Seketika mereka melihat sosok monster yang ada di depan mereka itu yang walaupun mereka berdua kurang familiar dengannya karena Nafisah sendiri tidak pernah memainkan Hoho game, sementara Bobi hanya sekadar memainkannya untuk mengobati rasa penasarannya, mereka tahu betul bahwa itu pasti salah satu sosok monster avatar dari ciri-cirinya.
Nafisah dan Bobi pun berdiri dengan siaga di depan sosok monster itu. Melihat ekspresi ketakutan sang mangsa, Freeze tak dapat menahan tawa puasnya.
Freeze pun menatap mangsanya baik-baik. Dia telah memutuskan apa yang akan dilakukannya pada mangsa malangnya itu. Daripada menyerang jarak jauh yang merupakan andalannya, Freeze mendekati mereka berdua untuk menyerang.
“Maafkan aku wahai wanita, aku tidak punya masalah denganmu, tetapi salahkan dirimu karena dicintai oleh Blue Batboy.” Ujar Freeze sembari hendak menyerang Nafisah.
Mendengar ucapan Freeze itu, bukannya takut atau waspada tehadap serangannya, muka Nafisah malah memerah.
“Aku juga dicintai Adrian?” Lirih Nafisah.
Melihat Nafisah yang lengah, Bobi-lah yang maju melayangkan tinjunya kepada Freeze.
“Nona Nafisah, sadarlah! Ini bukan saatnya memikirkan soal asmara.” Teriak Bobi.
Seketika mendengarkan teriakan Bobi itu, Nafisah segera tersadar dari khayalan asmaranya lantas berfokus kembali kepada sosok monster yang ada di hadapannya itu.
“Ugh, kulitnya keras keras dan dingin sekali. Ini tidak ada bedanya dengan memukul es.” Keluh Bobi sehabis memukul Freeze. Terlihat tangannya sudah lecet-lecet duluan padahal baru melayangkan beberapa pukulan kepada monster tersebut.
Freeze pun maju kembali ke hadapan Nafisah,
“Hiyaaat!” Tetapi kali ini, Nafisah dengan sigap mempraktikkan ilmu beladirinya,
“Braaak!” Lantas membuat Freeze tersungkur ke tanah.
Tetapi manusia tetaplah manusia, mereka tidak ada tandingannya terhadap kekuatan overpower para monster avatar. Terlebih, sosok monster avatar yang sedang berdiri di hadapan mereka saat ini adalah avatar yang dirancang dengan spek terkuat, avatar bernomor seri 1, Avatar Freeze.
Dalam sekejap, Freeze membuat Nafisah tidak berdaya.
“Buaaaak!” Bobi pun melayangkan tendangannya sehingga dalam waktu sesaat, Nafisah bisa lepas dari jeratan Freeze.
“Larilah, Nona Nafisah! Aku akan memberikan waktu kepada Anda untuk kabur.” Teriak Bobi kepada Nafisah.
Namun, bahkan sebelum Nafisah hendak bereaksi, entah itu melakukan sesuai dengan apa yang diperintahkan Bobi, atau malah menolaknya dengan alasan kesetiakawanan,
“Fuuuush!”
Hawa es dari Freeze menjalar lebih dulu dan membekukan daerah di sekitar kaki Nafisah yang membuat wanita berjilbab papaya itu tak dapat lagi melepaskan kakinya dari pijakannya di tanah.
Sesaat kemudian, Freeze tiba-tiba berbicara seorang diri dengan menatap ke arah langit.
“Kamu lihat itu sendiri kan, Adrian? Sekarang, wanita yang kamu cintai ada di tanganku. Jika kamu ingin menyelamatkannya, datanglah seorang diri ke tempat ini. Camkan baik-baik, begitu sedikit saja aku merasakan tanda-tanda kehadiran Pahlawan Darah Merah bersamamu, maka aku takkan segan-segan membunuh wanita jelita ini.”
Ujar Freeze dengan bibir monsternya tersungging yang begitu memberikan intimidasi yang sangat kuat.
Rupanya, Freeze tidaklah berbicara sendiri. Dia sedari tadi sudah menyadari keberadaan beberapa drone milik AI5203 di sekitar tempat Nafisah berada. Dia sengaja berbicara seperti itu untuk memprovokasi Adrian agar keluar dari sarangnya yang mungkin saja sedang menonton rekaman video yang direkam oleh para drone milik AI5203 itu.
***
Tetapi tidak seperti dugaan Freeze, Adrian sedang sibuk berlatih demi bertambah kuat di ruang latihan virtual selama ini bersama Kaiser, mentornya itu, sehingga tidak menyadari rekaman video dari drone Mr. Aili tersebut.
Hanya Mr. Aili-lah yang kala itu menyadarinya. Dia pun segera mengonsultasikan hal tersebut kepada Profesor Melisa dan Syifa.
“Mr. Aili! Apa maksudnya dengan semua itu?! Apa maksudnya dengan Nafisah diserang?!” Adrian yang tak dapat menahan amarah dan frustasinya, lantas berujar dengan sekencang-kencangnya.
“Tenanglah, Adrian, mari kita dengarkan penjelasan Mr. Aili terlebih dahulu.”
Setelah ditenangkan oleh Kaiser, barulah Adrian dapat menjadi sedikit lebih tenang. Kaiser yang juga baru datang sehingga baru menyesuaikan situasi segera menatap Mr. Aili baik-baik.
Setelah Adrian mulai tenang, barulah kembali Mr. Aili menjelaskan masalahnya kepada Adrian dan Kaiser yang pada saat itu baru saja tiba.
“Monster sialan itu! Lagi-lagi dia rupanya! Bagaimana pun, akulah yang akan membunuh monster sialan itu!” Adrian tak dapat menahan kekesalannya begitu mengetahui bahwa rupanya Freeze-lah yang telah melukai dan menculik Nafisah.
“Tenang, Adrian. Seperti yang kukatakan sebelumnya, pengalamanmu masih kurang. Kamu belum mampu untuk menghadapi monster avatar single number, apalagi Freeze dengan spek terkuat.” Kaiser pun memberikan nasihatnya kepada pemuda yang sedang dipenuhi amarah itu.
“Tidak, Kak Kaiser. Biarkan aku yang menghadapi seorang diri monster sialan itu kali ini. Jika memang aku tidak bisa mengalahkannya, barulah Kakak yang akan turun tangan. Yang penting sekarang adalah agar Nafisah bisa selamat. Juga ada Bobi di tempat itu. Dia juga adalah temanku yang berharga. Kumohon, Kak Kaiser, sekali saja, biarkan aku yang menghadapinya. Percayalah padaku!”
Ujar Adrian meminta dengan tulus pengertian dari mentornya itu.
Seketika, Kaiser terngiang kembali dengan perkataan AI5203 sebelumnya,
“Jawabannya harga diri, Kaiser. Terkadang, banyak orang yang rela kehilangan nyawanya lantaran harga dirinya diinjak-injak. Terkadang kamu harus jeli melihat anak didikmu sendiri. Tidakkah kamu melihat bahwa betapa dia ingin dipuji olehmu, mentornya yang sangat dihargainya?”
“Aku baru menyadari bahwa kamu ternyata orang sangat overprotektif ya, Kaiser.”
Kaiser seketika tersadar. Dia tidak ingin melihat Adrian berada di posisi yang depresi seperti waktu itu.
“Harga diri kah? Sampai kapan pun, aku mana bisa memahaminya.” Lirih Kaiser dalam suara pelan.
“Eh, Kakak bilang sesuatu?” Tanya Adrian heran begitu mendengar Kaiser mengungkapkan sesuatu secara tiba-tiba.
Kaiser pun menggelengkan kepalanya terhadap ucapan Adrian tersebut.
“Tidak, bukan apa-apa, Adrian.” Ucap Kaiser disertai dengan ekspresi kusut di wajahnya.
Akhirnya, setelah mempertimbangkan sejenak,
“Baiklah, aku memberimu izin, Adrian.
Dengan berat hati, Kaiser pun memberikan izinnya kepada Adrian dalam melakukan perbuatan yang beresiko tinggi itu demi menjaga harga diri anak tersebut. Bagi Kaiser, keselamatan Adrian adalah hal yang terpenting. Akan tetapi di luar itu, melihat anak itu dapat hidup bahagia dan menjadi individu seutuhnya dengan percaya diri adalah juga merupakan hal yang sangat penting.
Kaiser pun melanjutkan,
“Tetapi ingat untuk segera melarikan diri ketika keamanan Nafisah dan Bobi sudah dipastikan. Dan juga, jika kamu merasa tak sanggup lagi bertahan, tidak usah sungkan untuk menarik diri. Jangan sampai terbutakan oleh harga diri sehingga lupa dengan keselamatan diri sendiri. Ingat bahwa selama kita masih hiduplah, kita dapat membalas rasa kekalahan tersebut.”
Kemudian dengan senyum tersungging di bibirnya, Adrian pun berujar, “Siap Kak,” sambil menatap terharu ke arah wajah mentornya yang pengertian tersebut.
Akan tetapi sebelum Adrian berangkat, Kaiser sekali lagi menambahkan sesuatu,
“Tetapi sebelum itu, biarkan drone petarung dan medis milik Mr. Aili ikut untuk membantu proses evakuasi Nafisah dan Bobi sekaligus untuk menyupportmu dari belakang. Bukankah monster itu hanya mengatakan agar aku tidak ikut? Lagipula defenisi seorang diri masih terpenuhi jika para drone ikut karena mereka bukanlah makhluk hidup jadi tidak dapat dihitung sebagai tambahan orang.”
Demikianlah Kaiser berucap dengan senyum licik penuh arti.