101 Avatars

101 Avatars
73. Penyesalan Zenri



Pagi buta itu, ketika kumenanyakan keadaannya.  Dia pun bilang sedang berada di kampus demi menjemput anak guru padepokannya itu, Nafisah.  Entah mengapa perasaanku hari ini tidak enak.  Apakah itu karena nuansa yang ditunjukkan pagi ini sama dengan ketika tragedi monster yang menyamar sebagai Kak Riri itu berawal?


Untuk melepaskan perasaan tidak enakku, aku pun turut berjalan-jalan di kampus di sekitar gedung fakultas untuk memastikan saja bahwa tidak ada peristiwa buruk yang terjadi di sana.  Namun, bagaikan jinx yang tiba lebih awal, apa yang kukhawatirkan pun justru dengan sialnya terjadi.


Sekitar pukul 7 pagi, tiba-tiba terdengar suara ribut orang-orang di sekitar gedung fakultas.  Rupanya semua itu dipicu oleh banyaknya es yang tiba-tiba berjatuhan dari lantai atap gedung fakultas.  Tidak hanya itu saja, suara-suara bising aneh juga turut terdengar di lantai atap gedung itu.


Perasaanku pun mulai bertambah tidak enak ketika chat-chat yang kukirimkan kala itu kepada Bobi tidak kunjung dibalas-balas juga.  Terlebih, tempat terdengarnya suara bising yang sampai-sampai terdengar dengan jelas dari bawah gedung tempatku berada, adalah lokasi terakhirnya yang diberitahukan oleh Bobi padaku.


Entah mengapa kala itu, kampus justru ramai di pagi buta itu, padahal sedang hari libur natal.  Mungkin saja hal itu hanyalah sebuah kebetulan yang bukanlah sesuatu yang penting perihal jika hari minggu atau libur, laboratorium dan perpustakaan hanya diizinkan buka dari pukul 6 pagi sampai pukul 12 siang.


Yang jelas, cukup ramainya kampus kala itu, memicu lebih cepatnya perihal kejadian aneh di lantai atas atap gedung fakultas itu menyebar ke publik secara berantai.  Semuanya akhirnya terkonfirmasi begitu seseorang dibawa turun oleh belasan drone aneh dari lantai atap gedung fakultas itu.  Drone itu adalah milik Pahlawan Darah Merah sehingga kemungkinan besar bahwa penyebab keributan di atas adalah monster avatar.


Kuperhatikanlah baik-baik sosok yang dibawa turun oleh para drone itu.  Ah, rupanya dia Bobi.  Syukurlah dia baik-baik saja walaupun tampak sedikit luka-luka.  Tetapi mengapa ekspresinya tampak begitu tidak senang?  Ah, benar juga.  Tadi dia bilang akan menjemput Nafisah, yang berarti Nafisah masih berada di atas sana saat ini bersama dengan monster avatar tersebut.


Begitu Bobi mendarat, aku pun segera menuju ke dekatnya untuk memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja.


“Zenri.”  Lirih Bobi padaku.


Dalam lemasnya, aku pun memberikan pangkuanku sebagai penopang kekuatan bagi temanku yang paling berharga itu.


Masih kuingat dengan jelas di masa lalu, akulah yang telah menghancurkan hidupnya selama sekolah hingga dia pun harus pergi ke tempat yang jauh untuk melanjutkan SMA-nya sebelum kami akhirnya dipertemukan kembali di tempat ini.


Kala itu, sewaktu aku berusia 10 tahun, kira-kira di saat aku menginjak kelas 4 SD, aku yang tak tahan melihat anak baru penyendiri yang seolah dikucilkan di angkatan kami, datang menghampirinya dan mencoba mengajaknya untuk bergaul.  Hari demi hari, aku tak pernah berhenti melepaskannya hingga akhirnya dia pun menyerah dan mulai mengajakku balik untuk mengobrol.


Tak butuh waktu lama bagi kami dapat dekat perihal Bobi adalah anak yang baik.  Hanya saja, tampaknya ada trauma tertentu dalam dirinya yang membuatnya mengasingkan dirinya sendiri dalam pergaulan sosial.


Hingga tibalah di saat waktu karya wisata kenaikan kelas kami.  Aku meracau di sana dan hilang dari kelompok karena terjerembab masuk ke jurang.  Dengan bodohnya, aku masuk ke tempat yang bertuliskan terlarang karena didorong oleh rasa penasaranku sendiri.


Alhasil, aku pun tanpa sengaja menginjak tebing yang rapuh dan akhirnya bagian tebing itu pun retak lalu aku pun ikut terjatuh ke bawah.  Untunglah ketinggian tebing tidak terlalu tinggi sehingga walaupun terjatuh di sana, setidaknya nyawaku masih selamat.


Tetapi apa sekarang?  Kedua kakiku terluka dan mungkin patah sehingga aku mustahil untuk bergerak.  Aku hanya dapat berteriak meminta tolong sekeras-kerasnya, berharap semoga ada dari rombonganku yang mendengarkan dan menyelamatkan aku.


Tetapi apakah itu mungkin?  Lantaran lokasi yang kami kunjungi beragam dan mungkin guru belum sadar bahwa aku terpisah dari kelompokku, sementara tiada satupun dari kelompokku yang terlihat peduli ketika aku menyelinap keluar dari kelompok.


Ah, ini karena ulahku sendiri selama ini yang selalu berkeliaran selama karyawisata ke tempat lain di luar kelompok sehingga pada akhirnya teman-temanku telah terbiasa dengan sikapku itu dan pada akhirnya mengabaikannya.


“Tolong, seseorang, sadarilah bahwa aku hilang.”  Lirihku dalam hati.


Malam pun tiba.  Seharusnya para guru telah sadar bahwa aku hilang dan mulai mencariku.  Tetapi bagaimana ini?  Tempat ini begitu gelap dan menyeramkan.  Aku sangat ketakutan.


Tetapi apa ini?  Sayap keluar dari punggung Bobi?


Di kala itulah Bobi akhirnya mengungkapkan masa lalunya padaku sehingga aku pun mengetahui rahasia Bobi tentang kasus penculikannya dan di mana dia dijadikan bahan eksperimen manusia secara ilegal serta bagaimana akhirnya dia bermutasi menjadi mutan.


Namun kala itu, mungkin karena aku masih kanak-kanak, aku justru menganggap hal itu sebagai sesuatu yang keren dan justru heran mengapa Bobi merasa malu memilikinya.  Tetapi karena Bobi memintaku untuk merahasiakannya dari yang lain, maka akupun menuruti keinginannya itu.


Sampai suatu ketika, diluncurkanlah Hero of Hope game alias Hoho game sewaktu kami beranjak ke kelas enam.  Waktu itu, aku melihat salah satu karakter game di Hoho game yang sangat mirip dengan sayap Bobi, yakni Avatar Sena.


Dan dengan tololnya aku keceplosan di hadapan teman-teman sekelasku mengenai rahasia Bobi.


“Wah, karakter Sena ini menarik.  Mirip sekali dengan sayap indah Bobi.”  Ujarku dengan naifnya tanpa rem di mulutku.


“Sayap?  Maksudmu Bobi mengoleksi semacam figur anime dengan sayap?”  Tanya salah seorang teman sekelasku terhadap pernyataanku itu.


Lalu sekali lagi dengan bodoh dan polosnya, aku menjawab, “Tidak.  Maksudku, sayap Bobi yang asli dalam wujud mutannya.”


Seharusnya waktu itu aku segera mengelak dengan bilang bahwa semua itu hanya bercanda sambil menampilkan ekspresi lawakanku seperti biasa.  Tetapi apa yang aku tunjukkan, aku justru dengan jelas-jelas menampilkan ekspresi wajah seseorang yang tidak sengaja keceplosan suatu rahasia.  Dan begitu aku mengatakan bahwa smeua itu hanya bercanda, semuanya telah terlambat karena tak ada lagi yang percaya padaku.


Semula aku berharap bahwa teman-temanku sekelasku juga akan sependapat denganku bahwa para mutan itu keren.  Mereka memiliki kemampuan yang sama sekali tidak bisa dimiliki oleh seorang manusia normal.


Rupanya aku salah.  Kala itu, masih ada fobia mengenai kebengisan para manusia dengan kekuatan di luar batas kemampuan manusia, terutama dipicu oleh insiden berdarah tahun 2031 silam yang ditutup dengan pengorbanan pasangan suami-istri keluarga Dewantara sehingga dunia dapat terselamatkan.


Walaupun demikian, sekarang pandangan tentang manusia dengan kekuatan super telah kembali membaik berkat perjuangan seorang ilmuwan jenius bernama Dios serta anak kedua dari pasangan pahlawan suami-istri dari Keluarga Dewantara tersebut.


Sekolah tempat aku dan Bobi berada kala itu adalah sekolah elit di mana siswa-siswinya dianugerahi keluarga yang prominen.  Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menggali informasi persoalan Bobi yang ternyata adalah salah satu murid Padepokan Wijayakusuma.


Dan jika itu berbicara soal Padepokan Wijayakusuma, semuanya dengan mudah dihubungkan dengan kasus penyelamatan para mutan korban ilmuwan gila yang tidak diketahui identitasnya yang kesemuanya diungsikan ke Padepokan Wijayakusuma.


Telah dikabarkan di berita bahwa pada akhirnya kesepuluh mutan selamat dari eksperimen gila sang ilmuwan gila itu semuanya telah tiada.  Namun, mereka dengan mudah berspekulasi bahwa Keluarga Wijayakusuma telah menutup-nutupi identitas mutan yang berhasil bertahan hidup.  Di mana mereka pada akhirnya menyangkut-pautkan soal spekulasi mereka bahwa Bobi-lah, seorang mutan yang identitasnya berupaya ditutup-tutupi oleh Keluarga Wijayakusuma.


Terlebih dengan reputasi Keluarga Wijayakusuma yang sering dikait-kaitkan sebagai surga bagi para spiritualis yang telah mulai menghilang dari sejarah sejak perbuatan sadis mereka di tahun 2031 silam di mana keberadaan mereka akhirnya jadi hujatan para masyarakat.


Secara tidak langsung, Keluarga Wijayakusuma yang mencoba melindungi mereka, akhirnya ikut dihujat oleh masyarakat.  Tidak akan mengherankan jika mereka benar-benar melindungi seorang mutan.


Walau aku mengatakan bahwa perkataanku itu salah, mereka justru jadi tidak percaya lagi.  Malah dengan kejamnya, mereka menyiramkan air perak panas ke punggung Bobi hanya untuk membuktikan kebenaran kabar tersebut.  Pada akhirnya, identitas Bobi pun ketahuan dan jadilah Bobi sebagai bulan-bulanan di sekolah.


Semuanya, karena kebodohan aku dan mulutku yang tak mampu menjaga rahasia.