Begitu kami memasuki pintu gerbang tersebut, tampak kilauan yang begitu cemerlang yang menyilaukan mataku. Begitu kilauan usai, tampak bahwa tidak ada siapa-siapa lagi di sekelilingku. Tujuh orang yang bersamaku sebelumnya, menghilang secara misterius. Tampak di sekelilingku, terpampang cermin di mana-mana. Begitu aku tersadar, tahu-tahu aku sudah berada di dalam labirin yang penuh dengan cermin.
Aku berjalan menyusuri labirin yang dipenuhi dengan cermin tersebut. Tampak banyak pantulan cermin yang menampakkan wajahku di mana-mana. Aku mengabaikan itu lantas berjalan terus saja. Aku khawatir kalau yang lain sampai tersesat karena peta saat ini ada di tanganku. Aku harus segera menemukan yang lain.
Aku berjalan dan berjalan, tampak tak lagi tertarik dengan pantulan wajahku di cermin yang aku sendiri sudah bosan melihatnya. Namun di kala itulah aku lengah. Jika bukan karena indera pendengaranku yang tajam, mungkin aku sudah akan berhasil disergap oleh monster itu.
“Cring.” Suara gemerisik aneh terdengar.
Salah satu pantulan diriku di cermin, namun berbeda dengan yang lain, warna matanya hijau, tidak hanya di bagian iris, tetapi seluruh bola matanya, keluar dari cermin. Dia berlari ke arahku hendak menyerangku.
“Crang, crang, crang.” Seluruh badan doppelganger-ku itu benar-benar mirip dengan cermin dari bunyi langkah yang dikeluarkannya.
Aku bertarung dengan doppelganger itu. Di luar dugaan, meski suara pantulannya mengeluarkan bunyi seperti cermin, tubuhnya tidak serapuh cermin. Tubuhnya benar-benar keras sampai-sampai daggerku menjadi lecet-lecet karenanya.
Pada akhirnya, aku bisa mendeteksi kelemahannya berdasarkan pantulan bunyi yang dihasilkannya yang jelas memperdengarkan ciri-ciri defect kristal di titik lemahnya itu. Itu tidak lain adalah bagian di daerah antara dua matanya. Akupun menyerang bagian itu dan seketika monster itu pecah layaknya cermin dan menghilang.
Aku kembali berjalan dan berjalan. Kali ini, salah satu cermin memperlihatkanku suatu pemandangan. Pemandangan masa kecilku bermain bersama Kak Faridh dan Kak Syifa dengan bahagia. Aku mengendarai sepeda beroda empat yang dirancang khusus untuk balita bersama Kak Syifa di mana Kak Faridh-lah yang mendorong sepeda itu untuk bergerak.
Suatu pemandangan yang sangat mendatangkan nostalgia walaupun aku sendiri sudah samar-samar mengingatnya karena pda waktu itu, usiaku baru genap 3 tahun.
Namun, lagi-lagi ketiga sosok pada gambar yang ada di cermin itu keluar lantas hendak menyerangku. Mungkin, karena tubuh mereka yang pendek-pendek sesuai dengan usia tubuh balita dan anak-anak pada umumnya, mereka sangat gesit, bisa melompat ke sana dan ke mari bergelantungan di atap yang cukup membuatku kewalahan menghadapi mereka. Namun, mereka justru adalah lawan yang lebih mudah dikalahkan dari yang pertama sebelumnya.
Aku melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, hal ini tidak baik. Dua dari sepuluh dagger-ku telah rusak parah karena harus memotong tubuh monster yang sangat keras sehingga tak lagi bisa digunakan. Kekerasan tubuh monster benar-benar memberikan shok pada senjataku. Kini hanya delapan dagger yang tersisa dan aku harus benar-benar bijak dalam menggunakannya.
Sementara, aku tidak mungkin menggunakan senapanku ini di labirin karena momentum ledakan peluru senapan bisa saja mengenaiku ataukah minimal ada reruntuhan labirin yang jatuh lantas mengenai kepalaku. Senjata jarak jauh tidaklah bijak digunakan di dalam labirin.
Aku berjalan dan berjalan. Kini, giliran pemandangan hari pertama kedua orang tuaku tiba-tiba menghilang dari rumah hanya dengan surat yang mengatakan bahwa mereka telah cerai di kala aku baru berusia 3 tahun lewat sedikit yang diperlihatkan oleh cermin. Tampak Kak Faridh memelukku dan Kak Syifa yang saat itu begitu rapuh karena kepergian mendadak kedua orang tua kami dari rumah.
Aku terpaksa berlari sembunyi menuju ke tiap persimpangan labirin secara bergantian demi menghindari serangan monster tersebut. Namun, sesuatu yang lebih buruk pun terjadi. Tiap persimpangan yang kudatangi, salah satu cerminnya mengeluarkan pemandangan yang sama seperti yang kulihat sebelumnya, lalu monster amplop yang baru kembali muncul lewat cermin tersebut.
Tanpa sadar, sudah ada lima monster amplop yang mengejarku. Aku menyesal mengapa aku sama sekali tidak menyiapkan pistol di tanganku yang bisa digunakan untuk serangan jarak menengah.
Aku yang panik lantas menembaki sekelilingku dengan senjata senapanku. Aku terluka cukup parah karena beberapa pecahan cermin yang tajam juga termasuk impak peluru yang secara naas kembali memantul, mengenai tubuhku. Namun, cermin-cermin berhasil pecah, dan begitu cermin pecah, monster-monster yang keluar dari dalamnya pun berhasil musnah.
Aku tak berdaya. Dan yang lebih membuatku frustasi adalah cermin-cermin yang telah pecah itu secara ajaib bisa memulihkan dirinya. Di kala itulah aku melihat jubah hitam dan topeng putih disertai dua buah pistol beserta tas yang penuh berisi pelurunya.
Entah ini suatu keberuntungan ataukah ini memang sudah settingan karena pada game, takkan ada pemain yang dikirim ke pertarungan tanpa diberikan bekal senjata. Jadi kalau labirin ini juga mengikuti konsep game, maka sudah sewajarnya akan ada senjata.
Satu penemuan besar yang kuperoleh, rupanya dengan tidak menampakkan wajah kita di cermin, monster-monster takkan dapat membuat monster dari ilusi pengalaman terdalam seseorang tersebut.
Aku yang sudah terluka parah ini, kemudian melanjutkan perjalanan dengan tertatih-tatih dengan pistol di kedua sisi ikat pinggangku. Kubukalah kembali peta penunjuk jalan. Tampak peta masih berfungsi dengan baik dan menunjukkan jalannya. Tetapi sial, di tengah perjalanan, angin tiba-tiba berhembus dengan sangat kencang dari dalam labirin lantas melepaskan penutup kepala jubahku dan menghempaskan topeng putih dari wajahku.
Seketika wajahku terekspos, bayangan masa kelam diriku kembali muncul di cermin, mempertontonkan kelemahanku. Kali ini pemandangan di mana aku bersembunyi di bawah kapsul di saat kakakku Faridh dibunuh dengan sadis oleh Freeze.
Sosok Freeze bersamaan dengan kakakku Faridh pun keluar dari cermin dengan mata hijau-nya yang menyala-nyala lantas menyerangku. Aku menghindari serangan itu sembari menembakkan pistol dari tangan kiri dan kananku. Begitu peluruku habis, aku kembali bersalto menghindari serangannya sembari mengisi peluru. Begitu selesai mengisi peluru, aku pun menyerang kembali.
Dengan memanfaatkan kembali indera pendengaranku yang tajam, kucoba cari tahu di mana defect kristal paling besar pada kedua monster itu berada. Kudapatilah, untuk monster dengan wujud Kak Faridh, ada di area tempat ginjal manusia berada, sementara untuk Freeze, ada di area tangan kanannya.
Aku pun menembaki daerah itu dan monster pun pecah lalu menghilang.
Segera kukenakan kembali tudung jubah hitam serta topeng putihku untuk menghindari monster tere-spawn lagi dari dalam cermin. Aku berjalan menyusuri labirin sesuai yang ditunjukkan oleh peta kepadaku hingga pada akhirnya, aku benar-benar menemukan jalan keluarnya, ujung dari labirin tersebut. Namun sesuai dugaan, keenam yang lain belum berada di sini.
Kumanfaatkanlah telingaku yang tajam untuk mendeteksi keberadaan mereka. Tetapi itu sangatlah sulit karena dengungan gemerincing cermin yang sangat berisik menyamarkan suara-suara mereka. Tetapi setelah aku berkonsentrasi lebih, setidaknya aku menemukan satu orang. Itu dia Kak Kaiser.