101 Avatars

101 Avatars
142. Naga Hijau dan Iblis Jahat



Dari dasar tanah di ruang bawah tanah itu sebuah telur putih dengan bintik-bintik hijau membumbung ke atas memecahkan langit-langit ruang bawah tanah lantas terus membumbung tinggi ke atas lagi menggapai udara.


Aku dan keempat rombongan lainnya lantas segera meninggalkan ruangan bawah tanah menuju kembali ke permukaan, berkumpul kembali bersama Paman Arthur dan Tante Sandra, untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Sebuah sinar hijau yang terang yang terpancar dari dalam telur membutakan mata kami.  Namun, aku mencoba bertahan dari terangnya cahaya hijau itu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Sungguh pemandangan yang di luar nalar karena seluruh jasad hadaka, termasuk para beast di dalam hutan, bersamaan dengan pohon-pohon yang telah terinfeksi, dan tidak lupa seluruh kabut hijau beracun yang melingkupi seluruh hutan, terserap masuk ke dalam telur putih berbintik-bintik hijau tersebut.  Bahkan bagaimana semua itu muat masuk ke dalamnya di kala telur hanya berdiameter kurang lebih 30 cm dengan tinggi sekitar 1 meter.


Namun ternyata, itu bukanlah ukuran akhir dari sang telur.  Di hadapan mata kami, sang telur terus tumbuh dan tumbuh mencapai ukuran yang kini lebih besar dari manusia.  Walaupun kini ukurannya sudah jauh lebih dari kami, belum juga terlihat tanda-tanda akan berhentinya perkembangan sang telur.


Telur tumbuh dan berkembang begitu saja menjadi semakin lebih besar hanya dalam hitungan detik.  Kami mulai panik ketika tinggi telur akhirnya mengalahkan rata-rata tingginya pohon di hutan ini, tetapi itu masih saja terus tumbuh.


Akhirnya, sang telur berhenti tumbuh juga ketika mencapai ukuran tiga kali lebih besar dari pohon atau setara dengan 10 meter.


Sang telur kembali mengalami pergerakan.  Kali ini bukan besarnya yang bertambah, tetapi warnanya yang kian menampakkan perubahan.  Bintik-bintik hijau yang awalnya ada pada telur lantas berkembang dan berkembang semakin menutupi putihnya telur hingga telur pun mutlak berwarna hijau pekat polos.


Telur kembali bersinar aneh dan kali ini disertai dengan getaran yang dahsyat.  Kemudian, sang telur pun mulai retak sedikit demi sedikit.  Betapa rasanya jantungku kala itu akan meledak persoalan rasa takut yang amat dahsyat, tentang apa kiranya makhluk yang akan keluar dari dalam telur itu.


Akankah itu adalah makhluk karnivora yang akan memangsa makhluk hidup lain di sekitarnya, aku tak tahan memikirkannya.  Walaupun ini cuma tubuh avatar, akan tetapi rasa ketika tubuh kita dikunyah kemudian ditelan habis oleh sang monster pasti tetap akan terasa sangat nyata di ingatan kita.  Memikirkannya saja, sudah membuatku mual.


Aku berharap bahwa firasatku ini salah dan ternyata makhluk yang akan keluar adalah makhluk imut berukuran besar, tetapi ramah terhadap manusia.  Tetapi rupanya firasatku memanglah benar adanya persoalan makhluk yang keluar tidak lain adalah seekor reptile raksasa bersayap, yang sehari-hari kita istilahkan dengan sebutan naga.


Suatu naga menjijikkan dengan badan berwarna hijau yang dikelubungi oleh kabut hijau yang nampak sama dengan kabut hijau beracun yang sebelumnya melingkupi hutan.


Aku lantas terfokus pada bagian perut sang monster.  Kulihatlah sosok yang tak lazim di sana.  Sesuatu mirip kepala secara aneh tampak menonjol di bagian itu seraya terlihat menggeram-geram seakan merasakan sakit yang teramat sangat.


Kuperhatikanlah baik-baik sosok tersebut dan betapa aku terkaget.  Rupanya sosok itu adalah sosok yang telah lama menghilang yang selama ini dicari keberadaannya oleh Dream.  Sosok yang juga aku penasaran di mana keberadaannya selama ini.  Sosok yang lima tahun silam hilang bersama Raging Fire.  Akan tetapi, Raging Fire telah ditemukan baru-baru ini, namun tidak untuk sosok ini.  Dialah monster avatar bernomor seri 4, Avatar Time.


Tidak salah lagi, dia pasti adalah Time, dalang yang selama ini menyebabkan pembukaan portal secara liar di bumi.  Dengan mengalahkannya, maka kami akan bisa segera mengakhiri bencana portal ini.


“Adrian, jangan lengah!  Segera bentuk formasi D untuk mengalahkan monster raksasa itu!”  Paman Dios pun mengingatkan aku yang hampir saja lengah dalam pertarungan.


Sebagai yang terlemah di antara kami, aku memilih posisi sniper, sementara Kak Kaiser menyerang pada jarak serang menengah.  Tante Sandra dan Paman Arthur sebagai orang di tim kami yang mampu memberikan serangan yang menggapai kepala raksasa itu, bertindak untuk mecegahnya terbang dengan mengusiknya setiap dia akan menunjukkan gelagat terbang.


Kemudian, sebagai orang terkuat di antara kami, Kak Arskad berperan sebagai penyerang utama dengan kekuatan poltergeistnya yang didukung oleh kekuatan naga air milik Paman Shou.


Kemudian sebagai orang yang terakhir, Paman Dios berperan memberikan serangan kapan saja dan di mana saja jikalau itu dirasa perlu sebagai tenaga support.


Monster itu mengaum marah menghentakkan kakinya ke mana-mana, hendak menginjak Kak Arskad dan Paman Shou yang dekat pada posisi di bawah kakinya.  Namun baik Kak Arskad maupun Paman Shou, keduanya dapat menghindar dengan baik.


Akan tetapi, monster itu pun menyerang dengan lendir asamnya, lendir yang dapat melelehkan apa saja di sekitarnya.  Hampir saja Kak Kaiser kena serangan itu jika saja bukan Kak Arskad yang menyelamatkannya.  Tetapi ini buruk, baju pelindung mereka berdua rusak akibat terkena asam.  Tidak hanya baju, tetapi kulit mereka berdua pun ikut melepuh karena asam itu.


Tetapi dengan sigap  Paman Shou menghentikan infeksinya dengan jurus segel airnya.  Walaupun tak mampu mengobati, setidaknya luka mereka telah terutup.  Lagian, ini hanyalah tubuh avatar.  Setelah misi selesai dan kita kembali ke dunia nyata, siapa yang peduli lagi dengan tubuh ini.


Monster mengamuk disertai dengan auman yang nyaring yang membuat kami kewalahan dalam menghadapinya.  Lalu aku pun mencoba sesuatu.  Aku mencoba menembak kepala Time yang tepat berada di tengah perut sang monster.


“Dor.”  Sekali tembak, aku tepat sasaran dan berhasil mengenainya.


Sayangnya, itu hanyalah di khayalanku belaka.  Lendir hijau dengan cepat menjadi keras dan menjadi tameng penghalang bagi peluru di senjataku.


Namun bingo.  Dengan melihat betapa monster itu sangat melindungi bagian itu, itu berarti bagian tersebut adalah titik lemah tubuhnya.


Aku lantas teringat kembali legenda di desa itu.  Tentang terkorupsinya tubuh sang naga oleh iblis yang merubahnya menjadi jahat.  Dengan kata lain, Time itulah iblis yang dimaksud dalam legenda tersebut.  Selama aku bisa menghabisinya yang berada di dalam tubuh naga, bencana ini akan segera berakhir dan kami akan dapat segera pulang.