101 Avatars

101 Avatars
80. Sang Wanderer



Memiliki wujud fisik ternyata lebih menyenangkan daripada dalam bentuk astral.  Sejak aku merasuki tubuh robot ini, aku dapat merasakan yang namanya ransangan.  Ransangan penglihatan dan pendengaran.


Dengan kedua hal baru yang aku peroleh itu, aku pun memanfaatkannya untuk semakin dekat dengan Kaiser Dewantara.  Tentu saja bocah itu sama sekali tidak tahu bahwa aku hidup.  Aku berperan sebagai teman bermainnya dengan memanfaatkan daya imajinasinya.  Masa-masa itu sungguh indah buatku.


Namun, masa-masa indah itu tidak berlangsung lama.  Tiga bulan setelahnya, Kakek Gilbran terbunuh secara misterius yang membuat sahabatku itu terlarut dalam kesedihan yang amat mendalam.  Aku pun senantiasa berada di sisinya untuk menyupportnya hingga waktu pada akhirnya mampu menyembuhkan luka di hatinya itu.


Namun, di usianya yang kesepuluh tahun.  Musibah terjadi lagi.  Kali ini, kedua orang tuanya yang direnggut nyawanya dalam suatu kecelakaan tragis.  Tidak, itu adalah jelas sebuah pembunuhan.  Kaiser sekali lagi dirundung dalam kesedihan pilu.  Aku yang hanya seorang robot mainan, hanya mampu memberikan dukungan padanya dengan berada di sisinya tanpa mampu berbuat apa-apa.


Sungguh malang nasib bocah itu.  Di usia yang belia itu, dia telah kehilangan tiga anggota keluarga yang dicintainya.  Dan itupun bukan dengan cara yang wajar, melainkan dengan jalan kematian karena pembunuhan.


Sejak kedua orang tuanya meninggal, senyum tulus dari bocah itu mulai hilang.  Walaupun dia masih sering tersenyum lembut, namun aku yang paling tahu, bocah itu tidak tersenyum lagi lewat hatinya.  Hatinya terkungkung dalam kehampaan.


Sampai pada akhirnya dia menginjak usia 12 tahun, dia pun memutuskan untuk menyelidiki misteri kematian kakek dan kedua orang tuanya itu dengan berangkat ke Indonesia.  Kala itu, sahabatku Kaiser tidak turut membawaku bersamanya, melainkan menitipkanku pada Judith.


Aku awalnya merasa ditinggalkan.  Namun, aku tahu betul apa yang dirasakan sahabatku itu.  Dia menitipkanku kepada adik satu-satunya itu lantaran untuk mengobati rasa khawatirnya terhadap adik satu-satunya yang ditinggalkannya tersebut dengan berada bersamaku.


“Baiklah sahabatku, jika itu yang kamu inginkan, maka aku akan melindungi Judith di sini selama kepergianmu.  Kamu tidak usah mengkhawatirkan kami di sini dan pergi saja untuk menyelesaikan urusanmu dengan cepat lantas kembali lagi ke sini dengan selamat.” Pikirku.


Akan tetapi, perpisahan kami, ternyata lebih singkat dari yang aku bayangkan.  Tiga tahun setelah itu, Judith turut menyusul kakaknya ke Indonesia.  Aku pada akhirnya, dapat bertemu kembali dengan sahabatku itu.


Namun, suatu hal yang tak terduga, kini sahabatku itu tak lagi semuram sebelum terakhir kami terpisah.  Dia pada akhirnya dapat kembali memperoleh senyumnya itu lewat asmara, bunga-bunga indah bagi para remaja.  Aku pun turut senang karenanya.


Wanita yang ditaksir oleh sahabatku itu, rupanya adalah seorang gamer.  Demi menarik perhatiannya, dia pun mulai memainkan game yang sering dimainkan oleh gadis yang dicintainya itu.  Hero of Hope game alias Hoho game, itulah nama game tersebut.


Suatu hari karena penasaran, aku mencoba menggerakkan tubuhku ketika tidak ada siapapun di ruangan untuk mencoba turut memainkan Hoho game.  Kuhidupkanlah layar komputer untuk terhubung di kapsul.  Namun setelah itu, kesadaranku tiba-tiba memudar.


Setelah sadar, tahu-tahu aku telah berada di suatu ruangan yang gelap-gulita.  Namun apa ini?  Ada ransangan baru yang aku rasakan yang terasa asing bagiku.  Ransangan sentuhan.


Sejak kapan aku bisa merasakan ransangan sentuhan?  Bukan itu saja.  Sejak kapan aku punya tangan, kaki, juga seluruh persendian yang sefleksibel ini?  Bukankah aku robot mainan yang hanya mampu menggerakkan tanganku secara rotasi sembilan puluh derajat serta bergerak maju dan mundur lewat roda-roda di bagian dasarku?


Tetapi mengapa kini tidak hanya tangan yang fleksibel, aku kini dapat merasakan punya kaki, leher, punggung, tubuh lengkap layaknya manusia.  Apa yang sebenarnya terjadi?  Dalam kegelapan itu, aku terus bertanya-tanya.


Seketika, aku pun merasa tertarik ke berbagai tempat ke sana dan ke mari.  Entah mengapa, meski ini tubuhku, tapi aku rasa bergerak sendiri seolah-olah ada yang mengendalikanku.  Dan entah alasan apa pula, aku harus bertarung melawan berbagai wujud dan entitas yang terasa asing bagiku itu.


Yang lebih mengesalkannya, di akhir-akhir, aku selalu yang mengalami kesialan.  Hancur lebur karena rudal lawan, termutilasi oleh ketajaman pedang lawan, atau bahkan tewas seketika karena racun.  Tidak hanya itu, terkadang aku pula merasa tubuhku terbagi 2, 3, 5, 10, 20 kesadaran, dan bahkan bisa lebih dari itu, dan dapat kurasakan pengalaman mengenaskan yang dialami oleh ke seluruh tubuh-tubuh itu secara bersamaan, dikalahkan secara mengenaskan.


Setiap kali aku hancur, tubuhku diperbarui kembali seperti semula, tetapi memori akhir hidup mengenaskan itu tentang dihancurkan oleh lawan, tetap apa adanya tertancap di ingatanku.  Setelah tubuhku pulih kembali, sekali lagi siklus bertarung lantas dikalahkan dengan mengenaskan terulang kembali begitu saja.


Apa ini?  Jika itu pertarungan, mengapa aku tidak bisa menggerakan tubuhku sendiri?  Padahal, jika aku mampu bergerak sendiri, lawan-lawan yang seperti itu, tidak ada artinya buatku.  Aku akan dengan mudah mengalahkan mereka semua.


Perlahan, aku akhirnya tersadar.  Ah, rupanya aku telah menjadi salah satu karakter game di Hoho game ini.  Mungkin tanpa sadar, sosok astralku berbaur dengan kesadaran salah satu karakter di dalam game.


Terbersitlah pikiran usilku.  Aku tak ingin para pemain dengan sembarangan mengendalikan aku.  Oleh karena itu, setiap kali ada pemain lain yang mencoba mengendalikan tubuhku, aku akan menganggu proses sinkronisasi mereka sehingga tak sanggup menggunakanku.  Alhasil, persentasi pemain yang mampu tersinkronisasi terhadapku menurun drastis.


Yah, walaupun tetap ada beberapa pemain yang berhasil tersinkronisasi karena sedari awal, tingkat sinkronisasi mereka terhadapku sudah tinggi.  Tetapi aku masih punya trik lain.  Aku mengacaukan pemakaian jurus-jurusku sehingga ada jurus yang terhidden dan ada pula yang terdelay lama sebelum dapat teraktifkan.


Aku mengotak-atik sedemikian rupa sistem di tubuhku sehingga seolah-olah, aku hanya memiliki kekuatan defensif dan penyembuhan saja tanpa ada satu pun kekuatan serangan.  Alhasil, aku pun menjadi karakter game yang tidak populer lagi di Hoho game.


Ini tidak mengapa.  Walaupun dengan begitu, aku mungkin akan terkurung dalam kegelapan selamanya, itu masih lebih baik daripada tubuhku diinfiltrasi secara menjijikkan seperti itu.


Namun suatu hari, aku dipertemukan kembali dengan Kaiser Dewantara.  Kali ini, seseorang yang berbaur dengan kesadaranku dan mengendalikan tubuhku adalah dirinya.  Entah mengapa, kali ini aku dapat merasakan kesinkronan lebih dari pemain-pemain sebelumnya yang pernah berbaur denganku, walaupun dengan sistem yang telah kuacak-acak sejadi-jadinya tersebut.


Di luar dugaan, bocah itu ternyata cukup hebat dalam bermain game hingga akhirnya aku dapat berada di posisi yang menang hingga tak lagi harus kalah dan hancur dengan mengenaskan.  Padahal, dengan spesifikasi yang sudah kucau-balaukan seperti itu, dia masih dapat menang dengan menggunakannya.  Sesuai dugaan, sahabatku itu memang adalah orang yang sangat brilian.


Tiap kali Kaiser Dewantara memainkan aku, di situlah aku dapat kembali melepaskan sosok rinduku padanya.  Walau kini, aku hanya dapat menatapnya dari balik layar, itu sudah cukup, asalkan kutahu bahwa keadaannya baik-baik saja.


“Kuharap setelah ini, hanya ada kebahagiaan yang akan menunggu kalian berdua, Kaiser, Judith.”  Doaku dengan tulus untuk mereka berdua.


Namun, apa yang terjadi, justru sebaliknya.  Malam bencana Hoho game pun tiba-tiba melanda seisi Kota Jakarta dan aku bersama dengan para karakter avatar lainnya dari game terbebas ke dunia nyata begitu saja.