Aku hanya menuruni tangga itu dengan ekspresi melongo seakan tidak percaya terrhadap apa yang baru saja kudengarkan. Wanita pujaanku baru saja memujiku dengan sebutan imut dan polos! Membayangkan kembali situasi itu, aku tidak dapat menahan diriku untuk bersorak secara internal perihal bahagianya diriku.
Untuk pertama kalinya, aku mendengarkan wanita pujaanku memuji diriku. Yah, walaupun aku sebenarnya lebih senang jika dipuji sebagai tipe pria jantan atau maskulin. Tetapi itu tidak mengapa, bahkan aku sangat sangat sangat sangat senang karena hal itu datang dari bibir wanita pujaanku.
“Hehehehehe.” Aku tak dapat menahan tawa bahagiaku.
Aku masih dapat mengingat dengan jelas suara Nafisah yang menyebut namaku dengan suaranya yang lembut itu. Polos dan imutkah? Tampaknya aku harus banyak belajar kedua hal itu agar aku dapat meningkatkan nilaiku di hadapan wanita pujaanku.
Tetapi aku bisa kan menganggap ini sebagai lampu hijau bahwa ada harapan bagi Nafisah juga turut menyukaiku? Aku harus lebih percaya diri lagi. Ya, itu benar! Semangat, diriku!
Tanpa kusadari, rupanya aku telah memancing perhatian orang-orang di sekelilingku karena telah tertawa dan senyum-senyum sendiri di tengah jalan dengan raut wajah yang aneh. Dapat kulihat dengan jelas tatapan orang-orang itu dengan ekspresi sedikit jijik di wajah mereka.
Aku yang akhirnya tersadar dengan perhatian sekeliling. lantas segera memperbaiki kembali ekspresiku sembari menebarkan tawa lemas untuk membalas tatapan itu lalu bergegas meninggalkan tempat itu sambil menahan malu.
Namun, ketika aku berjalan baru beberapa langkah, tanpa aku menduganya, sesosok wanita tiba-tiba saja menghampiriku.
Dari belakang, wanita itu menyapa, “Anu, apa benar kamu adalah Dik Adrian?”
Aku lantas berbalik untuk melihat wajah wanita tersebut. Rupanya, dia adalah seorang wanita muda yang tampaknya sebaya dengan usiaku dengan paras yang sangat cantik dan berkelas. Dandanannya tidak mencolok, tetapi dengan mudah bisa ditebak bahwa dia berasal dari keluarga konglomerat.
“Ada apa nona kaya ini tiba-tiba menyapaku?” Gumamku dalam hati.
Sejenak aku terdiam, menelisik apa yang telah terjadi sembari mencoba mencari-cari di ingatanku tentang apakah aku pernah bertemu dengan wanita ini sebelumnya. Jika dia memanggilku dengan sebutan Adik, apakah itu berarti wanita yang tampak masih belia ini sebenarnya lebih tua dariku? Kalau begitu, dia cukup awet muda dan aku tidak mungkin melewatkan wanita cantik awet muda ini di ingatanku seandainya saja kita pernah bertemu.
Hanya satu penjelasannya, kita memang belum pernah bertemu. Apa itu berarti wanita ini salah mengenaliku dengan seseorang? Tetapi dia menyebut namaku, Adrian. Kecil peluang kalau dia salah orang. Hanya aku satu-satunya orang yang bernama Adrian di fakultas ini yang memiliki wajah ganteng.
Karena merasa tidak kenal dengan wanita tersebut, aku pun bertanya, “Siapa ya?”
“Dik Adrian sudah tidak mengenali saya?” Aku Selantri, mantan pacar Faridh. Aku dulu sering main ke rumahmu. Dik Adrian tampaknya sudah lupa ya?” Dengan tampak kecewa, wanita muda itu menatapku dengan ekspresi mata berkaca-kaca.
Aku lantas melakukan kilas-balik di otakku perihal masa-masa duluku. Aku pun benar-benar menemukan sosok wanita tersebut di pecahan ingatanku. Dialah sosok yang dulu sempat mengisi relung di lubuk hati kakakku Faridh, Selantri Widiasarja.
Tetapi apa ini? Kutahu bahwa Kakak ini memang cantik, yah walaupun tidak secantik Nafisah sih. Tetapi di luar daripada itu, ternyata Kakak ini bisa terbilang cukup awet muda. Kalau tidak salah, usia pacar kakakku yang terakhir adalah 3 tahun lebih tua darinya. Itu berarti, usia Kak Selantri di hadapanku ini adalah berkisar 26 tahun.
Akan tetapi, walau sudah memasuki usia di paruh dua puluhan-nya itu, belum terlihat sama sekali tanda-tanda keriput pertama sebagai tanda pertumbuhan wanita dewasa. Wajahnya masih kenyal layaknya berada di usia awal dua puluhan-nya.
Kulihat mulut wanita awet muda itu berkedut tersenyum.
“Terima kasih, Dik Adrian. Ternyata kamu tetaplah sama seperti di ingatanku, seorang anak, tidak, sekarang kamu sudah besar ya sehingga sudah layak disebut sebagai seorang pemuda? Pemuda yang baik hati. Kamu telah tumbuh dengan baik, Dik Adrian.” Ujar Kak Selantri padaku seraya tersenyum lembut.
“Terima kasih kembali Kak.” Ujarku seraya balas tersenyum.
“Jadi, ada keperluan apa Kakak kemari? Masih ada sekitar 45 menit sebelum jam kuliahku. Aku bisa mengantar Kakak ke tempat yang hendak Kakak tuju.” Aku langsung to the point menawarkan bantuanku kepada Kak Selantri.
“Oh, aku kemari memang untuk menemuimu, Dik Adrian. Aku mengetahui keberadaanmu lewat Syifa. Ada yang ingin kuberikan padamu.” Ujar Kak Selantri sembari tampak merogoh-rogoh isi tasnya. Ah, jangan-jangan, wanita yang dimaksud Kak Syifa tadi yang sedang mencari kami untuk memberikan sesuatu adalah Kak Selantri ini.
“Ini buku harian Faridh. Kebetulan, sewaktu kami pacaran, kami bertukar buku harian bersama. Siapa yang menduga bahwa hal yang naas itu akan terjadi pada Kang Mas Faridh. Sebagai keluarganya, aku berpikir mungkin lebih tepat untuk menyerahkan ini pada kalian.” Ujar Kak Selantri sekali lagi, kali ini dengan nada yang teramat sendu.
“Sudah lima tahun sejak kepergiannya. Aku berpikir sudah waktunya aku melupakannya. Hiks…hiks…” Kak Selantri mencoba untuk berujar lagi. Akan tetapi, tiba-tiba air matanya tak dapat dibendungnya lagi. Dia pun menangis sejadi-jadinya, mungkin di luar keinginannya dia kembali mengingat kenangan bersama kakakku Faridh.
Aku membelai punggung Kak Selantri untuk menenangkannya. Sebenarnya, aku sangat ingin menemani Kak Selantri yang sedang dalam kondisi labil ini. Tetapi apa daya, aku harus segera masuk kuliah dan sekarang adalah masa-masa penting penilaian kelulusan. Aku tidak dapat begitu saja menskip kelas.
“Lho, ada apa kok Kakak-nya menangis, Adrian?” Namun, tiba-tiba Nafisah telah berada kembali di hadapanku.
Karena takut Nafisah akan salah paham padaku, aku pun dengan cepat menjelaskan, “Oh, dia mantan pacar almarhum kakakku Faridh, Nafisah. Dia menemuiku hanya untuk mengatakan sesuatu tentang kakakku Faridh. Kami tidak ada hubungan apa-apa. Dia menangis mungkin lantaran karena kami tadi menyinggung soal masa lalu Kak Faridh saja.”
Aku berusaha menjelaskannya setenang mungkin karena kepanikan justru akan semakin mengundang kecurigaan. Tentu saja adalah benar bahwa wanita awet muda di hadapanku itu tidaklah ada hubungan apa-apa denganku selain hanyalah mantan pacar almarhum kakakku Faridh saja.
Kulihat, ekspresi Nafisah datar-datar saja. Apa ini? Padahal paling tidak kuberharap dia sedikit menunjukkan ekspresi cemburu. Apa ini berarti, Nafisah tidak punya perasaan romantis untukku dan hanya menganggapku sebatas teman? Aku pun lantas merasa kecewa.
Lalu sekali lagi kudengar Nafisah berucap, “Kalau begitu, biar kutemani sebentar Kakak-nya, Adrian. Dia tampaknya saat ini tidak dapat ditinggalkan sendiri. Aku akan membawanya ke ruang diskusi mahasiswa untuk menenangkannya. Kamu masuk kelas sana gih, nanti telat. Ini masa-masa pemberian tugas dan kuis untuk penilaian kan? Jangan sampai kamu tidak lulus karena melewatkan kelasnya.”
Dewi pujaanku Nafisah, memang sosok berhati malaikat. Dia tidak akan pernah meninggalkan orang yang kesusahan. Dengan berada di dalam pengawasan Nafisah, aku dapat dengan lega meninggalkan Kak Selantri untuk sementara.
“Terima kasih, Nafisah. Aku akan segera menjemputnya lagi sehabis perkuliahan. Kebetulan, tampaknya ada yang Kak Selantri ingin obrolkan denganku. Sebelum itu, aku titip Kak Selantri padamu ya, Nafisah.” Ujarku sembari tersenyum berupaya tampak gagah di hadapan Nafisah.
“Oke, Adrian.” Jawab Nafisah sembari membalas senyumanku dengan senyuman yang sangat menggetarkan kalbu yang benar-benar mencerminkan sosok dewi pujaanku itu.