101 Avatars

101 Avatars
6. Dewi Pujaanku, Nafisah, dalam Bahaya!



Sesuai janjiku pada kakakku Syifa kemarin, aku akan menjemputnya di depan kantornya tepat pada pukul 4 sore ini untuk sama-sama menuju ke alamat yang diberikan oleh Kak Bomber pada kami tersebut.


Seharusnya, mata kuliah ketigaku berakhir pada pukul 4 sore.  Akan tetapi, aku meminta izin kepada dosenku untuk keluar lebih awal hari ini sekitar pukul 3 sore agar punya waktu sekitar 1 jam untuk menuju ke kantor kakakku.


Salah satu keunggulan universitas terbaik di Kota Jakarta ini adalah bahwa mahasiswa dapat lebih bebas memilih sendiri tentang apakah mereka ingin hadir atau tidak hadir perkuliahan tanpa dikekang oleh ancaman ketidaklulusan jika kehadiran minimum perkuliahan tertentu tidak tercapai.


Pada prinsipnya, menghadiri perkuliahan adalah hak mahasiswa yang tak boleh dikekang, termasuk oleh para dosen.  Tentu saja karena kami di universitas ini semua bertujuan untuk menambah dan menempa ilmu, maka tidak ada satu pun mahasiswa di sini yang malas menghadiri perkuliahan.


Setelah aku keluar dari gedung fakultas, aku pun berjalan menuju ke tempat parkir motorku.  Di situ, pandanganku kembali tertuju pada salah satu cabang Toko Kue Bernard, toko kue kesayangan kakakku itu, yang terletak di antara gedung fakultas dan tempat parkir motor fakultas kami.


Aku pun menyempatkan diri memasuki toko kue itu hendak membelikan oleh-oleh buat kakakku yang sempat batal kemarin perihal kejadian dengan Avatar Mantis tersebut.


Namun, begitu aku masuk di sana, lagi-lagi hatiku dipanaskan oleh pemandangan Kaiser Dewantara yang sedang bermesra-mesraan dengan dewi pujaanku, Nafisah.  Sebelum mereka menyadari keberadaanku, aku pun berniat diam-diam menyelinap keluar toko.  Akan tetapi, tiba-tiba dewi pujaanku itu memanggil namaku.


“Adrian?”  Sapa dewi pujaanku itu dengan suaranya yang syahdu kepadaku.


Aku sama sekali tidak menduga bahwa dewi pujaanku itu mengingat namaku perihal kami berinteraksi baru sekitar tiga kali saja.  Pertama, saat aku meminjamkan pulpenku padanya ketika tinta pulpennya macet pada saat ujian masuk universitas.  Kedua, saat ramah-tamah masa orientasi mahasiswa baru.  Ketiga, saat tanpa sengaja kami semeja sewaktu belajar mandiri di perpustakaan fakultas kami baru-baru ini.


Itu pun pada pertemuan pertama, kami hanya baku tatap kurang dari sepuluh detik dan bahkan aku tidak sempat memperkenalkan namaku padanya.  Sementara di pertemuan kedua dan ketiga kami, kami hanya bertemu secara kelompok saja.


Tak kusangka sang dewi mengingat namaku.  Senangnya rasanya!  Hatiku langsung rasanya klepek-klepek.  Namun, walau hatiku melonjak gembira, aku berusaha mempertahankan keelegananku dengan tetap tenang untuk menunjukkan pesonaku sebagai seorang pria padanya.


“Hai…Hai, Nafisah.”  Tapi tidak bisa, aku langsung tergagap.  Aku selalu gugup ketika harus berbicara langsung kepada dewi pujaanku itu.


“Kok kamu sudah balik?  Bukankah anak fisika virtual tahun pertama kuliahnya sampai pukul 4 sore hari ini?”


Glek.  Di hari pertama aku bolos kuliah setelah mempertahankan rekorku sebagai anak rajin selama lebih dari 2 bulan ini, aku langsung kepergok oleh dewi pujaanku.  Oh, tidak!  Betapa malunya aku!


“Ah, aku ada janji dengan kakakku yang tidak bisa ditunda pukul 4 sore ini, jadi aku pulang cepat.  Hehehehehe.”  Jawabku dengan canggung terhadap pertanyaan Nafisah itu.


Namun, sebelum dewi pujaanku itu merespon jawabanku, lagi-lagi Kaiser Dewantara datang mengantarai kami bagai kumbang yang tak tahan dengan harumnya bunga yang indah di taman.


“Dik Nafisah kenal dengan anak ini?”


Apa?  Anak?  Berani-beraninya Kaiser Dewantara sialan ini menganggapku sebagai anak kecil!  Padahal usiaku sudah 18 tahun.  Aku benar-benar merasa tidak cocok dengan makhluk yang satu ini.


“Oh, iya, Kak Kaiser.  Dia anak Jurusan Fisika Virtual angkatan pertama.”


“Oh, Fisika Virtual ya?  Kalau begitu, kita sejurusan ya.”


Apa-apaan dengan sosok makhluk yang satu ini?  Mengapa dia sok kenal banget padaku padahal baru pertama kali ini kita bertemu?  Dan apa-apaan pula attitude seperti atasan itu kepadaku?  Satu yang aku pastikan, karakter kami benar-benar tidak cocok.  Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah sudi untuk dekat-dekat apalagi sampai berteman dengannya.


Namun, demi dewi pujaanku, Nafisah, aku harus terlihat ramah di hadapan orang yang dianggapnya teman.


“Oh, begitu ya.  Salam kenal Kak.”  Jawabku seraya memberikan senyum palsu padanya.


Kulihat dia menjulurkan tangannya sembari menyebutkan namanya.  “Perkenalkan, namaku Kaiser Dewantara, anak S2 tahun pertama jurusan fisika virtual,” ucapnya dengan senyum menyebalkannya itu.


Aku pun melirik ke arah Nafisah dan tampak dia memperhatikan kami.


“Baiklah, demi Nafisah, aku harus berpura-pura ramah di hadapan orang ini,” begitulah pikirku dalam hati.


“Salam kenal Kak, namaku Adrian Pamungkas.”  Akhirnya, aku pun memutuskan untuk menjabat tangan itu seraya memberikan senyum palsuku yang terbaik.


“Oh, sudah pukul 15.10.  Aku harus buru-buru balik lab, Kak Kaiser, Adrian, soalnya spesimenku harus segera didekantasi.  Maaf ya.  Kak Kaiser, nanti hubungi aja lewat telepon ya.”  Ujar Nafisah seraya memberikan kode isyarat menelepon kepada Kaiser Dewantara dengan senyum manis dewiku itu sebelum meninggalkan toko kue.


“Jadi, hubungan mereka rupanya telah cukup dekat hingga sampai telepon-teleponan, ya.”  Desahku dalam hati.


Api amarah perihal cemburu pada rival cintaku itu pun tersulut.  Hingga tanpa sadar,


“Dik Adrian.”  Ujar Kaiser Dewantara seraya hendak menyentuh pundakku.


Namun, aku segera menepis tangan Kaiser Dewantara yang hendak menyentuh pundakku itu dengan kasar dan kalimat terlarang itu pun terucap dari mulutku.


“Hentikan sikap sok ramahmu itu!  Aku tidak ingin dekat-dekat denganmu karena aku sangat membencimu.”


Tapi ya sudahlah.  Lagipula aku juga membencinya dan tak ingin dekat-dekat lagi dengannya.  Kemudian, tanpa menoleh lagi padanya di belakang, aku pun turut meninggalkan toko kue tersebut.


Aku kira, nasib burukku hari itu hanya akan sampai di situ saja.  Akan tetapi, sekitar enam langkah aku meninggalkan toko tersebut, tiba-tiba,


“Aaaaaaaakh!”


Suara teriakan dengan warna suara yang tidak asing lagi bagiku itu pun terdengar.


“Nafisah?”


Aku pun menoleh ke arah sumber suara.  Betapa kagetnya diriku begitu mendapati bahwa Nafisah telah dibawa melayang ke langit oleh suatu sosok monster.  Sosok monster mirip kelelawar, tetapi berpostur tubuh mirip manusia yang memilki jari-jari tangan layaknya manusia pada tiap sayapnya itu.  Avatar Nomor Seri 70, Avatar Sly Dark.


Sekarang bukan waktunya untuk panik karena nyawa Nafisah sedang dipertaruhkan.  Aku pun segera mencari tempat sepi untuk mengganti tubuh manusiaku dengan tubuh avatarku, Avatar Arjuna, melalui gelang pemberian Kak Bomber itu.


Namun, aku kebingungan tentang apa yang harus aku lakukan.


Avatar Arjuna tidak diragukan lagi adalah avatar yang menguntungkan untuk digunakan melawan avatar tipe terbang seperti Sly Dark karena memiliki fungsi serangan jarak jauh yang kuat.  Akan tetapi, saat ini monster licik itu sedang menyandera Nafisah di cakarnya.  Jika seranganku meleset sedikit saja, nyawa Nafisah bisa dalam bahaya.


“Beginilah yang memang diharapkan dari sosok pahlawan.  Dik Adrian langsung terjun untuk menolong tanpa gentar ketika ada warga sipil yang terancam dalam bahaya.  Aku bangga padamu, Dik Adrian.”


Tiba-tiba, dari helmet kostum avatarku, sebuah suara menggema.  Sebuah suara yang tidak asing lagi bagiku.  Dialah Kak Bomber.


Entah mengapa aku selalu senang ketika mendengarkan pujian darinya.  Hanya dengan beberapa kata dari Kak Bomber itu, tubuhku yang semula gentar, secara ajaib memperoleh keberanian dan kekuatannya.


“Sekarang, Dik Adrian, dengarkan instruksiku baik-baik untuk mengalahkan Avatar Sly Dark.”  Ujar Kak Bomber padaku.  Dan aku pun jadi kembali bersemangat.