“Tidakkah kamu belakangan ini bekerja terlalu keras, Kaiser?” Ujar Bomber yang tiba-tiba saja keluar dari gelang dalam wujud mininya sembari menatap Kaiser dengan wajah yang serius.
“Bekerja terlalu keras bagaimana…” Kaiser pun memberikan respon terhadap perkataan Bomber itu, namun dihentikannya di tengah-tengah begitu dia melihat gelagat Bomber yang mengetuk-ngetuk pergelangan tangan kanannya.
Kaiser pun dengan cepat mengerti isyarat itu. Bomber tak ingin pembicaraan itu didengarkan oleh avatar gelang yang lain. Kaiser pun memutuskan sementara koneksi gelang terhadap dunia luar.
Seketika koneksi gelang diputuskan, Bomber mengungkapkan pertanyaannya,
“Kamu, terlalu terpaku pada Adrian. Aku paham bahwa kamu hendak menangkap Carnaval demi tujuan kita, tetapi buat apa kamu bertarung dengan Adrian dalam wujud Healer-mu lantas membuatnya sampai babak belur seperti itu? Jangan-jangan itu karena kamu mengharapkannya menjadi lebih kuat? Tidakkah kamu ingat tujuan asal kita? Tujuan kita bukan untuk melatih seorang petarung, tetapi untuk menyelamatkan…”
“Aku paham! Jadi kamu tidak usah bicara lagi, Bomber!” Belum selesai Bomber menyelesaikan kalimatnya, Kaiser tiba-tiba saja memotongnya dengan teriakannya.
“Kamu masih ingat kan terhadap apa yang terjadi lima tahun silam? Tentang mengapa kita berdua mesti mengkhianati rekan-rekan kita sesama avatar dan malah balik membantu umat manusia?” Dengan ekspresi sendu, Bomber sekali lagi berucap kepada kepada Kaiser, tidak, lebih tepatnya Healer yang menyamar sebagai Kaiser.
“Mana mungkin aku lupa. Kita melakukan semua ini demi keselamatan semuanya.” Jawab Healer yang masih dalam wujud Kaiser itu tegas.
Lima tahun silam,
Healer dalam wujud Kaiser bersama Bomber dalam wujud Andina segera menuju ke laboratorium rahasia milik Profesor Indro Nuryono begitu mereka berdua berhasil mewarisi ingatan inang yang mereka mimik.
Sesampainya di sana, Healer dan Bomber tengah mendapati suasana lab yang kacau dan porak-poranda akibat perbuatan Void. Di situ, mereka pula menemukan jasad Profesor Indro Nuryono yang telah membusuk lantaran telah meninggal sehari sebelumnya. Untunglah, di dalam lab, masih ada AI series yang luput dari pandangan Void sehingga masih utuh.
Healer pun segera mempelajari data AI terakhir dari AI series yakni AI5204 untuk mengetahui situasi yang sedang terjadi ditambah dari ingatan Kaiser yang dimilikinya.
Sayangnya, walaupun Kaiser sudah menjadi asisten magang tidak resmi Profesor Indro Nuryono, dia sama sekali tidak dilibatkan dalam proyek Hoho game yang sudah dimulai lebih dari setahun sebelum dia bergabung di tim sehingga ingatan Kaiser pun kurang membantunya selain beberapa potong ingatan informasi terhadap pembicaraannya dengan Profesor Melisa.
Dia pun menyimpulkan, akan lebih efektif untuk mendengarkannya langsung dari Profesor Melisa.
Healer pun meninggalkan Bomber di lab untuk menelusur beberapa informasi penting yang terlewat, sementara dirinya menuju ke kediaman Profesor Melisa untuk menemui kepala asisten Profesor Indro Nuryono tersebut.
Akan tetapi, di tempat kejadian, Void beserta kawanannya rupanya telah berada duluan di sana dan membuat keributan. Sesampainya Healer di sana, Void telah pergi yang menyisakan 3 monster avatar lain yang diharapkan Void untuk menghabisi Profesor Melisa sekeluarga.
Sebenarnya, Thorny Boy juga ada di lantai dua saat itu, tetapi dia juga turut pergi di saat portal akan tertutup karena kepergian sang pemilik portal, Void. Akan tetapi, Thorny Boy telah berhasil menyebabkan masalah sebelum kepergiannya di mana dia telah berhasil memimik Zio yang menyebabkan kesadaran Zio terputus dari dunia luar.
Healer pun yang masih dalam wujud monsternya, menyelamatkan Profesor Melisa dari ancaman ketiga monster avatar. Healer berhasil menyelamatkan Profesor Melisa. Sayangnya, putranya telah terbaring koma karena berhasil dimimik Thorny Boy, sementara suaminya, Daeng Sabaruddin telah meregang nyawa karena berupaya melindungi Profesor Melisa.
Profesor Melisa yang di hadapannya berdiri makhluk menyeramkan yang tidak lain adalah Healer, mau tak mau berteriak ketakutan. Namun, ketakutan itu mendadak berubah menjadi isak-tangis histeris begitu dia mendapati jasad suaminya yang tanpa nyawa, serta tubuh putranya yang terbaring koma.
Di tengah keputusasaan Profesor Melisa itu, Healer menyemangatinya lantas akan membawanya bersama ke laboratorium rahasia milik Profesor Indro Nuryono.
Namun sebelum pergi, Profesor Melisa memohon kepada Healer agar turut membawa anaknya, Zio, bersamanya, serta menguburkan terlebih dahulu jasad suaminya.
Healer pun menyetujui hal tersebut dan membantu menggali tanah dengan kekuatan avatarnya untuk memakamkan Daeng Sabaruddin.
“Hei, suamimu itu telah mati. Seonggok sampah yang ada di hadapan kamu itu tak lebih lagi dari tumpukan daging. Buat apa kamu masih memperlakukannya seolah-olah dia masih hidup seperti dulu? Jasad makhluk hidup yang telah mati, tidak lebih dari seonggok daging.”
Mendengar komentar Healer itu, Profesor Melisa hanya tertawa kecut sembari berkata,
“Mana mungkin monster yang tak mengerti perasaan manusia sepertimu bisa paham perasaanku?”
Healer serta-merta berubah wujud menjadi Kaiser. Dia pun membalas tanggapan Profesor Melisa itu.
“Itu benar. Aku sama sekali tidak dapat mengerti perasaan manusia. Bahkan setelah aku mewarisi ingatan dari temanku yang berharga ini. Yah, ingatan hanya ingatan, sama sekali tak membantuku memahaminya.”
Hal itu lantas membuat Profesor Melisa sangat terkejut. Dia kenal betul suara itu karena dia adalah tunangan putrinya. Profesor Melisa pun perlahan berbalik melihat wujud Healer yang sedari tadi ada di belakangnya. Rupanya benar, Healer telah berubah wujud ke dalam bentuk seseorang yang dikenalnya dengan baik.
“Kamu? Kenapa kamu bisa memiliki wujud Kaiser? Sejak kapan?” Tanya Profesor Melisa was-was.
“Oh, ini adalah wujud temanku yang berharga. Aku menemukannya baru saja dalam kecelakaan yang menewaskan wanita yang bersamanya. Tetapi pemuda yang aku mimik ini, baik-baik saja kok.” Ujar Healer yang di saat itu belum bisa membedakan antara manusia yang kehilangan kesadaran karena pingsan atau karena koma sehingga dia hanya berpikir bahwa Kaiser hanya tertidur sementara.
Terlepas dari keluguan Healer, seketika mata Profesor Melisa terbelalak. Dia tak dapat lagi menahan shoknya. Bukan karena berita Healer memimik Kaiser, melainkan perihal kalimat Healer yang di tengah-tengah. Dia tahu benar siapa wanita yang mungkin tewas bersama sosok pemuda yang dimaksud oleh Healer itu. Lantaran, hari ini adalah hari kencan berdua antara Kaiser dan Andina, putrinya.
“Jadi, Andina juga telah…” Lirih Profesor Melisa yang tidak dapat menyelesaikan kalimatnya perihal terbujur pingsan duluan.
Healer yang melihat itu yang tetap mempertahankan wujud Kaiser, hanya berekspresi kosong. Dia kembali menelisik ke dalam ingatan Kaiser.
“Ah, jadi begitu rupanya. Orang ini adalah ibu dari wanita yang tewas itu. Aku sama sekali tidak mengerti manusia. Mengapa mereka selalu saja sedih jika ada keluarga mereka yang meninggal? Jika itu aku yang melihat sesama rekan avatarku tewas di hadapanku, maka aku akan tidak terlalu peduli.” Ujar Healer terlihat berpikir keras.
Healer terdiam sejenak tampak berpikir sebelum melanjutkan ucapannya.
“Ah, apa itu karena jika kami tewas, kami dapat dihidupkan kembali selama ada sisa-sisa partikel kami sebagai base awal? Namun, jika manusia tewas, mereka tak dapat dihidupkan kembali. Ah, aku tetap tak dapat mengerti perasaan itu. Lagian, mengapa jika seorang manusia tewas, mereka tak dapat dihidupkan lagi?”
Healer kemudian membawa Profesor Melisa bersama dengan anaknya, Zio, ke laboratorium rahasia milik Profesor Indro Nuryono yang tidak lain merupakan markas rahasia tim Adrian yang sekarang.
Di luar dugaan, tidak butuh waktu lama untuk membuat Profesor Melisa tenang. Mungkin karena perasaan dendam yang menggebu-gebu di hatinya mengalahkan rasa sakit hatinya kehilangan dua orang anggota keluarganya itu.
Begitu bertemu dengan Bomber yang tidak lain adalah pelaku pembunuhan anaknya, Andina, Profesor Melisa serta-merta meluapkan amarahnya kepadanya. Namun, itu hanya berlangsung dalam waktu yang singkat saja. Profesor Melisa tetap mempertahankan logikanya dan menyadari bahwa bukanlah Bomber yang patut disalahkan akan semua itu karena dia pun belum memperoleh kesadarannya kala itu.
Satu-satunya yang patut disalahkan adalah orang yang menjadi mastermind dari semua kekacauan ini. Awalnya mereka menduga bahwa itu adalah Profesor In Gu. Namun, kecurigaan mereka dengan cepat lekang begitu mereka menemukan rekaman CCTV di lab yang berisi ucapan Profesor In Gu yang mengungkapkan tujuannya, lantas bagaimana Void membunuh dan membuang Profesor In Gu tersebut ke dunia virtual.
Jadilah mereka bertiga bekerjasama untuk menemukan kebenaran di balik bencana tersebut. Dan apa yang membuat Profesor Melisa semakin terkejut adalah fakta yang diungkapkan oleh Healer dan Bomber bahwa ada mekanisme yang tidak seharusnya ada di dunia ini terbentuk di dalam diri mereka yang akan memicu tolakan gaia.
Dan waktu yang tersisa bagi tolakan gaia tersebut bekerja menimbulkan butterfly effect yang akan memusnahkan tiap kehidupan di ruang dan waktu tempat mereka berada adalah tersisa 2000 hari lagi. Waktu kian berjalan hari demi hari dan kini hanya menyisakan waktu sebanyak 88 hari saja.