101 Avatars

101 Avatars
127. Selamat Tinggal, Kakek Loki!



“Area of Green Wind.”  Dalam keadaan yang tampak telah batuk darah, seorang kakek memaksakan dirinya untuk mengeluarkan kekuatan spiritualnya berupa area angin hijau yang menyelubungi seluruh Kota Jakarta.


Lalu kemudian, “See of My Eyes.  To the Future.”  Dalam sekejap, puluhan ribu mata tampak terpantulkan lewat angin hijau yang dibentuk oleh sang kakek di segenap penjuru Kota Jakarta tersebut.


“Ukh.”  Sang kakek pun batuk darah.


“Hei, Loki.  Sudahlah, hentikan.  Dirimu sudah terlalu tua untuk berada di garis depan pertempuran.


Teriak Airi lalu dilanjut oleh Andika yang tampak mengkhawatirkan teman sebaya mereka itu.


Mereka bertiga sudah tua, namun tekat mereka untuk melindungi Kota Jakarta ini tetaplah kuat.


“Garis depan apanya?  Aku hanya sekadar membantu meramalkan kehadiran musuh.  Aku tidak lagi bertarung lewat fisikku.  Uhuk.  Uhuk.”  Dengan terbatuk-batuk, Kakek Loki tampak berupaya tegar.


Sesaat kemudian, seorang nenek tua pun mendatangi mereka.


Airi dan Andika mendengar suara langkah kaki itu.


“Nadia?”


“Nadia, sudah lama, ya.”


Begitu mereka melihat sosok nenek tua itu, mereka sesaat pangling tak percaya masih mampu melihat seorang teman yang telah lama tak mereka temui itu.


“Apa yang kamu lakukan di sini, Nadia?  Di sini berbahaya.  Kamu kan bukan spiritualis tipe petarung.  Tidak sebaiknya kamu berada di sini.”  Ujar Airi kepada Nadia.


“Kami memang sudah tua.  Telah lama kami mundur dari barisan depan pertarungan.  Tetapi semangat kami tetap sama seperti dulu.  Bagaimana pun kita sama-sama mencintai Kota Jakarta kita ini.  Kita tidak akan pernah menyia-nyiakan pengorbanan Tuan Muda kala itu.  Benar kan, Andika, Airi?”


“Ya, kamu benar, Nadia.”


“Tetapi satu hal.  Kuyakin Kaiser baik-baik saja dan segera akan ada petunjuk untuk menemukan keberadaannya.”


Airi merespon setuju.  Namun, Andika sedikit mengoreksi ucapan Nadia itu.


Nadia hanya terdiam.  Lebih dari siapapun, Nadia tahu bahwa Andika adalah orang yang terdekat dengan sosok tuan muda idolanya itu.  Andika-lah yang paling terpukul akan kehilangan sosok itu.  Akan tetapi, Nadia tetap realistis.  Sudah 32 tahun sejak Kaiser dan istrinya terdampar di dunia virtual.  Kecil peluang dirinya masih akan bisa ditemukan.


Dirinya sendiri telah tua dan telah lama menyerah, bahkan 3 dari mereka ber-20 telah mengembuskan nafas terakhir mereka, termasuk pemimpin mereka, Agni Permata.  Nadia kini hanya dapat mendoakan yang terbaik buat tuan mudanya itu di mana pun dia berada.


“Loki, kutahu ini kejam.  Jika bisa, aku ingin kamu juga menyerah, mengingat usiamu itu.  Namun, jauh dari lubuk hati kami, kami berharap bahwa kamu belum akan menyerah.  Sekali serangan tanpa antisipasi saja, dua ribu lebih korban telah berjatuhan.  Jika bukan karena kekuatanmu setelah itu, maka pasti akan lebih banyak lagi korban yang jatuh.  Jadi, kumohon jangan menyerah, demi anak-anak dan cucu-cucu kita.”


Nenek Nadia pun berujar dengan mata yang berkaca-kaca.


“Gunakanlah sisa-sisa kekuatan kami yang telah kami kumpulkan ini untuk melindungi Kota Jakarta.  Teruskanlah tekad kami ini.”  Ujar Nadia seraya memberikan kekuatan yang telah dikumpulkannya bersama ke-17 anggota yang telah renta yang tersisa dari mereka.


Itulah kekuatan andalan milik Nadia, kekuatan untuk mentransfer kekuatan.


Loki pun melanjutkan tugasnya dalam melakukan sisa-sisa pelacakan lain di tempat-tempat di setiap sudut Kota Jakarta.


“Syukurlah, hanya tersisa 1 tempat kemunculan monster sebelum Adrian dan yang lain menyelesaikan misi mereka.  Tampaknya anak kalian memang hebat, Andika, Airi.  Mereka bisa menyelesaikan misi dengan baik.  Sekarang tugas kita adalah meminimalisir korban di sini sebelum tugas mereka terselesaikan.  Tempatnya adalah di area G13.”


“Ukh.”


Usai mengucapkan kalimatnya itu, Loki muntah darah dengan hebat.


Andika, Airi, dan Nadia berlari menghampiri Loki yang telah jatuh pingsan.  Tidak, nafasnya telah terputus.  Kakek Loki telah meninggal sebagai pahlawan umat manusia.


“Tidak, Loki?


“Loki!”


Teriak Airi dan Andika dengan panik.  Begitu mereka menyadari bahwa kakek itu telah tidak bernyawa lagi, mereka pun menangisi rekan seperjuangan mereka itu.


“Tidak, ini semua salahku.  Andai aku tidak membebaninya…”


“Tidak, Nadia, ini semua keinginan Loki.  Lebih dari siapapun, kita semua tahu bahwa kita bisa memprediksi serangan monster sejauh ini setelah serangan terakhir yang memakan banyak korban jiwa tersebut hingga tidak muncul korban lagi setelahnya, semua berkat kekuatan Loki.  Loki pasti di akhir hayatnya puas dengan semua itu dan pergi ke alam sana dengan tenang.”


“Sebagai rekan yang ditinggalkan yang mungkin juga sebentar lagi akan menyusulnya, hanya satu yang harus kita lakukan, yakni melanjutkan perjuangannya.”


Ujar Airi penuh tekad menyemangati Nadia, tidak, pada prinsipnya kata-kata itu untuk mereka semua, termasuk diri Airi sendiri.


Tidak lama kemudian, tim pun dikirim ke tempat kejadian di mana tim dipimpin oleh Lilia, kakak Nafisah. Hadir pula bersamanya paman jauhnya, Lui, yang telah berusia tua pula tetapi masih tetap dengan badan yang bugar.  Turut pula bersama mereka Dream dan Arjuna sebagai tim pendukung.  Kesemuanya belum mengetahui kabar kematian Kakek Loki.  Andika dan Airi memutuskan untuk merahasiakannya sesaat demi moral tim.


“Dream, lihat!  Itu titik dimensinya.”  Teriak Arjuna memperingati Dream sebagai pemilik mata paling tajam di antara mereka semua.


“Baiklah, aku melihatnya, Arjuna.”


Seraya mengatakan itu, Dream pun mengaktifkan jurus sub ruang-nya lantas menjebak titik dimensi beserta tim penyerang monster ke dalamnya.


Titik dimensi pun membesar dan sejumlah troll raksasa pun keluar dari dalamnya.


“Tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas.  Oh, tidak!  Jumlah mereka terlalu banyak.  Bagaimana ini, Kapten?  Bisakah kita mengalahkannya?”  Salah seorang anggota tim wanita yang tampak paling dekat dengan Lilia lantas bertanya panik.


“Serahkan padaku.” Ujar Dream walau tampak ragu.


“Aktifkan penalti sistem.  Melanggar hukum alam.  Tubuh raksasa tidak dapat diterima.  Koreksi ukuran.  Ubah ukuran sesuai hukum alam.”  Tampak Dream berbicara dengan tenang seperti cara standar customer service berbicara pada pelanggan.


Sesaat kemudian, ukuran para troll itu pun menyusut menjadi seukuran manusia.


Melihat ukuran mereka yang telah mengecil, jiwa semangat para pejuang pun kembali lantas maju menerjang para monster troll tersebut.  Namun walau ukuran tubuh mereka telah mengecil, troll masih-lah lawan yang tangguh untuk dikalahkan.


“Kerja bagus, Dream.”  Puji Arjuna kepada Dream.


“Ah, syukurlah karena wujud monsternya kali ini menyerupai manusia.  Jadi aku bisa menerapkan kekuatan pengoreksian sistem pada mereka.  Ini benar-benar suatu anugerah.  Seandainya saja, monster udang atau kalajengking raksasa seperti sebelumnya yang muncul, entah apa yang akan terjadi.  Aku tetap bisa menjebak mereka di sub ruang dimensi, tetapi pasti para tentara pejuang itu akan sangat kesulitan menghadapi mereka.”


Ujar Dream disertai helaan nafas.


“Ya, syukurlah.  Pada akhirnya segala sesuatunya mengarah ke arah yang baik.”  Balas Arjuna disertai dengan senyuman yang tenang.


Sesaat kemudian, karena jumlah mereka yang sedikit dengan ukuran yang tidak mendominasi lagi, para troll dengan cepat dapat dikalahkan.  Pada dasarnya penglihatan troll kuranglah baik sehingga mereka memanfaatkan celah itu untuk menjebak para troll ke perangkap mereka lantas mengalahkannya dengan mudah.


Kini, berdasarkan penglihatan masa depan Kakek Loki, tidak ada lagi bahaya yang akan muncul mengancam Kota Jakarta.  Yang tersisa adalah berita kemenangan ketujuh tim volunteer menghabisi dalang bencana di dunia virtual.  Namun sekali lagi bahwa itu hanyalah sekadar penerawangan masa depan yang peluang terjadinya paling besar.  Masih ada kemungkinan kecil bahwa masa depan yang terjadi adalah justru bad ending.