101 Avatars

101 Avatars
16. Perasaan yang Terkungkung oleh Kabut Tebal



Pagi itu, aku masuk kampus seperti biasanya.  Namun, di dalam ruangan kuliah, hanya kudapati Zenri di sana tanpa Bobi di sisinya.  Tidak seperti biasanya karena ke mana pun mereka, mereka akan selalu bersama.  Aku yang penasaran pun menanyakan hal tersebut kepada Zenri.


“Zenri, Bobi ke mana?  Kok dia tidak ada?”  Tanyaku kepada Zenri.


“Oh, dia lagi ikut kegiatan ekskul mapala-nya.  Tampaknya pagi ini mereka akan berangkat ke Gunung Suzana.”  Jawab Zenri padaku.


Semula, aku berpikir itu baik-baik saja karena hal yang wajar jika anak mapala sekali-kali pergi memanjat gunung sebagai bentuk kecintaan mereka terhadap alam.  Namun, aku menangkap sesuatu yang salah dari ekspresi Zenri.


“Lantas kok kamu terlihat bingung gitu, Zenri?”


Ekspresi Zenri memuram.  Dia pun terdiam.  Namun, setelah menunggu beberapa saat, dia pun membuka suaranya.


“Kamu tahu, belakangan ini banyak pendaki gunung yang hilang di sana karena ketebalan kabutnya yang mendadak memburuk seolah sesuatu yang mistis telah terjadi di sana.”  Jawab Zenri dengan lemas.


Aku pun tertawa terbahak-bahak, menertawakan Zenri yang sampai percaya hal mistis tidak masuk akal seperti barusan.  Setelah obrolan kami, perkuliahan pun berjalan seperti biasa, dan aku pun pulang lantas menyegerakan langkahku ke markas rahasia kami.


Di situ, kabar yang membuatku shok rupanya telah menantiku.  Kak Kaiser mesti melakukan perjalanan luar negeri perihal kemunculan avatar nomor 16, Avatar Hard, di Afrika Utara, serta avatar nomor 82, Avatar Hole, di Thailand.


Seharusnya kami sudah menduganya perihal kemunculan avatar yang tidak hanya bisa di Jakarta saja sebab para avatar mampu memimik manusia dengan sempurna termasuk fungsi morfologi dan fisiologi mereka sehingga akan dengan mudah melewati pemeriksaan baik di bandara maupun di dermaga.


Namun, bukan itu bagian terburuknya.  Bagian terburuknya adalah selama kepergian Kak Kaiser ke luar negeri, aku harus berjuang sendiri mempertahankan kota ini dari ancaman para avatar.


Lalu peristiwa itu pun terjadi.  Seminggu kemudian, tidak, tepatnya 9 hari, berita Bobi dan rekan-keran mapala-nya menghilang di Gunung Suzana pun mencapai telinga teman-teman sejurusan, termasuk aku.  Namun, tidak hanya itu.  Berdasarkan laporan drone AI5203, ditemukan keberadaan avatar nomor 96, Avatar Sena, di sekitar gunung tersebut.


Bagitu mengetahui hal tersebut, aku pun bergegas ke tempat itu.


***


“Duh, Senior, bagaimana ini?  Tampaknya kita tersesat.  Terlalu banyak kabut di tempat ini sehingga penglihatan ke depan kurang jelas.”  Tanya salah seorang di antara mereka kepada seseorang yang dipanggilnya sebagai Senior.


Bobi pun di belakang turut menyaksikan ketakutan rekannya itu yang panik sambil terus menanyakan berbagai hal pada seniornya.  Tidak hanya dia saja, tetapi hampir seluruh tim pendaki gunung mengalami hal yang sama.  Perihal, mereka sudah mengitar-ngitari tempat yang sama selama 6 hari seolah mereka sengaja disesatkan oleh suatu makhluk mistis perantaraan kabut tersebut.


Mereka telah mendaki gunung selama hampir delapan hari.  Padahal rencana awal mereka, mereka hanya perlu waktu sekitar 3 hari untuk naik gunung, kemudian camping di sana sekitar 2 hari, lalu turun kembali selama 3 hari.  Jadi, total yang diperlukan untuk pendakian mereka adalah 8 hari sehingga mereka harus mengemas persediaan makanan mereka untuk 8 hari.


Namun, sang kapten telah memperingatkan mereka untuk membawa lebih banyak cadangan makanan untuk sesuatu yang tidak terduga.  Dan di sinilah mereka saat ini, dalam keadaan terombang-ambing yang hampir kehabisan makanan dan minuman.


Tepat di hari ketiga pendakian mereka di mana mereka akhirnya sadar telah tersesat dan bahaya jika melanjutkan pendakian, mereka pun memutuskan untuk kembali ke arah jalan yang mereka tempuh sebelumnya.  Namun anehnya, mereka tidak dapat menemukan jalan pulang itu walaupun di samping mereka ada pendamping pendaki yang sudah berpengalaman terhadap tempat itu.


Untuk meningkatkan kembali moral mereka, sang kapten pun berkata,


“Tenang saja.  Kita punya pendamping pendaki yang sudah berpengalaman dengan tempat ini.  Di samping, kita juga punya peta dan kompas sehingga sebentar lagi, kita akan dapat keluar dari tempat ini.”


“Senior bilang begitu, tetapi nyatanya kita masih tersesat.  Bahkan penanda yang Bobi pasang untuk mencegah kita kembali ke arah yang sama, kita temukan, yang berarti kita hanya berkeliling di tempat yang sama selama berhari-hari saja.”  Jawab salah seorang anggota baru di antara mereka.


Rupanya, ucapan penyemangat dari kaptennya itu sama sekali tidak membantu.  Para pendaki gunung, terutama yang masih mahasiswa baru, telah kehilangan semangat mereka dan terkungkung dalam keputusasaan.


Di tengah-tengah keputusasaan mereka itu, makhluk itupun muncul di hadapan mereka dan menambah keputusasaan mereka.  Sosok bersayap dengan wajah elang dan cakar yang ganas, dialah avatar bernomor seri 96, Avatar Sena.


***


Sesampainya aku di tempat tersebut, kulihat kabut yang begitu tebal melapisi Gunung Suzana.  Gunung Suzana memang telah terkenal dengan tempatnya yang sering berkabut.  Namun, seharusnya bukan musimnya untuk berkabut saat ini.  Juga, walaupun akan muncul kabut, tidak pernah dilaporkan bahwa kabutnya akan setebal ini.  Di situlah instingku mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan tempat ini.


Aku pun menggunakan gelombang ultrasonik side avatar Sly Dark-ku untuk menemukan kemungkinan keberadaan para pendaki yang terjebak di dalam kabut tersebut.  Namun, rupanya itu tidak semudah dugaanku.  Kabutnya terlalu tebal sehingga membiaskan gelombang ultrasonik-ku, sedangkan aku belum terlalu mahir menggunakan side avatar-ku itu.  Alhasil, aku pun kesulitan untuk menentukan lokasi dengan kemampuan Sly Dark-ku tersebut.


Akan tetapi, entah ini keajaiban, atau bisa dibilang bencana.  Rupanya benar ada avatar yang dimaksud oleh AI5203 tersebut di tempat ini, dan avatar itu mengumpulkan semua korban tersesat ke dalam satu tempat, yakni di sarangnya.


Hal itulah yang justru memudahkanku untuk menemukan para korban tanpa kesulitan mencari mereka satu-persatu.  Akan lebih mudah menemukan objek yang sedang berkumpul bersama sehingga ukuran mereka tampak akan lebih besar di radar ketimbang objek itu memisah satu-satu di dalam cuaca kabut tebal seperti ini.


Akan tetapi ada satu masalah.  Ada Avatar Sena di sana.  Aku perlu untuk mengalahkannya terlebih dahulu sebelum menyelamatkan para korban.


Aku pun menuju ke tempat para korban.  Sesuai dugaan, beberapa meter sebelum aku sampai ke sana, Avatar Sena pun menghalangiku.  Dia adalah avatar bernomor seri satu digit lebih kecil dariku.  Otomatis, kekuatan tempurnya sedikit lebih besar dibandingkanku.  Lantas mengapa?  Aku bahkan telah pernah mengalahkan Avatar Nyaa yang bernomor digit setengah lebih kecil dariku ditambah kini aku punya Avatar Sly Dark sebagai side avatarku.


Dengan kepercayaan diri itu, aku pun bertarung dengan Avatar Sena melalui pertarungan udara.  Dia memiliki keuntungan dengan kemampuannya yang dapat terbang dua kali lebih cepat dariku ditambah serangan panahnya yang tajam dan akurat.


Namun, aku tetap memiliki keunggulan di atasnya.  Kemampuan radar Sly Dark mampu memprediksi serangan lawan.  Lalu dengan memprediksikan arah pergerakannya, ketiga anak panahku pun tepat mengenai bagian tubuh belakangnya yang sedang terbang.  Dia pun jatuh dari langit dengan indah.


Akan tetapi, begitu aku hendak menghabisinya, Bobi tiba-tiba datang padaku.


“Apa yang kau lakukan pada penyelamat kami, dasar pembunuh!”  Perkataan Bobi itu lantas serta-merta membuyarkan pikiranku.