101 Avatars

101 Avatars
28. Kebaikan Hati Bukanlah Kelemahan



Dengan terisak, Zenri melanjutkan penjelasannya.  Menurut keterangannya, Zenri telah mengawasi Riri, samaran monster avatar itu selama 4 hari ini.


Berdasarkan pengawasan tersebut, Zenri pun memutuskan bahwa Riri adalah sosok yang baik, bahkan pada saat gempa ringan 4 hari yang lalu, Riri mengubah wujudnya menjadi monster avatar hingga ketahuan dirinya perihal demi menyelamatkan seorang anak yang hampir saja tertimpa pecahan kaca dan balok-balok kayu tajam dari lantai empat bangunan.


Namun, tentu saja berbeda dengan perihal bertemu langsung.  Walaupun Zenri tahu bahwa Riri adalah sosok yang baik, dia tetap takut untuk menemuinya lagi setelah mengetahui bahwa sosok sejatinya adalah seorang monster avatar.


Aku dan Bobi hanya dapat mendengar kesaksian Zenri dalam diam.  Beberapa saat kemudian, Zenri pun berujar,


“Tolong rahasiakan ini dari siapapun ya, teman-teman.  Aku tidak ingin lagi kejadian sewaktu aku SMP terulang lagi.  Aku tidak ingin lagi melihat siapapun menderita perihal aku yang tak mampu menjaga omonganku.  Namun, aku memutuskan untuk menceritakan rahasia ini perihal aku percaya pada kalian.”  Ujar Zenri dengan sendu.


Kudengar, Bobi menanggapi ucapan Zenri dengan mengatakan, “Rupanya kejadian itu sampai membuatmu setrauma ini ya, Zenri, bahkan setelah 5 tahun berlalu.  Padahal aku sama sekali tak pernah menyalahkanmu.  Orang-orang yang berpikiran sempit itulah yang salah karena menyalah-artikan ucapanmu.  Tapi tenang saja, perihal ceritamu itu akan kami rahasiakan.”


Kulihat Bobi mengelus-elus pundak Zenri untuk menenangkannya.  Sesaat kemudian, Bobi lantas berujar kepadaku, “  Jadi begitu, Adrian, bisakah kami minta tolong saja padamu untuk nitip beli roti di sana?  Tampaknya masih agak berat bagi Zenri ke tempat itu, jadi aku akan kembali ke kelas saja bersamanya.”


“Oh iya, serahkan padaku.”  Ujarku menyanggupi sembari mengamati ekspresi Bobi.  Dapat kulihat ketulusannya mengkhawatirkan sahabatnya itu.


Bobi bersama Zenri lantas berbalik arah kembali menuju gedung fakultas.


Aku tak mengira Bobi akan berkata seperti itu.  Padahal awalnya kukira Bobi adalah sosok berkepala dingin yang akan selalu memutuskan hal dengan pertimbangan yang matang.  Tak kusangka, dia dengan mudahnya menyetujui permintaan Zenri itu padahal Bobi sendiri tahu bahaya keberadaan monster avatar setelah kuceritakan padanya.  Pastinya, kejadian dia bersama Avatar Sena itu, masih memberikan kesan yang mendalam padanya.


Atau setidaknya itu yang kupikirkan sampai beberapa jam yang lalu.


Malam itu, akhirnya aku tiba di markas rahasia kami.  Rupanya, di sana telah menungguku semua anggota kecuali Kak Kaiser.  Kulihat Profesor Melisa menatapku dengan marah, sementara Kak Syifa menatapku dengan tatapan yang sendu seolah aku telah mengkhianatinya akan sesuatu.


“Ada apa?  Kok suasananya pada tegang?”  Aku pun bertanya.


Profesor Melisa lantas menjawab dengan intonasi yang sedikit menunjukkan kemarahan, “Adrian, kamu teman dekat Zenri dan Bobi di kampus kan?”


Ada apa ini?  Mengapa sampai Profesor Melisa menyebutkan nama Bobi dan Zenri di tempat ini?  Karena bingung dengan tujuan Profesor Melisa menanyakan hal tersebut, aku pun jadi terdiam beberapa saat.


Kak Syifa lantas turut bersuara bahkan sebelum aku sempat menjawab pertanyaan dari Profesor Melisa tersebut.


“Adrian, apa kamu kenal Riri, pegawai Toko Kue Bernard di dekat Fakultasmu itu?”


Setelah Bobi dan Zenri, mengapa Kak Syifa tiba-tiba mengungkit persoalan Riri dari Toko Kue Bernard itu?  Ah, atau jangan-jangan mereka sudah tahu identitas mengenai monster avatar itu.


Padahal aku awalnya memang hendak mengonsultasikan perihal ini kepada Kak Syifa terlebih dahulu sebelum aku memutuskan bagaimana aku bertindak.  Aku tidak bisa sembarangan memutuskan karena salah sedikit, maka trauma Zenri akan kembali.  Namun, pada akhirnya, kami tetap harus membasmi monster avatar itu demi keselamatan umat manusia.


Oleh karena itulah, aku butuh saran dari Kak Syifa.  Satu-satunya menurutku orang yang paling bijak dalam melihat masalah dari titik tengah.  Namun, tampaknya sudah terlambat.  Mereka semua telah mengetahuinya.  Tetapi bagaimana caranya?


Andai saja Kak Kaiser ada di sini saat ini, perasaanku pasti lebih tenang karena Kak Kaiser pasti dapat segera memutuskan keputusan yang paling bijak.  Tidak, itu salah.  Aku bisa menebak keputusan apa yang akan diberikan oleh Kak Kaiser yang selalu berpikiran dingin.


Namun, tampaknya semua sudah terlambat.  Aku minta maaf, Zenri.


“Ya, bagiku, Riri, salah satu dari tiga bersaudari, the flower sisters dari Bernard, adalah orang yang ramah dan pekerja keras.  Namun, aku sendiri tidak terlalu mengenalnya lebih dalam persoalan di kampus, perhatianku hanya tertuju pada Nafi…ehem, berbagai teori virtual seperti Naflex, Conrad, dan sebagainya.”


Fiuh…Aku hampir saja keceplosan soal perasaanku pada Nafisah ke kakakku sendiri.  Tidak, bukan itu yang penting sekarang, perihal sekarang adalah persoalan yang serius.


“Kadang, tiap aku lapar di pagi hari karena lupa sarapan, dialah yang selalu menyambutku di toko kue dan dia selalu menyambutku dengan senyum ramahnya.  Intinya, dia adalah seorang gadis yang baik.  Tetapi bukan itu kan yang kalian ingin tahu?  Kalian sudah tahu siapa sebenarnya dia?”


AI5203-lah yang kemudian menjawab.


“Teman kamu, Bobi, telah melapor pada kami melalui contact person kami di situs fansite mengenai penyamaran salah seorang monster avatar yang tidak lain adalah wanita yang kamu sebutkan tadi.  Dari informasi tersebut, kami pun menyelidikinya dan di luar dugaan, rupanya kamu telah mengetahui hal itu sebelumnya, Adrian.”


“Kenapa kamu tidak segera menghubungi kami, Adrian?  Jangan bilang kamu menaruh simpati pada monster-monster itu?”  Profesor Melisa langsung menyambung interogasi tersebut.


“Simpati kah?  Hahahahaha.  Sebenarnya, aku hanya berniat menunda untuk menyampaikannya kepada kalian beberapa hari saja demi kesehatan mental temanku Zenri.  Tapi benar juga, mungkin tanpa sadar, aku melakukannya karena simpati.  Padahal sebelumnya kukira Bobi-lah yang tak dapat lepas dari bayang-bayang Avatar Sena.  Siapa yang menduga bahwa itu aku.  Hahahahaha.”


Aku berupaya menutupi ekspresi kecewa dan sedihku dengan tertawa.  Namun, aku hanya malah tampak lebih menyedihkan.


“Adrian.”  Kakakku Syifa pun menepuk pundakku untuk menenangkanku.


“Tidak kok Kak.  Aku juga paham bahwa aku tidak boleh berhati lemah seperti ini di kala nyawa seluruh umat manusia jadi taruhannya.  Aku pun heran mengapa aku tidak bisa juga berubah menjadi seseorang yang berhati dingin layaknya Bobi dan Kak Kaiser.”


Dari balik pintu itu, tiba-tiba sebuah suara yang sudah tidak asing lagi bagiku itupun menggema.


“Kamu salah, Adrian.”  Sembari mengatakan itu, Kak Kaiser masuk lantas mendekat kepadaku lalu serta-merta mengusap rambutku.


“Kamu tidak perlu berubah apa-apa.  Dirimu yang sekarang dengan kepolosan yang apa adanya adalah yang terbaik.  Tidak ada salahnya menjadi anak yang polos.  Anak yang polos juga punya kelebihannya.  Yang kamu butuhkan hanyalah seseorang rekan berhati dingin untuk membantumu menilai keadaan dengan lebih objektif untuk menutupi kekuranganmu itu saat diperlukan.”


Kulihat Kak Kaiser menghela nafas sesaat sembari menatapku dengan lembut.


“Dan itulah peranku untuk menutupi kekuranganmu itu.”


Entah mengapa, setelah mendengar kata-kata dari Kak Kaiser barusan, membuatku bersemangat kembali.  Kak Kaiser benar bahwa tiap orang berbeda-beda.  Aku tidak perlu berusaha menjadi orang lain yang membuatku tidak bisa menikmati hidupku ini sesuai apa yang kuinginkan.


“Jadi bagaimana, Kaiser?  Apakah kamu sudah berhasil menyingkirkan monster avatar itu?”  Tanya Profesor Melisa kepada Kak Kaiser.


“Ya.  Avatar nomor seri 23, Avatar Silver Knight, yang menyamar sebagai Riri, seorang pegawai di Toko Kue Bernard, berhasil disingkirkan.  Di tempat kejadian, kedua saudarinya yang lain melarikan diri.  Kuat dugaan, kalau mereka berdua juga adalah monster avatar.”


Serta-merta, ucapan Kak Kaiser yang selanjutnya itu menyadarkanku kembali bahwa inilah perang dengan keselamatan umat manusia sebagai taruhannya.  Tersisa 21 monster avatar yang harus disingkirkan dengan batas waktu 106 hari lagi.