Magneton mengarahkan magnet-magnetnya kepada Carnaval yang membuat Carnaval tampak tersudut.
“Rasakan seranganku ini, dasar avatar sistem jahanam.” Ujar Magneton marah kepada Carnaval.
Lewat tongkat sihirnya, dalam ketiadaan, puluhan kartu-kartu remi tiba-tiba bermunculan lantas mengelilingi tiap magnet-magnet tersebut, kemudian,
“Paaam.” Magnet-magnet terkompres ke ukuran yang lebih kecil dan semakin kecil hingga pada akhirnya menguap dalam bentuk asap nak ilusi.
“Kurang ajar kau!” Magneton semakin marah ketika melihat serangannya tidak efektif pada Carnaval. Dia pun maju menerjang Carnaval dengan tongkat magnet yang dipegangnya.
Carnaval melompati tongkat magnet Magneton lantas menaiki unicorn yang entah datang dari mana lalu melayang di angkasa.
Juntaian-juntaian tali yang terbuat dari serat sutra kemudian menghiasi sekeliling Magneton. Carnaval dilhatnya bergelantungan dengan indah di juntaian-juntaian sutra tersebut.
“Kau mempermainkanku rupanya ya, Carnaval!” Magneton semakin mengamuk lalu menggunakan tongkatnya itu hendak memotong tali-tali sutra.
Sayangnya, tali-tali sutra rupanya terlalu kuat bagi tongkatnya lantas menjerat sekujur tubuh Magneton.
“Lepaskan aku, dasar sialan!” Magneton sekali lagi berujar marah.
Sesuai permintaannya, Carnaval pun melepaskan juntaian tali-tali sutra itu. Akibatnya, Magneton terjatuh. Sayangnya, di bawahnya telah siap kurungan peti mati. Magneton terjerembab ke dalamnya.
“Hei, apa ini?! Buka!” Teriak Magneton dengan sangat kesal.
Dua buah gergaji tiba-tiba muncul dalam ketiadaan lantas memotong peti mati itu menjadi tiga bagian. Magneton dapat menyaksikan hal itu dengan jelas berkat kepalanya yang sengaja dijulurkan ke luar peti mati.
“Tidak, jangan!” Teriak Magneton ketakutan ketika melihat dirinya akan dibelah. Namun, entah mengapa walaupun peti matinya sudah terbelah tiga, dia tidak merasakan kesakitan sedikit pun. Rupanya, dua buah potongan peti mati di bawahnya, bukanlah bagian dari peti mati tempat dia berada. Bagian kaki yang dijulurkan di peti mati ketiga, rupanya bukanlah kaki Magneton.
Magneton yang sudah sangat ketakutan, lantas dikeluarkan dari peti mati oleh dua ekor kera. Tanpa sadar, Magneton telah digiring bersama oleh para kera dalam mengikuti pawai sepeda. Dirinya bertambah kaget ketika melihat para kera membuangnya tepat di mulut singa raksasa. Tahu-tahu, Magneton telah keluar dari lubang yang berapi-api.
Magneton merintih ketakutan tak berdaya. Segala macam trauma yang dimiliki oleh inangnya, entah mengapa bermunculan pada tiap adegan atraksi yang ditunjukkan oleh Carnaval tersebut.
Magneton pun merangkak mencari keselamatan. Di saat itulah, tiang pancang dari beton tepat jatuh dari atasnya dan,
“Prak.” Magneton tertindih oleh tiang pancang beton tersebut.
Lalu begitu dia tersadar, bagian jantungnya telah tertusuk oleh tongkat tumpul Carnaval.
“Beristirahatlah dengan tenang, Magneton. Sesalilah dosa-dosamu yang telah membunuh para manusia yang tak bersalah baik di tempat ini, maupun yang sebelum-sebelumnya.” Ujar Carnaval dalam ekspresi damai di wajahnya.
Magneton pun musnah, berubah menjadi butiran-butiran debu data.
Carnaval yang berhasil mengalahkan Magneton, tiba-tiba tersungkur jatuh di mana mulutnya mengeluarkan darah.
“Rupanya hanya sampai di sini ya, hidupku! Memang singkat, tetapi tak ada satu pun yang kusesali.” Ujar Carnaval sembari memegangi dadanya.
Kaiser yang baru tersadar setelah itu, tengah menyaksikan Carnaval yang berkilauan, kian tedegradasi, turut pula berubah menjadi butiran-butiran data. Kaiser berurai air mata, namun perihal kejadian yang terlalu cepat, Kaiser tidak sempat punya waktu untuk bertindak apapun.
“Padahal kau sudah tahu sendiri apa yang akan terjadi pada kita jika terlibat pada pertarungan avatar petarung. Lihatlah tubuhmu sekarang.”
Namun, Carnaval justru membalas ucapan itu dengan, “Yah, itu tak mengapa jika dengan ini, aku memberikan waktu kepada tunas-tunas muda untuk tumbuh dan berkembang.”
“Bicaramu seperti kakek tua saja, padahal hanya usia mental kita saja yang tua. Sejatinya kita baru berumur 5 tahun.”
Carnaval menanggapi komentar Dream tersebut dengan senyuman hangat.
“Kuharap kehangatan akan tetap selalu ada di planet ini.” Ujar Carnaval sebelum akhirnya dia pun menyusul Magneton, hilang menjadi butiran-butiran debu data.
***
Setelah itu, Kaiser pingsan lagi untuk sesaat. Begitu tersadar, dia telah kembali berada di RS Dewantara Group dan dirawat oleh Dokter Millie dan Dokter Damian.
“Bagaimana keadaanmu, Kaiser?”
“Ah, Paman Damian. Keadaanku sudah agak membaik. Berapa lama aku pingsan?”
“Ya, mungkin sekitar 14 jam. Kamu masih terlalu lemah, Kaiser. Kamu harus banyak berlatih lagi agar menjadi lebih kuat.” Kali ini pertanyaan Kaiser, Dokter Millie-lah yang justru menjawabnya.
“Lagipula jika sedari awal, kamu yang turun membasmi monster avatar itu, jumlah korban di kalangan umat manusia akan lebih sedikit. Ini karena keputusanmu membiarkan Kaiser yang pergi sehingga hasilnya jadi buruk begini.” Dokter Damian pun mengungkapkan rasa kesalnya terhadap keputusan keponakannya yang sebelumnya itu.
Dokter Millie menghela nafas.
“Hah, jika aku yang turun sedari awal, mana bisa Kaiser dapat berkembang. Ini bagian dari pelatihannya.”
“Tapi bagaimana kamu akan menanggung puluhan nyawa yang seharusnya bisa diselamatkan, namun pada akhirnya tidak terselamatkan gegara kamu menyerahkan orang lain dalam menangani masalahnya?”
“Yah, aku juga tidak terlalu peduli dengan mereka. Terus terang, aku kecewa dengan keputusan mereka yang malah mencerca Healer sebagai monster yang sok pahlawan dan tidak becus setelah pengorbanan yang avatar itu lakukan pada mereka. Mereka pula kan yang menjadi penyebab kematian Healer. Andai saja, mereka tidak mencabut akar-akar Healer secara bersamaan kala itu, Healer mungkin setidaknya masih hidup sampai waktu toleransi tolakan gaia berakhir.”
“Yah, tapi kita juga bagian umat manusia yang harus menanggung dosa-dosa tersebut.”
“Mengapa aku harus menanggungnya di kala bukan aku yang berbuat? Terlebih, mereka bahkan belum jera sampai di situ. Banyak streaming dari orang-orang yang meninggal di sana yang menunjukkan mereka meledek dan memaki-maki Kaiser sebagai anak buah monster yang sok jadi pahlawan lantas menghujat kekikukannya dalam bertarung sebelum pada akhirnya mereka turut menjadi korban dari Avatar Magneton tersebut karena tertimpa reruntuhan puing.”
“Yah, kalau itu patut disesali.”
“Mereka bukannya segera lari begitu diberikan kesempatan, malah memanfaatkan momen-momen kritis itu untuk memvideokan pertarungan Kaiser yang kikuk dalam Avatar Bombernya. Hei, Kaiser, pokoknya habis ini kamu harus berlatih dengan keras agar tak membuat malu nama Keluarga Dewantara. Lihat saja di internet, telah banyak orang yang menghujat kemampuan bertarungmu.”
Mendengar komentar dari kakak sepupunya, Millie tersebut, Kaiser hanya menundukkan kepalanya. Dirinya malu lantaran setelah latihan kerasnya selama ini, dia justru menjadi kikuk ketika mempraktikkannya dalam pertarungan nyata hingga kalah. Namun, dia juga menyadari hal itu tak terhindarkan karena kecerobohannya yang melupakan faktor penting bahwa menggerakkan antara tubuh virtual dan tubuh nyata, memang memiliki sensasi yang berbeda.
“Aku harus lebih banyak berlatih lagi dalam pertarungan nyata.” Ujar Kaiser dengan penuh tekad sembari memikirkan tentang menu latihan apa saja yang nantinya akan dilakukan berdua bersama mentor teladannya itu.
Hal itu lantas memberikan ransangan dingin seketika di belakang kepala Adrian yang berindera tajam itu tanpa Adrian tahu apa sebabnya. Adrian tak tahu jenis pelatihan spartan apa saja yang telah direncanakan oleh murid kesayangannya itu.
Alhasil, di hari itu semua pertarungan terselesaikan dengan baik, tanpa memakan korban jiwa baik di area Adrian, maupun di area Andika-Airi. Sayangnya, hal itu tidak berlaku di area yang menjadi tanggung jawab Kaiser. Tercatat 168 korban jiwa dalam sehari meninggal di tempat tersebut.