101 Avatars

101 Avatars
41. Masa Lalu Arjuna



Suatu hari di bulan Januari tahun 2052 itu, sebelum tibanya bencana Hoho game, mungkin saat itulah untuk pertama kalinya aku berhadapan dengannya.  Walaupun dia avatar terlemah ketiga dalam Hoho game, dia berhasil mengalahkanku dengan telak hanya dalam kurun waktu 9 detik 92 milisekon, padahal aku menggunakan Avatar Jack Tornado yang hampir tiga kali lipat lebih kecil nomornya dari dia.


Saat itu, kulihat nama pemain yang mengendalikannya adalah Princess Judith.  Sungguh kebetulan yang langka karena nama pemain tersebut sama dengan nama adik Kak Kaiser.


Begitu game dimulai, aku dengan polosnya terbang cepat ke sana dan ke mari dengan maksud untuk melengahkan perhatiannya.  Lalu di waktu yang kupikir lawanku itu telah lengah, aku seketika terbang cepat ke arahnya untuk memberikannya tumbukan kepala mautku.


Siapa yang sangka bahwa pemain yang terlihat sedang lengah itu, hanyalah sebagai kedok untuk memancingku menurunkan kewaspadaan padanya.  Lalu dalam sekejap,


“Slash!”


Dia melayangkan tombaknya padaku, memanfaatkan kecepatan gerak musuhnya sendiri untuk balik menggunakannya sebagai keuntungan.


Aku yang sedang terbang sangat cepat, akhirnya tidak bisa segera bermanuver menghindari bilah tajam tombaknya itu.  Seketika aku terbelah dua oleh tombaknya yang sebenarnya memiliki ketajaman yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan senjata avatar bernomor seri 20 – 24.


Aku pun kalah telak oleh avatar yang bernama Arjuna itu.


***


“Duh, teganya menuduh aku yang polos ini sebagai mesin pembunuh.  Dasar Kak Kaiser itu!”  Arjuna pun dengan tingkah yang tampak imut itu merajuk kesal atas perkataan Kak Kaiser.


Dari ucapannya itulah, tergelitik rasa ingin tahuku untuk bertanya, “Walau kamu bilang begitu, bukankah semua avatar membunuh inangnya karena belum memperoleh kesadaran ketika pertama kali terbangkitkan?”


Kulihat baik ekspresi Crusader, Sly Dark, maupun Hard mengerut.  Hanya Arjuna-lah yang masih tetap mempertahankan ekspresi polosnya.


“Enak saja!  Aku tidak pernah membunuh siapapun!  Tio masih hidup sampai sekarang!”  Teriak Arjuna marah.


“Siapa Tio?  Inang manusia yang kamu mimik?”  Tanyaku balik padanya.


“Iya, Kak Adrian.  Saat ini, setidaknya Tio masih hidup, walaupun masih berada dalam keadaan koma.”


Lalu mulailah Arjuna menceritakan masa lalunya, masa di mana terjadinya bencana Hoho game yang mengawali segala peristiwa tragis itu.


Hal itu dimulai ketika dia terbangkitkan dari kapsul yang dimiliki oleh orang bernama Tio tersebut.  Arjuna yang baru bangkit, tampak tak dapat menahan perasaan amarah dan kebrutalan di dalam dirinya yang tak jelas darimana sumbernya berasal.  Namun, dia tetap bisa mengendalikan dirinya, layaknya waktu Sena kala itu bertemu dengan Ningrum.


“Pergi.  Kumohon pergi dariku.  Aku tak dapat mengendalikan diriku sendiri.”  Ujar Arjuna.


Namun, karena kejadian munculnya Arjuna dari balik layar komputer di kapsulnya yang begitu tiba-tiba itu, Tio saking shoknya sehingga bocah yang baru berusia 15 tahun waktu itu hanya bisa diam terpaku sambil gemetaran.


Arjuna yang tak dapat mengendalikan dirinya sendiri oleh nafsu untuk segera memimik manusia itupun menghampiri Tio lantas menghisap darahnya.  Di saat itulah, Arjuna bertransformasi ke dalam wujud Tio, yakni wujud yang sekarang digunakannya, berupa anak remaja laki-laki yang rupawan.  Adapun Tio, setelah darahnya dihisap oleh Arjuna, tiba-tiba saja mendadak pingsan.


Tak lama waktu berselang, keluarga Tio pun yang terdiri dari ayah, ibu, serta seorang kakak perempuan satu-satunya, menerobos masuk ke kamar Tio begitu mereka digemparkan oleh keributan di luar rumah mereka ditambah pemberitaan TV yang begitu mencengangkan tentang serbuan monster avatar di malam bencana Hoho game itu.


Di situlah seluruh anggota keluarga Tio menjadi histeris lantaran apa yang mereka saksikan di TV rupanya juga terjadi di rumah mereka.  Walau ketakutan, mereka tidak kabur lantaran Tio, keluarga mereka yang berharga, masih ada di tangan Arjuna yang telah kembali ke dalam wujud monster avatarnya tersebut.


Arjuna yang paham akan hal itu, lantas memojok, dan di saat itulah dengan sigap, keluarganya mengambil Tio dari tangan sang monster lalu bersegera mengungsikan diri keluar dari rumah mereka.


Namun, bahaya lain rupanya telah menanti mereka di luar.  Monster avatar yang lain telah menunggu mereka.  Tetapi di saat itulah, Arjuna turut keluar lalu menyelamatkan Tio sekeluarga kemudian dengan sigap kabur dari sang monster lantas bersembunyi di pengasingan hingga malam mencekam itu berakhir.


Begitu keluarga Tio melihat Arjuna berubah menjadi manusia dengan wajah menyerupai Tio, ketegangan mereka pun sedikit berkurang padanya.  Mungkin sugesti makhluk beda jenis yang kini telah tanggal, menjadi penyebab sekat pemisah itu sedikit lebih renggang, walaupun fakta bahwa Arjuna adalah monster avatar tetaplah tidak berubah.


Tepat sehari setelah malam bencana pertama Hoho game, Avatar Arjuna akhirnya teringat kembali dengan orang terkuat yang pernah mengendalikannya.    Orang yang dengan cerobohnya berniat ingin membantu adiknya segera level-up di game yang turut digandrungi mereka bersama sehingga memainkan Hoho game lewat kapsul milik adiknya tersebut.  Tetapi justru berakhir dengan adiknya diblacklist 3 hari dari game karena penggunaan kapsul selain pemain terdaftar.


Terlebih, reward exp yang diperolehnya selama bermain di kapsul milik adiknya itu, lenyap begitu saja.


Dia tidak hanya melakukan perbuatan sia-sia, tetapi juga membuat adiknya tak mampu menikmati game favoritnya itu selama 3 hari berturut-turut.  Akan tetapi, sang adik yang sangat sayang pada kakaknya itu, yang justru turut menyenangi Hoho game lantaran pengaruh sang kakak, sama sekali tidak mempermasalahkannya, tetapi itu tentu saja tak membuat rasa bersalah sang kakak mereda.


Dialah sang kakak, Kak Kaiser?


“Eh, jadi orang yang kamu maksud itu Kak Kaiser?  Tapi apa maksudmu dengan adiknya sangat menyayanginya?  Tidak mungkin itu Judith, kan?  Kamu tahu sendiri bagaimana perilakunya pada Kak Kaiser selama ini.  Pasti ada adik Kak Kaiser yang lain yang tidak kuketahui!”  Aku serta-merta berteriak kaget memotong cerita Arjuna lantaran informasi mencengangkan yang kuterima itu.


Singkat cerita, Arjuna yang kala itu terpukau oleh kejeniusan Kak Kaiser tanpa berpikir panjang langsung menemuinya  tanpa tahu bahwa Kak Kaiser-lah identitas sebenarnya dari Pahlawan Darah Merah yang selama ini populer di TV dalam membasmi rekan-rekan monster avatarnya.


Tiada orang lain yang dipikirkan oleh Arjuna saat itu untuk dimintai tolong selain pada orang yang dinilainya paling kuat, bersahaja, dan jenius itu.  Arjuna berpikir bahwa orang bertipe pahlawan tersebut pastilah punya solusi terhadap masalahnya.


Jadilah dia mendatangi Kak Kaiser dengan maksud berkonsultasi bahwa seorang monster avatar telah melukai saudara kembarnya lalu tiba-tiba saja saudara kembarnya itu terbaring pingsan bahkan sampai keesokan harinya yakni di waktu sekarang.  Dan rupanya insting Arjuna itu tepat karena Kak Kaiser mengatakan bahwa dia memang punya solusi dan bersedia untuk membantu Arjuna.


Arjuna pun mengajak Kak Kaiser ke rumahnya untuk menjemput Tio yang dikatakannya sebagai saudara kembarnya itu dengan menjelaskan segala perihal detilnya terlebih dahulu kepada keluarga Tio.  Kemudian, Tio pun dibawa ke suatu fasilitas rahasia oleh Kak Kaiser dengan disaksikan oleh Arjuna di sampingnya.


Tentu saja keluarga Tio turut serta bersama mereka.  Hal itu sekalian dapat lebih menenangkan kekhawatiran Arjuna perihal pada saat itu, para monster avatar masih berkeliaran bebas, menyamar dengan memimik manusia, lalu berbaur di antara mereka.  Sementara, Kak Kaiser belum mengaktifkan virus yang melumpuhkan kekuatan para avatar kala itu sehingga para avatar bisa kapan saja mengganas di antara kerumunan manusia secara tiba-tiba tanpa disadari.


Arjuna berpikir bahwa dengan dirinya berada terus di dekat keluarga Tio, dia dapat mampu terus melindungi mereka dari ancaman para monster avatar.


Namun tentu saja keluarga Tio dapat mengikuti mereka hanya sampai pada titik tertentu.  Hanya Arjuna-lah yang diberikan otoritas oleh Kak Kaiser untuk mengakses fasilitas rahasia di mana Tio akan dirawat tersebut.


Kala itu, Arjuna masih merahasiakan identitas dirinya yang sebenarnya pada Kak Kaiser bahwa dialah monster avatar yang telah melukai dengan memimik Tio dengan mempertimbangkan keinginan keluarga Tio yang tak ingin ketika anak mereka bangun, anak mereka itu telah kehilangan segalanya perihal lekang oleh waktu.


Melihat peluang ada Arjuna yang bagaikan duplikat wajah Tio, jadilah keluarga itu ingin memanfaatkan Arjuna sebagai pengganti sementara Tio, walau mereka sendiri sadar bahwa Arjuna-lah penyebab anak mereka menjadi koma seperti sekarang itu.


Tetapi setelah banyak mengobrol-obrol bersama Arjuna yang polos itu, keluarga Tio pun bersimpati padanya dan tidak lagi serta-merta menyalahkan Arjuna atas musibah yang menimpa Tio.  Mereka hanya berharap bahwa anak mereka akan segera siuman.  Tentu saja, itu perasaan mereka saat Tio masih dalam kondisi pingsan selama kurang dari 24 jam.  Tiada dari mereka yang mengira bahwa bahkan setelah 5 tahun, Tio masih harus terbaring koma.


Tetapi aku yakin, Kak Kaiser yang tajam pasti telah menyadari identitas Arjuna yang sebenarnya kala itu.  Apalagi berbeda dengan publik yang mengetahui kemampuan mimikan monster avatar baru-baru ini setelah masalah avatar penyusup di kepolisian akhirnya mendesak Kak Kaiser mengumukan yang sebenarnya secara gamblang melalui fansite-nya sendiri, Kak Kaiser sebagai salah satu informan utama di fansite tersebut pasti telah selangkah lebih maju.


Memasuki fasilitas perawatan rahasia tersebut, di situlah Arjuna turut menyaksikan di tempat itu, Profesor Melisa dan seorang kakek menyambut mereka dan segera membaringkan Tio ke dalam kapsul khusus semacam alat hibernasi.


“Jadi setelah itu, Kak Kaiser pada akhirnya menyadari bahwa kamu adalah monster avatar lalu kamu ditangkap dan dimasukkan ke dalam gelang ya?”  Mendengar cerita tersebut, aku tergelitik bertanya.


“Tidak Kak.”  Tolak tegas Arjuna pada asumsiku.


“Waktu itu, Kak Kaiser belum pernah bilang bahwa dirinya adalah Pahlawan Darah Merah.  Juga ada permintaan keluarga Tio.  Jadi aku pun merahasiakan hal itu dari Kak Kaiser agar aku dapat menggantikan Tio yang asli di sekolahnya.  Namun, dua minggu setelah itu, Moon muncul menculik satu-persatu siswa di sekolahku.  Kak Kaiser pun mengintai ke situ untuk menyelidiki kasusnya.  Tentu saja dalam wujud Pahlawan Darah merah-nya.”  Lanjutnya menjelaskan.


Arjuna terdiam sejenak sembari memainkan jari telunjuk kanannya di bibirnya.  Sesaat kemudian, dia melanjutkan,


“Karena aku jeli dalam mengenali orang dari gerak-geriknya, aku langsung tahu bahwa orang itu adalah Kak Kaiser, lalu aku segera menghampirinya.  Karena aku percaya padanya, aku segera mengungkapkan identitasku agar bisa ikut membantunya menemukan Moon demi tujuan segera menemukan siswa-siswa yang diculik sebelum mereka diapa-apakan oleh Moon yang terkenal aneh itu bahkan di antara kami sesama avatar sewaktu di dunia virtual.”


“Lalu di situ kamu ditangkap?”  Pertanyaan yang sama pun terulang kedua kalinya lewat mulutku.


“Tidak.”  Namun untuk kedua kalinya pula Arjuna menegasikan asumsiku.


“Nyatanya, Kak Kaiser sama sekali tak pernah menyinggung soal gelang dan aku pun belum tahu apa-apa perihal kekuatan gelang kala itu.  Jika kala itu dia ingin menangkapku untuk turut menjadi kekuatan yang membantunya, tentu dengan senang hati akan langsung kuterima.  Masalahnya, mungkin sedari awal Kak Kaiser sama sekali tak menganggapku berguna sehingga dia hanya mengabaikan aku dan fokus mencari Moon.”


Arjuna menghela nafasnya sejenak sebelum dia melanjutkan.


“Namun, aku berupaya menarik perhatiannya yang bagiku kala itu benar-benar sosok seorang pahlawan yang menyilaukan.  Aku pun berusaha keras menunjukkan kegunaanku pada dirinya.  Dengan bakat khususku yang memiliki penglihatan yang tajam, aku berhasil membantu Kak Kaiser menemukan tempat persembunyian Moon.”


“Lalu karena itu kamu dinilai berguna dan akhirnya Kak Kaiser menginginkan-mu sebagai salah satu rekan avatar gelangnya?”


“Entahlah.  Aku pun berharap begitu.  Tetapi kurasa ketimbang menilai aku berguna, Kak Kaiser hanya kasihan padaku.  Waktu itu, rupanya tidak hanya ada Moon di sarang tersebut, tetapi juga ada Kak Tsurugi, kakak avatar bernomor seri 20 tipe pedang racun itu.  Dia marah padaku mengapa aku justru membantu manusia lalu melukaiku dengan pedang racunnya, hendak membunuhku dengan kutukan racun tersebut.”


Seketika Arjuna menatap dalam-dalam ke arah mataku sembari tersenyum dengan ekspresi jernih di wajahnya.  Dengan lirih kemudian dia berkata,


“Aku yang hampir menjadi butiran-butiran data kala itu, dimasukkan ke dalam gelang oleh Kak Kaiser dan seketika luka-luka yang kuderita dari Kak Tsurugi menghilang begitu saja lalu jadilah aku dalam wujud sekarang ini.


Suasana seketika mendadak hening.  Hal itu karena Arjuna terdiam di kala aku, Crusader, dan yang lain betul-betul menantikannya melanjutkan kisah hidupnya itu.


“Sungguh, walau Kak Kaiser senantiasa bilang jangan pernah bersimpati pada para avatar, kurasa justru dialah yang paling bersimpati pada kami.  Jelas-jelas, saat itu dia bisa saja membiarkanku menghilang sehingga satu musuh berhasil disingkirkan.  Nyatanya, dia memilih untuk menyelamatkanku.”