Seusai mengurus KRS, aku pun segera kembali ke markas. Rupanya, di markas telah hadir anggota baru kami tersebut. Tidak, wajahnya telah lama familiar bagiku, tetapi wajah itu adalah wajah yang selama ini dikenakan oleh penirunya. Dialah Kaiser Dewantara yang asli.
“Kalian pikir aku akan menerimanya begitu saja?! Menggunakan sesuatu, bekerjasama dengan makhluk biadab yang telah membunuh Andina?!” Kaiser Dewantara yang sedang beristirahat di atas tempat tidurnya berujar lantang sembari membanting suatu gelang yang tidak asing lagi bagiku, gelang perubah Bomber.
Yah, tentu saja. Itulah reaksi yang wajar yang sudah pasti dilakukan oleh yang asli ketika mengetahui kematian tunangannya, terlebih, harus bekerjasama dengan pembunuh sang tunangan tersebut demi hal-hal yang ambigu seperti kepentingan umat manusia.
“Andina… Mengapa aku mesti selamat jika kamu sudah tidak ada lagi di dunia ini? Hiks… Hiks…” Pemuda yang berwajah sama dengan mentorku itu pun menangis sejadi-jadinya begitu terbangun lantas tersadar bahwa orang yang paling dicintainya telah tiada.
Tiada yang dapat menyalahkannya. Dia telah koma selama lima tahun sebelum akhirnya tersadar kembali. Dan begitu tersadar, semua yang ada di sekelilingnya telah berubah. Ditambah, walau tampak dari tubuhnya, dia telah berusia 23 tahun, sejatinya mentalnya masihlah berusia 18 tahun, tidak jauh beda denganku. Wajar jika dia akan bersikap kenak-kanakan dibandingkan umurnya tersebut.
Kulihatlah Judith mengambil gelang perubah Bomber yang telah dibanting oleh Kaiser Dewantara itu ke lantai. Dia lantas memeluknya erat-erat.
Seketika Kaiser Dewantara berlirih pelan, “Judith?”
Judith pun membalas panggilan itu dengan senyuman berlinangan air mata.
Judith kembali tersungkur di lantai sembari melepaskan segala emosinya dengan menangis tersedu-sedu. Melihat itu, Kaiser Dewantara pun bangkit dari tempat tidurnya lantas memeluk adik kesayangannya itu.
“Judith. Kamu kenapa menangis, adikku sayang? Maafkan Kakak karena kamu harus tumbuh tanpa Kakak di sisimu. Tahu-tahu aku bangun, adikku sudah jadi gadis cantik seperti ini rupanya.” Hibur Kaiser pada Judith yang berlinangan air mata tersebut seraya tersenyum lembut dan memeluknya erat.
Senyum yang tampak sama, namun jelas begitu berbeda dari apa yang selalu sang faker tunjukkan itu. Senyum dengan nuansa yang lebih cerah yang menunjukkan hatinya yang lembut. Jelas berbeda dari senyum sang faker yang lembut, namun ada kesan dingin bak es tersembunyi di dalamnya.
Mereka jelas adalah jati diri yang berbeda yang masing-masing memiliki ciri khasnya masing-masing. Lantas mengapa sang faker itu selalu saja menyebut dirinya hanya copy-an dari sang asli. Padahal jelas-jelas tiada siapapun di dunia ini yang menyerupai jati dirinya.
Kulihat Judith merespon pelukan hangat kakaknya itu dengan balik memeluknya erat. Sungguh suatu pemandangan yang mengharukan. Akhirnya, Judith dipertemukan kembali dengan sosok Kakak yang dirindukannya itu yang jelas takkan pernah tergantikan oleh sang faker.
Mungkin itulah sebabnya, Judith tak pernah lagi berekspresi jutek seperti biasanya, melainkan suatu sikap keramahan dan senyum tulus kebahagiaan.
Tetapi entah mengapa, hal itu membuat hatiku terasa agak terganjal sakit. Itu berarti bahwa selama ini, Healer dalam samaran wujud kakaknya itu hanyalah batu pengganggu bagi Judith yang menghalangi kebahagiaannya. Sikap tulus sang faker pada Judith, sekalipun tak pernah menggapai hati Judith.
Setidaknya, itulah yang kupikirkan untuk sesaat sampai ketika Judith mulai berucap,
“Kakak, maukah Kakak mengabulkan sebuah permohonanku?” Tanya Judith pada Kaiser.
“Katakan apapun itu adikku sayang. Selama berada dalam jangkauan Kakak, pasti akan Kakak kabulkan.”
“Kakak adalah kakakku satu-satunya. Tidak ada yang lebih kusayangi dibandingkan Kakak. Itulah sebabnya ketika Kak Kaiser yang palsu mencoba menggantikan Kakak tanpa sepengetahuanku, aku sedih sejadi-jadinya karena menganggap Kakak telah berubah pasca trauma kematian Kak Andina. Sehingga begitu aku tahu, Kakak sama sekali tidaklah berubah, aku sangat senang sampai tiada kata yang cukup untuk menggambarkan rasa senangnya aku.”
Ucap Judith sembari menatap sendu wajah Kaiser. Gadis belia itupun mulai tertunduk. Kudapat turut merasakan kesedihan terpancar dari air mata yang sekuat tenaga ditahannya itu kembali.
“Tapi Kak, menurutku Kak Kaiser palsu tidaklah salah apa-apa. Dia melakukan semua ini demi kepentingan umat manusia. Jadi kumohon, Kakak lanjutkanlah perjuangannya.”
“Tidak salah bagaimana, Judith?! Dialah yang membuatku koma selama lima tahun ini dan dia juga telah bekerjasama dengan pembunuh Andina.” Kaiser asli seketika bereaksi keras lantaran tidak setuju dengan ucapan Judith tersebut.
Hal itu sampai-sampai membuat Judith ketakutan karena belum pernah melihat sosok Kaiser yang marah sampai seperti itu sebelumnya.
Yah, itu wajar saja. Dia telah terbaring koma selama lima tahun. Sekelilingnya berubah sementara dirinya tetap di tempat. Hal itu lantas membuat kita berilusi seakan bahwa sosoknya tidak lagi seramah dan setulus di ingatan Judith.
Tetapi hal itu keliru. Bukan Kaiser Dewantara yang berubah, melainkan kita sebagai orang-orang yang di sekelilingnya, yang telah menempuh waktu selama lima tahun menikmati asam dan manis dunia ini tanpa dirinya, yang telah berubah.
Seiring dengan kenangan manis bersamanya, kita jadi berdelusi sendiri akan sosoknya yang sempurna di ingatan kita. Namun, Kaiser Dewantara tidak lain jugalah seorang manusia.
Melihat Kaiser Dewantara yang emosional, Profesor Melisa-lah yang angkat bicara,
“Jika persoalan bekerjasama dengan Healer dan Bomber, akulah yang telah memutuskan hal itu, Nak Kaiser. Tentu dibandingkan siapapun, akulah yang seharusnya paling membenci mereka karena jenis merekalah yang telah membunuh anakku Andina dan suamiku, Daeng Sabaruddin. Tetapi aku memutuskan untuk bekerjasama karena aku tahu, khusus Healer dan Bomber, mereka dapat dipercaya.”
“Tapi Tante Melisa!”
“Sudah cukup, Nak Kaiser! Dewasalah! Apa yang paling penting sekarang adalah menyelamatkan dunia dari ancaman para monster avatar. Tidak lama lagi sebelum tibanya batas waktu tolakan gaia. Hanya kesempatan yang diberikan Healer dan Bomber itulah yang memberikan kita peluang yang terbaik. Jadi jangan sia-siakan hal itu. Demi menciptakan alat itu, Healer bahkan telah mengorbankan hidupnya. Jadi tolong, hargailah pengorbanannya!”
Kata-kata Profesor Melisa itu lantas membuat Kaiser Dewantara di hadapanku ini tak lagi dapat berucap apa-apa. Dia hanya menggigiti bibirnya dengan frustasi.
Di saat itulah giliranku untuk maju. Sebenarnya, aku ingin menunggunya dulu untuk beristirahat beberapa hari lagi hingga dia tenang. Tapi seperti yang dikatakan oleh Profesor Melisa, tak banyak lagi waktu yang tersisa. Kami mau tidak mau harus memaksa Kaiser Dewantara yang ini untuk segera bangkit menggantikan sang faker walaupun hal itu terdengar cukup kejam baginya.
“Ini pertama kalinya kita bertemu ya, Saudara Kaiser. Atau haruskah kupanggil dengan Kakak karena usia Anda lebih tua 5 tahun dariku?” Ucapku sembari mengulurkan tangan untuk berjabat pada pemuda yang ada di hadapanku itu.
“Oh ya. Panggil saja aku senyamannya” Ujar Kaiser sembari membalas jabat tanganku itu dengan ekspresi datar.
“Perkenalkan, aku Adrian Setiabudi, pengguna Avatar Arjuna.” Aku pun memberikan senyumku yang terbaik padanya sembari memperkenalkan diri dengan berupaya menampakkan wibawaku agar aku dapat memenuhi amanah Healer, menjadi mentor yang baik dan tidak diremehkan olehnya yang merupakan penyandang gelar Ranker terbaik di Hoho game lima tahun silam.