Sejak malam itu, Kak Kaiser menghilang entah ke mana. Termasuk di kala aku ikut mengunjungi rumahnya untuk mengantar Judith, Kak Kaiser sama sekali tak terlihat di sana. Bahkan baik teman-teman S2 seangkatannya termasuk profesor pembimbingnya, tidak ada yang sama sekali tahu keberadaannya. Sudah 2 hari berlalu, dan belum juga ada tanda-tanda keberadaannya di mana pun.
“Apakah perasaan Kak Kaiser seterluka itu ketika kubentak?”
Membayangkan itu, aku menggenggam tanganku erat-erat.
Malamnya, aku pun bermimpi. Tidak, daripada mimpi, mungkin lebih dekat ke ingatan masa lalu yang muncul dalam bentuk lucid dream.
Kala itu, aku yang kesal karena teman-teman sekelas tidak mempercayaiku untuk mewakili kelas mengikuti pertandingan Hoho game tingkat sekolah dalam Porseni di SMP, lantas mengadu ke Kak Faridh.
Aku mengadukan bagaimana kelasku akhirnya mempercayakan seseorang yang pandai bersilat lidah namun payah sebagai wakil kelas kami yang pada akhirnya membuat kami kalah di babak pertama pertandingan tersebut. Padahal jika itu aku, aku pasti sudah memenangkan pialanya.
Aku yang melihat Kak Faridh juga turut menunjukkan gelagat tak percaya pada perkataanku lantas mengajaknya melihat perkembanganku dalam bermain Hoho game yang telah dilewatkannya selama ini sejak sibuk dengan ujian masuk Universitas Pembendaharaan Negara demi mengejar cita-citanya menjadi pegawai pajak.
Aku pun masuk ke kapsul game dan dengan yakin menggunakan Avatar Jack Tornado. Aku memilih opsi official lalu dengan cepat, tantangan pemain berdatangan padaku. Empat dengan nomor avatar lebih besar dan satu yang bernomor lebih kecil dari lima tantangan yang masuk. Tentu saja aku tanpa ragu memilih satu-satunya avatar bernomor lebih kecil sebagai penantangku agar aku bisa semakin unjuk gigi pada Kak Faridh.
Aku memilih avatar bernomor 32, satu tingkat di atasku, Minotaur, sebagai lawanku.
Kalau dipikir-pikir, avatar ini sebenarnya adalah lawan yang buruk untukku karena memiliki senjata palu besar yang dapat diayunkannya ke segala arah sehingga tak dapat kuserang dengan jurus tumbukan kepala dan dengan mudah pula menangkis jurus laser beam.
Namun, aku sudah memikirkan strategi yang tepat untuk mengalahkannya. Dengan aba-aba dari Carnaval, avatar sistem yang kala itu bertindak sebagai wasit, pertandingan dimulai dan aku pun mulai melancarkan seranganku.
Daripada terbang di atas udara, aku memilih terbang rendah sejajar dengan kaki Minotaur lantas kuincar kakinya untuk kutembakkan laser beam. Sehebat apa pun dia ayunkan palunya, tentu saja dia tak dapat mengayunkannya terlalu rendah karena bisa saja mengenai tanah dan balik menjadi imbas pengganggu keseimbangan geraknya.
Di situlah aku mengincar tiitk lemahnya tepat pada kaki yang tak terlindungi oleh palu tersebut. Seketika kakinya goyah, palu yang besar itu turut jatuh menimpa dirinya sendiri. Kemudian dengan serangan tumbukan kepala tepat pada ulu hatinya, kuakhiri pertarungan dengan kemenangan yang gemilang. Aku berhasil dengan mudah mengalahkan Avatar Minotaur.
Setelah keluar kembali dari kapsul, aku menatap Kak Faridh dengan ekspresi sombong.
“Bagaimana Kak? Aku sudah hebat sekarang, kan?” Ujarku menyombongkan diri pada Kak Faridh.
“Masih banyak kekurangan di mana-mana, terutama masalah kontrol terbang cepatmu. Untung tadi kamu beruntung, tapi jika salah sedikit, kamu akan KO sendiri jika tanpa sengaja membentur lantai. Tapi terlepas dari itu, kamu sudah bertambah hebat, Adrian.” Kak Faridh pun tersenyum cerah sembari memberikan pujian itu.
“Tetapi Adrian, jangan lengah untuk selalu mengasah kemampuanmu. Alasan mengapa kamu tidak dipilih oleh teman-teman sekelasmu, bukan karena kamu lemah, melainkan mereka tidak mempercayaimu. Maka tunjukkanlah senantiasa kesungguhanmu dengan lebih banyak lagi berlatih, yang cukup memberikanmu aura sebagai orang yang kuat sehingga tak ada lagi yang berani menentangmu berdiri di depan.”
Aku pun terbangun dari mimpiku setelah terngiang kembali kata-kata Kak Faridh tersebut. Itu benar. Alasan mengapa Kak Kaiser menarikku mundur dari pertarungan, bukanlah berada pada diri Kak Kaiser, melainkan pada diriku sendiri yang terlihat lemah di matanya. Aku harus lebih banyak lagi berlatih agar aku dianggapnya cukup kuat untuk berdiri sejajar di sampingnya.
Malam itu, aku pun membulatkan tekad-ku untuk berlatih sekeras-kerasnya.
Aku lantas meminta tolong kepada AI5203 agar bersedia menyediakan simulasi Hoho game padaku untuk melawan avatar bernomor 1, Avatar Freeze tersebut. AI5203 pun menyanggupinya dan mulailah malam itu, aku melakukan pelatihan Spartan dengan tujuan mampu berdiri sejajar di samping Kak Kaiser.
Akan tetapi, semuanya berjalan tak semulus seperti apa yang aku pikirkan. Tepat setelah ronde pertama dimulai, Freeze langsung mengaktifkan Castle of Ice-nya yang membuatku seketika KO hanya dalam jeda waktu 0 detik 35 milisekon.
Namun aku tidak menyerah. Aku melanjutkan pelatihan spartanku di ronde kedua. Kali ini aku serta-merta menyerangnya dengan panah batu yang dapat dengan cepat kulepaskan agar dia tak dapat mengaktifkan Castle of Ice-nya. Akan tetapi, bersamaan dengan aku menembakkan panah batu itu, Freeze juga menyerang dengan Needle of Ice-nya yang seketika mencabik-cabik tubuhku dan akupun kalah di jeda waktu 1 detik 81 milisekon. Paling tidak lumayan, aku sudah meningkatkan jeda bertahanku pada serangannya.
Ronde ketiga pun dimulai. Seketika aku menembakkan panah batu-ku, aku segera bermanuver dengan side avatar Sly Dark-ku ke belakangnya, lantas menyerang di titik butanya. Akan tetapi,
“Sraaaak!” Seketika aku tertusuk tombak trisula es-nya dan aku pun gugur di jeda waktu 3 detik 15 milisekon. Itu pun sudah bagus, karena sudah ada perkembangan jeda waktu lagi.
Tetapi apa ini? Bahkan setelah Avatar Arjuna-ku diperkuat dengan side avatar Sly Dark dan Hard, aku masih kalah darinya. Padahal dia adalah Avatar Freeze yang masih sama dalam memori Hoho game yang belum mengalami evolusi. Apakah sejauh inikah perbedaan kemampuan kami?
Namun, sekali lagi, aku tidak menyerah. Pelatihan Spartan itupun berlanjut dan terus berlanjut. Hingga tibalah di malam kedua setelah itu. Aku akhirnya mampu mengalahkan 13 dari 20 simulasi pemain Freeze yang disediakan oleh AI5203. Hal itu telah cukup membuatku bangga dan memberikanku motivasi untuk terus mengembangkan kemampuanku.
Di malam itu pulalah, Kak Kaiser akhirnya kembali setelah menghilang entah ke mana. Bersamaan dengan masuknya dia ke ruang latihan virtual, aku memenangkan pertandingan keempatbelas-ku melawan Avatar Freeze. Aku senang karena dia masuk bertepatan dengan aku menunjukkan sosok hebatku.
Tetapi apa yang justru Kak Kaiser katakan padaku, benar-benar membuatku kecewa,
“Lho, Adrian, kok kamu malah menyia-nyiakan waktumu berlatih bertarung melawan Freeze? Kalau masalah Freeze kan, aku bisa menanganinya dengan Avatar Bomber. Tidakkah kamu sebaiknya sebagai asistenku berlatih mengalahkan Void? Ck Ck! Lagipula apa-apaan dengan simulasi pemain Freeze yang kamu pilih ini? Bukankah mereka hanya kroco-kroco lemah yang bahkan tak ada satu pun dari mereka masuk sepuluh besar?”
Apa-apaan dengan ucapannya yang angkuh itu? Tidakkah dia sama sekali menghargai usahaku? Kenapa dari mulutnya, mampu keluar perkataan sedingin itu?
“Memang apa yang Kak Kaiser tahu tentang diriku?! Aku ingin berdiri sejajar dengan Kakak, bukan sebagai asisten Kakak!” Lalu tanpa sengaja, aku kembali melontarkan amarahku padanya yang akhirnya baru tiba kembali itu.