101 Avatars

101 Avatars
132. Tuduhan Palsu kepada Pangeran Kedua



Pangeran Kedua diamankan untuk sementara di dalam kamarnya dengan pengawalan yang sangat ketat sampai ada bukti yang menunjukkan ketidakbersalahannya. Para prajurit dan pengawalnya pun termasuk aku dijaga dengan sangat ketat.


Perkembangan yang benar-benar tidak terduga. Aku lengah dalam memikirkan kemungkinan ini. Mungkin saja musuh yang telah lama mengincar Pangeran Kedua telah lama pula menyusun rencana ini dengan matang.


Bisa saja di saat ini juga, akan ada pembunuh bayaran yang bersiap untuk mengeksekusi nyawa Pangeran Kedua. Yang lebih buruk lagi, aku sama sekali tidak bisa menemuinya karena saat ini status Pangeran Kedua adalah sebagai tersangka pembunuhan keluarga kerajaan.


Isu berkembang dengan cepat di masyarakat seolah melupakan prestasi Pangeran Kedua yang baik hati selama ini. Pangeran Kedua bahkan dikait-kaitkan dengan menghilangnya mantan putra mahkota melalui sihir hitam. Bahkan ada pula isu yang mengatakan bahwa Pangeran Kedua-lah yang sebenarnya memakai sihir hitam untuk mengutuk negeri tetangga hingga hancur lebur oleh kutukan.


Pasti semua ini telah diatur oleh dalang yang merencanakan pembunuhan Pangeran Kedua jauh-jauh hari sebelumnya. Sosok tersebut pasti juga telah memprediksi pergerakan mantan putra mahkota dan menyesuaikan tujuannya di dalam pergerakannya itu.


Oleh karena itulah, sosok itu memilih untuk sama sekali tidak terlibat sampai menunggu wafatnya mantan putra mahkota dan memanfaatkan celah-celah rencana mantan putra mahkota untuk membunuh Raja dan menuduh Pangeran Kedua sebagai dalangnya lalu Pangeran Kedua pun mati dieksekusi.


Lantas kalau begitu, siapa yang paling diuntungkan dengan keadaan ini? Hanya dua nama yang ada di pikiranku. Paman Pangeran Kedua ataukah Pangeran Ketiga. Kedua sosok itulah yang paling diuntungkan dengan tersingkirkannya mantan putra mahkota, raja, dan pangeran kedua. Karena kedua sosok itulah yang ada di urutan selanjutnya dalam posisi pewarisan tahta.


Yang paling besar peluangnya untuk naik tahta selanjutnya adalah Pangeran Ketiga, tetapi karena dirinya yang sering sakit-sakitan ditambah dengan rumor kesialan tentang dirinya yang di saat dilahirkan, dirinya merenggut nyawa ibunya sendiri, kurasa para senat tidak akan menyetujuinya menjadi raja dan akan menyerahkannya kepada adik sang Raja, Pangeran Qodis.


Di kala itu, aku pun dipanggil untuk menjadi saksi sebagai pengawal yang paling dekat dengan Pangeran Kedua. Di sinilah kesempatanku untuk dapat membersihkan nama pangeran Kedua sembari mencari orang yang terlihat hostile padanya sebagai tersangka kaki tangan penjahat yang berupaya memfitnah Pangeran Kedua tersebut.


Namun, begitu aku memasuki pintu dan melihat para anggota senat yang sedang berdampingan dengan para penyidik untuk menyelidiki kematian sang raja, aku kaget seketika karena mereka adalah orang yang telah kukenal dengan baik. Mereka adalah Profesor Dios, Paman Arthur, dan Tante Sandra.


Mereka pun menyuruh para penyidik keluar sehingga hanya tersisa kami berempat di ruangan. Namun, sebelum kami hendak berbicara, ada satu lagi orang yang masuk ke dalam ruangan itu. Dia tampaknya adalah salah satu anggota penyidik kerajaan yang juga adalah orang yang kukenal dengan baik. Dialah Kak Arskad.


Rupanya Kak Arskad bukanlah orang yang terakhir memasuki ruangan itu. Sembari memasuki ruangan, dia tampak mengobrol bersama seseorang lagi yang juga sementara sedang memasuki ruangan. Dialah Kak Kaiser, yang dalam dunia ini berperan sebagai anggota petugas patroli.


“Kalian?” Tanyaku dengan ekspresi terkejut.


“Yo, Adrian, tak kusangka kita bisa berkumpul kembali seperti ini, meski belum lengkap sih karena Paman Shou tidak ada di sini.” Ujar kak Arskad padaku.


“Hai Kak, lama tidak bertemu. Mungkin sudah hampir dua bulan ya?” Jawabku canggung.


“Iya, kamu benar, Adrian. Kita sudah berada di dunia ini hampir dua bulan lamanya. Sudah sangat terlalu lama. Kita tidak tahu lagi bagaimana perkembangan di dunia nyata. Walaupun di sana kita punya Loki yang dapat memprediksi masa depan serta pejuang-pejuang tangguh sehingga kerusakan dapat diminimalisir, aku tak dapat menghilangkan rasa khawatirku.”


Seketika aku tersadar. Aku melupakannya karena terlalu asyik bermain di dunia ini bersama dengan Pangeran Kedua. Aku telah terlalu lama berada di dunia ini sehingga tidak tahu lagi perkembangan dunia nyata. Hal yang buruk bisa saja terjadi selama kami berada di sini.


“Kita memang sudah terlalu lama berada di sini. Namun, apa yang bisa kita lakukan? Misi kita adalah menjaga keselamatan Pangeran Kedua sampai dirinya bisa naik tahta sebagai raja. Itu bukanlah sesuatu yang membutuhkan waktu singkat untuk diselesaikan.” Aku pun menjawab lemah.


“Tampaknya itu ya misimu, Adrian. Karena kamu diminta untuk menjaga Pangeran Kedua, maka pasti bukan Pangeran Kedua-lah pelaku kejahatan yang harus kita tangkap di misi-misi kita.”


“Eh?” Jawaban Kak Arskad seketika membuatku terkejut. Bukankah misi setiap orang sama di dunia ini? Ataukah aku selama ini salah dan ternyata misinya berbeda-beda?


Bahkan sebelum aku menanyakan hal yang membuatku penasaran tersebut, Kak Arskad terlebih dahulu menjawab hal itu.


“Misi kita berbeda-beda, Adrian. Aku punya misi untuk mengungkap rahasia yang disembunyikan oleh putra mahkota atau lebih tepatnya memanggilnya sebagai mantan putra mahkota sekarang. Terus setelah dirinya tiba-tiba menghilang, misiku bertambah lagi untuk menyelidiki penyebab menghilangnya mantan putra mahkota tersebut.”


“Kami bertiga punya misi untuk melindungi raja dari assasinasi dan mencegah raja terpengaruh oleh senat korup yang akan membawa kerajaan pada kehancuran, tetapi kini misi pertama telah gagal dan berganti dengan misi pengungkapan misteri di balik kematian raja dan penunjukan raja baru yang tepat di mana misi kali ini berbatas waktu yang jika kita tidak bisa menyelesaikannya dalam kurun waktu 1 minggu, kami akan terperangkap dalam kegelapan selamanya.”


Ujar Profesor Dios menambahkan.


Lalu sebagai yang terakhir mengungkapkan misinya adalah Kak Kaiser, “Misiku mengungkap misteri penculikan dan pembunuhan warga ibukota kerajaan sebelumnya. Tetapi karena sudah tidak ada korban baru lagi, aku jadi kesulitan untuk mengungkap kasusnya. Korban terakhir yang secara beruntung bisa selamat pun yang tiba-tiba saja tersadar dan berada di rumahnya sendiri, mengaku tidak bisa mengingat apa-apa.”


Kak Kaiser tampak mengucapkannya dengan pilu. Kuputuskanlah untuk mengungkap kejadian malam itu padanya. Kebetulan aku berada di tempat kejadian dan merekam semua perbuatan keji sang mantan putra mahkota tersebut.


“Soal itu, Kak Kaiser, juga Kak Arskad. Tampaknya aku tahu jawaban dari misi kalian di samping aku punya bukti video yang berhasil kurekam.” Dengan antusias, Kak Kaiser dan Kak Arskad pun memandang ke arahku.


***


Sementara itu, jauh di dasar istana, tempat di mana penjara bawah tanah berada. Sesosok pemuda dengan ekspresi yang tampak begitu bengis seolah tampangnya dengan jelas menunjukkan bahwa dirinya adalah pembunuh profesional sedang mengikuti dari belakang sesama tahanan seorang pria kurus yang tampak tinggal tulang dan daging saja.


Pria yang diikutinya itu menjadi sangat ketakutan oleh hawa membunuh yang jelas-jelas ditunjukkan oleh pemuda yang mengikutinya tadi. Kemudian tanpa basa-basi ketika lorong penjara sepi,


“Sraaaak.” Sang pria ditikam oleh sesuatu sejenis air yang datang dari tubuh pemuda tadi.


Sang pria pun tewas dengan menyakitkan lantas mayatnya dihancurkan dengan aliran deras air yang bersambungan dengan tubuh pemuda itu, tidak, tepatnya dengan kotak kubus yang terlihat terbuat dari air yang sedang dipegangnya. Dalam sekejap, mayat pria itu pun diserap masuk ke dalam kotak kubus transparan itu.


“Dengan ini, korbanku sudah mencapai 277 jiwa. Oh iya, dengar-dengar, Pangeran Kedua negeri ini akan segera ikut masuk penjara pula. Haruskah aku membunuhnya untuk melengkapi koleksiku demi memenuhi misi dari sistem?” Ujar pemuda itu tampak berbicara sendiri. Dialah Lu Shou, anggota terakhir tim volunteer Adrian.