101 Avatars

101 Avatars
130. Kutukan Putra Mahkota



Pada akhirnya, kami tidak berhasil menangkap sosok misterius penculik dan pembunuh itu. Pangeran Kedua pun memutuskan untuk pulang ke istana dan aku pun mengikutinya. Aku diminta untuk kembali ke kamarku saja dan membiarkan dua ajudan yang memang bertugas menjaga pintu kamar Pangeran Kedua untuk menjaganya selama berada di kamar.


Aku menuruti saja permintaan itu, setidaknya di depannya. Tetapi begitu aku telah masuk ke kamarku, aku segera menyelinap keluar lagi, lewat dan bersembunyi di balik atap untuk memastikan keselamatan sang pangeran kedua.


Pikirku, misi yang diberikan padaku ini pasti punya maksud terselubung. Bagaimana mungkin sistem akan memberikan misi seperti ini jikalau Pangeran Kedua memang tidak sedang dalam bahaya. Bisa saja kini ada seseorang atau sesuatu yang telah mengincar nyawanya atau dia sendiri-lah kini yang sedang merencanakan sesuatu yang berbahaya.


Dan dugaanku tepat. Tepat tengah malam di kala hampir seluruh penghuni istana tertidur kecuali para pengawal, Pangeran Kedua menyelinap keluar kamarnya lewat jendela.


Aku pun mengikutinya secara diam-diam. Sesuai dugaan, dia masih penasaran tentang kasus tadi. Rupanya dia kembali ke TKP penculikan oleh penculik dan pembunuh misterius itu.


“Disclose your true smell.” Kudengar dia mengucapkan sebuah mantra. Kemudian setelahnya, tampak dia mengamati sesuatu yang tak tampak oleh mata tajamku ini sembari tampak mengikuti jejaknya. Aku mengikutinya dari belakang secara diam-diam.


Rupanya, dia berhenti, tidak, tepatnya dia kembali ke istana. Pangeran Kedua dengan sigap melewati pagar dinding istana dan sesaat kemudian aku pun mengikutinya melewati pagar dinding yang sama. Tak kusangka, dia justru menuju ke istana Pangeran Pertama alias putra mahkota kerajaan ini.


Tampak Pangeran Kedua secara sembunyi-sembunyi menyelinap menyelidiki kediaman putra mahkota. Di belakangnya, aku mengikutinya tanpa diketahuinya dengan menyembunyikan sosok keberadaanku.


“Apa yang diinginkannya? Jangan bilang dia mau membunuh Putra Mahkota agar dapat mengambil alih tempatnya? Jika sampai ketahuan, bia dijamin seratus persen bahwa dia akan dihukum gantung terlepas dari statutsnya sebagai keluarga kerajaan karena telah melakukan pengkhianatan besar pada negara.” Gumamku dalam hati.


Terlihat banyak pengawal yang mengawasi kamar putra mahkota. Namun, sepenting apapun jabatan putra mahkota itu, bukankah pengawal yang menjaga kamarnya terlalu banyak bahkan lebih dari pengawal kamar Raja. Karena penasaran, aku pun melewati celah atap untuk mengintip apayang sebenarnya Putra Mahkota berupaya sembunyikan dengan menyewa begitu banyak pengawal seperti ini.


Tampak Putra Mahkota bertelanjang dada mengeluarkan aura hitam di seluruh tubuhnya. dia tampak berusaha dengan keras menahan suaranya agar tidak meraung. Walau aku tak mengalaminya secara langsung, bisa kurasakan begitu sakitnya rasa sakit yang dideritanya itu. Tetapi ini, apa yang sebenarnya terjadi dengan Putra Mahkota?


Namun, rasa penasaranku itu, ternyata terjawab dalam waktu yang tidak lama. Dari balik bayangan, dia tiba-tiba menarik seorang wanita dan kulihat dia hendak mengisap energi kehidupannya. Tampaknya itulah gadis yang menghilang tadi malam. Jadi begitu, ternyata Putra Mahkota-lah pelaku dari penculikan dan pembunuhan sadis itu.


Sebelum energi kehidupan gadis itu tersedot habis oleh Putra Mahkota aku turun ke bawah dan menendang wajah Putra Mahkota itu, tidak, wajah Iblis itu.


Mendengar suara keributan dari dalam, para pengawal yang mengawasi kediaman Putra Mahkota seketika menyerbu masuk ke dalam. Betapa kagetnya mereka ketika menyaksikan wajah Putra Mahkota yang mereka kenal tak lagi seperti manusia, melainkan menyerupai iblis bengis.


Putra Mahkota itu seketika meliar dan aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelamatkan sandera. Putra Mahkota membunuh dengan membantai semua pengawalnya sendiri secara bengis sampai-sampai aku mual untuk melihatnya.


Aku pun menggunakan jurus telepatiku untuk memanggil Kak Kaiser kemari bersamaan dengan teman-teman petugas patrolinya untuk ke istana ini demi melihat langsung kejadian untuk menangkap sang putra mahkota yang telah menjadi iblis bengis itu.


Kukira semuanya telah berjalan lancar di mana aku bisa mengulur waktu dengan bertarung melawan iblis berwujud manusia itu sampai petugas patroli datang untuk memverivikasi kejadian karena salah-salah Putra Mahkota kembali ke wujud manusianya, dia bisa saja akulah yang menerobos masuk ke kamarnya lantas membunuh smeua pengawal yang berusaha melindunginya.


Tetapi dengan bodoh, sang pangeran kedua yang sedari tadi mengiwasi kediaman itu juga turut keluar dengan bertarung melawan Putra Mahkota yang telah dirasuki iblis.


“Hei, Pangeran Bodoh, kenapa kau juga ikut-ikutan masuk?! Tidak bisakah kau mengawasi kejadian?!” Aku berteriak mengumpat ke pangeran bodoh itu dengan melupakan statusnya sebagai pembesar negara.


“Hahahaha. Sudah kuduga, itu kamu, Adrian. Walaupun kau mengenakan penutup wajah, mana mungkin aku akan melupakan bau orang yang telah melayaniku selama 10 tahun.” Jawab sang pangeran kedua dengan asal.


“Bau apa lagi yang kamu maksud? Jangan membuat semua orang jadi salah paham!”


Kulihat setelah mendengar suara pangeran kedua, kebengisan Putra Mahkota dalam wujud iblisnya itu mereda. Perlahan, dia kembali ke wujud manusianya.


“Kakak.” Seketika Pangeran Kedua hendak menghampiri Putra Mahkota lalu aku pun mencegahnya dengan sigap.


Tidak akan ada yang tahu apa yang ada di pikiran Putra Mahkota sekarang. Apa dia memang benar masih dirinya yang dulu atau benar-benar sudah tertelan oleh kegelapan. Melihat apa yang telah dilakukannya pada wanita-wanita lemah tidak berdosa itu, kuyakin kemungkinan jawaban kedua-lah yang benar.


“Adrian? Kenapa kamu menghalangiku memeluk Kakak?”


“Kamu masih menanyakannya di kala kondisinya seperti itu?”


Mendengar jawabanku itu, kulihat Pangeran Kedua menatapku dengan intens seakan akan melubangi jidatku sendiri. Tetapi aku tetap mempertahankan posisiku itu demi melindunginya. Bagaimana pun, misiku di dunia ini adalah untuk melindunginya sampai hari penobatannya sebagai raja.


Jadi begitu, dengan putra mahkota yang sekarang terlibat sihir hitam, pastinya posisi putra mahkota akan diwariskan kepada Pangeran Kedua.


“Maafkan aku, adikku.” Ujar sang putra mahkota.


“Buat apa Kakak meminta maaf sekarang?! Jika Kakak tahu bahwa itu adalah hal yang salah, kenapa sampai Kakak terlibat dengan sihir hitam sampai tega membunuh banyak warga kita yang tak berdosa.”


“Ini semua karena ketiga kerajaan tetangga kita telah membuat perjanjian rahasia untuk mengudeta kerajaan kita. Kita tak punya cukup kekuatan konvensional untuk menghadapinya. Kupikir, hanya cara menjijikkan inilah yang dapat melindungi kerajaan kita, setidaknya untuk sekarang.”


“Lantas bagaimana Kakak akan menghadapi serangan dan kerajaan lain yang menentang keras adanya sihir hitam, juga apa yang akan Kakak lakukan dengan sentimen publik?”


Putra Mahkota pun menggeleng.


“Sekarang tampaknya sudah cukup, adikku. Sebenarnya, aku ingin mengumpulkan lebih banyak energi lagi agar kutukannya lebih besar. Tetapi tak banyak waktu lagi. Kejahatanku telah terekspos. Kini giliranmu untuk menjadi penerus gelas putra mahkota.”


Seraya mengatakan itu, sang putra mahkota pun menghilang ke dalam bayangan. Kami awalnya tidak tahu apa maksud ucapannya itu, tetapi begitu kami mendengar berita dari luar negeri tentang penyebaran energi kutukan di tiga wilayah kerajaan di barat yang menyebabkan ketiga kerajaan tersebut mengalami krisis, kami segera tahu apa maksudnya.


Pangeran Pertama sedari awal berniat mengorbankan diri dengan menerapkan sihir hitam dengan harapan bisa menghancurkan ketiga kerajaan yang ingin menghancurkan kerajaannya. Tindakannya itu benar-benar telah menyelamatkan kerajaan, tetapi di lain sisi, dia membunuh secara membabi-buta rakyat kerajaan lain yang tidak ikut bersalah.


Tercatat lebih dari sepuluh ribu korban di ketiga negara itu dalam bencana ini hanya dalam waktu sehari dan terus saja mengalami pertambahan korban. Untunglah, energi kutukan itu hanya terdapat di tiga kerajaan sehingga orang-orang yang berada di luar dari wilayah ketiga kerajaan itu, tidaklah terdampak akibatnya.


Tiada yang mengetahui bahwa kejadian itu adalah ulah sang putra mahkota. Begitu Kak Kaiser dan para petugas patroli tiba di tempat kejadian, Putra Mahkota telah menghilang dari kamarnya di mana puluhan mayat berserakan di sana seolah diterkam oleh makhluk buas.


Kejadian pun disimpulkan sebagai upaya assassinate Putra Mahkota, tetapi semuanya belum bisa disimpulkan dengan pasti karena hilangnya jasad Putra Mahkota. Kejadian ini pun menjadi rumor yang dikait-kaitkan dengan hilangnya beberapa warga daerah kumuh belakangan ini. Sampai di sini itu benar, tetapi rumor selanjutnya mengatakan bahwa itu semua dilakukan demi penciptaan sihir hitam untuk membunuh sang putra mahkota.


Padahal sejatinya, justru Putra Mahkota-lah yang terlibat dalam sihir hitam itu dan kini tubuhnya telah hancur lebur bersamaan dengan kutukan yang dibawanya kepada tiga kerajaan tersebut.