelah kami cukup dalam menyusuri hutan, hewan-hewan liar yang terkorupsi oleh kabut hijau pun mulai berdatangan ke arah kami, secara ganas ingin menerkam kami. Kami dengan mudah dapat mengalahkan mereka.


Yang jadi masalah adalah beberapa pepohonan di sekitar kami juga terkorupsi oleh kabut hijau itu dan mulai memiliki kemampuan monster mereka dengan bertindak layaknya tanaman karnivora mengincar lalat, dan kamilah yang bertindak sebagai lalatnya di sini.


Kami pun memperketat formasi kami demi mempertahankan diri dari serangan hewan liar dan tumbuhan karnivora yang menerjang menyerang kami. Kami hampir membabat habis seisi hutan.


Namun ternyata, itu belumlah keadaan yang terburuk. Di saat kami melangkah lebih dalam lagi ke tengah hutan, kami pun berpapasan dengan orang-orang aneh, tidak, mereka memang mirip manusia, tetapi tampaknya tidak seperti itu.


Kulit mereka hitam legam dengan taring yang panjang dan warna iris mata yang kuning menyala. Mereka pun berbahasa dengan bahasa yang tidak kami pahami. Mereka serta-merta menyerang kami. Tetapi keadaan ini cukup gawat karena pakaian kami kurang memungkinkan untuk menghadapi serangan mereka yang cukup lincah.


Terlepas dari hewan liar yang hanya bergerak dengan insting sehingga kami masih sanggup walaupun hampir di ambang batas menghadapi mereka dengan memperketat formasi pertahanan kami, namun makhluk yang menyerupai manusia di hadapan kami saat ini nampaknya juga memiliki intelegensia yang tinggi layaknya manusia.


Mereka bisa berpikir dan melakukan strategi yang membuat kami terdesak. Pakaian isolasi wabah kami pun jadi compang-camping dan kami terpaksa bergerak mundur dari tempat itu untuk saat ini. Untungnya, kami bertujuh dapat selamat dari kejaran mereka.


Kami menyusun ulang rencana tentang bagaimana membuat pakaian anti racun yang lebih fleksibel dalam bergerak. Kak Kaiser dan Kak Arskad turut membantu kami kali ini. Sayangnya, hal itu justru membuat bagian pengumpul informasi menjadi kekurangan orang karena Paman Arthur dan Tante Sandra sebagai penghasil uang terbanyak di antara kami mutlak tetap harus melanjutkan pekerjaannya.


Hanya Paman Shou yang menganggur saat ini yang bisa ditugaskan untuk mencari informasi. Tetapi dengan perangainya yang pemarah, aku ragu dia dapat menjalankan tugas itu dengan baik. Aku pun mengusulkan diri untuk menemani Paman Shou dalam mengumpulkan informasi. Informasi terutama tentang identitas makhluk menyerupai manusia yang kami temui di dalam hutan itu.


Kami menemukannya. Penduduk setempat menyebut mereka sebagai Hadaka, yakni hantu yang selalu mengincar hati manusia untuk dimakan. Tetapi jelas-jelas yang kami lihat kemarin itu wujud fisik dan bukannya hantu. Dikatakan jika mereka datang, maka segera taburkan bawang putih di pekarangan rumah kalian karena mereka sangat membenci bau bawang putih.


Bukankah ini sangat mirip dengan legenda vampir? Kalau diperhatikan lagi, gigi mereka memang tajam mirip vampir, tetapi kulit mereka kan hitam segar, tak mirip vampir yang pucat.


Aku pun menyudahi investigasiku sampai di situ saja karena kami tak dapat lagi menemukan informasi yang berarti. Yang jelas, mungkin informasi bahwa mereka tidak menyukai bau bawang putih ini dapat dijadikan referensi untuk menyusun senjata yang efektif untuk mengalahkan mereka.


Mereka mengubah baju kami ke dalam bentuk slim suit yang dilengkapi penyaring udara praktis di bagian mulut dan hidungnya. Kemudian dengan tambahan informasi dariku, kami pun memodifikasi senjata khusus untuk menghadapi sang makhluk hadaka ini.


Tanpa menunggu waktu lama lagi sore hari itu juga, kami kembali melakukan ekspedisi kami ke dalam hutan. Jauh di dalam hutan, kami akhirnya kembali berhadapan dengan para hadaka ini.


Aku memulai seranganku dengan mencampur bau bawang putih pada kabut hijau beracun itu yang entah mengapa para hadaka tersebut sama sekali tampak tak terpengaruh akannya. Namun ketika mereka mulai mencium bau powder bawang putih yang kutembakkan yang kucampurkan dengan beberapa herbal dengan teknik yang diajarkan oleh Silvia padaku untuk menguatkan bau produk herbal tertentu, para hadaka itu akhirnya mulai tampak kesakitan.


Mereka mengerang kesakitan seolah bawang putih itu mengorek-ngorek kulit mereka. aku telah salah paham, bukan bau bawang putih yang berbahaya bagi mereka, tetapi zat di bawang putih itu sendiri yang sedikit saja sentuhan pada kulit mereka, dapat menyebabkan kulit mereka meleleh. Jelas-jelas mereka adalah makhluk yang berbeda dari manusia.


Melihat pergerakan mereka yang melemah berkat merasakan kesakitan tersebut, ditambah dengan gerak kami yang kini dapat lebih lincah, terima kasih berkat invensi Paman Dios dan kawan-kawan, kami dapat membabat dengan mudah para hadaka itu.


Rupanya, berbeda dengan hewan-hewan liar yang terkorupsi atau yang kita istilahkan dengan beast, setelah mereka dikalahkan dan tewas, mereka tidak menghilang menjadi asap atau meleleh menjadi cairan menjijikkan. Jasad mereka tetap tinggal apa adanya layaknya manusia yang meninggal.


Kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke arah lebih dalam dari hutan. Di situlah kami akhirnya menemukan markas dari para hadaka itu. Kami pun menyerbu markas mereka, membunuh setiap dari mereka yang kami temui, tidak peduli itu anak-anak atau entitas yang lemah lainnya, perihal ini adalah perang.


Belum ada bukti yang spesifik, tetapi besar kemungkinan bahwa merekalah penyebab kemunculan kabut hijau beracun ini atau minimal mereka smeua terlibat di dalamnya. Yah, walaupun itu semisalnya keliru, itupun tak mengapa, lagian mereka hanyalah karakter dalam dunia game.


Kami memporak-porandakan seisi desa. Di situlah kami menyaksikan makanan mereka yang baru sementara mereka masak. Ternyata benar apa yang disampaikan oleh buku. Makanan mereka tidak lain adalah hati manusia yang mereka campurkan dengan ekstrak kabut hijau yang terserap oleh dedaunan, mungkin sebagai bumbu pelengkap bagi mereka menikmati hati manusia layaknya kita yang manikmati daging ayam dengan bumbu rempah-rempah.


Yah, walaupun bagian buku yang menyampaikan bahwa mereka adalah hantu adalah keliru karena mereka jelas-jelas memiliki entitas.


Jauh berselang kami mengotak-atik seluruh isi markas mereka, tanah tiba-tiba bergetar dan ruang bawah tanah pun terbuka. Aku, Paman Shou, Paman Dios, Kak Arskad, dan Kak Kaiser masuk ke dalamnya, sementara Paman Arthur dan Tante Sandra berjaga di luar jika terjadi apa-apa.


Di dalam ruang bawah itulah kemudian kami melihat suatu cahaya hijau yang nampak berkilauan. Kami pun memperhatikan sumber cahaya hijau tersebut secara seksama. Rupanya, cahaya itu berasal dari suatu entitas seukuran setengah tinggi manusia normal berbentuk oval berwarna putih dengan bintik-bintik hijau. Itu adalah telur raksasa.